
“Assalamualaikum, ngantuk gak, Za?”
“Udah tidur ya?”
“Kangen pengen ngobrol.”
“Za… beneran udah tidur ya?”
“Kayanya beneran udah tidur nih… ya udah met tidur, Za… mangapnya jangan gede-gede tar ada nyamuk yang masuk.”
Sambil tersenyum lebar aku tiduran di atas tempat tidur dan mulai membalas satu persatu pesannya.
“Wa’alaikumsalam… tadi mandi dulu terus disuruh makan sama Ayah, ini baru selesai... belum ngantuk kok, terus… aku gak mangap kalau tidur!!!”
Tak perlu lama untuk menerima pesan balasan dari sang Letnan membuatku kembali tersenyum lebar… sepertinya dia memang sedang menunggu balasanku.
“Hahaha… iya deh iya kamu tetap cantik kalau lagi tidur.”
“Hehehe… Mas Yudha sudah sampai rumah?”
“Sudah, tadi gak macet jadi cepet.”
“Orang rumah nanyain gak Mas Yudha dari mana malam-malam?”
“Mamah yang nanya, aku bilang habis jemput calon mantunya.”
“Hahahaha… terus Mamah Mas Yudha bilang apa?”
“Dia bilang kalau bawa calon mantunya harus hati-hati jangan sampai lecet.”
“Hahaha… eh, tapi orangtua Mas Yudha tahu tentang Leona gak?”
“Pas baru pulang ke Indonesia sempet ditanyain bener apa gak? Ya sudah aku jelasin kalau itu gak bener.”
“Mereka percaya?”
“Percayalah, kan sama anaknya masa gak percaya.”
“Hehehe.. Alhamdulillah kalau gitu.”
“Orangtua kamu nanyain aku gak?”
“Ayah nanya Mas Yudha itu teman aku yang masuk pasukan Garuda? Aku bilang iya, terus ibu bilang kayanya pernah lihat Mas Yudha dimana gitu, tapi Ibu lupa dimana.”
“Emang lihat dimana?”
“Paling di TV acara gosip, ibu suka nonton acara gosip.”
“Oh hehehe.. namanya juga ibu-ibu, terus kamu jelasin tentang Leona?”
“Belum, nanti saja kalau semua sudah beres.”
“Jangan sampai Ibu salah paham.”
“Iya, nanti aku coba jelasin.”
“Tadi siang aku ketemu Bang Eddy.”
“Terus?????”
“Bang Eddy bilang gak tahu kalau kamu cuma berteman dengan Arga.”
“Iiih... kok bilang gitu? Padahal pas di RS kita sudah bilang kalau cuma temanan.”
“Ya udah, itu sih urusannya dia mau percaya apa gak, yang jelas aku percaya kalau kamu sama Arga cuma temanan… benerkan cuma temanan?”
“Iya, Mas, benaran cuma sobatan aja gak lebih… nanti deh aku kenalin sama Arga biar jelas.”
__ADS_1
“Ya udah, aku percaya… cewek galak yang berani nolak artis kaya Ben mah pasti setia.”
“Hahahaha… udah tahu galak masih saja mau.”
“Malah aku suka cewek galak yang gak mudah terbujuk rayuan cowok, itu tandanya dia setia kalau aku tinggalin tugas jauh.”
“Hehehe… ceweknya sih pasti setia, nah Mas Yudhanya setia gak?”
“Setia dong, udah susah-susah dapatin kamu masa disia-siain.”
“Hehehe… ngomong-ngomong, tadi sama Bang Eddy ngebahas Leona gak?”
“Iya, aku minta dia beresin semuanya terus minta jangan sangkut pautin aku sama Leona lagi.”
“Terus Bang Eddy bilang apa?”
“Dia minta maaf, terus janji bakal beresin ini semua sebelum tambah kacau.”
“Ya iyalah, mereka yang bikin masalah kok kita yang disangkut pautin, enak aja! Mereka harus tanggung jawab dengan perbuatan mereka dong, jangan cuma enaknya aja.”
“Iya, dia bilang kalau sekarang dia dah gak punya hubungan apa-apa sama Leona… ya udahlah jangan ngomongin orang lain ah dosa, mending kita ngomongin kita aja.”
“Hahaha… ngomongin apa?”
“Ngomong kalau aku dah kangen lagi sama kamu, Za.”
“Hahaha… kan tadi sudah ketemu.”
“Kurang lama.”
“Besokkan bisa ketemu.”
“Insyaallah kalau sore sudah sampai Bandung, nanti aku main ke rumah bolehkan?”
“Boleh… besok kayanya Arga ke rumah, tar aku kenalin ya sama Arga.”
“Maksud Mas Yudha… Mas Yudha cemburu sama Arga?”
