
“Kamu sehat, sayang?” Papah mengelus rambut dan pipiku membuat mataku kembali berkaca-kaca.
“Alhamdulillah, Papah sehat? Darah tingginya gak kambuh lagikan? Jangan bandel, nurut kata Mamah, jangan makan sate kambing diam-diam lagi!”
Papah tertawa mendengarku yang langsung mengomelinya.
“Aah, Papah kangen dengar omelan kamu, sayang.”
Aku ikut tertawa walau dengan mata berkaca-kaca… sungguh aku sangat merindukan mereka, sangat merindukan. Setelah putus dari sang Letnan membuatku ikut memutus hubungan dengan mereka. Aku tahu aku salah, tapi setiap berhubungan dengan mereka akan kembali mengingatkanku kepada pria yang telah membuat hatiku terluka. Untuk itulah aku memutuskan untuk menjauh.
“Tante kenal sama Kekey?” tanya Mas Reihan membuat kami menyadari kalau kami tak sendiri di sana tapi ada beberpa orang yang menatap kami dengan penasaran. Tapi aku sudah tak melihat teman-teman kantorku di sana, mungkin mereka langsung pergi untuk makan.
“Ini, putri kami yang hilang.” Mamah menggenggam tanganku dengan kedua tangangannya seolah takut aku akan pergi lagi.
“Bukannya Mas Yudha putra tunggal?” tanya Widy yang berdiri di samping sang Letnan yang menatapku dengan tatapan penuh misteri.
“Yudha memang putra satu-satunya kami, dan.. Kekey adalah satu-satunya putri kami yang cantik.” Mamah berkata sambil mencubit pipiku lembut membutku tersenyum.
“Jadi sudah kaya adik Mas Yudha ya?” tanya Widy tapi tak satupun dari kami yang menjawab itu, dan itu membuat suasana canggung tiba-tiba terasa.
“Selamat.”
Aku mengulurkan tangan untuk mengurangi kecanggungan dan kecurigaan semua orang, dengan senyum tulus yang berusaha ku tunjukan. Melihat itu membuat Widy ikut tersenyum lalu menerima uluran tanganku.
“Terimakasih, berarti aku calon Kakak iparmu,” ucapnya dengan senyum lebar membuatku terdiam beberapa saat sebelum kembali tersenyum.
Aku kini mengulurkan tangan ke arah sang Letnan tapi tanpa senyuman, “Selamat.” Aku bisa merasa tanganku kembali dingin dan gemetar, beberapa saat sang Letnan hanya terdiam menatapku sebelum akhirnya menerima uluran tanganku.
“Terimakasih.”
Suara dan sentuhannya masih membuat jantungku berdetak hebat, dan kembali membuat tenggorokanku tercekat membuatku menarik tanganku dari genggamannya dan langsung menghadap Mamah.
“Kekey, harus pulang sekarang.”
“Lho, kenapa? Kamukan belum makan,” ucap Mas Reihan membuatku menatapnya.
“Makasih, Mas, tapi tadi Pakde pesen kalau Kekey gak boleh pulang malam, soalnya Pakde sama Bude juga lagi ada acara.”
“Makan dulu aja, baru juga datang.”
“Makasih, Tante, tapi saya benar-benar harus pulang tadi datang cuma ingin nyapa dan menyampaikan salam dari Kak Dimas.”
“Kamu harus makan, sayang, lihat! Kamu jadi kurus gini, pasti makannya gak teratur.”
“Nanti, Mah, Kekey makan di rumah.”
“Kamu makan di sini sama Mamah ya?"
Aku menatap Mamah dengan senyum getir… Ya Allah, Mah, Kekey tahu Mamah masih sangat rindu… Kekey juga! Tapi Kekey gak bisa berada di sini lebih lama lagi, hati Kekey terlalu sakit, Mah… Mamah ngertikan?
