
Aku terus berlari di bawah guyuran hujan sampai akhirnya menemukan sebuah ruko tutup dimana aku bisa berteduh dan menunggu taxi. Hujannya tidak begitu deras tapi cukup membuatku basah. Aku sedang mengeringkan wajah dan tanganku menggunakan tissue ketika sebuah mobil Audi hitam berhenti di depanku.
“Key!”
Aku melihat Mas Reihan turun dari mobil dengan menggunakan payung.
“Mau kemana?” tanyanya setelah berdiri disampingku.
“Pulang,” jawabku sambil berusaha mengeringkan rambutku.
“Aku anterin ya?”
“Gak usah, terimakasih, saya naik taxi saja.”
“Aku anterin, daripada nanti aku yang kena omel Mas Dimas gara-gara adiknya kehujanan.”
Aku terdiam beberapa saat kemudian akhirnya mengangguk setuju dan Mas Reihan-pun memayungiku sampai naik mobil.
“Tadi habis dari mana?” tanya Mas Reihan sambil mengemudikan mobilnya melewati Universitas Negri Yogyakarta.
“Habis nganter Mamah beli oleh-oleh.”
“Terus kenapa pulangnya gak dianter supir malah hujan-hujanan?”
“Supir lagi nganter Papah, dan tadi pas aku keluar rumah belum hujan.”
“Ooh… kamu deket ya sama keluarganya Yudha?”
“Lumayan.” Aku mengangguk sambil menatap ke depan, “Mas Reihan sendiri mau kemana?” aku berusaha mengalihkan pembicaraan sebelum dia mencurigai ada yang salah antara hubungan aku dan sang Letnan.
“Mau pulang, habis nganter Widy ke tempat Yudha.”
Aku terdiam kemudian mengangguk dan kembali menatap ke luar dimana hujan semakin deras.
“Pas sampai tadi Yudha lagi berdiri di tengah hujan sambil bawa jaket.”
Aku masih terdiam tapi mataku kini menatap Mas Reihan yang terlihat serius menatap ke depan.
“Ckk… sudah gede juga masih aja hujan-hujanan.” Aku mendengus tertawa berusaha menertawakan hal itu.
“Mungkin dia mau ngejar kamu buat ngasih jaketnya.”
“Ngapain? Dia bahkan belum bangun ketika saya pulang tadi.” Aku berbohong, dan aku tak tahu untuk siapa aku berbohong, apa untukku atau untuk sang Letnan agar pertunangannya tidak hancur? Entahlah.
Mas Reihan menatapku beberapa saat kemudian mengangguk dan kembali serius menatap jalanan, kami hampir sampai rumah Pakde di daerah Gebang.
“Key, ada acara gak sekarang?”
“Sekarang? Engga, Mas,” jawabku sambil memberi tahu arah rumah.
“Kita jalan yuk?”
Aku sedikit terkejut mendengar ajakan Mas Reihan yang tiba-tiba, “Jalan? Kitakan ini lagi jalan, hehehe.”
“Hehehe... kita main kemana kek, kamu belum pernah keliling Yogya malam-malamkan? Hari ini aku akan mengajakmu keliling… mau ya? Hujannya juga dah mulai reda nih”
Aku terdiam memikirkan tawaran Mas Reihan dan akhirnya mengangguk setuju… aku perlu melakukan sesuatu untuk mengalihkan pikiranku saat ini, daripada aku berdiam seorang diri terpuruk dalam kemarahan dan kesedihan.
Setelah aku berganti pakaian dan shalat magrib, aku pamit sama Pakde dan Bude. Kami pergi melintasi Malioboro yang terasa berbeda di malam hari dengan lampu-lampu yang mulai menyala, bangunan-bangunan tua di kanan-kiri jalan seolah tak mau kalah megahnya dengan hotel dan mall yang mulai mengelilingi.
Mas Reihan berperan sebagai tour guideku malam itu, dia menjelaskan segala hal yang membuatku semakin menikmati perjalanan itu. Dan akhirnya kami berhenti di alkid alias alun-alun kidul, dimana mobil yang dihiasi lampu warna-warni seolah-olah menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan untuk datang ke sana.
Mas Reihan memarkirkan mobilnya dan kamipun keluar untuk menikmati malam itu di alkid, lebih tepatnya di taman dimana berdiri dengan kokoh dua buah pohon beringin. Konon katanya setiap orang yang bisa melewati celah di antara pohon itu, harapannya akan terkabulkan.
