Pelakor Profesional

Pelakor Profesional
Menebus Kesalahan


__ADS_3

Sudah beberapa hari berlalu, meski Ranti walinya merasa bahwa sebelumnya hanya butuh sedikit dorongan lagi sebelum Alex jatuh ke pelukan nya, namun ternyata tidak.


"Oh, apakah dia sekuat itu untuk menahan godaan?"


Hari ini Ranti sudah mulai gelisah. Alex terlihat sudah terbiasa dengan usahanya untuk membuat pria itu mendekatinya.


"Ranti ... Apa terjadi sesuatu? Aku lihat, kau tidak fokus hari ini."


Ranti mendongakkan kepalanya, lalu segera menggelengkannya. "Tidak, tidak apa-apa ... Semuanya baik, ya ... Terlihat lancar ... "


Alex yang berdiri di depan mejanya, tersenyum dan menunjuk pada berkas yang ada di depannya.


"Lalu, kenapa kau membaca berkas itu dengan cara terbalik? ... Apa itu membuatmu lebih mudah mempelajarinya?"


Ranti tertegun sejenak, lalu melihat pada apa yang ditunjuk Alex. Matanya melebar, karena semua tulisan-tulisan yang terhampar di sana, sama sekali tidak bisa di bacanya.


"Ini ... Ini ... Aku, aku ... "


Alex menggelengkan kepala, lalu berkata. "Aku rasa, ini salahku ... Aku terlalu memaksa agar kau bisa mempelajari semuanya secepatnya."


Alex berbalik dan berjalan kembali ke mejanya. "Mungkin kau butuh istirahat dan sedikit hiburan ... Besok, kau boleh libur."


Mendengar apa yang di katakan Alex, membuat Ranti terdiam sejenak. Namun, beberapa detik berikutnya, dia tersenyum. Sebuah ide baru saja muncul di kepalanya.


Alex memperhatikan Ranti berdiri dan berjalan mendekat ke mejanya. Wanita yang sejak tadi melamun ini, seperti sudah kembali dalam mode liarnya.


"Apa yang kau inginkan? ... Cara bercandamu, tidak lagi bekerja padaku, Nona?"


Meski dia mengatakan itu, setiap Ranti tersenyum dan menatap sambil menggodanya itu, selalu sukses membuat jantung Alex berdebar.


"Oh, tidak, tidak ... Kali ini, saya tidak bercanda, Boss."


"Lalu, kenapa kau terlihat seperti wanita yang ingin menerkamku? ... "


Ranti semakin berani. Lagipula, Alex tidak pernah mempermasalahkan lagi sikapnya, setelah beberapa waktu ini. Bahkan, pria ini sudah menganggapnya itu hal biasa.

__ADS_1


"Hmm, aku ingin menerkammu ... Tapi, tentu saja aku tidak berani ... "


Alex menaikkan dagunya, lalu bertanya dengan suara datar. "Lalu, apa?"


"Hmmm ... Bukankah bapak baru mengakui bahwa ini salah bapak? jadi  bapak harus menebusnya. Bagaimana?"


Alex mengernyitkan keningnya, "Bukankah aku sudah memberimu waktu untuk libur, itu sudah—"


Alex terdiam, saat Ranti datang mendekat, dan menyandarkan bokongnya di meja, persis di samping nya.


"Aku tidak butuh liburan, tapi apa yang bapak katakan benar ... Aku butuh sedikit hiburan."


"Yasudah, silahkan!"


Alex berpikir bahwa semua sudah selesai, namun tiba-tiba, Ranti sedikit mendekatkan wajahnya.


"Jadi, bagaimana dengan penebusannya?"


Alex memundurkan kepalanya, karena dia merasa terlalu berbahaya berada dalam jarak seperti ini dengan Ranti.


Mendengar itu, Ranti langsung menggelengkan kepalanya. "Hmmm ... Itu sama sekali tidak menghibur." Setelah itu, Dai berbalik dan berkata. "Sudah, lupakan saja."


Melihat itu, entah kenapa Alex menjadi merasa bersalah. "Jadi, apa yang akan membuat kamu terhibur?"


Ranti mengehentikan langkah, dan berbalik.   Alex bisa melihat wanita itu tersenyum yang membuatnya menjadi curiga.


"Bapak bisa menemani aku berkaraoke, bagaimana?"


Sontak Alex mengangkat satu tangan dan mendorong udara, sambil menggelengkan kepalanya. "Huh, itu tidak akan terjadi. Sebaiknya lupakan saja."


Tidak menyerah, Ranti kembali maju mendekat, hingga bersandar ke meja Alex dan sedikit membungkuk.


"Kenapa? ... Apakah bapak takut istri bapak akan cemburu?"


Alex menelan ludah, karena posisi ini yang paling dia antisipasi jika sedang bersama Ranti. Fokusnya akan buyar jika melihat belahan itu.

__ADS_1


"Dia tidak akan cemburu ... Tapi, itu tidak—"


"Tidak, apa? ... Bapak takut kalau kita akan berakhir di tempat tidur keesokan harinya?"


Mata Alex melebar, namun saat itu juga dia menggelengkan kepalanya. "Ranti ... Sudah aku katakan kalau aku—"


"Impoten? ... Aku tidak percaya. Ingat, Aku pernah melihat nya berdiri."


Mungkin, jika wanita ini adalah orang lain, mungkin Alex akan menendang Ranti dan mengusirnya dari perusahaannya saat ini juga.


Akan tetapi, setelah mengenal Ranti lebih dekat, Alex menganggap Ranti memiliki batas toleransi dalam hal bercanda cukup tinggi.


Alex yang sudah mulai terbiasa, tidak lagi menganggap apa yang baru saja dikatakan Ranti, adalah sesuatu yang tidak pantas.


"Itu ... Waktu itu, aku ... "


"Kenapa gugup? ... Sini, biar kita buktikan."


Alex langsung berdiri, saat melihat Ranti berjalan mengelilingi mejanya, mencoba mendekat padanya.


"Hei, apa yang akan kau lakukan?"


Ranti berhenti, dan tersenyum sambil menunjuk resleting celananya. "Kita buktikan, apa benda itu memang tidak bisa berdiri ... "


Alex menarik nafas panjang, lalu melepasnya. "Baiklah, kau menang."


"Jadi, kita akan membuktikannya?" Tanya Ranti antusias.


"Jangan mimpi! ... Baiklah, aku akan menemanimu berkaraoke ... Apa itu cukup?"


Mendengar itu, Ranti mencebik. "Ck, padahal, ini lebih menghibur ... "


"Yasudah lupakan saja, aku—"


Mendengar itu. cepat Ranti memotongnya. "Ya, ya ... Kita Karaoke ... jangan tarik kata-kata, bapak. Oke?"

__ADS_1


Alex menggelengkan kepalanya, lalu menjawab. "kita akan pergi dengan mobilmu saja. Setelah bekerja ... "


__ADS_2