Pelakor Profesional

Pelakor Profesional
Satu Tetes


__ADS_3

Acara makan siang itu, awalnya dimulai dengan kaku, namun lama-kelamaan menjadi meriah.


Ranti melupakan sejenak masalah Bram, dan mencoba mendekatkan rekan-rekannya pada Alex. Tentu saja, saat itu Alex menunjukkan kebaikan hatinya. Pria tersebut membayar semua tagihan makan siang semua karyawan di sana.


Melihat Alex tertawa bersama rekan-rekannya, semakin membuat Ranti ragu dengan anggapannya pada pria tersebut.


Namun, kewaspadaannya semakin tinggi, karena berpikir bisa saja, entah bagaimana caranya Alex sudah mengatur segalanya dengan sedemikian rupa.


"Pak, kita mau kemana? ... Apa ada investor yang harus kita temui? Aku tidak melihat berkas seperti itu di mejaku."


Ranti merasa heran, karena sehabis makan siang itu Alex mengajaknya keluar. Jadi, karena ini masih jam kerja, dia berpikir Alex akan membawanya untuk urusan perkejaan.


"Kamu akan tau, setelah kita sampai ... "


Hanya itu saja yang dikatakan Alex, setelah itu pria tersebut mengalihkan topik dan membahas hal lainnya.


"Ranti sebenarnya di mana kamu tinggal?"


Ranti berpikir untuk mempertimbangkan apa dia harus memberi tahu atau tidak, namun sesaat kemudian, dia berpikir tidak ada gunanya merahasiakan hal tersebut.


Alex akan sangat mudah menemukannya, jika pria itu sengaja mencarinya.


"Apa bapak akan datang bertamu? ... "


Alex tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Apa kamu berharap aku akan bertamu?"

__ADS_1


Ranti langsung menganggukkan kepalanya, dan berkata. "Hubungi duku sebelum datang. Aku akan memilih pakaian yang akan membuat bapak tidak bisa mengalihkan pandangan ... " Katanya menggoda.


Alex tidak melihatnya, namun Ranti bisa dengan jelas melihat jakun Alex bergerak. Hal tersebut, membuat dirinya sedikit terkekeh geli.


"Ranti, kamu sudah tau kelemahanku ... Aku tidak akan menyembunyikan itu lagi. Jadi, tolong jangan selalu menggodaku ... Aku takut, kalau aku ... "


"Kalau apa? ... Katakan, kalau apa? Apa bapak akan menerkammu?" Godanya sekali lagi.


Alex menggelengkan kepalanya, "Dasar Gila!"


Mengesampingkan misinya, Entah kenapa, menggoda Alex membuat kesenangan tersendiri bagi dirinya. Ranti memiliki banyak cara, namun pria ini terlihat berusaha keras untuk melawannya.


"Untuk apa kita kesini? ... Apa bapak sakit?"


Kedua alis Ranti terlihat akan menyatu saat menanyakan, kenapa mereka berdua berakhir di parkiran sebuah rumah sakit internasional swasta di kota itu.


Tidak menunggunya Alex sudah membuka pintu dan keluar dari sana. Ranti hanya bisa mengikuti kata-katanya, dan berjalan mensejajari pria tersebut ketika memasuki gedung rumah sakit itu.


Lima menit kemudian, keduanya sudah duduk di depan seorang dokter spesialis, yang Ranti ketahui sebagai dokter yang menangani penyakit yang di derita oleh pria yang kini duduk di sampingnya, dengan wajah penuh harap.


"Jadi, Dok. Ini Ranti Olivia ... Wanita yang aku bicarakan."


Dokter itu melihat sekilas pada Ranti, dan kembali pada Alex. Namun, beberapa detik kemudian dia kembali menoleh pada wanita itu, dan tersenyum sambil menjulurkan tangannya.


"Aku Reynaldi ... "

__ADS_1


Ranti menyambut tangan itu, dan menjabatnya. "Ranti."


Tidak sabaran, Alex langsung masuk ke poin utamanya. "Jadi, Dok ... Bagaimana menurut anda?"


Ranti melihat dokter itu tampak sedang berpikir sambil sesekali melirik padanya. Namun tak lama, dia kemudian kembali bicara.


"Ini sedikit aneh. Maksudku, secara medis ini seperti tidak mungkin. Aku sudah memeriksa seluruh syaraf anda, dan memang ada kelainan di sana ... operasi yang aku bicarakan akan melibatkan banyak dokter spesialis. Tapi ... "


"Tapi apa, Dok?"


Alex sudah menyiapkan mentalnya untuk menjalani tindakan operasi, meski Dokter Rey tidak menjamin setelah melakukanya, Alex akan mendapatkan hasil seperti yang dia inginkan.


Namun, karena kehadiran Ranti dan keanehan yang dia alami bersama wanita itu, Alex merasa memiliki harapan baru.


Dokter Rey tidak menjawab Alex, namun menatap pada Ranti. Mata dokter itu terlihat serius saat akan berkata.


"Nona Ranti ... Aku menanyakan ini, sebagai seorang dokter profesional, dan aku perlu bukti ... "


Mendengar itu, Ranti melebarkan matanya. Dia tau kemana arah pembicaraan Dokter itu.


"Apa Nona Ranti, membiarkan Tuan Alex, menyentuh bagian tubuh anda, sementara aku menjalankan pemeriksaan lebih lanjut terhadap reaksi Syarafnya?"


Tentu saja Ranti ingin menolak. Bagaimana dia bisa membiarkan Alex menyentuhnya, di saat ada pria lain yang mengetahui, bahkan mungkin melihatnya.


Namun, saat Ranti ingin menanggapinya, Alex sudah lebih dahulu bersuara.

__ADS_1


"Ranti ... Aku ... Aku ... sangat ingin, membahagiakan, Gladys ... Istriku!"


Tetes air mata terjatuh, saat Ranti melihat Alex tertunduk saat mengatakannya. Ranti menelan ludah, dan kembali memikirkan apa yang akan di ucapkannya.


__ADS_2