Pelakor Profesional

Pelakor Profesional
Pagi Yang Buruk


__ADS_3

Pagi harinya, Ranti sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Namun, saat dia baru hendak mengeluarkan mobil nya, Mobil Nick baru saja masuk ke garasi mereka yang lumayan luas itu.


Nick langsung turun dan menyapa Ranti. "Mbak, maaf ... Aku tidak sempat membalas. Jadi, apa ada masalah?"


Ranti sempat terdiam sejenak, lalu menggelengkan masalahnya. "Tidak, tidak ... Aku berpikir aku melupakan sesuatu dan aku telah menemukannya. Jadi, tidak ada masalah."


Mendengar itu, kening Nick berkerut. Namun, saat itu juga dia hendak mengatakan sesuatu.


"Nick aku sudah terlambat. Kita akan bicara setelah aku pulang, oke?"


Nick hanya bisa terdiam, karena tanpa menunggu tanggapannya, Ranti sudah masuk dan menutup pintu mobilnya. Dia melihat mobil itu mundur dan berputar, sebelum akhirnya pergi dari sana.


Nick hanya bisa menggelengkan kepalanya, pasrah. Akan tetapi, setelah itu dia menganggukkan kepalanya, sambil bergumam. "Aku akan memberi tahunya, malam ini."


Kedatangan Ranti disambut dengan tatapan aneh dari rekan-rekannya. Itu membuatnya sedikit penasaran, meski dia tidak menunjukkannya.


"Ran, kamu kok abis ke atas nggak turun-turun lagi, sih? ... Ngapain aja sama si bos besar?"


Inilah kenapa Rangi bisa menutupi rasa penasarannya. Itu karena dia tidak perlu menunggu lama untuk mengetahuinya.


"Aku ragu kamu akan percaya, jika aku menceritakan yang sebenarnya."


Ranti tidak begitu menunjukkan minat untuk mengatakannya. Namun, tidak bagi Dewi. Wanita itu benar-benar ingin tau.

__ADS_1


"Emangnya ada apa?"


"Sampai di atas aku dan Bos berciuman, setelah itu aku pingsan dan dia membawaku ke tempat tidur, menjagaku hingga bangun, lalu memintaku makan dan meminum obat ... Hmm, setelah itu aku kembali merasa kantuk dan tertidur. Saat hari sudah malam, dia sudah tidak bisa menunggu, lalu pergi saat aku bangun."


Saat mengatakan itu, Ranti sama sekali tidak mengecilkan suaranya. Semua orang yang ada di ruangan itu, bisa mendengar kalimatnya dengan sangat jelas.


Namun, semuanya serentak mencebik, dan kompak tidak mempercayai sedikitpun dari apa yang dikatakan wanita cantik itu.


Ranti mengedarkan pandangannya, saat pada semua orang di sana. Namun, matanya langsung terpaku pada satu orang yang berdiri, dengan Dion berada sedikit di belakangnya.


"Oh, Sial! ... Mati aku!"


Saat ini, Alex berdiri di ujung sana, menatap Lurus ke arahnya. Dari jarak dan besar ruangan itu, mustahil pria itu tidak mendengar apa yang baru saja dia katakan.


"Ran, tolong jangan bawa-bawa aku dalam masalah ini ... Aku tidak ingin kehilangan pekerjaan. Ayahku, sedang bisulan ... Dia perlu biaya besar untuk menjalani operasi ... "


Semua orang terdiam ditempatnya, saat melihat Alex kini berjalan ke arah Ranti.


Ranti sendiri, langsung menunduk bersembunyi di balik kubikel nya. Namun, dia tersentak saat tiba-tiba saja seseorang mengetuk-ngetuk dinding pembatas miliknya.


"Hmmm ... Jadi, kamu menceritakan apa yang kita lakukan semalam, pada semua rekan kerjamu?"


Mata Ranti melebar, sebelum akhirnya pelan-pelan mendongakkan kepalanya menatap Alex yang memasang wajah datar.

__ADS_1


Ranti berusaha tersenyum, dengan sedikit menyipitkan matanya, dan menjawab dengan sedikit manja.


"Maaf, pak ... Saya cuma bercanda. Lagipula, siapa yang akan percaya, kan?"


Alex sama sekali tidak membalas senyumnya. Namun, pria itu berbalik dan menatap semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Hmmm ... Mungkin saja! Tapi, itu tidak mengubah fakta bahwa, kamu sedang membicarakan aku di belakangku, bukan?"


Saat itu Ranti tertunduk kaku. Dia tidak menyangka paginya akan berakhir dengan seburuk ini.


"Nona Ranti Olivia ... Ikut aku, keruangan ku, sekarang ... !"


Setelah mengatakan itu, Alex langsung berbalik dan pergi dari sana. Sementara Ranti kembali mendongak kan wajahnya.


Di melihat pada Dewi, yang langsung menunduk membuang muka, begitu mata mereka berdua beradu.


Ranti berdiri dan merapikan bajunya, saat dia berjalan melewati wanita itu, dia berkata.


"Bahkan jika bisulĀ  ayahmu menjadi tumor ganas, Aku tetap akan menyeret nama kamu, jika aku sampai di pecat ... !"


Dewi langsung mengangkat wajahnya, ingin menanggapi itu. Namun, dia melihat Ranti sudah berjalan sedikit jauh.


Sekarang, dia sedikit menyesal karena telah bertanya, tanpa melihat situasi terlebih dahulu.

__ADS_1


"Wanita itu pasti akan mengadukan pada pak Alex ... apa saja yang sudah aku katakan padanya, tentang pria itu ... "


Dewi juga tidak menyangka paginya yang terlihat bisa ini, berakhir sangat buruk. Sekarang, nasib dan masa depannya, tergantung pada wanita itu.


__ADS_2