
Tanpa pernah ku duga kalau aku akhirnya akan menjadi tajuk utama di akun gosip online, fotoku dan sang Letnan yang saling berhadapan dengan tangan saling menggenggam di bandara kini tersebar luas di sosial media. Rupanya hari itu seseorang mengenali sang Letnan dan diam-diam mengambil gambar kami.
Tentu saja itu menjadi berita besar mengingat beberapa hari sebelumnya Leona mengupload foto kebersamaannya dengan sang Letnan. Seolah tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, Leona kembali membuat status untuk mengakhiri hubungan pura-puranya dengan sang Letnan.
Kalau itu dengan cara baik-baik dan menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya mungkin itu tidak akan jadi masalah, tapi yang membuat ini semakin kacau adalah karena isi status Leona yang seolah-olah menyindir kalau sang Letnan hanya seorang playboy dan aku sebagai perempuan yang pura-pura terlihat polos untuk menggoda para pria. Belum cukup disana Leona bahkan meng unfollow akun kami semua, yang semakin membuat kesan kalau dia adalah korban di sini.
Entah berapa banyak caci maki yang kuterima di akun sosialku, bahkan akun sang Letnan yang baru dibuat dan hanya memiliki satu foto yang di upload yaitu foto kebersamaan dengan para anggota Oasis di BKB-Palembang hari itu kini telah dibanjiri komentar negatif apalagi di foto itu terlihat sang Letnan merangkulku.
Bukan hanya secara online bahkan berita itu sudah masuk acara gosip di TV-TV nasioal, dan menyebar dengan cepat melebihi kecepatan cahaya. Bagaimana tidak, karena baru saja kemarin aku mengantar sang Letnan ke bandara, dan semalam ketika kami berbicara kami masih bisa tertawa seperti biasanya, tapi ketika pagi menjelang berita itu sudah menyebar dengan ditambah sana-sini dan semakin siang berita itu semakin membesar seperti bola salju.
Sebelum berangkat kuliah aku menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya kepada keluargaku, dan untungnya mereka memercayaiku dan sang Letnan, itu membuat beban di dadaku seolah terangkat. Aku tak peduli kalau orang lain tak memercayaiku karena yang penting adalah keluargaku.
Seperti saat ini aku seolah menjadi bahan tontonan di kampus, tak sedikit pula yang mencibir ketika melihatku. Untung saja ada Mira, Mas Juna dan Arga yang memang sekampus denganku dan telah mengetahui kebenarannya.
“Mas Yudha sudah ngehubungi?” bisik Mira.
“Sudah, tadi pagi dia langsung menghubungiku dan mengatakan kalau dia akan membereskan ini secepatnya.”
Mira mengangguk mengerti. Saat ini kami berdua sedang duduk di kantin sambil menunggu Arga dan Mas Juna yang sedang ada kelas, keberadaanku di sana cukup menyita perhatian orang-orang yang berada di kantin. Sesekali mereka akan menatap kearahku kemudian saling berbisik, termasuk salah satunya adalah Wina, mantan Arga.
“Jadi cewek itu jangan sok kecakepan.”
Aku dan Mira menatap ke arah meja yang yang tak jauh dari kami ketika mendengar Wina berkata dengan suara kencang menarik perhatian beberapa orang.
“Pura-pura sok polos padahal mah… iiih amait-amit, cowok orang diembat.”
“Pengalaman pribadi ya , Win.”
“Hahaha..”
Terdengar tawa dari teman-teman Wina yang ada di meja itu. Aku masih terdiam walau darah mulai mendidih mendengarnya, tanganku aku kepalkan kuat-kuat berusaha menahan amarah yang hampir mencapai ubun-ubun.
__ADS_1
“Gak malu apa, pura-pura temanan padahal gak tahu tuh dah diapain aja di Lembang.”
“Lembangkan enak dingin, Win, buat berduan.”
“Nah iya, apalagikan kalau cowok liat cewek gatel otaknya kan gak bakalan jauh-jauh dari soal itu.”
Aku sudah tak bisa menahan diri lagi, emosiku sudah meledak, aku hampir saja menggebrak meja untuk melabraknya ketika Mira menahan tanganku untuk tenang.
“Ya iyalah, kalau gue jadi Arga juga gue milih loe kemana-mana, Key, dari pada pacaran sama cewek kaya nenek sihir gitu sok baik padahal mah munafik!” Teriak Mira membuat mejanya Wina terdiam, kini mereka menatap ke arah meja kami dengan tajam.
