
Bandung, Desember 2015
5 bulan berlalu yang artinya dua bulan sebelum kepulangan sang Letnan, 5 bulan ini terasa berat untukku, tapi ada Arga dan teman-teman di OASIS yang selalu menghiburku, juga orangtua sang Letnan yang sudah seperti orangtuaku sendiri yang akan menemaniku. Mamah biasanya akan datang ke rumah hanya untuk ngobrol dengan ibu dan akhirnya kami bertiga akan jalan kemana saja untuk berbelanja. Bahkan pernah Papah sampai mangajakku dan Mamah untuk tugas kantor ke Surabaya, supaya kami tak terlalu merindukan sang Letnan.
Kerinduanku sudah mencapai ubun-ubun ketika akhirnya suatu sore seseorang mengetuk pintu, saat itu aku sedang nonton TV bersama dengan Ayah, Ibu, Dirga dan Mas Juang yang sudah lulus dari Akmil dan sementara ditempatkan di Bandung.
“Siapa?” tanya ibu.
“Gak tahu,” jawab Dirga santai yang mendapat cubitan dari ibu.
“Kalau gak di buka ya gak tahu.”
“Hehehe, paling Aa.”
“Kalau Arga pasti sudah langsung masuk,” ucapku sambil makan keripik singkong dengan mata serius menatap serial detektif di salah satu TV kabel berlangganan.
“Iya ya, ya sudah biarin aja.” Dirga kembali berkata santai sambil mengambil rengginang.
“Kalian ini ya bukanya di bukain malah pada ngobrol.” Protes ibu setelah kembali terdengar ketukan
.
“Kakak saja yang buka, kan Kakak yang paling deket ke depan.”
“Enak saja, Mas Juang tuh yang paling deket.”
“Kamu dong, kamu kan anak cewek satu-satunya.”
“Diskriminasi.”
“Salah sendiri, lahir kok beda sendiri jenis kelaminnya,” ucap Mas Juang yang langsung mendapat lemparan bantal sofa dariku sambil berdiri untuk buka pintu dengan muka cemberut. Dari kecil aku memang paling sering ribut dengan Mas Juang mungkin karena umur kami yang hanya selisih 2 tahun, dan biasanya berakhir dengan aku yang nangis karena kalah, tapi kalau ada yang berani nakalin aku jangan harap bisa selamat dari Kakakku yang satu itu.
“Iya, sebentar!” teriakku ketika mendengar suara ketukan lagi di pintu, dengan malas aku membuka pintu tapi seketika membelalakan mata ketika melihat seorang pria gagah berdiri di depan pintu dengan baret merah di kepalanya, dia tersenyum menatapku yang menganga.
“Assalamualaikum, Za.”
“Aaahhh!!” teriakku sambil melompat ke dalam pelukannya membuatnya tertawa menyambut pelukanku dengan sedikit diangkat.
“Mas Yudha kapan pulang? Kenapa gak bilang kalau mau pulang hari ini?”
“Ini baru sampai, sengaja bikin kejutan.”
Aku tertawa gembira mendengar jawabannya, ternyata pelatihannya hanya 5 bulan bukan 7 bulan seperti yang dia bilang.
“Belum pulang ke rumah? Mamah sama Papah pasti nungguin.”
“Tadikan barengan pulang ke Bandungnya, kemarin mereka datang untuk melihat kelulusanku.”
“Kok gak ngajak-ngajak aku?”
“Sengaja.”
Aku pura-pura cemberut tapi kemudian kembali tertawa sambil menatapnya dari atas ke bawah, kulitnya memang jadi sedikit gelap tapi semakin terlihat gagah apalagi dengan baret merah yang melekat di kepala.
“Kangen.” ucapku sambil kembali memeluknya.
“Iya sama, tapi sekarang aku harus bertemu Ayah sama Ibu dulu.”
“Oh iya! Ayo masuk, lagi pada nonton TV, pasti Ayah sama Ibu akan sama terkejutnya denganku.” Aku berkata sambil menarik tangan sang Letnan masuk ke dalam.
“Ayah! Ibu! Lihat siapa yang datang.”
“Ya Allah, Yudha!” ibu langsung teriak seperti aku tadi, sambil menyambutnya ke dalam pelukan seperti menyambut putranya sendiri.
Setelah ibu melepaskan pelukannya sang Letnan kini menghadap Ayah dengan tubuh tegap lalu memberi hormat layaknya prajurit membuat Ayah balas memberi hormat kemudian menepuk pundaknya dengan bangga dimana tersemat balok 2 yang menandakan pangkatnya sebagai Lettu (Letnan satu).