“Mau nyoba, Key? iseng-iseng aja.”
“Hehehe… gak deh, Mas,” jawabku karena aku sudah tahu apa hasilnya tanpa harus mencobanya.
“Dulu, aku dan Mas Dimas pernah nyoba.”
“Beneran? Terus?”
__ADS_1
“Mas Dimas malah belok jauuuuh ke sana.”
“Hahaha… trus Mas Reihan?”
“Aku? Tentu saja aku berhasil.”
“Terus harapannya terkabul?”
“Engga.”
“Hahaha… emang apa?”
“Waktu itu aku berharap cewek yang aku suka bakal nerimaku, tahunya ditolak.”
“Hahaha… percuma dong.”
“Iya, percuma hahaha.” Mas Reihan terdiam sambil menatapku, “Kamu cantik kalau tertawa seperti itu.”
Aku tersenyum mendengar pujiannya.
“Aku sering dengar dari Mas Dimas kalau kamu suka sekali tertawa dan akan menularkan itu kepada orang-orang disekitarmu, tapi kenapa sekarang jadi jarang tertawa?”
“Karena tidak ada yang lucu, kalau ada yang lucu pasti aku tertawa… kaya tadi.” Aku menjawab sambil tersenyum membuat Mas Reihan ikut tersenyum, dan pada saat itulah ponselnya berbunyi dan dia meminta ijin untuk mengangkatnya sebentar.
“Key, sorry, tapi gak apa-apakan kalau kita pergi sekarang?”
“Gak apa-apa, Mas, kita bisa pergi sekarang.”
Sebenarnya aku masih ingin diam di sana hanya untuk menikmati udara malam kota Yogya, tapi sepertinya Mas Reihan ada urusan mendadak. Dan urusan mendadaknya itu ternyata menjemput Widy di stasiun KA yang sedang mengantar kepulangan Sang Letnan dan orangtuanya. Melihat kedatanganku dengan Mas Reihan membuat mereka terkejut.
“Kalian datang berdua?” tanya Widy dengan senyum lebar.
“Iya, tadi Mas lagi sama Kekey waktu kamu telpon, jadi sekalian aja diajak ke sini… Tante, Om.” Mas Reihan menyalami kedua orangtua sang Letnan, yang menatapnya penuh selidik.
“Mamah… “ Aku langsung memeluk Mamah yang langsung tertawa mendapat pelukan tiba-tiba dariku.
“Ahhh… sayang, Mamah akan merindukanmu.”
“Kekey juga.”
“Siap, Tante.”
“Mamah juga! Gak usah diet-dietan segala.”
“Dengerin tuh,” ucap Papah membuat Mamah pura-pura kesal.
“Kenapa gak boleh diet, kan biar langsing kaya kamu.”
“Kalau Mamah langsing, nanti Kekey kalah cantik sama Mamah.”
“Hahaha… bisa aja ya.” Mamah menyubit pipiku sambil tertawa.
“Papah juga! Jangan bandel! Jangan makan sate kambing lagi.”
“Kalau gule kambing?”
“Hahaha, itu sama aja, Pah… pokoknya jangan sampai darahnya tinggi lagi ok? Jaga kesehatan.”
“Dengerin tuh.” Sekarang giliran Mamah yang berkata seperti itu membuatku tertawa.
“Pokoknya Mamah sama Papah jaga kesehatan, ok?”
“Kalau aku?”
Aku menatap sang Letnan yang juga menatapku dengan kedua tangan dimasukan ke dalam saku. Dulu ada waktunya ketika kami akan saling menggengam tangan seolah tak ingin melepaskan ketika aku mengantarnya ke bandara atau terminal bis, dulu kami akan mengucap seribu satu kata cinta dan kerinduan bahkan sebelum berpisah. Tapi kini, mulutku seolah kelu tak ingin mengatakan apapun selain, “Hati-hati… jangan selingkuh.”
Aku bisa melihat matanya sedikit terkejut mendengar ucapanku dan aku juga tak tahu kenapa aku mengatakan itu, tapi yang pasti ucapanku itu membuat Widy tersenyum sambil merangkul lengan sang Letnan membuatku langsung mengalihkan pandangan ke arah Mamah dan pura-pura kembali tersenyum.