“Terus gue puas banget pas dengar Arga nurunin tuh nenek sihir di tengah jalan! Hahahah… kalau gue malu banget deh diturunin di tengah jalan terus langsung diputusin, tapi dasar aja tuh nenek sihir gak tahu malu masih aja ngejar-ngejar Arga, itu tandanya gak punya harga diri!”
“Eh! Maksud lu apa?!” Wina berteriak dengan wajah memerah marah menatap Mira dengan nyalang.
“Lu kenapa sewot? Gue lagi ngomong sama teman gue, gak ada urusannya ma lu,” balas Mira dengan santai tapi tajam, sedangkan aku masih terdiam menatap Wina dengan tajam sambil menggertakan gigi dengan dada berpacu hebat oleh adrenalin yang semakin mengalir deras.
“Eh! Gue tahu ya loe nyindir gue!”
“An***g, lu! Kalau loe gak tahu apa-apa mending lu diem aja deh!”
“Eh! Lu yang mending diem aja kalau gak tahu apa-apa daripada mulut loe tar gue sobek!”
“An***g, sini lu kalau berani! Dasar pel***r!”
Byurr!!!
Tanpa banyak bicara dengan penuh emosi aku langsung menyambar gelas es tehku yang masih penuh dan menyiramkannya tepat di wajah Wina yang sekarang berteriak kaget karena siraman air olehku.
“An***g!!!” teriak Wina dengan mata nyalang menatapku.
Byurr!!!
__ADS_1
Tanpa menunggu aku kembali menyiramnya tapi kali ini dengan es jeruk milik Mira.
Wina kembali berteriak sedangkan teman-temannya kini mundur dengan mulut menganga melihat itu. Orang-orang mulai mengeremuni kami dan aku bisa melihat beberapa dari meraka merekam kejadian itu dengan ponsel mereka.
“Mending lu diam sebelum gue cuci mulut loe itu pakai sikat WC!” aku berkata dengan tajam, emosi yang dari tadi tertahan kini keluar membuatku berkata dengan kasar.
“Lu pikir gue gak berani!” seru Wina sambil merangsak ke arahku dengan penuh emosi, tangannya terangkat bersiap untuk menampar, tiba-tiba seseorang mencengkramnya dengan kuat lalu mendorongnya membuat Wina terhuyung sebelum akhirnya menabrak meja.
Arga! Aku melihat Arga berdiri dengan mata nyalang penuh emosi menatap Wina.
“Tangan kamu berani menyentuh dia! Aku tak peduli kamu perempuan… aku yang akan balas menamparmu!” geram Arga dengan penuh emosi menatap Wina yang kini pucat pasi, bukan hanya Wina tapi aku juga kaget melihat Arga semarah itu.
“Ga,” aku memanggilnya berusaha menenangkan walaupun aku sendiri masih merasakan emosi, tapi melihat Arga seperti itu membuatku takut kalau dia akan melakukan hal-hal yang membuatnya menyesal nanti.
Arga menatapku, matanya kini menyiratkan rasa khwatir.
“Kamu gak apa-apa?” Arga menatapku dari atas sampai bawah seolah tengah memindaiku.
“Gak apa-apa,” aku menjawab berusaha menenangkan, membuat Arga menatapku beberapa saat kemudian mengangguk, dia kembali berdiri tegak matanya menyisir sekeliling dengan tajam dimana orang-orang masih berkerumun.
“Kalau sampai ada yang berani mengupload kejadian ini… kalian kan berurusan denganku!” ancam Arga dengan penuh emosi membuat semua orang menurunkan ponsel mereka, terlihat teman-teman Arga dari pencinta alam kini telah mengelilingi kami, mereka memastikan video yang sempat terekam kini akan terhapus. Tak ada yang berani melawan anak-anak PA yang terkenal dengan loyalitas tinggi mereka terhadap teman.
“Ayo!” Arga menarik tanganku membawaku pergi dari sana menyeruak membelah kerumunan, diikuti oleh Mira dan Mas Juna yang mengekor di belakang.
“Kemana?” tanyaku masih berjalan mengikuti Arga yang belum melepaskan tanganku.
“Pergi dari sini.”
“Aku masih ada kuliah.”
“Bolos dulu,” ucapnya sambil terus berjalan menuju tempat parkir motor, dia langsung memberiku helm dan kami-pun langsung pergi setelah sebelumnya pamit kepada Mira dan Mas Juna yang sangat mengerti melihat kami pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
*****