Pelakor Profesional

Pelakor Profesional
Luar Biasa


__ADS_3

Hari itu, berakhir begitu saja. Ranti tidak menunggu di ruangan Alex, sebaliknya Alex juga tidak memanggilnya.


Di mejanya, saat sebelum pulang, mencoba memikirkan kembali semuanya. Dia mengingat bagaimana wajah Alex saat berusaha menghentikannya dari berteriak.


Wajah itu terlihat pucat dan begitu serius memintanya untuk tidak berteriak. Normalnya, tentu saja semua orang akan takut jika ketahuan dalam posisi seperti itu.


Akan tetapi, jika laki-laki tersebut benar-benar mesum, seharusnya dia memanfaatkan situasi apapun yang bisa dia dapat. Di ruangan itu, seharusnya tidak sulit bagi Alex untuk benar-benar menodainya.


Dengan kekuatan finansialnya, seharusnya juga sangat mudah bagi pria itu untuk membungkam orang lain yang melihatnya. Apalagi, ini kantor, Bahkan gedung ini sekalipun, adalah miliknya.


"Mbak, kenapa melamun?"


Ranti yang sejak tadi tidak mengangkat sendok untuk menyuap makanannya, membuat Nick bertanya, heran.


Saat itu, dia menatap Nick, lama. Kemudian kembali menunduk. "Nick, apa impotensi bisa disembuhkan?"


Saat itu, Nick mengerutkan dahi, setelah itu balik bertanya "Jadi, memang benar?"


Ranti tidak menjawab, namun menggelengkan kepalanya. Akan tetapi, setelah itu dia berkata "aku cuma bertanya. Ini bukan seperti apa yang kau pikirkan. Laki-laki itu, sama sekali tidak impoten."


"Bagaimana mbak tau? Apa mbak sudah ... "


Melihat Nick coba mengatakan itu, Ranti langsung menggelengkan kepalanya. "Belum, tidak ... Maksudku, aku hanya tau saja. Kenapa?"


Saat itu juga Nick melepas nafas dan menaruh kedua sendok di piringnya. "Mbak,. Kenapa mbak gak mau lihat dulu apa yang aku temukan ? ... Bisa saja ini membantu, kan?"


Saat itu, Ranti menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kirimkan file nya ke email ku, nanti aku akan mempelajarinya."


Nick langsung menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku akan mengirimnya sekarang juga." Dia langsung mengambil ponselnya, dan mengusap beberapa kali layar benda itu. "Sudah, sebaiknya mbak pelajari."


Melihat Nick yang begitu mencemaskannya, Ranti tersenyum "Nick, terimakasih ... "


Nick mengangkat kepala dan balas tersenyum padanya "Tidak perlu, ini sudah menjadi tugasku. Mbak pasti ingat kenapa aku ada di sini, dan kenapa kita bisa duduk dan membicarakan hal ini, bukan?"


Ranti menganggukkan kepalanya. Tidak ada lagi senyum di sana. Wajah Nick, selalu mengingatkannya pada seseorang. Meski sangat tampan, wajah pemuda ini akan memicu tekadnya untuk menghancurkan laki-laki bajingan, sebanyak yang dia bisa.


"Mbak ... Kamu bisa berhenti kapan pun. Mbak tau bahwa aku tidak mempermasalahkannya, bukan?"

__ADS_1


"Tentu saja ... Tapi, Nick. Kau juga tau kenapa aku masih ada di sini, dan melakukan hal ini, bukan?"


Pemuda itu hanya bisa mengangkat bahunya pasrah. Dia mengajar piringnya, dan segera beranjak pergi dari sana.


"Mbak ... Karena kamu tidak terlalu melibatkan ku di kasus ini. Apa tidak masalah jika aku menghabiskan waktu dengan teman-teman ku? Ada kegiatan dari kampus, yang mengharuskan aku dan yang lainnya pergi keluar kota, untuk melakukan semacam kegiatan."


Mendengar itu, Ranti tersenyum "Tentu saja. Lagipula, mobilku sudah selesai di service ... "


Ranti menatap Nick penuh selidik "Nick, apa ada gadis di antara teman-teman yang kau maksud itu? Apa dia cantik?"


Wajah pemuda itu memerah, dan tak menjawab sama sekali. Ranti tersenyum saat Nick hanya menundukkan kepala dan pergi dari sana.


"Nick ... Jika keadaan darurat, kau sudah tau apa yang harus di lakukan, bukan?"


Pemuda itu tidak menjawabnya, dan berlalu masuk ke kamarnya, setelah meletakkan piring kotor di wastafel dapur rumah itu.


"Nick ... Aku ingin kau, yang berhenti dari apa yang kita lakukan ini. Bagaimanapun, aku ingin kau hidup secara, Normal! Sisanya, serahkan padaku."