Ingin sekali aku berkata seperti itu, tapi aku tak sanggup! Sampai akhirnya Papah menepuk pundak Mamah lembut membuat perempuan yang selama ini sangat mencintaiku seperti ibu itu membuang napas berat, lalu menggenggam tanganku dengan kedua tangannya.
“Kamu janji gak akan ngilang lagikan?”
Aku mengangguk sambil tersenyum, “Iya, Mah.”
“Kamu harus menghubungi Mamah!”
Aku kembali mengangguk sambil menelan ludah kasar, berusaha meredakan leherku yang sudah mulai tercekat.
“Jangan ganti no teleponmu lagi!”
__ADS_1
Aku tertawa sambil mengangguk, “Iya.”
“Ingat! Dari dulu sampai nanti hanya kamu putri Mamah, paham, sayang?”
Mamah menangkup pipiku dengan kedua tangannya dan menatapku dengan mata berkaca-kaca seolah mengerti kesedihanku, membuatku harus kembali menahan tangis, aku mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Untuk terakhir kalinya Mamah memelukku erat.
“Papah akan menyuruh supir mengantarmu.”
“Gak usah, Pah, Kekey naik taxi aja.”
“Sudah malam, bahaya.”
“Baru jam 8.30… gak apa-apa, gak usah khawatir, Pah.”
“Jangan keras kepala, biar supir mengantarmu.”
Aku terdiam mendengar sang Letnan yang berkata tajam.
“Gak perlu,” ucapku dingin, dan bisa kurasa semua orang terlihat terkejut melihat ketegangan diantara kami.
“Kekey, pulang sekarang, nanti Kekey hubungin Mamah, janji.” Aku pamit dengan cepat menyadari kesalahan yang sudah kulakukan dengan memerlihatkan emosiku di depan orang banyak.
“Papah, akan mengantarmu sampai dapat taxi,” ucap Papah membuatku mengangguk dan kembali memeluk Mamah untuk terakhir kali.
“Hati-hati, hubungi Mamah kalau udah sampai rumah.”
Aku mengangguk lalu aku kembali menyalami Mas Reihan beserta kedua orangtuanya, aku bahkan menyalami Widy dan sang Letnan walaupun setelahnya hatiku kembali terasa di tusuk. Sambil merangkul lengan Papah aku pergi meninggalkan tempat itu.
Kami terdiam sambil berjalan melewati beberapa rumah mewah di kanan kiri kami dan pohon-pohon palm yang menghiasai jalanan menuju jalan raya.
“Pasti sangat berat… iyakan?”
Aku hanya terdiam sambi terus berjalan di bawah temaran lampu jalanan, tanganku masih merangkul lengan Papah.
Aku menatap kaki kami yang melangkah menyusuri jalanan, dan kembali tenggorokanku tercekat mendengar ucapan Papah.
“Kami sangat kecewa ketika Yudha datang dan memberitahu kami kalau telah ada perempuan lain di antara kalian.”
Hatiku kembali sakit ketika diingatkan oleh pengkhianatan itu.
“Tapi, dia memiliki alasan, Sayang… bukan karena dia tidak mencintai kamu, percayalah bukan karena itu… baginya kamu tetap cinta sejatinya, Papah bisa pastikan itu.”
“Tapi tetap saja apapun alasannya dia sudah mengkhianati Kekey, Pah.”
Papah terdiam kemudian mengangguk, “Kamu benar, maaf seharusnya Papah tidak berkata seperti itu.”
“Tidak, Papah tidak salah apapun, jangan minta maaf, Pah… ini antara aku dan… dia.” Aku bahkan tak kuasa untuk menyebutkan namanya, membuat Papah menatapku kemudian mengelus kepalaku penuh kasih sayang.
“Kamu harus bahagia, Sayang… lanjutkan hidup kamu, isi dengan kebahagiaan, jangan sampai terpuruk karena masa lalu.”