“Bagus! Kamu sudah melakukannya dengan sangat baik,” puji Ayah membuat sang Letnan tersenyum.
“Alhamdulillah, berkat doa semuanya.”
“Mas.” Dirga menyalami sang Letnan dengan senyum lebar, “Weis, baret merah nih.”
__ADS_1
Sang Letnan tertawa mendengar godaan Dirga, tapi kemudian sedikit bingung ketika melihat Mas Juang yang baru ditemuinya hari ini.
“Kamu belum pernah bertemu sama Juang-kan? Ini Kakaknya Kekey yang baru lulus Akmil kemarin.”
Mas Juang dengan muka tegang langsung memberi hormat layaknya prajurit kepada komandannya membuatku ingin tertawa.
“Kita pernah bertemu sebelumnya.”
“Oh iya? Kapan?” tanya sang Letnan ketika mendengar kalau Mas Juang pernah bertemu dengannya.
“Ketika pasukan Garuda baru pulang ke tanah air, Lettu Yudha datang ke Akmil bersama yang lainnya untuk memberikan pelatihan.”
Sang Letnan terlihat mengangguk mengerti, “Santai saja, kita sedang berada di rumah, panggil Yudha aja.”
“Siap!” Mas Juang kembali memberi hormat membuatku dan Dirga tertawa dan bisa kulihat dia menatap kami dengan galak, tapi tentu saja kali ini kami tak takut karena langsung bersembunyi di balik sang Letnan sambil menjulurkan lidah.
Hari itu ibu menahan sang Letnan untuk makan malam di rumah, ibu bahkan sengaja masak untuknya. Kata ibu badan Mas Letnan menjadi lebih kurus pasti karena makannya gak benar, sedangkan menurutku badannya semakin kekar hehehe.
Bukan hanya ibu yang menahan Mas Letnan, tapi Ayah dan Mas Juang juga menahannya karena ingin mendengar pelatihan Kopassus yang terkenal sangat berat itu. Padahal aku sangat ingin berduaan saja dengannya… aaaahh!!! Mereka memang tak mengerti bagaimana perasaan kami saat itu.
“Pelatihan Komando yang paling sulit ya?” tanya Ayah yang membuat sang Letnan mengangguk sambil tersenyum.
“Sulit, benar-benar sulit tapi kami harus melewatinya apapun yang terjadi.”
“Memang sulitnya gimana?” tanyaku sambil kembali makan keripik singkong karena tak ada lagi yang bisa kulakukan selain mendengarkan kisah sang Letnan.
“Hmmm… seperti kamu harus berenang dari Cilacap sampai Nusakambangan.”
“Nyebrang laut?” tanyaku kaget mendengar jawaban sang Letnan.
“Bukan, empang.” Jawab Mas Juang membuatku langsung mendelik padanya, dan dengan gembira Dirga menertawakanku.
“Hehehe… iya, laut, selain itu pagi-pagi buta satu persatu kami dilepas di hutan Nusakambangan dan harus sampai save house di pantai Permisan maksimal jam 10 malam tanpa dibekali apapun.”
“Termasuk makanan?”
“Termasuk makan dan minum, kami harus melewati segala macam rintangan baik itu dari alam ataupun dari instruktur yang menembaki dan mengejar kami, kalau sampai tertangkap maka habislah riwayat kami karena itu sama saja kami gagal melewati tugas.”
“Kalau tertangkap, ya sama kaya tawanan perang… kami di siksa dan di interogasi dan harus bisa meloloskan diri dari sana.”
“Disiksa beneran?” Aku baru mau bertanya ketika Dirga kembali bertanya dengan antusias.
“Bohongan!” seru Mas Juang sambil menggeleng, “Emang kalau perang kita disiksa sama introgasinya bohongan? Ya beneranlah, masa pas perang musuh kita bilang ‘maaf ya kita mau mukul, gak sakit kok cuma pelan-pelan’.”
“Hahahaha…” kini giliran aku yang tertawa dengan gembira membuat Dirga mendelik padaku.
“Hahahah, iya semua beneran.. bener-bener kaya perang gitu, makanya kita sebisa mungkin jangan sampai ketangkap.”
“Mas Yudha ketangkep gak? Gak dipukulinkan? Ada yang luka gak?”
“Nanyanya satu-satu!”
“Hehehe… Alhamdulillah engga, berhasil sampai save house sebelum waktunya.”
