Pelakor Profesional

Pelakor Profesional
Rahasia Umum


__ADS_3

Ranti sengaja berjalan sedikit lambat, agar Alex terlebih dahulu masuk ke dalam Lift. Meski bos dan eksekutif perusahaan menggunakan Lift berbeda, namun letaknya bergandengan dengan yang digunakan karyawan biasa.


Berpikir Alex akan langsung masuk begitu pintu itu terbuka, ternyata tidak. Pria itu menunggunya dan berkata di depan sesama.


"Naik lift ini saja ... "


"Maaf, pak ... saya paket yang ini saja."


Tentu saja Ranti tidak mau satu Lift dengan pria itu. Bahkan, saat ini dia sedang memikirkan cara untuk keluar dari situasi ini.


Alex langsung menggelengkan kepalanya, dan berkata. "Masuk!"


Sebuah kata yang Bernada otoriter itu, membuat Ranti sedikit terkejut. Tau bahwa dia tidak bisa menolak, akhirnya dia mengangguk dan berjalan melewati Alex dan masuk ke dalam sana.


Pintu Lift tertutup dan membawa mereka naik menuju lantai di mana ruangan Alex berada. Berpikir pria itu akan langsung memarahinya, namun ternyata tidak.


Sekarang, di dalam sana hanya ada keheningan. Ranti sekali-kali melirik pada sepatu Alex. Dia tidak berani menoleh pada pria itu.


Alex yang berdiri di sebelahnya, melihat wanita itu terus menunduk dengan rasa bersalah.


Entah kenapa, menyaksikan Ranti yang ternyata cerdas namun terkesan kasar dan sedikit bar-bar, bertingkah seperti itu, Alex tersenyum.

__ADS_1


"Jadi, kamu menceritakan semua yang pernah terjadi di antara kita, pada rekan-rekan kerja kamu?"


Mata Ranti langsung melebar, setelah mendengar Akhirnya Alex bersuara.


Cepat dia menoleh dan menggelengkan kepala dan juga kedua telapak tangannya.


"Tidak, pak ... Sungguh! Yang tadi pertama kali."


Alex sengaja memasang wajah datar, menanggapinya. "Apa semua wanita memang seperti itu?"


Tau bahwa pembelaannya tidak cukup, Ranti langsung kembali mencoba meyakinkan. "Pak, saya tidak mungkin menceritakan yang lainnya. Lagipula, mereka tidak akan percaya ... "


Mendengar Ranti sempat melirik ke arah bawah, saat mengatakan itu. Membuat Alex sedikit gugup.


Ranti kembali berdiri mensejajarinya, dan mulai menjelaskan. "Mustahil bapak tidak tau kalau satu gedung ini, menggosipkan bahwa bapak ... Hmmm ... "


"Impotensi?!"


"Ya! ... Tidak! ... " Ranti langsung menoleh, dan kembali berkata. "Ya, maksudku ... Memang seperti itu. Tapi, tidak ... Aku ... "


Alex menelan ludahnya, dan kembali berkata. "Aku memang impotensi ... "

__ADS_1


Ranti langsung terdiam, dan melirik wajah Alex dan beralih ke resleting celananya lalu kembali ke wajahnya pria itu, beberapa kali.


Sontak hal itu membuat Alex reflek mengangkat tangan menutupnya. Tidak yakin apakah wanita ini sengaja atau tidak, tapi apa yang dilakukannya, membuat Alex sedikit gugup.


"Tidak mungkin! ... Aku melihatnya ... Berdi—"


"Ting!"


Bel tanda mereka sudah sampai pada lantai yang mereka tuju, memutus kata-kata Ranti.   Alex yang melihat pintu telah terbuka, langsung berjalan meninggalkan wanita itu di belakangnya.


Namun, Ranti langsung mengikutinya berjalan, dan memanggilnya tanpa memperdulikan orang-orang dilantai itu yang melihat keduanya baru saja keluar dari Lift yang sama.


"Pak, sebentar! ... Katakan, itu bohong kan? Aku melihatnya ber ... Hmmmmpp... "


Ranti tidak bisa menyelesaikan kata-katanya, karena saat itu juga Alex sudah berhenti dan langsung berbalik menutup mulutnya.


Beruntung hanya satu orang yang melihat mereka saat itu. Alex langsung memberi satu gelengan, yang dijawab satu anggukkan tanda mengerti oleh asisten sekretaris nya yang duduk di meja di depan ruangannya itu.


Alex membalikkan tubuh Ranti, dan membawanya dalam dekapan, sebelum mengangkat wanita itu masuk ke dalam, dengan terus menutupi mulutnya.


Begitu dia menutup pintu dengan kakinya, barulah dia melepaskan wanita itu.

__ADS_1


"Ranti Olivia ... Apa kamu ingin semua orang di gedung ini mengetahui bahwa kamu telah sengaja mengintip ku berganti pakaian? Apa kamu tidak malu, huh?!"


__ADS_2