“Itu tidak gampang, Pah, setiap Kekey hampir melupakannya, dia selalu hadir seolah Tuhan tak ingin Kekey untuk melupakannya… tapi ini adalah yang terparah yang pernah Kekey rasakan, Pah… Kekey gak tahu kalau dia akan secepat itu bertunangan dengan perempuan lain, sedangkan kekey? Hati Kekey masih sakit, Pah! Ini baru beberapa bulan dari perpisahan kami, tapi sekarang dia sudah bertunangan dengan perempuan lain… ini tidak adil, Pah, sama sekali tidak adil!”
Emosiku yang tadi tertahan kini tumpah ruah, aku tak peduli lagi ketika airmata kini dengan deras membasai pipiku.
“Apa sebenarnya salah Kekey, pah? Dia bahkan tak memberitahu apa salah Kekey, sampai dia berkhianat seperti itu! Apa Kekey selingkuh ketika dia tugas di luar atau di Palembang atau ketika dia pelatihan? Tidak, Pah! Kekey dengan bodohnya setia… menunggu, menunggu dan terus menunggu! Bahkan ketika dia mulai menjauhi Kekey, Kekey masih berpikir... Mas Yudha pasti sibuk sampai tak bisa balas pesan Kekey, Mas Yudha pasti sedang tidur dan terlalu lelah bahkan untuk mengangkat telpon Kekey, Mas Yudha pasti lupa buat ngabarin Kekey… itu, Pah! Itu yang Kekey pikirkan sampai akhirnya dia datang dan dengan bodohnya Kekey menyambutnya dengan senyum lebar karena bahagia, Kekey bahkan langsung berlari ke dalam pelukannya karena sangat merindukannya! Tapi, Papah tahu apa yang dia lakukan? Dia melepaskan pelukan Kekey dan minta maaf karena harus memutuskan hubungan kami, dan itu karena perempuan lain, Pah! Perempuan yang baru dikenalnya beberapa hari dan sekarang telah menjadi tunangannya! Sedangkan Kekey… Kekey yang selama ini setia menunggunya, Pah, Kekey bukan perempuan itu!”
Aku mengeluarkan semua emosiku selama ini membuat Papah menarikku ke dalam pelukannya, dan tangisku semakin menjadi. Papah hanya diam memelukku sambil menepuk-nepuk punggungku lembut.
Malam itu aku menumpahkan semua airmata yang sempat tertahan karena tak ingin membuat kedua orangtuaku khawatir. Selama ini aku memang selalu berpura-pura bahagia dan gembira di depan keluargaku, bahkan di depan Arga sekali-pun walau dia tahu betapa menderita dan sedihnya aku. Dia sering menyuruhku untuk tidak memendamnya, tapi aku akan mengatakan kalau menangis karena putus cinta itu adalah tindakan yang bodoh, dan akhirnya dia-pun menyerah.
Tapi malam itu aku menumpahkan semuanya, aku menangis sejadinya, sampai tubuhku terasa lelah tapi juga merasa seolah ada beban yang terangkat dari dalam dadaku menjadikannya terasa lebih ringan tak lagi begitu menghimpit dada yang menyesakanku.
__ADS_1
Keesokan harinya kepalaku terasa pusing dan mataku bengkak karena terlalu banyak menangis. Pakde, Bude bahkan sepupuku penasaran melihatku seperti itu, aku hanya mengatakan kalau ini akibar begadang semalaman nonton drama korea di laptop, dan itu cukup membuat mereka percaya.
Untung saja hari ini minggu, jadi aku bisa beristirahat di rumah, tapi sekitar jam 8 Mamah menghubungiku dan memintaku untuk menemaninya berbelanja sebelum nanti malam pulang ke Bandung. Alhasil pagi itu aku dan Mamah ngubek-ngubek pasar Beringharjo untuk nyari batik, lanjut Malioboro lalu terakhir ke Jl. Raya Wates untuk beli bakpia dan teman-temannya.
Sepulang dari membeli oleh-oleh Mamah membawaku ke rumah saudaranya Mamah yang mereka tinggali di Yogya, aku sempat nolak tapi Mamah bilang kalau sang Letnan tak ada, dia pergi bersama tunangannya dan gak tahu kapan pulangnya.
