Pelakor Profesional

Pelakor Profesional
Lancar! Tapi ...


__ADS_3

Mendapatkan laki-laki dengan memanfaatkan kelemahannya pada godaan terhadap wanita, memang cara tercepat. Apalagi wanita tersebut memiliki penampilan dan tubuh seperti Ranti.


Akan tetapi, untuk benar-benar mendapatkan hati seorang pria. Itu tidak semudah apa yang banyak orang bayangkan. Apalagi, pria itu sudah memiliki istri,Nyang begitu di cintanya, seperti Alexander Putra Mandala.


"Ranti, bersiaplah. Kita akan ke lapangan sebentar lagi."


Ranti yang masih sibuk dengan keyboard dan layar komputer di depannya, harus menghentikan kegiatannya itu, dan menganggukkan kepalanya.


"Baik, sebentar."


Setelah mematikan komputer nya Ranti langsung bersiap-siap. Alex memperhatikan wanita yang sudah dua hari ini kembali bekerja dengan seksama.


Sehari sebelumnya, Ranti bersikap seolah tidak terjadi apapun dan masih bercanda dengan tingkah beraninya. Hari ini, wanita itu lebih banyak diam, dan langsung bekerja saat dia tiba.


Alex tidak tau kenapa dia kurang senang dengan hal itu. Dia lebih menyukai Ranti yang bertingkah sedikit gila. Padahal, seingatnya dia adalah orang yang paling menekankan sikap profesionalitas dalam urusan pekerjaan.


Keduanya berjalan meninggalkan ruangan dan langsung turun menaiki lift yang langsung terhubung ke parkiran gedung.


"Bos, biar aku yang menyetir."


Alex sempat tertegun saat tiba-tiba saja, wanita yang sejak tadi lebih banyak diam itu, menawarkan diri untuk mengemudi.


Meski menjabat sebagai orang dengan kedudukan paling tinggi di perusahaan itu, namun Alex lebih suka menyetir mobilnya sendiri.


Sebuah senyum terkembang di wajah Alex. Muncul sebuah keinginan dirinya untuk memancing wanita itu.

__ADS_1


"Hmmm ... Apa kamu akan meminta bonus tambahan karena merangkap jadi supirku?"


Namun, tanggapan Ranti jauh dari apa yang diharapkan Alex.


"Tidak, tentu saja tidak. Saya hanya berpikir bahwa, sangat tidak sopan jika anda yang mengemudi."


Meski menjawabnya sambil tersenyum. Namun, Alex tidak senang dengan senyuman seperti itu. Akan tetapi, dia tidak ingin mendebat wanita itu, dengan menolak tawarannya.


"Baiklah ... "


Seperti biasanya, Ranti bisa dia handalkan. Wanita itu benar-benar menguasai pekerjaannya. Tidak butuh waktu lama, pertemuan mereka di lapangan dengan perwakilan dari perusahaan investor, berjalan sangat lancar.


Waktu berlalu begitu, saja dan mereka telah kembali ke gedung. Selama di perjalanan naik pergi ataupun pulang, Alex berusaha memancing wanita itu untuk bercanda, namun hari ini Ranti benar-benar berbeda.


"Ranti, apa sedang terjadi sesuatu? Apa kamu sedang ada masalah?"


"Tidak, tidak ada masalah. Semuanya baik-baik saja." Jawab Ranti, sekenanya.


Sepertinya, Alex memang harus menyerah untuk hari ini. Ranti, sama sekali tidak tertarik untuk berbicara dengannya, diluar soal pekerjaan.


Hari yang sangat lancar, namun berjalan dengan rasa yang hambar. Keduanya kembali diam, bahkan saat berdua saja di dalam lift.


Akan tetapi, beberapa saat sebelum mereka sampai pada lantai atas tempat di mana ruangan keduanya berada. Tiba-tiba Alex mendengar wanita itu bertanya.


"Bagaimana dengan pengobatannya? ... Apa masih perlu bantuan saya?"

__ADS_1


Meski saat Ranti bertanya tidak melihat padanya, ntah kenapa Alex merasa sedikit senang, karena wanita ini yang pertama mengajaknya bicara.


"Oh, soal itu ... Sepertinya, Dokter Rey sudah menemukan solusi lainnya. Tapi ... "


Karena kalimat Alex tergantung. Ranti kembali bertanya. "Apa itu tidak bekerja?"


Alex menoleh pada Ranti, yang tetap berbicara tanpa melihat pada nya. Dia berpaling, dan menunduk sebelum akhirnya kembali mengangkat wajahnya.


"Aku tidak tau. Sepertinya, masalahnya ada padaku, bukan therapy nya."


Alex tidak bisa berkonsentrasi selama menjalani itu. Jadi, setelah dia kali pertemuan, dia tidak lagi membuat janji dengan therapist yang diperkenalkan dokter itu padanya.


Alex menunggu Ranti bersuara, namun sampai pintu lift mereka terbuka, wanita itu tidak lagi menanggapinya.


Alex kembali kecewa, dan membiarkan wanita itu berjalan terlebih dahulu keluar, dan baru melangkah setelahnya.


Alex kembali membuka pintu ruangannya yang baru saja tertutup setelah Ranti masuk beberapa saat yang lalu.


Namun begitu dia masuk, Alex melihat Ranti berdiri dengan melipat tangan di depan dada, dan menatap langsung padanya.


Alex ingin bertanya, namun wanita itu sudah lebih dahulu bersuara.


"Alexander Putra Mandala ... Aku akan membantumu untuk sembuh, dan membiarkanmu menyentuh tubuhku bjika memang perlu. Tapi, aku memiliki beberapa syarat. Bagaimana?"


Tentu saja Alex tidak siap dengan lompatan sikap yang dilakukan Ranti. Setelah bersikap aneh sejak pagi, sekarang wanita itu mengatakan hal yang mengejutkannya.

__ADS_1


"Syarat?"


"Ya, Syarat!"


__ADS_2