Pelakor Profesional

Pelakor Profesional
Masalahnya, Sentuh!


__ADS_3

Tentu saja Ranti tidak akan percaya begitu saja. Akan tetapi, saat melihat wajah Alex saat mengatakannya, keyakinannya sedikit goyah.


Namun disaat bersamaan, Ranti tidak menunjukkan rasa ketertarikannya. Niatnya saat ini adalah mencari informasi sejelas-jelasnya.


Alex sudah terlihat ingin membahas, jadi Ranti berusaha untuk terus memancing pria ini.


"Jadi, anunya bapak bisa hidup kalau ... Hmm ... Lihat ini?"


Padahal saat itu, Ranti tidak menunjuk apapun. Namun, secara naluri Alex melirik nya. Tau bahwa wanita kembali menggodanya, dia memasang wajah putus asa.


"Ranti, tolong sedikit serius ... Aku tidak pernah membahas ini dengan orang lain sebelumnya ... "


Ranti menganggukkan kepalanya, lalu berpindah duduk ke sofa yang lebih dekat dengan Alex. Di kembali mengangkat satu kaki ke atas yang lainnya, dan bertopang dagu dengan sebelah tangan.


Matanya menatap langsung ke mata Alex yang sekarang menghadap kebawah. Ranti tersenyum sebentar, kemudian berkata.


"Bukankah itu bagus?"


Alex mengangguk, lalu dia menyadari anggukannya terlalu cepat. Takut Ranti salah faham, dia langsung menoleh untuk menjelaskan.

__ADS_1


"Ini, bagus ...  tapi, bukan seperti yang kamu pikirkan. Setidaknya aku—"


"Memangnya bapak tau apa yang saya pikirkan. Jika begitu, tolong katakan ... Apa yang sekarang sedang saya pikirkan?!"


Pertanyaan Ranti yang menyela penjelasan nya itu, langsung mengantarkan Alex pada alam keterbengongan. Dia sebenarnya tidak yakin dengan apa yang sedang di pikirkan wanita di depannya ini.


Semua yang dia simpulkan, hanya berdasarkan dugaannya saja. Hingga Ranti menanyakannya, Alex benar-benar tidak tau harus menjawab dengan cara seperti apa.


Alex menelan ludah, dan bertanya terbata. "Bu-bukankah ... ka-kamu ... berpikir ... A-aku ... Orang yang ... Mesum?"


Mendengar itu, Ranti menurunkan kaki, dan melipat tangan di depan dada. Di melihat ke atas meja sebentar, lalu kembali menatap Alex cepat.


Alex memundurkan kepalanya sedikit, karena tatapan Ranti seolah memberi dorongan padanya. Namun, saat dia menyadari apa yang dimaksud oleh wanita itu, dia langsung mengangguk setuju.


"Nah, maksudku itu. Itulah kenapa ... " Alex ingin mengatakan maksudnya memang seperti itu. Akan tetapi, saat itu juga dia menyadari sesuatu.


Alex menatap langsung ke mata Ranti, dan bertanya dengan suara rendah. "Jadi, kamu ... Kenapa kamu ... "


Ranti langsung berdiri, dan Alex menatapnya heran. Wanita itu balas menatapnya dan berkata. "Sudah, lupakan saja ... Lagipula, tidak ada bedanya, bukan?"

__ADS_1


Ranti berjalan, namun Alex juga langsung berdiri, mencoba mencegahnya. "Ranti, ini jelas ada bedanya ... Maksudku, ini akan sangat berbeda ... Kamu ... Aku ... !"


Ranti berbalik, dan kembali bertanya. "Apa bedanya? Bukankah bapak begitu mencintai istri bapak? Jadi, apa bedanya?"


Alex tidak tau perbedaan yang Ranti maksud adalah hal itu. Sangat terbalik dengan apa yang dipikirkannya.


Pagi ini, dia berpikir telah menemukan solusi bagi penyakit dan masalah rumah tangganya, jika saja wanita ini mau membantunya.


Namun, sepertinya Ranti memikirkan hal lainnya. saat ini Alex langsung dihadapkan dengan situasi yang membuatnya bingung.


"Ranti ... Kenapa kamu berkata seperti itu? ... Kenapa kamu marah?"


Ranti juga tidak tau kenapa dia meninggikan suaranya. Di baru menyadari itu saat Alex menanyakannya. Dia langsung memaksa otaknya bekerja sangat keras untuk menemukan jawaban.


Namun, belum sempat dia menemukannya, Alex kembali bertanya dengan suara rendah, dan tampak ragu.


"Apa kamu menginginkanku, menyentuh mu?!"


Saat itu, juga Ranti mendapat kesempatan untuk membalikkan siatuasinya, dan balik bertanya.

__ADS_1


"Apa tadi malam bapak benar-benar berniat menyentuhku?!"


__ADS_2