
Arga terus membawaku naik ke daerah atas melewati UNPAR (Universitas Parahyangan), terus lagi naik ke atas melewati RS. Salamun sampai akhirnya memasuki kawasan Punclut, aku pikir kami akan ke Lembang tapi Arga berbelok ke arah kanan, berlawanan dengan arah Lembang sampai akhirnya motornya memasuki area parkir.
“Turun."
Aku menuruti perintahnya, membuka helmku dan memberikannya kepada Arga. Aku menatap sekeliling dimana payung warna-warni dipasang di sepanjang halaman menuju sebuah Café. Lereng Anteng, aku membaca nama café itu yang sekarang sedang menjadi perbincangan hangat di kalangan anak muda Bandung.
“Ngapain?” aku bertanya dengan nada malas.
“Makan,” jawabnya sambil berjalan menarik pergelangan tanganku seperti seorang ayah yang menarik anaknya yang sedang ngambek.
Tanpa protes aku mengikutinya masuk ke dalam café, yang langsung disuguhkan pemandangan yang menawan. Nuansa café ini benar-benar bersatu dengan alam, tenda-tenda transparan lucu dipasang dengan sistem teraseling lahan yang melandai dimana para pengunjung bisa menikmati makanan seperti sedang berkemah dengan pemandangan alam hijau dan udara sejuk khas daerah atas.
“Mau di bawah atau di sini?” Arga bertanya memintaku memilih dimana kami akan duduk, di bawah yang artinya di dalam salah satu tenda.
“Di sini saja.” Aku memilih duduk di atas bantalan-bantalan nyaman yang tersedia di balkon dengan nuansa kayu itu. Kami duduk di ujung dekat pagar pembatas, mataku memandang kekejauhan menikmati udara segar pegunungan.
“Mau makan apa?”
“Terserah.”
“Minumnya?”
“Terserah.”
Arga membuang napas mendengar jawabanku yang bahkan tak mengalihkan pandanganku seolah tengah terhipnotis oleh alam.
“Sudah habis.”
Aku menatap Arga, “Apa yang habis?”
“Itu… terserah, katanya dah habis.”
Aku tersenyum mendengarnya.
“Ya udah yang ada saja.”
“Banyak… mau yang mana?”
Mau tak mau aku kembali tersenyum dan mulai membaca menu makanan di sana.
“Berdua saja ya?” aku tak begitu berselera untuk makan.
“Gak boleh, pokoknya sekarang kamu harus makan… Ibu tadi bilang katanya kamu belum makan dari kemarin.”
“Ibu sok tahu, kemarin aku makan kok.”
“Makan apa? Makan angin?”
“Kan kemarin kita makan bakso si kumis.”
“Tapi gak habis, aku yang habisin… udah pokoknya sekarang kamu harus makan, kalau gak kita nginep di sini, tuh tendanya sudah ada.”
Aku kembali tersenyum sambil membulak-balikkan buku menu dan akhirnya memutuskan pilihan kepada nasi goreng dan yoghurt tutifrutti. Sedangkan Arga hanya memesan juice alpukat. Curang!
Aku kembali terdiam sambil menikmati pemandangan, Arga juga sama. Dia tak banyak bertanya walaupun aku tahu banyak sekali yang ingin dia katakan selama ini dan hanya menunggu waktu yang tepat saja, dan sekaranglah mungkin waktunya.
“Belum ada kabar?” Arga mulai bertanya yang membuatku membuang napas berat kemudian menggelangkan kepala lemah.
“Dia lagi tugas Negara, Key.”
“Iya.”
“Jadi, bisa saja di dalam hutan yang gak ada sinyal atau gak boleh pegang hp karena takut bakalan ngegagalin misi mereka.”
“Iya, aku hanya khawatir takut ada apa-apa sama dia.”
“Insyaallah, mereka baik-baik saja.”
“Aamiin.”
“Kalau ada masalah di sana, pemerintah kita gak bakalan tinggal diam dan pasti sudah masuk berita di TV.”
Aku mengangguk setuju, bersamaan dengan itu pelayan datang membawakan pesanan kami.
__ADS_1
“Sekarang makan yang banyak, jelek tahu kurus gitu.”
“Langsing bukan kurus.”
“Kurus kaya papan.”
Aku cemberut mendengarnya, membuat Arga tersenyum.
“Cepetan makan.”
“Curang, kamu sendiri gak makan.”
“Udah tadi ma Wina.”
“Pacaran aja terus.”
“Hahaha… makanya nyari pacar yang deket-deket aja jangan LDR-an, berat di ongkos, berat di pulsa, berat di kuota, pengen ketemu susah, video call-an malah tambah kangen pengen meluk, terus akhirnya meluk hp, ah rugi.”
