Pemilik Hati #1

Pemilik Hati #1
Bab 33


__ADS_3

“Nah, kalau ini pasti Arga-kan?”


“Iya, Tante.” Seperti halnya aku tadi Arga juga sun tangan kepada ibunya sang Letnan.


“Yudha bilang kalau Kekey lagi sama laki-laki ganteng itu Arga pengawalnya Kekey, dan Mamah harus bilang makasih sama Arga karena sudah jagain calon mantu Mamah selama ini.”


Kami semua tertawa mendengar cerita ibu sang Letnan, dan aku yakin mukaku kini memerah karena dibilang calon mantu hehehe.


“Jadi Arga, terima kasih banyak sudah jagain calon mantu Mamah yang cantik ini.”


“Sama-sama, Tante, tapi sebenarnya Kekey yang jadi pengawal Arga, dia lebih galak daripada Arga. Aww!! Tuhkan, Tante, lihatkan dia baru aja nyubit… aww!!! Ampun-ampun!”


Diam-diam aku mencubit pinggang Arga menyuruhnya diam, tapi dia malah ngadu kalau dia di cubit, alhasil aku kembali menyubitnya dan kali ini tanpa diam-diam.


“Arga bohong Tante, jangan percaya, Kekey gak galak kok.”


“Hahaha… kalian ini lucu banget sih.”


“Kalian berdua ikut duduk di sini, ada yang mau dibicarakan sama Mamahnya Yudha.”


Aku dan Arga saling pandang kemudian duduk.


“Tadi di kampus tidak ada apa-apakan? Tidak ada yang gangguin Kekey kan?”


Aku dan Arga saling pandang sebelum akhirnya aku menggeleng, “Tidak ada apa-apa, Tante, semua baik-baik saja.” Aku berusaha menyembunyikan kejadian dengan Wina tadi dari keluargaku, karena aku tak ingin membuat mereka khawatir.


Beberapa saat ibu sang Letnan menatapku kemudian mengangguk.


“Ini pasti berat buat kamu, Key, Mamah sangat tahu itu, tapi kamu harus percaya sama Yudha, saat ini dia sedang berusaha menyelesaikan semuanya. Papah-nya sudah menawarkan bantuan untuk menolongnya, tapi dia bilang dia akan berusaha dulu sendiri kalau tidak berhasil baru dia akan meminta bantuan kami. Dia bilang Yudha adalah seorang tentara, jadi bagaimana bisa Yudha melindungi negara ini kalau Yudha tidak bisa melindungi perempuan yang Yudha cintai.”


Aku tersenyum mendengar perkataan terakhir ibu sang Letnan, ada perasaan tenang dan damai karena merasa dilindungi yang kini membuat hatiku hangat. Dan kini aku tahu walaupun dia tak berada disampingku, tapi dia akan selalu melindungiku dengan berbagai cara.


“Jadi Mamah harap kamu memberinya kesempatan untuk membuktikan ucapannya, bisakan Key, kamu bertahan selama beberapa hari ini?”


“Insyaallah, Tante.” Aku mengangguk dengan yakin membuat ibu sang Letnan tersenyum.


“Dan Mamah juga minta bantuan Arga, tolong jaga Kekey seperti selama ini kamu menjaganya, walaupun Mamah yakin ini kan jauh lebih sulit daripada sebelumnya.”


“Insyaallah, Tante sama Ibu gak usah khawatir, bukan cuma Arga yang jagain Kekey, tapi banyak juga teman-teman Kekey yang akan jagain dia.”


Ibu sang Letnan kembali mengangguk dengan senyum lembut.


“Mas Letnanmu itu…”


“Hahaha…” seketika aku tertawa mendengar ibu sang Letnan menyebutkan panggilanku kepadanya, “Kok Tante tahu kalau aku manggil Mas Yudha, Mas Letnan?”


“Tahulah, dia bangga banget kalau kamu manggil dia Mas Letnan, tapi dia curang.”


“Curang kenapa Tante?”


“Masa Mamah gak boleh manggil kamu, Za kaya dia manggil kamu… dia bilang Za itu khusus panggilannya dia, dan dia gak mau berbagi kamu sama yang lainnya termasuk Mamah… kan itu curang namanya, Mamah juga kan pengen punya anak perempuan yang cantik kaya kamu.”


