Pelakor Profesional

Pelakor Profesional
Mengintip


__ADS_3

Alex kembali ke rumah, dengan pikiran yang sangat-sangat kacau. Dia memasuki kamar, namun tidak menemukan istrinya di sana.


"Apa yang harus aku lakukan?"


Alex duduk di kursi di kamarnya. Di bersandar dan melihat kelangit-langit kamar itu, mencoba berfikir jernih.


Dia benar-benar tidak tau harus berbuat apa. Memiliki hasrat pada seorang wanita, adalah impian terbesarnya.


Namun, saat dia merasakannya, hasrat itu muncul.pada wanita yang salah. Sekarang, dia sudah memiliki istri, yang terasa sangat menyayangi nya dan rela berkorban untuknya.


"Sayang? ... Kamu sudah pulang?"


Sempat berpikir bahwa Gladys tidak sedang berada di rumah, ternyata istrinya baru saja keluar dari kamar mandi dan langsung menyapanya.


Alex tersenyum, dan mengangkat tangan memanggilnya. "Kemarilah ..."


Gladys yang memasang wajah sedikit kebingungan, mendekat pada pria itu. Alex menuntunnya untuk duduk di pangkuannya.


Gladys bisa merasakan Alex membenamkan   wajah di rambut yang baru saja dia keringkan sambil memeluknya erat.


"Apa terjadi sesuatu, di kantor? ... Kamu bersikap sedikit aneh."


Alex tidak langsung menjawab, tapi memeluk wanita itu semakin erat. Tak lama, dia melepaskanya.


Gladys merubah sedikit posisi tubuhnya, dan menatap wajah Alex yang terlihat sedikit tertekan. "Apa semua baik-baik saja?"


Saat itu, Alex tersenyum. "Ya, tentu saja ... Setelah memelukmu, aku merasa semua baik-baik saja."

__ADS_1


Gladys langsung tersenyum, dan berkata. "kalau begitu, aku akan memelukmu, lebih lama, agar duniamu terasa sempurna."


Saat mendengar Gladys mengatakan itu, rasa bersalah langsung hinggap di hatinya. Tidak mungkin rasanya bagi Alex untuk mengkhianati wanita ini.


"Terimakasih ... Kamu membuat duniaku, kembali utuh ... "


Di balik, pelukan itu, Gladys memutar matanya. "Utuh? ... Senjatamu hanya untuk buang air kecil saja, kau bilang utuh? Jangan bercanda!" Batinnya.


Setelah pelukan itu dia lepas, Gladys kembali tersenyum dan mendaratkan sebuah ciuman dia keningnya. Namun, tak berapa lama, wajah wanita itu sedikit berubah.


"Kenapa? ... Apa ada yang salah?"


Sekarang giliran Alex yang merasa heran. Dia melihat Gladys seperti seolah sedang mengendus-endus sesuatu.


Wanita itu menempelkan hidung di bajunya, dan kemudian mendongakkan wajahnya. Dengan tatapan dan nada curiga, dia bertanya.


Mata Alex melebar, namun detik kemudian dia tersenyum. "Ya, tentu saja ... Aku tidak akan membohongimu ... Seorang karyawan ku mabuk berat, dan pingsan ... Jadi, aku mengangkatnya. Tidak heran jika parfumnya menempel di pakaianku."


Alex melihat Wajah Gladys langsung berubah muram, setelah itu, perlahan dia berdiri dan berjalan meninggalkannya. Wanita itu langsung berbaring di tempat tidur, memunggunginya.


Alex tersenyum dan berjalan mendekatinya. Dia ikut berbaring, dan memeluk istrinya yang terlihat sedikit cemburu itu, dari belakang.


"Kamu orang yang paling tau, jika aku tidak bisa melakukan apapun pada wanita bukan?"


Gladys tidak langsung menjawabnya, namun beberapa detik kemudian, dia akhirnya bicara.


"Alexander Putra Mandala ... Kadang, wanita tidak hanya menginginkan kamu, karena kamu seorang pria saja. Mereka mungkin saja menginginkan hal lainnya ... Bukankah kamu sudah sering mengalaminya?"

__ADS_1


Alex tersenyum. Rasa cemburu yang ditunjukkan Gladys padanya. Di artikan sebagai perasaan takut oleh istrinya itu, akan kehilangan dirinya.


"Sayang ... Bukankah, sekarang aku sudah menjadi milikmu? ... "


Setelah mendengar Alex mengatakan itu. Gladys membalikan tubuhnya. Sekarang keduanya saling berhadapan.


"Kemarilah ... Aku ingin memeluk, milikku ini ... "


Mereka berada dalam posisi itu, hingga keduanya terlelap. Atau, setidaknya hingga Alex terlelap. Karena saat itu mata Gladys masih terbuka dan menatap pria itu datar.


"Pria yang tidak bisa menggunakan senjatanya ... Bukanlah pria ... Dan kau, juga bukan seorang wanita ... Menyedihkan!"


Gladys mencoba melepaskan diri dari pelukan Alex, karena saat ini dia merasa sedikit kesemutan.


Pagi harinya, Alex kembali ke kantornya. Namun, setelah lama menunggu dan waktu jam masuk kantor telah berlalu, dia tidak melihat Ranti datang.


Alex berpikir sejenak, sebelum akhirnya dia tersadar dan langsung berdiri.


"Sial ... Apa dia masih tertidur di sana?"


Gegas Alex berjalan ke dalam kamar di ruangannya itu, untuk melihat Ranti. Berat dugaannya, gadis itu masih terbaring di tempat tidur terakhir kali dia meninggalkan wanita itu di sana.


"Tidak Ada?!"


Alex berjalan ke arah kamar mandi. Mendekatkan telinganya ke pintu itu, mencoba mendengar apa ada orang di dalam sana.


"Pak Bos? ... Apa bapak sedang mencoba mengintip, Saya?!"

__ADS_1


__ADS_2