Ranti juga mengangkat piring dan meletakkannya di tempat yang sama. Dia berniat cepat ke atas dan mempelajari file yang diberikan Nick itu.


Bagaimanapun, apa yang dia lakukan bukanlah permainan biasa. Salah melangkah, semua menjadi tidak ada artinya. Sekarang, baginya tidak ada salahnya berhati-hati. Menghadapi Alexander Putra Mandala, ternyata memang tak semudah yang dibayangkannya.


"Ada apa Pak?"


Dion yang saat itu telah berdiri, langsung berjalan melewatinya. Ranti mengernyit heran, karena orang ini yang memanggilnya. Akan tetapi, pria itu terlihat hendak pergi begitu saja.


"Aku hanya ingin memastikan bahwa kau telah datang. Sekarang, bersiaplah ... Sudah saatnya tugas di lapangan!"


Saat itu juga, Bahu Ranti merosot sangat jauh. Tiga hari terakhir, tidak ada kemajuan sama sekali.


Kemaren saja, dia mencuri waktu dan naik kelantai di mana ruangan Alex berada. Pria itu tidak ada di sana.


Hal itu membuat Ranti berpikir untuk menelfon Mirda, dan meminta wanita itu memindahkannya ke Aguan yang memungkinkan diri untuk bertemu dengan Alex sebanyak mungkin.


Namun, dia harus mengurungkan Niatnya. Setelah mempelajari perusahaan ini, bahkan Mirda tidak begitu memiliki pengaruh yang kuat di sini.


Alexander Putra Mandala, benar-benar orang yang berdiri jauh di puncak tangga.

__ADS_1


"Ranti, kenapa kau masih di sana? ... Kau tentu tidak bermaksud membuat Tuan Alex menunggu kita, kan?"


Mendengar itu, mata Ranti melebar. Dia berbalik, dan menatap pada Dion yang sudah berdiri di luar ruangan itu.


"Apakah dia juga akan berada di sana?"


Saat itu Dion langsung menganggukkan kepalanya "Bos perusahaan ini, adalah orang yang hebat. Dia tidak hanya sekedar memerintah saja. Dia ... Hemmm ... Kau akan segera melihatnya."


Tidak Sampai satu jam, Ranti, Dion, Dewi dan beberapa orang lainnya sudah ada di sebuah kompleks pertokoan yang sudah lama tertinggal.


"Ranti Olivia ... Sekarang, kita sudah ada di sini dan orang-orang ini, dari Singapura. Aku sengaja membawa mereka langsung ke sini, agar kau bisa menjelaskan langsung padanya, prospek yang kita bahas beberapa hari yang lalu."


Saat itu, semua orang sedikit terkejut. Ranti adalah pegawai baru di antara semua orang di sana. Akan tetapi, Alexander mempercayakan proyek yang sangat besar ini pada wanita itu.


Mereka mengakui bahwa Ranti sangat cantik dan. yah, cerdas. Akan tetapi, ini terasa terlalu cepat, apalagi investor ini dari luar negeri.


Dion melirik pada Ranti yang terlihat masih menatap Alex dengan tatapan nanar. Dia yakin wanita itu begitu terkejutnya dengan tugas yang berat dari Alex dan tiba-tiba saja diembankan pada dirinya.


Bahkan, Dion yang memiliki posisi sebagai kepala divisi marketing saja, membutuhkan orang lain untuk melakukan presentase langsung di depan investor.


Sekarang, tidak hanya di depan mereka saja. Akan tetapi, Ranti harus meyakinkan mereka semua langsung di lokasi yang menjadi target proyek mereka selanjutnya.


Ranti tidak bisa berkata-kata. Alex melihatnya datang dan tersenyum, lalu memberi perintah, seolah tidak ada apapun yang terjadi sebelumnya.


Kali ini, Ranti merasa bahwa Alex sedang berusaha mempermalukannya. Jelas saat presentasi pertama berlangsung, pria itu tidak menyukainya.


Sekarang, laki-laki brengsek yang mengaku impoten namu. Memiliki senjata yang bisa berdiri dengan gagah itu, terasa ingin menyingkirkannya dari perusahaan itu.


Sebuah senyum terkembang dari wajah Ranti, di berjalan mendekat pada investor itu, lalu menjulurkan tangannya.


"Excuse me, I'm Ranti Olivia ... From here, let me explain to you, why you should invest here ... "


Mata semua orang terpana dengan apa yang baru saja mereka lihat dan dengar. Di luar dugaan Ranti bisa mengendalikan keadaan dengan sangat cepat.


Wanita itu, kini terlihat sedang berbincang-bincang dengan semua orang di sana, seolah mereka adalah teman lama.


Alexander, yang berdiri di antara mereka tersenyum sedikit di belakang wanita yang sedang berbicara, semetara semua pria itu mendengarnya dengan mata berbinar-binar.

__ADS_1


"Wanita ini, benar-benar luar biasa ... "


__ADS_2