Pemilik Hati #1

Pemilik Hati #1
Bab 9


__ADS_3

Bandung, November 2014


Lima bulan setelah video call terakhirku dengan sang Letnan yang artinya telah lima bulan pula aku tak mendengar kabar darinya. Ya, setelah hari itu sang Letnan menghilang tanpa kabar apapun, aku mencoba menghubunginya tapi telepon-nya tak pernah aktif. Yang bisa ku lakukan adalah menunggu dan menunggu.


Aku kembali membaca semua percakapanku dengan sang Letnan selama ini mencoba mencari petunjuk yang terlewat, dan akhirnya aku menemukannya.


“Kalau suatu hari aku menghilang tanpa memberimu kabar dan kamu tak bisa menghubungiku… kamu tak perlu khawatir, itu artinya aku sedang tugas.”


“Bahaya gak?” Saat itu aku bertanya dengan khawatir.


“Hehehe… semua pekerjaan menanggung resiko, Za… tapi kamu tak usah khawatir, aku janji akan berhati-hati supaya bisa kembali pulang dengan selamat… kamu akan menungguku kan?”


“Insyaallah, hehe… biasanya kalau tugas gitu lama gak?”


“Tergantung perintah… bisa sehari, seminggu, sebulan bahkan setahun.”


“Jadi bagaimana aku tahu kalau Mas Yudha baik-baik aja? Terus kalau aku kangen gimana?”


“Cukup berdoa, dan Allah akan mengantarku kembali pulang kepadamu dengan selamat. Dan percayalah kalau kamu rindu itu tandanya aku jauh merindukanmu.”


Rasa rindu semakin menyeruak kepermukaan sampai terasa sesak di dada saat membaca percakapanku dengan sang Letnan beberapa bulan yang lalu ketika setiap malam kami akan berkirim pesan sampai tengah malam. Aku kini sangat-sangat merindukanmu, apa kamu juga merindukanku?


Aku membuang napas panjang berusaha menghilangkan sesak di dada sebelum tanganku kembali menelusuri jejak percakapan kami yang tersimpan di dalam memori ponsel, sesekali aku akan tersenyum ketika membaca kata-kata sang Letnan.


“Za, boleh gak aku kangen?”


“Kangen sama siapa?”


“Kangen sama kamu lah masa kangen sama Agus.”


“Hahaha…”


“Eh malah ketawa… boleh gak?”


“Kalau gak boleh?”


“Aku maksa.”


“Hahaha…”


“Jadi boleh gak?”

__ADS_1


“Hehehe… boleh… kalau aku boleh gak?”


“Boleh apa?”


“Itu yang tadi Mas Yudha bilang.”


“Iya, boleh apa? Kan yang aku bilang banyak.”


“Iiih! Yang barusan Mas Yudha tanyain.”


“Aku tadi nanya apa?”


“Tahu ah!”


“Hahahaha… Boleh kangen?”


“Iya, hehehe”


“Kangen sama siapa?”


“Sama Agus!!!!”


“Tahu ah!!”


“Hahahaha… Kangen ya, Za?”


“Sama siapa?”


“Sama Agus, hahahahaha.”


“Tahu Ah! Mas Yudha nyebelin!”


“Nyebelin atau ngangenin?”


“Nyebelin yang bikin kangen hehehe.”


“Hahahaha,.akhirnya ngaku juga.”


“Ngaku apa?”


“Ngaku kalau kamu kangen.”

__ADS_1


“Ih kapan aku bilang kangen?”


“Barusan.”


“Ih engga, aku bilang Mas Yudha nyebelin.”


“Iya tapi ngangenin.”


“Aku tahu, aku memang ngangenin.”


“Hahahaha… aku ngaku kalah deh.”


“Hahaha…”


“Aku kangen, Za.”


“Sama, aku juga.”


Itulah pertama kalinya kami saling mengungkapkan rasa rindu kami, setelah itu aku tak malu lagi jadi yang pertama mengungkapkan kalau aku rindu, dan dia akan mengatakan kalau dia jauh merindukanku, kata-katanya itu akan membuatku tersenyum dengan hati berbunga. Tapi kini tak ada lagi kata-kata yang menenangkanku dikala rindu.


Selama ini untuk mengalihkan rasa rindu dan kekhawatiranku, aku menyibukan diri sendiri dengan tugas-tugas kuliah atau-pun kegiatan di OASIS tapi ketika malam semakin larut aku akan kembali larut dalam kerinduan dan kekhawatiran yang semakin hari semakin besar.


Aku sudah seperti boneka yang tersenyum dan tertawa tanpa jiwa, melakukan semua kegiatanku seperti robot yang telah terprogram. Tak ada yang bisa ku ajak bicara karena sampai sekarang tak ada yang mengetahui hubunganku dengan sang Letnan, kecuali tentu saja Arga.


Arga yang mengetahui kondisiku akan berusaha menghiburku dengan membuatku sibuk dikala tidak ada kegiatan, dia akan membawaku jalan-jalan menaiki motornya hanya untuk nongkrong di Dago atau Lembang, menceritakan cerita-cerita lucu hanya untuk membuatku tertawa. Seperti saat ini Arga tiba-tiba saja datang ke rumah dan memaksaku ikut mengikutinya.


“Kemana?” tanyaku malas.


“Jalan-jalan,” jawabnya sambil memaksaku memakai jaket.


“Besok saja ya, Ga, males ah.”


“Sekarang, besok mah beda lagi.” Arga berkata sambil berjalan ke dapur, “Bu, Arga ajak Kekey jalan dulu ya?”


Setelah mendapat ijin dari ibu, Arga langsung menarikku ke luar rumah dan memaksaku duduk di atas motornya, yang mau gak mau langsung ku turuti. Tanpa menunggu lama Arga langsung menyalakan motornya untuk membelah jalanan kota Bandung.


Aku hanya terdiam tak berkata apa-apa, tanganku memeluk pinggang sahabatku mencari sedikit kedamaian, tapi entah kenapa angin sore itu malah membuat mataku perih dan akhirnya air mata-pun jatuh membasahi pipiku yang langsung ku hapus dengan kasar.


****


Haiii.. mulai besok up-nya malam ya, biar bacanya santai ga keburu-buru karena aktifitas tugas pagi 😁😉 sebagai permulaan nanti mlm saya up lagi 😘

__ADS_1


__ADS_2