
Hari ketiga di Kubu, kami kedatangan tamu dari Dinkes Musi Rawas yang akan memeriksa warga Kubu. 3 orang dokter luar biasa, yang mendedikasakan hidup mereka untuk kesehatan warga pelosok yang sulit menerima fasilitas kesehatan seperti warga di kota. Memang tidak bisa setiap hari mereka datang tapi minimal sebulan sekali warga Kubu akan menerima pemeriksaan kesehatan gratis dari mereka.
Para warga menunggu giliran dengan sabar untuk diperiksa dokter di ruang yang baru selesai dibangun kemarin. Rumah panggung tanpa dinding yang atapnya ditopang empat pilar, kalau di Jawa kita menganalnya sebagai pendopo, nah aku tak tahu warga sana menyebutnya apa. Jadi kita sebut aja dulu itu pendopo.
Para artis kini ditugaskan membantu dokter di pendopo, seperti biasa para pria kini sedang melakukan pembangunan MCK yang hampir selesai, para perempuan memasak di dapur untuk makan siang kali ini mengingat para Mamak sudah duduk manis menunggu sang dokter dari pagi, jadi sekarang giliran Teh Vita, Kak Yoan, Veny dan Yuni yang memasak. Sedangkan aku berkeliaran kesana-kemari dengan kamera di tangan berusaha mengabadikan setiap moment hari itu.
Sekarang aku berada di lokasi pembangunan MCK, bukan hanya MCK ternyata yang sedang dibuat tapi mereka juga membuat beberapa pancuran yang airnya dialirkan dari sungai yang nantinya akan memudahkan warga Kubu untuk mandi, mencuci dan keperluan air bersih lainnya.
Aku berjalan menyusuri galian paralon yang sedang di kerjakan oleh Bapak-bapak dari TNI. Ah, tentara kita ini memang sangat luar biasa, bukan hanya jago ketika harus mengangkat senjata demi NKRI tapi mereka juga masuk ke pelosok-pelosok untuk membantu warga, mereka benar-benar mengabdikan hidup mereka untuk Negara ini.
Aku mengambil beberapa foto mereka yang sedang bekerja keras kemudian melanjutkan perjalananku menyusuri galian paralon sampai tepi sungai, dan seketika aku berdiri mematung menatap pemandangan di sana.
Sang Letnan berdiri di tengah sungai dengan celana pdl hitam yang telah basah terendam air sampai lutut, dia hanya mengenakan singlet putih yang telah basah oleh keringat dan cipratan air sungai. Ia terliat bekerja keras bersama rekan-rekan TNI-nya dibantu oleh teman-teman dari Dinsos. Dan dia terlihat sangat… keren!
Tanganku tanpa dikomando langsung terangkat mengabadikan saat itu di dalam kamera, entah berapa banyak foto sang Letnan yang ku ambil tapi yang pasti sangat cukup banyak! Setelah merasa puas aku kembali berjalan menyusuri sungai, kemudian duduk di atas batu pinggir sungai di bawah pohon akasia, membuka sepatu gunungku lalu merendam kakiku di air sungai yang sejuk.
Aku duduk sambil melihat hasil foto-foto yang ku ambil di dalam kamera selama berada di Kubu. Aku tersenyum ketika melihat foto warga Kubu yang tersenyum gembira, rekan-rekanku yang sedang bekerja juga terlihat gembira seolah tak ada rasa lelah bagi mereka, dan foto-foto terakhir yang ku ambil adalah sang Letnan yang terlihat sangat luar biasa. Aku tersenyum tapi hatiku merasa sakit, karena pria luar biasa ini bukan milikku.
“Apa yang sedang kamu lihat?”
Aku hampir saja melompat karena terkejut ketika tiba-tiba sang Letnan duduk disampingku dan tersenyum melihat reaksiku. Dia kini telah mengenakan kaos putih tak lagi menggunakan singlet seperti tadi.
“Boleh ku lihat.” Dia mengatakan itu sambil mengambil kamera dari tanganku membuatku protes, tapi percuma dia tak mendengarkannya dan mulai melihat isi memori kameraku.
Dia terlihat serius melihat-lihat foto hasil jepretanku, dan seperti aku tadi terkadang dia akan tersenyum ketika melihat foto yang menangkap moment lucu. Melihat reaksinya membuatku membiarkannya melihat semua foto-foto itu, sedangkan aku larut menikmati pemandangan alam dan kedamaian yang tak pernah kutemukan dalam beberapa tahun terakhir ini. Aku menarik napas dalam-dalam mengisi paru-paru dengan udara pegunungan yang sangat sejuk dan bersih belum terpolusi oleh asap pabrik dan kendaraan.
Suara jepretan kamera membuatku kembali tersadar dan menatap ke samping dimana sang Letnan tengah tersenyum di belakang kamera tengah mengambil gambarku.
“Gak ada foto kamu di dalamnya,” ucap sang Letnan sambil melihat hasil jepretannya, “cantik seperti biasanya.”
Hatiku berdesir mendengar pujiannya, dan aku membenci rasa itu… rasa yang seharusnya tak hadir setiap aku melihat atau bahkan mendengarnya. Tapi seolah tubuhku memberontak tak ingin mendengar perintah otakku supaya tidak beraksi seperti itu.
__ADS_1
Aku mengambil napas dalam-dalam berusaha bersikap normal dengan menatap ke kejauhan tak memedulikan sang Letnan yang masih menatapku.