“Bukannya gitu, aku tahu kamu sama Arga sudah berteman jauh sebelum kamu kenal aku, dan aku tak masalah selama itu memang murni temanan. Aku juga tahu kalau selama ini kamu telah banyak bergantung pada Arga, tapi kini ada aku, Za, aku mau aku-lah yang kamu hubungin pertama kali kalau kamu lagi butuh teman untuk berbagi suka duka, aku mau aku-lah yang pertama kali kamu ingat ketika kamu butuh bahu untuk bersandar, aku mau aku-lah orang yang pertama kali mendengar tentang kisahmu… bukan orang lain termasuk Arga, tapi aku, Za, aku ingin menjadi orang di urutan pertama yang ada di hatimu.”
Aku tersenyum membaca pesannya, aahhh… Letnan Yudha Adipati Pratama, kamu memang paling pintar membuat hatiku berdebar tak karuan.
“Hehehe… Mas Yudha gak bisa berada di urutan pertama.”
“Kok gak bisa?”
“Yang pertama Allah.“
“Yang ke dua?”
“Ayah ma Ibu.”
“Yang ketiga”
“Sayang adik-kakak.”
“123 sayang semuanya dong.”
“Iya hahaha.”
“Trus aku keberapa?”
“Hahaha tar kalau sudah sah baru aku kasih tahu.”
“Yaah… masih belum jelas dong.”
“Hehehe… makanya cepetin beresin soal Leona, biar cepet sah-nya.”
__ADS_1
“Iya, mudah-mudahan dia nepatin janjinya buat beresin masalah ini.”
“Tapi, Mas, menurutku bukan hanya Leona yang perlu meluruskan masalah ini, tapi Mas Yudha juga perlu meluruskannya. Semua menjadi semakin berlarut-larut karena Mas Yudha tidak pernah memberi klarifikasi apapun.”
“Aku tahu aku juga salah dalam hal ini, aku bodoh karena hanya diam saja tanpa memberikan klarifikasi karena ku pikir kalau aku diam saja semua berita itu akan menghilang seiring waktu. Tapi ternyata Leona kembali membuat heboh dengan foto saat makan siang di Musi Rawas. Tenang saja, Za, aku telah memberikan satu kesempatan tapi dia telah menyia-nyiakannya, aku akan memberikan kesempatan terakhir yang telah kusampaikan pada Bang Eddy, dan kalau misalnya mereka menyia-nyiakannya lagi, aku janji, Za, aku tak akan tinggal diam.”
Beberapa saat aku terdiam membaca pesan panjang itu, sebelum akhirnya aku membalasnya.
“Ya udah kalau begitu aku akan memercayai Mas Yudha.”
“Za, aku lupa ngasih tahu… tadi aku kirim pesan ke Leona lewat ig.”
“Terus?”
“Sebentar aku kirimin screen shoot-nya ya.”
Tak lama kemudian aku menerima sebuah foto yang berisi pesan yang sang Letnan kirimkan lewat DM ig yang intinya dia kecewa karena Leona telah melanggar janji dengan mengupload foto saat mereka makan siang, tapi sang Letnan akan memberikan kesempatan terakhir untuk mengklarifikasi masalah ini sebelum dia bertindak.
“Belum dibalas?”
“Belum… kita kasih mereka kesempatan terakhir, Za, mereka telah berjanji akan membereskannya… aku akan memegang janji mereka, tapi kalau mereka sampai melanggar janji… maka jangan salahkan aku kalau sampai dunia tahu tentang siapa mereka sebenarnya.”
“Sabar Mas Sabar hahaha.”
“Hahaha… udah sabar ini, tapi kalau kelamaan kapan kita sahnya????? Itu yang gak bisa di sabarin.”
“Hahaha.”
“Cape gak, Za? Dah ngantuk ya?”
“Badan lumayan pegel-pegel tapi tenang aja masih kuat WA-an kok hehehe.”
Aku terkejut ketika melihat sang Letnan menghubungiku bukannya membalas pesanku, dengan senyum lebar aku mengangkat telepon-nya.
“Halo.”
“Dah ngantuk ya?”
“Lumayan hehehe.”
“Ya udah tidur aja, Za.”
“Gimana mau tidur kalau Mas Yudha telepon.”
“Hehehe, aku nelpon cuma mau denger suara kamu sebelum tidur.”
“Hehehe…”
“Sekarang dah denger malah tambah kangen.”
“Hahahah… besok berangkat ke Jakarta jam berapa?”
“Habis subuh, biar sampai di sana pagi-pagi jadi bisa langsung balik ke Bandung terus ketemu kamu.”
“Hahaha… hati-hati ya, Mas, gak usah ngebut-ngebut yang penting selamat.”
“Iya.. ya udah sekarang tidur, Za, pasti kamu cape bangetkan.”
“Ya udah, Mas Yudha juga istirahat biar besok gak kesiangan.”
“Iya… selamat tidur, Za, mimpi indah jangan lupa berdoa biar bisa mimpiin aku.”
“Hahaha… iya.. selamat tidur juga, Mas Letnan, sweet dream dan… mimpiin aku juga.”
Aku berkata dengan malu-malu membuat Mas Yudha tertawa, sebelum akhirnya kami mengakhiri obrolan kami malam itu.
*****
__ADS_1
Selamat malam mingguan 😘😍... buat para jomblo, selamat baper 🤣🤣🤣