“Iya dech iya yang pacarnya deket.” Aku menyuap sesendok nasi goreng dengan malas.
“Jadi kalian sudah resmi pacaran? Dia pernah nyatain gak?”
Arga bertanya dengan santai sambil menyulut rokoknya, membuatku membuang napas dan menatapnya tajam.
“Dingin, hehehe… satu ini saja, janji,” ucapnya sambil nyengir karena tahu aku gak suka melihatnya merokok, “Jadi dia pernah nyatain gak?” dia kembali bertanya yang di jawab gelengan dariku.
“Gak pernah nyatain?” Arga memastikan jawabanku membuatku menatapnya beberapa saat kemudian mengangguk sambil menjawab.
“Iya, belum pernah.”
“Jadi selama ini kalian apa? Hubungan tanpa status?”
“Gak tahu juga.” Aku terdengar putus asa.
“Key, kan udah sering aku bilangin, pernyataan atau jadian itu bukan hanya kata-kata yang tak ada artinya. Itu bisa dijadiin pegangan untuk sebuah hubungan, kita semua butuh kepastian… apa dia benar-benar sayang sama kita atau tidak? Apa arti kita buat dia? Kalau seperti ini kamu gak punya hak apapun atas dirinya, begitu juga sebaliknya, kamu juga gak bisa marah kalau dia menghilang begitu saja seperti sekarang.”
“Tahu, tapi…” Aku kehilangan kata-kataku.
“Tapi?”
“Apa selama ini dia tak pernah mengungkapkan perasaannya? Jadi bagaimana kamu tahu kalau dia suka dan sayang sama kamu? Kan kalian jauh jadi gak bisa keliatan juga dari tindakannya.”
“Yaaah… dari kita chating setiap malam, maksudku kalau dia memang gak suka buat apa dia bela-belain menghubungiku setiap malam? Terus dia juga sering bilang kalau dia kangen sama aku.”
Aku melihat Arga membuang napas berat, dan aku bisa tahu kalau dia sedang menahan marah.
“Jadi, selama ini dia gak pernah bilang suka atau sayang sama kamu, tapi dia sering bilang kalau dia kangen?”
Aku mengangguk sambil mengaduk-aduk nasi goreng yang tak ku makan.
“Tapi tidak ada yang salah dengan itu kan, Ga?”
“Tidak, tentu saja tidak... terus kamu juga suka bilang kalau kamu kangen ma dia?”
Aku mengangguk malu.
“Kamu pernah bilang kalau kamu sayang sama dia?”
“Enggalah, Ga, kan harusnya cowok duluan yang bilang masa cewek duluan yang bilang.”
Arga mengangguk sambil tersenyum, “Bagus, sesuka apapun kamu sama dia, kamu harus memertahankan harga dirimu sebagai perempuan jangan sampai dianggap gampangan… sekarang habisin dulu makannya.”
Aku tersenyum sambil kembali memakan nasi gorengku sampai tersisa seperempatnya tapi perutku sudah terlalu kenyang.
“Kok gak habis?”
“Kenyang.”
“Pamali tahu makan gak habis.”
“Kamu saja yang habisin.”
Arga berdecak sambil mengambil nasi gorengku dan mulai menghabiskannya.
__ADS_1
“Tadi kenapa marah?” aku bertanya sambil menatap Arga yang menghabiskan nasi goreng itu dalam dua kali suapan.
“Kapan?”Arga bertanya sambil minum air putih milikku.
“Tadi, pas aku bilang dia suka bilang kangen tapi gak pernah bilang sayang.”
“Gak apa-apa, cuma pikiranku saja dan itu bisa saja salah.”
“Emang apaan?”
Arga terdiam beberapa saat, dia menghisap rokoknya kemudian menghembuskan asapnya ke samping supaya tidak mengenaiku.
“Cowok yang bisa bilang kangen tapi dia gak bisa bilang sayang itu ada dua, yang pertama dia terlalu malu atau takut untuk mengungkapkan rasa sayangnya yang artinya dia pengecut… yang kedua dia hanya ingin membuat perempuan bertekuk lutut di hadapannya tanpa harus merasa terikat dan dia adalah ********.”
“Dia bukan…”
Arga mengangkat tangannya menyuruhku untuk diam dulu.
“Ada kemungkinan yang ketiga, yaitu tipe orang yang menurutnya rasa sayang itu tak perlu dengan kata-kata tapi cukup dengan tindakan, seperti yang kamu bilang tadi.”
Aku mengangguk setuju karena menurutku sang Letnan masuk dalam kategori itu.
“Tapi… kalau dia bisa bilang dia kangen sama kamu kenapa dia gak bisa bilang kalau dia sayang?”