“Weeiiisss… mantapkan!” seruku bangga dengan seyum lebar, “Mas Yudha ini, lulusan terbaik Akmil tahun 2012, kalau Mas Juang lulus juga karena kepaksa paling faktor kasihan.”
“Hahahaha… kasian lihat mukanya melas gitu, kata Komandannya lumayan buat dijadiin tumbal pas perang.”
“Hahahaha…” Aku dan Dirga tertawa penuh kemenangan tapi hanya sebentar sebelum dapat pukulan bantal sofa dari Mas Juang.
“Kayanya ada yang kangen dah lama gak ngajak perang nih ya?!”
“Kak Kekey, Mas, Dirga mah orangnya cinta damai… peace.”
“Pengkhianat,” ucapku sambil menatap Dirga tajam.
“Yang penting selamat, hahaha,” balasnya sambil melarikan diri ke kamar.
“Gak usah dengerin mereka, mereka bertiga memang kalau ngumpul pada berantem mulu.
Kalau jauh saja pada kangen-kangen, kalau ketemu ya udah rebut lagi,” ucap Ibu yang baru saja datang bergabung.
__ADS_1
“Rame, Bu, seru… Yudha dari kecil sendiri gak ada teman berantemnya, hehehe.”
“Seru karena jarang, kalau tiap hari mah pusing yang ada.”
Mas Yudha mengangguk sambil tersenyum. Melihat itu aku ikut tersenyum, inilah sang Letnan yang selama ini ku rindukan… sang Letnan yang kalau di depan orangtua selalu sopan, dan terlihat berwibawa ketika berkumpul dengan orang lain, tapi dia akan berubah romantis ketika hanya berdua denganku.
Seperti saat ini, setelah makan malam kami berdua duduk di teras halaman depan, matanya tak lepas memandangku membuatku tertawa karena malu.
“Jangan lihatin terus.”
“Kangen… kamu semakin cantik, rambutnya udah panjang kaya dulu.”
“Hehehe iya, suka panjang atau pendek.”
“Apa aja yang penting itu tetap kamu.”
“Hahaha.”
“Selama gak ada aku ngapain aja?”
“Jalan-jalan sama Mamah, main sama Arga, diajak Papah sama Mamah ke Surabaya.”
“Jalan-jalan bertiga doang, aku gak diajak.”
“Hehehe… kan gak ada.”
“Iya ya, trus?”
“Terus sekarang lagi sibuk PKL.”
“Sudah PKL?”
“Sudah dong hehehe… lagi nyusun skripsi, mudah-mudahan bisa lulus secepatnya.”
“Aamiin… kalau udah dapat gelar S1 nanti tinggal dapat gelar Ny. Yudha Adipati Pratama.”
Aku tersenyum sambil tertunduk malu mendengarnya.
“Mau gak, dapat gelar itu?” Mas Letnan bertanya sambil menatapku dengan lembut membuatku tersenyum sambil mengangguk.
“Mau…”
“Hahaha… ya udah nanti kalau sudah dapat gelar sarjana-nya, insyaalah gak lama langsung dapat gelar itu.”
Aku kembali mengangguk dengan semangat membuat Mas Letnan mengacak-acak rambutku.
“Kangen gak?”
“Kangen banget.”
“Sampai nangis pengen meluk?”
“Hehehe… enggak sampai nangis, kan kalau sekarang aku tahu Mas Yudha dimana terus sedang apa, dan sebelumnya kan udah di kasih tahu, kalau pas di Myanmar Mas Yudha bilang malamnya mau ngehubungi tapinya langsung ngilang berbulan-bulan jadi gimana gak khawatir.”
Sang Letnan mengangguk mengerti.
“Terus kalau kangen pengen meluk gimana?”
“Meluk Tedy… tahu gak, Mas, aku nanya ibu parfum Mas Yudha apa? Terus ibu kasih tahu, terus aku beli tuh tapi yang biangnya gitu terus aku semprotin ke Tedy biar wanginya sama, jadi pas meluk Tedy serasa meluk Mas Yudha, hehehe.”
Mas Letnan tertawa mendengar ceritaku, sebelum akhirnya dia kembali menatapku.
“Sekarang mau gak meluk yang aslinya?”
Aku tersenyum sambil melihat sekeliling, rumah kami memiliki pagar cukup tinggi hingga terhalang dari pandangan luar.
“Mau!” aku langsung berhambur ke dalam pelukannya setelah memastikan tak ada orang yang mengintip di dalam rumah.
******
Haiiii.... udah pada nyiapin hati buat besok kan???? 😁😁
__ADS_1