
Ranti benar-benar memiliki pengaruh pada pola pemikiran Alex. Pria itu tidak menyangka dia akan berakhir ditempat seperti ini, saat ini.
Ranti mengajaknya pada sebuah klub pribadi yang menyediakan ruang karaoke cukup besar.
"Boss ... Tidak usah kaku begitu. Bapak terlihat kayak orang udik, jika hanya berdiri di sana. Kemarilah!"
Meski yang dan waktu bukan masalah baginya, Alex memang tidak pernah datang ketempat seperti ini sebelumnya. Tentu saja hal ini membuatnya canggung.
Namun, saat Ranti mendekat dan merangkul satu lengannya, kepercayaan dirinya kembali muncul, dan mereka berjalan masuk ke ruangan itu.
Alex tertegun, dengan apa yang tersaji di atas meja. Begitu banyak minuman beralkohol dan jenis camilan.
"Ranti ... Maaf, aku hanya menemani mu saja. Setelah itu kita kembali."
Ranti menggelengkan kepalanya cepat, dan berkata. "Huh, belum di mulai, sudah membicarakan pulang."
Namun, saat itu Ranti tidak memperdulikannya. Dia langsung mengambil mouse yang ada di meja dan mulai mencari-cari lagu yang akan di nyanyikan nya.
Ranti tau bahwa Alex tidak memiliki toleransi yang tinggi dengan Alkohol, jadi dia sama sekali tidak bermaksud untuk meminta pria itu untuk minum.
__ADS_1
Semua terasa asing bagi Alex. Tentu saja hal membuatnya tidak yakin bisa terhibur di tempat seperti ini. Namun, begitu Ranti mulai bernyanyi, dia tau bahwa dia sepenuhnya salah.
Sebuah senyum langsung terkembang, dan tak lama senyum itu menjadi tawa. Alex akhirnya benar-benar terbahak-bahak sambil memegang perut, saat mendengar suara Ranti.
Dia mengakui bahwa Ranti cukup cantik bahkan sama cantiknya dengan Gladys, istrinya. Terlebih wanita itu juga sangat cerdas. Hal lain yang membuat Alex merasa Ranti pantas mendapatkan rasa hormat darinya.
Apalagi setiap hari sejak wanita itu berada di ruangannya, dia merasa hari-harinya terasa lebih berwarna, dengan celetukan bahkan sikap wanita itu yang kadang memang sedikit vulgar.
Tapi, melihat dan mendengar bagaimana Ranti bernyanyi. Wanita itu membawa Alex ke tahap yang jauh berbeda.
Alih-alih bersuara merdu dan enak di dengar, Ranti terlihat seperti orang yang marah-marah dan meratap di depan layar yang memiliki ukuran sangat besar itu.
Semakin malam, Ranti telah menenggak banyak minuman. Wanita itu semakin menggila. Apapun yang dilakukannya, benar-benar membuat Alex tidak bisa berhenti tertawa.
"Alexander Putra Mandala, sekarang giliran kamu ... Ayo temani aku bernyanyi ... Cepat!!"
Alex sempat tertegun saat mendengar bagaimana Ranti menyebut namanya, dan seolah memberinya sebuah perintah.
Namun, melihat kondisinya, Alex hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Sepertinya apa yang ditenggak wanita itu, telah membuat dirinya lupa diri.
__ADS_1
Akan tetapi, dengan begitu, Alex menjadi sedikit memiliki keberanian. Dia berdiri dan mengambil satu mic. Setelah sebelumnya memilih lagu yang di kenalnya.
Ranti tersenyum saat melihat Alex datang mendekat. "Baiklah Pak Boss ... Kita lihat, kualitas suaramu. Apakah sebaik diriku ... " Ucapnya, yang terdengar seperti orang sedang melantur tak tahu diri.
Alex hanya menggelengkan kepalanya, saat musik pengantar, mengiringi langkah kakinya mendekat pada wanita itu.
Ranti merasa waktu seolah berjalan lambat, saat mendengar Alex mulai bernyanyi. Dia mengguncang-guncang kepalanya, seolah tidak percaya yang di dengarnya.
Alex menarik satu tangannya, dan terus tersenyum sambil melantunkan nada, yang membuat reaksi alkohol yang dia tenggaknya tadi, tidak ada apa-apanya.
Ranti begitu terpana, karena suara Alex begitu merdunya. Hatinya terasa menghangat, apalagi saat ini Alex membawanya menari pelan, di iringi musik yang lembut dan suara orang yang menyanyikannya terdengar begitu seksinya.
Ranti hanyut dalam gerakan itu, hingga dia memeluk Alex erat. Namun, sepertinya pria itu tidak mempermasalahkannya dan balas merangkulnya.
Tenang, Nyaman, dan begitu menghanyutkan. Ranti benar-benar merasa terhibur saat itu. Dia sempat berharap, hal ini berjalan sangat lama.
Akan tetapi, semua itu tentu hanyalah harapan. Ternyata Waktu berlalu begitu cepatnya. Tidak terasa, hari sudah pukul dua lewat dini hari. Keduanya sudah keluar dan berniat untuk pulang.
"Ranti ... Ranti ... Kau, tidak apa-apa? ... Ranti?"
__ADS_1
Ranti hendak mengangguk, namun hal itu terasa sulit dilakukan. Kepalanya terasa berat, dan keseimbangan terasa goyah.
Hal terakhir yang Ranti ingat adalah dia sudah berada di dalam pelukan Alex yang mengangkat nya dan terus berjalan. Ranti tersenyum, sebelum menutup mata hingga kesadarannya menghilang.