“Kamu denger itu? kamu gak boleh macam-macam di Jakarta, ingat kamu sudah tunangan.. sudah menjadi milikku sekarang.”
Aku tak mendengar sang Letnan mengatakan apapun, entahlah mungkin dia hanya diam atau tersenyum menjawab itu… aku tak peduli dan tak ingin tahu! Aku kembali memeluk Mamah dan Papah sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam.
__ADS_1
Sang Letnan masih berdiri di hadapan kami bertiga, aku sendiri tak berani untuk menatap matanya dan lebih memilih untuk melihat sekeliling.
“Aku pergi.” Dia mulai berkata tapi aku tetap tak mau melihatnya, dan lebih tertarik untuk memainkan kuku-kuku tanganku.
“Hati-hati, jangan lupa makan.”
“Iya.” Aku mendengar Widy menjawab.
“Jangan kaya anak kecil main hujan-hujanan, ga ada Arga di sini yang ngerawat kalau kamu sakit.”
Deg!
Aku terdiam karena tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan.
“Jangan keras kepala.. jangan nangis sendirian.”
Aku kini menatapnya yang juga tengah menatapku
“Gak ada Arga di sini yang akan memberikan bahunya untuk jadi sandaran.”
Aku masih terdiam.
“Jangan pergi sendirian, gak ada Arga yang akan menjemputmu kalau kamu tersesat.”
“Ada google map,” jawabku membuatnya memutar bola mata.
“Tadi aku bilang jangan keras kepala.”
“Aku tidak keras kepala.”
“Kalau bukan keras kepala apa ini namanya?”
“Aku hanya menjawab.”
“Aku tidak bertanya.”
“Terus tadi apa?”
“Perintah!”
“Aku gak suka perintah.”
Sang Letnan mengambil napas dalam-dalam lalu membuangnya kasar, matanya kini menatap Mas Reihan yang terdiam seperti Widy melihat kami bertengkar seperti itu.
“Aku titip, anak bandel ini.”
“Apa dikiranya aku barang, main dititip-titipin segala, dan aku bukan anak bandel!”
Aku melihat rahang sang Letnan mengeras sambil menatapku tajam beberapa saat sebelum kembali menatap Mas Reihan.
“Kalau dia macem-macem, hubungi aku! Aku akan mengirim pawangnya ke sini.”
“Emang ular pake pawang segala! Tadi dibilang anak bandel, terus dikiranya barang mau dititipin segala, jadi aku ini apa? Ular-ularan bandel yang bisa dititipin?”
Sang Letnan pura-pura tak mendengarku, dia masih berbicara dengan Mas Reihan dengan serius.
“Jangan biarkan dia makan duren banyak-banyak, jangan biarkan dia minum kopi, jangan keseringan kasih makan makanan yang pedes dan asem, kalau dia masih keras kepala seperti ini.” Sang Letnan menatapku tajam, “Telepon aku... aku tak akan ngirim Arga, tapi aku akan kirim Juang ke sini.”
Aku terdiam menatapnya yang masih menatapku tajam, “Mas Juang lagi tugas jadi gak bisa datang ke sini.”
“Oh iya? Berani bertaruh? Aku bisa menghubungi Juang sekarang dan besok pagi aku bisa pastikan dia sudah ada di sini.”
Aku membuang napas berat dengan penuh emosi sebelum kembali menatapnya,
“Bagaimana kalau kita bertaruh… Kau akan ketinggalan kereta api kalau masih ngomel-ngomel kaya Donal bebek… Let-nan!”
Sang Letnan baru menyadari kalau di speaker kini sedang melakukan panggilan terakhir untuk KA jurusan Yogyakarta-Bandung, membuatnya bersiap-siap pergi.
“Ingat! Jangan macam-macam!” ancamnya dengan serius tepat didepan wajahku, “Aku pergi dulu.. Assalamualaikum!” serunya dengan galak sambil berbalik.
“Wa’alaikumsalam!” seruku tak kalah galak sambil berbalik meninggalkan Mas Reihan dan Widy yang terlihat kaget melihat kami malam itu.
__ADS_1
*****
Halooo... sarapan paginya ga bikin nyesek kan??? sekarang boleh ambil napas dulu dalam-dalam, truuus siapin hati buat tar malam ya.... 😈😈😈😈