Aku terdiam mematung tak bisa menjawab pertanyaan Arga yang menatapku prihatin.
“Rasa kangen itu bagian dari sayang, Key, kalau udah sayang pasti bakalan kangen kalau gak ketemu. Sebaliknya kalau kamu merasa kangen berarti kamu sayang sama dia.”
“Tapi bisa jadi dia belum mengetahui perasaan dia yang sebenarnya, jadi dia masih ragu buat ngungkapin perasaannya.”
“Kalau dia masih ragu dengan perasaannya dia gak bakalan bilang kangen dengan sangat gampang, dia akan berpikir dulu kenapa dia bisa kangen sama kamu, saat itulah dia akan sadar kalau dia sayang sama kamu, jadi kalau dia sudah bisa mengungkapkan kalau dia kangen sama kamu, berarti dia sudah tahu dengan perasaannya sendiri.”
“Berarti dia sayang sama aku?”
Arga mengangkat bahunya, “Seperti yang aku bilang tadi, pilihannya ada dua… pengecut atau ********. Kalau dia laki-laki, dia akan dengan lantang bilang aku sayang kamu, karena dia tak mau kehilangan kamu dan dia hanya ingin kamu menjadi miliknya seorang, bukan menggantungkanmu tanpa status yang gak jelas seolah-olah dia tak ingin terikat denganmu dan bisa dengan bebas untuk beralih ke perempuan lain tanpa harus mengucap kata putus terlebih dahulu.”
“Dia bukan pengecut apalagi ********.” Tentu saja aku membela sang Letnan, karena aku yakin kalau dia bukan salah satu dari dua pilihan yang Arga sebutkan tadi. Arga kini menatapku seolah tengah membaca pikiranku sebelum akhirnya mengangguk mengerti.
“Kamu percaya sama dia?”
“Iya, aku percaya.”
Arga kembali mengangguk, “Ya udah, kalau begitu aku akan memercayai pilihanmu dan mendukungmu… maafkan aku, bisa saja aku salah dan kamu benar. Mungkin saja dia menunggu kesempatan yang pas untuk menyatakan perasaannya, mungkin saja dia ingin mengatakannya langsung pas dia pulang nanti.”
Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan ini aku bisa tersenyum dengan tulus, seolah-olah Arga telah menyuntikan kembali rasa percaya diriku.
“Iya ya, Ga, mungkin saja dia pengen ngomong langsung.”
“Iya, makanya kalau kamu percaya sama dia, jangan putus harapan kaya gini ah, jelek tahu.”
“Bukan putus harapan cuma khawatir aja.”
“Iya tahu dan itu wajar, tapi kamu percaya saja sama dia kalau sekarang dia lagi menjalankan tugasnya dan dia baik-baik saja, jangan malah kekhawatiran kamu menjadi beban buat dia. Yakin saja, suatu hari nanti kalau tugasnya sudah beres dia bakalan ngehubungimu lagi.”
“Iya ya, Ga.”
“Iya… sekarang minum yogurtnya jangan diaduk-aduk mulu kasian pusing nanti yogurtnya.”
“Hehehe… tapi, kalau ternyata dia dah pulang ke Indonesia tapi gak ngehubungin aku lagi gimana?”
“Berarti dia bukan yang terbaik buat kamu, yakin saja Allah pasti ngasih yang terbaik buat kamu, soalnya Allah kasihan lihat kamu, udah jelek, peot (kurus), jomblo lagi.”
“Hahaha… sadis ih.”
“Hahahaha… boleh ku kasih saran gak, Key?”
“Apa?”
“Sama seperti makanan atau obat atau apapun itu, aku harap penantianmu ini memiliki batas waktu juga.”
Aku menatap Arga sambil mengangkat alis bingung.
“Maksudku seperti yang kamu bilang tadi kalau misalnya setelah dia pulang ke Indonesia tapi ternyata dia tak menghubungimu juga, aku harap itu akan menjadi batas akhir penantianmu. Aku harap kamu akan membuka hatimu untuk laki-laki lain yang akan jauh menyayangimu… kamu berhak bahagia, Key. Dan yakinlah akan ada laki-laki yang akan membahagiakanmu dan mencintaimu selain dia. ”
__ADS_1
Aku terdiam kemudian mengangguk mengerti walaupun dalam hati aku berdoa laki-laki yang akan membahagiakanku dan mencintaiku adalah sang Letnan. Tapi yang dikatakan Arga benar, aku akan menunggunya sampai dia kembali ke Indonesia, dan kalau saat itu dia tak juga menghubungiku maka itu akan menjadi akhir penantianku. Walau berat aku harus melanjutkan hidupku tanpa sang Letnan di dalamnya.
****