Pelakor Profesional

Pelakor Profesional
Jauh Lebih Besar


__ADS_3

Alex langsung mendorong meja hingga membuat kursinya mundur kebelakang. Setelah itu, dia berbalik dan langsung berusaha membenarkan posisi senjatanya itu.


Meski apa yang dia lihat tadi membuat benda itu bereaksi, namun saat mendengar apa yang dikatakan Ranti terakhir kali, otaknya langsung membayangkan sesuatu yang membuat senjatanya tersebut langsung memberontak.


"Sial ... Rasanya seperti akan patah!" Umpat Alex dalam hati, tidak perduli lagi dengan rasa malu yang dia tahan sejak tadi.


Ranti tersenyum puas, dan langsung berdiri. Dia sempat menunggu Alex berbalik, namun sepertinya itu akan akan sengat memalukan bagi pria itu.


Ranti berbalik sambil menggelengkan kepalanya. Di kembali duduk di lelang mejanya, lalu menaruh map yang tadi dia jari di salah satu tumpukkan, dan menarik map lain di tumpukan lainnya.


Alex perlu menunggu beberapa saat, dan mengintip apakah wanita itu masih di mejanya.


Setelah dia memastikan Ranti telah berada di mejanya sendiri, barulah pria itu kembali menggeser kursinya ke mejanya.


"Huft ... "


Alex meniup udara, karena merasa lega. Ada dua kelegaan yang saat ini dia rasakan. Senjatanya yang tidak jadi patah bahkan sebelum pernah digunakan sebagai mana mestinya itu, serta sikap Ranti yang sudah kembali seperti sedia kala.


Alex menarik nafas panjang lalu melepasnya kasar. Dia menggelengkan kepalanya lalu tersenyum.


Sebelum menutup berkas yang baru saja dia tanda tangani itu, Alex berpikir, setidaknya dialah yang harus kembali membiasakan diri dengan kehadiran Ranti di ruangan ini.


Alex mungkin penasaran dengan apa yang membuat Ranti yang sehari sebelumnya begitu bersikukuh untuk mengundurkan diri, sekarang terlihat seolah-olah tidak ada apapun yang terjadi.


Namun, dia enggan untuk menanyakan hal tersebut, karena tidak ingin melihat Ranti marah, atau lebih buruk kembali berniat untuk berhenti.

__ADS_1


Namun di saat bersamaan, Ranti yang terlihat sedang asik dengan apa yang dia kerjakan itu, sedang berpikir keras bagaimana caranya menyelesaikan apa yang sudah di mulainya tanpa ada yang mereka dirugikan, apalagi lagi sampai terluka.


Mirda akhirnya menemukan sesuatu yang bisa membuatnya takut. Ranti memang tidak peduli dengan apa yang akan menimpanya. Tapi, Sasmi dan seluruh anak-anak di panti adalah hal lainnya.


Sebelumnya, Ranti merasa jika Mirda tidak akan berani mempersulit dirinya, karena di saat bersamaan, Ranti memegang rahasia di mana wanita itu dan Gladys, istri Alex berniat menghancurkan pria yang kini berada di ruangan yang sama dengannya itu.


Untuk saat ini, Ranti terpaksa mengikuti apa yang Mirda inginkan. Meski dia sama sekali tidak ingin membuat Alex hancur.


Hari itu, di lalui Ranti dan Alex tanpa banyak bicara. Namun, ada banyak hal yang sebenarnya ingin keduanya bicarakan. Akan tetapi, banyak hal lain pula yang menghalanginya.


"Mbak ... Aku sudah memeriksa informasi dari keduanya."


Sejak pagi, Nickolas berusaha mengumpulkan informasi sebanyak yang dia bisa tentang Gladys. Dan sedekat apa wanita itu dengan Mirda.


"Jadi, apa yang kau dapat?"


Keduanya saat ini sedang berada di rumah. Beruntung, Nick langsung mengerti begitu Ranti menjelaskan situasi yang sedang di hadapinya saat ini.


Tidak memaksa Ranti untuk tetap pada keputusannya, sebaliknya pemuda itu meminta Ranti tetap melakukan apa yang Mirda minta sementara dirinya mencari cara untuk membuat semuanya kembali di bawah kendali mereka.


"Wanita itu, bukan anak kandung dari orang tuanya!"


Mendengar itu, Ranti menautkan alisnya. Dia tidak melihat apa hubungannya jika Gladys bukan anak kandung orang tuanya, dengan masalah mereka.


"Nick, apa hubungannya hal itu, dengan tujuannya? ... Bahkan, akuntidak mengerti kenapa wanita itu ingin menghancurkan suaminya sendiri. Alex mampu memberikan apapun padanya."

__ADS_1


"Sepertinya tidak semuanya, Bukan?"


Saat Nickolas mengatakan itu, Ranti hanya bisa mengangguk pasrah. "Ya, sepertinya memang tidak semuanya. Dan ... Ya, aku rasa ini sedikit masuk akal, karena mungkin saja wanita itu merasa tidak bahagia."


Mendengar analisa Ranti yang memang terdengar masuk akal itu, Nick menggelengkan kepalanya.


"Tidak, tidak ... Meski Alexander tidak memiliki penyakit apapun, sepertinya dia tetap akan melakukan hal ini."


"Maksudmu?"


Nickolas membalikkan layar laptopnya, dan menunjukan sesuatu pada Ranti. Saat wanita itu sedang memperhatikan apa yang ada di sana, dia menjelaskan.


"Sangat Aneh jika seorang pengusaha kaya yang memiliki anak tiga, mengangkat seorang gadis muda sebagi anak, dan menjadikannya pewaris dari keluarga mereka. Yang membuatnya, lebih aneh adalah semua itu terjadi hanya dalam waktu dua Minggu, sebelum Alex menikahi wanita itu ... "


Mata Ranti melebar, dan berbalik menatap pada Nick, mencoba memastikan apa yang di simpulkan olehnya sekarang, adalah hal yang sama dengan apa yang di pikirkan pemuda itu.


"Jadi, dia—"


Nick menganggukkan kepalanya, langsung memotong.


"Ya, pasti ada seseorang yang telah mengatur semua ini, jauh sebelumnya. Dan ... Keterlibatan mbak yang di bawa Mirda, hanya salah satu dari peluang yang coba mereka ciptakan."


Ranti menelan ludahnya, karena ternyata, hal ini sangat jauh lebih besar dari apa yang mereka duga.


"Sepertinya, ini adalah bentuk persaingan untuk saling menghancurkan dari klan-klan terkuat di negara ini ... Dan kebetulan, yang menjadi target merekam saat ini adalah Alexander Putra Mandala, dari Klan ... Mandala ... "

__ADS_1


__ADS_2