Aku-pun menyerah dan ikut bersama Mamah untuk menemaninya sampai mereka pulang ke Bandung nanti malam menggunakan KA, saat itu jam menunjukan pukul 4 sore dan rumah terasa sepi, hanya ada aku dan Mamah, sedangkan Papah sedang ada temu janji dengan rekan bisnisnya, dan saudara-saudara Mamah pada pergi ke Parangtritis, sedangkan Mamah lebih memilih untuk memaksaku menemaninya berkeliling membeli oleh-oleh.
Aku sedang tertawa bersama Mamah ketika kurasa seseorang keluar dari kamar tak jauh dari ruang keluarga tempat aku dan Mamah duduk, dan seketika aku terdiam ketika ku lihat pria itu berdiri di sana terlihat baru bangun tidur.
“Lho, Mamah kira kamu pergi, Yud.”
“Gak jadi, aku ketiduran,” jawabnya dengan suara serak seolah melemparkanku pada saat di Sukajadi ketika dia baru pulang dari pelatihan.
“Kekey, pulang sekarang, Mah,” ucapku sambil berdiri dan mengambil tas, melihat itu Mamah terlihat serba salah.
“Maaf tapi Mamah benar-benar gak tahu.” Mamah berbisik mengerti akan perubahan sikapku yang tiba-tiba.
“Gak apa-apa,” aku berkata dengan senyuman berusaha menghilangkan rasa bersalah Mamah.
“Kamu gak harus pergi, kamu bisa tetap di sini.”
Aku terdiam sambil mengambil napas dalam-dalam ketika mendengar ucapan sang Letnan, tapi aku memutuskan untuk tak mendengarkan atau menghiraukannya seolah dia tak ada di sana.
“Kekey, pulang ya Mah, Mamah hati-hati pulang ke Bandungnya, salam buat Papah.”
“Di luar hujan!” sang Letnan sedikit berteriak tapi aku tak peduli, aku terus berjalan menuju luar dengan Mamah berjalan di sampingku.
“Maaf gak bisa mengantar ke stasiun.” Aku bisa melihat Mamah serba salah seolah harus memihak kepada ku atau putranya.
“Iya… kalau pulang ke Bandung jangan lupa hubungi Mamah ya, Sayang.” Akhirnya Mamah memutuskan untuk menuruti mauku, dan aku berterimakasih untuk itu.
“Insyaallah.”
“Jangan sampai lupa makan, Mamah sedih lihat kamu kurus gini.”
“Hehehe… Mamah sedih karena iri gak bisa kuruskan?”
“Hahaha… bener.”
“Hahaha.. ya sudah, Kekey pulang ya, Mah.”
Aku memeluk Mamah ketika sudah berada diteras.
“Kamu harus bahagia, Sayang, banyak yang mencintai kamu,” bisik Mamah sambil menatapku lembut khas seorang ibu, membuatku mengangguk sambil tersenyum.
“Ini benaran hujan, Sayang, sebaiknya kamu nunggu supir biar diantar pulang, di sini juga gak ada payung.”
“Gak apa-apa, Kekey sudah biasa hujan-hujanan, lagian ini cuma gerimis, Mah.”
Mamah menatapku beberapa saat terlihat ragu sebelum akhirnya mengangguk setelah melihatku yang secepatnya ingin pergi dari sana.
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Aku baru mulai berlari ketika kurasa sebuah jaket menutupi kepalanya.
“Setidaknya pakai ini agar tidak kehujanan.” Sang Letnan memakaikan jaketnya di atas kepalaku sedangkan dia sendiri berdiri dibawah guyuran hujan yang mulai deras hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong.
Tanpa banyak bicara aku langsung mengambil jaketnya di atas kepalaku kemudian memberikannya kembali dengan sedikit kasar,
__ADS_1
“Gak perlu!” ucapku dingin sebelum akhirnya berlari meninggalkan rumah itu.
****