“Aku bertemu Bang Eddy beberapa bulan lalu sebelum bertugas di sini.”
Aku tetap terdiam menatap aliran sungai yang terasa damai.
“Katanya kamu sempat sakit dan dirawat di rumah sakit ya?”
Aku teringat saat-saat aku terpuruk karena mendengar berita hubungannya dengan Leona dan membuatku berakhir di RS selama seminggu. Aku mengangguk sebagai jawaban tanpa mengalihkan pandanganku.
“Sakit thypus?”
Aku kembali mengangguk.
“Arga yang jagain?”
Aku kembali mengangguk.
“Kamu marah, Za?”
Seketika aku melihat ke arahnya dengan emosi menyeruak kepermukaan, aku mengambil napas dalam-dalam agar bisa menahan amarahku yang sudah mencapai ubun-ubun.
“Kenapa harus marah?” tanyaku sinis sambil menatapnya tajam, dia diam tak berkata apa-apa melihatku yang sudah hampir meledak.
“Apa karena tiba-tiba kau menghilang tanpa kabar?” Ok emosiku mulai tersulut dan sepertinya pertahananku mulai jebol.
“Apa karena aku sangat khawatir sesuatu terjadi padamu, padahal seharusnya aku tak perlu melakukan itu karena ternyata kau baik-baik saja?!” suaraku mulai meninggi, dan aku membenci diriku sendiri karena tidak bisa menahan emosiku.
Aku berdiri, memakai sepatu gunungku dengan cepat, sang Letnan ikut berdiri di hadapanku dan masih terdiam, dia hanya menatapku.
“Apa karena tiba-tiba aku mendengar berita kalau ternyata kamu berpacaran dengan… Leona?” Aku menatapnya dengan mata berapi-api menumpahkan rasa amarah yang tersimpan selama ini.
__ADS_1
“Za,” ucap sang Letnan dengan lembut sambil berusaha menggapaiku, aku mengangkat tanganku dan mundur untuk menyuruhnya diam.
“Aku tak berhak untuk marah karena semua alasan itu, karena apa? Karena kita memang tak ada hubungan apa-apa!” Aku benar-benar mengeluarkan emosiku tak peduli lagi kalau ada orang yang mendengarkan pembicaraan kami saat ini.
“Itu semua hanya kebodohanku! Kebodohanku karena menunggumu setiap malam berharap kamu menghubungiku, kebodohanku karena mengkhawatirkanmu, kebodohanku karena tetap menunggumu seperti yang kamu pinta, kebodohanku karena ku pikir setidaknya kamu memiliki perasaan yang sama denganku, tapi ternyata… “
Aku tak bisa meneruskan kata-kataku lagi, kalau aku meneruskannya aku yakin aku akan semakin berteriak dan akhirnya menangis. Aku tak mau terlihat menyedihkan di depannya, walau-pun aku tahu saat ini aku sudah terlihat menyedihkan.
“Za, kamu harus mendengarkan penjelasanku.”
Aku kembali mengangkat tanganku, untuk saat ini aku tak ingin mendengar penjelasan apapun darinya. Dengan napas memburu aku mengambil kameraku dari tangannya dengan kasar, dan berbalik meninggalkannya.
“Za!” Sang Letnan memanggiku tapi aku tetapa berjalan dengan cepat, dia mengejarku, menarik tanganku hingga aku berbali menghadapnya, “Kamu harus mendengarkan penjelasanku dulu.”
“Apa yang harus aku dengarkan? Kalau kamu minta maaf karena telah memberiku sejuta harapan tapi ternyata kamu malah bersama perempuan lain? Atau kamu akan menjelaskan bagaimana akhirnya kamu jatuh cinta kepada seorang artis yang memang secara keseluruhan jauh diatasku?” Aku berusaha melepaskan genggaman tangannya, “Tidak usah kamu jelaskan aku bisa memaklumi semua itu, dan tak usah khawatir aku sangat mengerti tentang itu.”
“Aku mohon dengarkan dulu, aku tidak…”
“Key!”
Teriakan seseorang yang memanggilku menghentikan apapun yang akan dia ucapkan dan aku bersyukur untuk itu. Aku berbalik menatap Kak Yoan yang berdiri tak jauh dari lokasi kami.
“Ditungguin makan siang… Mas Yudha juga.”
Tak menyia-nyiakan kesempatan aku langsung berbalik berjalan dengan cepat menuju Kak Yoan yang masih berdiri menungguku. Kami bejalan bersama menuju pemukiman dengan sang Letnan mengekor dari belakang. Sepanjang jalan terasa tegang, tak ada kata yang terucap dari kami bertiga, dan aku yakin Kak Yoan bisa merasakan ada yang salah telah terjadi dengan kami.
Ketika kami sampai, semua orang telah berkumpul dan memulai makan siang, kami ikut duduk bergabung dengan yang lainnya tapi aku tak selera makan walau menu kali adalah brengkes tempoyak, yaitu semacam ikan pepes yang dibakar lagi trus di atasnya dikasih tempoyak.
Tapi kali ini semua seolah hambar ketika masuk mulutku, aku bahkan tak bisa menyimak dengan baik apa yang tengah menjadi pembicaraan kali ini, aku hanya ikut tersenyum ketika semua tertawa. Dan yang pasti aku sangat ingin cepat-cepat pergi dari sana menjauh dari sang Letnan yang duduk di sampingku.
*****
__ADS_1
Bonus minggu pagi 😍