“Ibu tidak punya anak perempuan?” Tanya Ibu yang dijawab ibu sang Letnan sambil tersenyum.


“Yudha itu anak tunggal, jadi di rumah sepi banget kalau dia gak pulang… jadi kalau Ibu tidak keberatan Kekey harus sering-sering main ke rumah buat nemenin saya.”


“Kalau Kekey-nya mau saya tidak keberatan kok, Bu.”


“Kekey mau kan?”


“Mau, Tante.”


“Arga juga ya?”


“Siap, Tante, seperti biasa Arga jadi tukang ojeknya Kekey.”


“Hahaha… satu lagi! Kalian jangan panggil Tante, tapi panggil Mamah kaya Yudha, ok?”


Aku dan Arga mengangguk menyetujui, hari itu ibu sang Letnan datang karena tadi sang Letnan menghubunginya dan meminta ibunya untuk bertemu dengan keluargaku untuk menjelaskan semuanya karena dia tak ingin keluargaku salah paham dengan masalah ini.


****


Malamnya aku mengirim pesan kepada sang Letnan untuk menceritakan apa yang terjadi hari ini, tapi sepertinya dia sedang sibuk karena tak juga membalas pesanku sampai akhirnya tanpa sadar aku-pun tertidur. Sekitar pukul 1.30 aku terbangun ketika ponselku berbunyi, merasa kalau itu adalah pesan dari sang Letnan aku langsung terjaga dan membacanya.


“Udah tidur ya… Maaf baru balas, aku tadi sedang mengerjakan sesuatu dan baru saja selesai… Kamu gak apa-apakan? Maafkan aku, karena aku kamu harus melewati ini semua, seharusnya dari awal aku sudah membereskan masalah ini, maafkan aku karena tak ada di sampingmu saat kamu harus melewati masa-masa sulit seperti sekarang.”


Membaca itu membuatku langsung menghubunginya.

__ADS_1


“Hallo, kamu belum tidur, Za?”


“Assalamualaikum, Mas Letnan.”


“Hehehe.. wa’alaikumsalam, sayang.”


“Hahaha… kok manggil sayang.”


“Oh, belum boleh ya?”


“Belum boleh, belum sah.”


“Yaaah… “


“Hahaha.”


“Kamu gak apa-apa?”


“Gak apa-apa, Mas Yudha tenang aja, aku tak akan diam begitu aja kalau ada seseorang yang menyakitiku, apalagi kalau cuma Wina… pokoknya Mas Yudha di sana tenang aja, cari jalan untuk membereskan yang menjadi inti permasalahan ini, masalah di sini biar aku yang hadapin lagian aku tak sendiri, Mas, ada Arga dan yang lainnya, jadi Mas Letnan jangan khawatir, ok?”


“Baiklah, tapi kalau ada apa-apa langsung bilang ya.”


“Iya… Oh iya, tadi siang Mamah Mas Yudha datang ke rumah.”


“Tadi ngobrol apa sama Mamah?”


“Mas Yudha suka cerita tentang aku sama Mamah ya?”


“Hahaha… Mamah nya aja penasaran nanya-nanya mulu, ya udah aku cerita, Mamah bilang apa?”


“Masa Mamah bilang aku calon mantunya.”


“Hahaha… aamiinin aja, kan itu sama dengan doa orangtua , Za.”


“Hehehe… aamiin.”


“Nah gitu dong, jadi kita dah sah ya.”


“Iiih, belum.”


“Ya itu beda lagi, kan mas Yudha yang nyuruh buat ngeaminin.”


“Jadi gak mau nih jadi calon mantu Mamah?”


“… mau.”


“Ya udah, aku juga mau jadi calon mantu Ibu… jadi kita sah dong, kan dah sama-sama mau.”


“Hehehe... iya sih, tapi kok kayanya ada yang aneh ya?”


“Hahahaha… aneh kenapa?”


“Kenapa kita tiba-tiba jadi sah?”


“Hahahaha… kamu tenang aja, Za, aku akan membereskan masalah ini dulu secepatnya, supaya aku bisa dengan percaya diri menemui orangtuamu dan meminta restu mereka untuk menjalin hubungan denganmu.”


Aku tersenyum mendengar ucapannya dan untung saja saat ini kami tidak sedang video call kalau tidak dia pasti sudah melihat mukaku yang memerah.


“Za?”


