
Pagi berikutnya, Alex tidak berharap jika Ranti langsung mengubah keputusannya dan kembali bekerja.
Meski bisa menuntutnya karena memutus kontrak kerja secara sepihak, namun itu hanyalah ancaman kosong. Alex sama sekali tidak berniat melakukannya.
"Jika dia merasa keberatan, maka aku akan meringankan pekerjaannya. Aku hanya ingin dia tetap bekerja di sini, itu saja ... "
Alex baru hendak menarik satu berkas untuk di pelajari sebelum ditanda tangani nya, namun tiba-tiba pintu ruangannya terbuka.
Alex tertegun, seolah tak percaya bahwa wanita yang sedang dia pikirkan muncul begitu saja.
"Ranti?"
Ranti tersenyum canggung dan menundukkan kepalanya. Namun, gadis itu langsung berjalan menuju meja kerjanya begitu saja.
Alex berpikir bahwa Ranti akan mengambil sesuatu, lalu kembali pergi, namun tidak. Wanita itu baru saja menarik sebuah berkas, dan membukanya.
Lima menit berlalu, Alex terus melihat wanita itu yang larut dalam isi yang terkandung di berkas tersebut. Hingga akhirnya, Ranti mendongakkan kepala, dan menoleh padanya.
Saat itu juga, Reflek Alex langsung menunduk dan melihat pada berkas yang ada di mejanya sendiri. Meski tidak begitu mengerti, dia melihat Ranti seolah sedang bekerja. Bukan seperti seseorang yang sehari yang lalu, ngotot ingin mengundurkan diri.
"Boss ... ?"
Alex tau bahwa Ranti sedang memanggilnya. Namun, dia sengaja untuk tidak langsung menanggapi dan berusaha terlihat sedang berkonsentrasi pada berkas di depannya.
Ranti tau Alex sejak tadi menatapnya. Namun, sekarang pria ini seolah tidak mendengarnya. Merasa diabaikan, Ranti sedikit menguatkan suaranya.
"Pak Boss!"
__ADS_1
Alex mendongak pura-pura terkejut. "Ehem , ya? ... Ada apa?"
Ranti mengernyitkan keningnya, melihat berkas yang ada di depan Alex. Itu adalah berkas yang sama, dengan berkas yang dipelajarinya.
Namun, karena Alex sudah menanggapinya, Ranti tersenyum, dan berkata.
"Saya ingin menanyakan, kapan kita akan kembali kelapangan ... Bukankah, seharusnya semua sudah siap? Saya sudah memeriksa berkas yang sama dengan yang itu, dan semua terlihat baik."
Mendengar Ranti berbicara panjang lebar, Alex mengangguk-anggukkan kepalanya. Sesekali di melihat pada berkas yang ada di depannya. Dan kembali menganggukkan kepalanya.
"Kenapa belum ditandatangani, apa ada masalah?"
"Ha?! ... Oh, ini? ... Ya, ya ... Aku baru saj adakan menandatangani nya."
Ranti kembali mengernyitkan keningnya, karena Alex terlihat benar-benar ingin menandatangani berkas tersebut. Namun, cepat dia bergerak, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas berkas tersebut.
Alex tersentak, dan mengangkat kepalanya. Saat itu juga, darahnya mendesir. Tidak pernah sedekat ini sebelumnya, namun belahan itu terlihat sangat jelas.
"Bapak bisa melihat bahkan menyentuhnya nanti. Tapi, coba lihat ini dulu ... Apa bapak mau menandatangani kepala surat?"
Alex mengerjapkan matanya beberapa kali, sebelum akhirnya cepat menunduk dan melihat pada berkas tersebut. Dia membuat pulpen yang ada dibatas mejanya, dan mendekatkan ujung benda itu, di sudut bawah berkas tersebut.
"Apa sekarang, pemimpin perusahaan bebas menandatangani di mana saja."
Saat itu, juga Alex baru menyadari bahwa berkas yang ada dibatas mejanya itu, terbalik. Hampir saja dia menandatangani surat asli yang dikirim investor itu, di kepala suratnya.
"Oh, ini aku ... Aku ... "
__ADS_1
Saat melihat Alex bertingkah aneh, dan begitu gugup, Ranti tersenyum.
Dia sempat Berpikir, bahwa Alex akan mengungkit masalah pengunduran dirinya, namun ternyata tidak.
Sejak mengetahui bahwa Alex benar-benar seperti apa yang dikatakannya. Muncul rasa simpati Ranti pada pria ini.
Ranti memutar berkas tersebut, dan menunjuk kolom yang memang disediakan sebagi tempat dimana seharusnya Alex membubuhi tanda tangannya.
"Di sini ... "
Tanpa pikir panjang, Alex langsung menandatanganinya. Setelahnya, dia tetap menunduk dan masih terlihat gugup.
"Sekarang, bapak boleh melihatnya!"
Mata Alex melebar, saat mendengarnya. Namun, di saat bersamaan dia tersenyum. Sepertinya, Ranti memang sudah mengubah keputusannya, dan kembali seperti semula.
Alex merasa saat ini, Ranti kembali melakukan candaan seperti apa yang biasa wanita itu lakukan, padanya.
"Ranti, kamu tidak usah memancing ... Aku tidak akan tergoda."
Meski begitu, saat ini Alex benar-benar berusaha keras untuk menahan hasrat, agar dia tidak mengangkat sedikit saja kelopak matanya.
Ranti tersenyum, dan melihat jauh kebawah, dan berkata.
"Baiklah ... Tapi, Sepertinya benda itu tidak terparkir dengan benar. Bukankah, seharusnya rasanya tidak nyaman?"
Alex terpaksa memejamkan mata, menanggung malu. Memang benar bahwa saat ini senjata miliknya sudah mulai mengeras. Karena posisinya yang tidak pas, dia merasa sangat tidak nyaman saat ini.
__ADS_1
Melihat reaksi Alex, Ranti kembali tersenyum dan memajukan wajahnya sedikit lebih dekat pada pria itu, dan berbicara setengah berbisik.
"Bagaimana jika, saya saja yang membantu membenarkan posisi nya? ... "