“Iya.”


“Kok diam? Ngantuk ya?”


“Engga.” Aku masih berusaha menahan senyumku yang tak pernah mau berakhir, sampai akhirnya aku berdehem dan mencoba mengalihkan pembicaraan, “Mas Yudha sudah ada rencana untuk menghadapi Leona?”


“Aku tak tahu ini akan berhasil apa tidak, tapi minimal aku berharap ini bisa memecah opini publik supaya tidak semua menyalahkan kita dan memercayainya.”


“Mudah-mudahan berhasil.”


“Aamiin… aaah... andai saja kita memiliki kenalan seorang wartawan.”


“Wartawan?


“Iya hanya seorang wartawan… seorang wartawan yang akan berdiri dipihak kita dan memberitakan yang sebenarnya terjadi.”


“Termasuk tentang Bang Eddy?”

__ADS_1


Sang Letnan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku.


“Aku tak akan membocorkan rahasia Bang Eddy, bagaimanapun dia adalah rekan kerjaku.. maafkan aku tapi aku tak bisa, Za… aku hanya akan membuktikan kalau pria yang ada di foto sore itu bukan aku dan aku tak pernah berhubungan dengan Leona, kalaupun nantinya sampai wartawan mencurigai hubungan gelap mereka, itu adalah masalah mereka.”


Aku tersenyum bangga, jujur saja aku merasa marah dan kecewa kepada Bang Eddy tapi aku juga tak ingin menghancurkan pernikahan Bang Eddy hanya karena ingin terlepas dari masalah ini.


“Kak Yoan,” ucapku ketika mengingat sesuatu.


“Yoan?”


“Iya, Kak Yoan bilang dia mengenal salah satu wartawan yang ada di Kubu pada hari kedatangan kami.”


“Itu lebih bagus lagi!”


“Besok aku akan meminta tolong kepada Yoan.”


“Biar aku saja yang berbicara langsung dengan Yoan, kalau dia bersedia membantu ada sesuatu yang harus ku beritahukan padanya.”


“Apa?”


“Nanti, kamu bakal tahu nanti, Za.”


“Oh gitu dah main rahasia-rahasian nih.”


“Hahaha… nanti kalau sudah pasti, aku akan memberitahumu.”


“Ya udah.”


“Kamu cemburu?”


“Engga.”


“Tapi aku suka melihatmu cemburu.”


“Kenapa?”


“Karena itu adalah bukti kalau kamu sayang sama aku.”


“Hehehe… tapi Mas Yudha gak pernah cemburu, berarti Mas Yudha gak sayang sama aku dong.”


“Kata siapa?”


“Kataku.”


“Sudah ku bilang aku ini sangat pencemburu, Za, aku cemburu pada Arga yang setiap saat bisa melindungimu, aku cemburu pada teman-temanmu yang setiap hari bisa melihatmu tertawa, aku bahkan cemburu pada supir angkot yang setiap hari mengantar dan menjemputmu pulang-pergi… tapi aku percaya kalau kamu tak akan mengkhianatiku, karena hatimu kini telah jadi milikku dan akan ku pastikan aku tak akan kehilangannya lagi.”


Aku tersenyum mendengarnya, sebenarnya aku tak menyukai lelaki yang suka menggobal tapi entah kenapa kalau sang Letnan yang mengatakannya itu malah membuatku tersenyum dan akan kembali tersenyum ketika aku mengingat kata-katanya lagi.


“Za, kok diam? Dah tidur ya?”


“Belum hehehe.”


“Oh hehehe… ya udah sekarang tidur dulu, jangan lupa berdoa.”


“Iya."


“Selamat tidur, Za, mimpi indah malam ini, jangan terlalu memikirkan masalah ini biar aku yang mencari jalan keluarnya, yang perlu kamu lakukan hanya tetaplah tersenyum dan bahagia.”


“Hehehe… iya.. Selamat tidur, Mas Letnan… Miss You.”


“Miss you too... I love you.”


“Hehehe..”


“Kok gak di balas?”


“Hehehe nanti.”


“Hahaha… ya udah, bye, Za, assalamualaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


"Sweet dream, honey."


Aku tersenyum mengakhiri panggilan itu, dan kembali bersiap tidur untuk bertemu Sang Letnan dalam mimpi indahku.


****

__ADS_1


__ADS_2