
Kami kembali ke dalam tapi sekarang kami duduk bergabung dengan orangtuaku di ruang keluarga, sebelum akhirnya Dirga datang membawa pecel ayam dan kami-pun pindah ke ruang makan. Seperti biasa serasa ada teman Ayah tak henti-hentinya berbicara soal militer dengan sang Letnan, apalagi setelah mengetahui kalau dua bulan lagi dia akan mulai pelatihan Kopassus.
“Pelatihan Kopassus itu sangat berat, luar biasa beratnya, dari mulai laut, hutan sampai udara kita harus menguasai semuanya. Bahkan banyak tentara luar yang mengatakan kalau pelatihan Kopassus itu tidak manusiawi dan sangat menakutkan, tapi itu adalah gambaran perang sesungguhnya. Apa saat kita menjadi tawanan perang atau ******* akan memerlakukan kita dengan sopan seperti tamu? Tidak, mereka akan menyiksa kita sedemikian rupa kalau kita tertangkap. Karena itulah Kopassus ditakuti bahkan oleh tentara dunia, 1 anggota Kopassus setara dengan 5 bahkan lebih anggota tentara biasa. Dunia semakin mengakui ke elitan Kopassus ketika pembajakan pesawat di Thailan pada tahun 81, tentara sana menyerah ketika menghadapi pembajak, sampai akhirnya negara kita mengirimkan anggota Koppassus dan hanya memerlukan waktu kurang lebih 3 menit untuk untuk membebaskan pesawat Garuda dari tangan para pembajak. Sejak itu Kopassus masuk lima besar jajaran tentara elit dunia.”
Sang Letnan mendengarkan cerita Ayah dengan serius sedangkan aku dan Ibu yang sudah sangat sering mendengar cerita ayah tentang kehebatan TNI lebih tertarik untuk menghabiskan pecel ayam dengan sambal kacang mete dan kol goreng milik kami, Dirga yang sudah tahu bakal seperti itu langsung melarikan diri dengan alasan belum lapar dan lebih memilih main PS bersama Aldi.
Sedangkan ayam sang Letnan belum tersentuh sedikitpun karena setiap dia akan mulai makan, Ayah akan kembali bercerita membuat sang Letnan kembali mengurungkan niatnya untuk makan dan kembali fokus mendengarkan Ayah.
“Udah ngobrolnya! Kasian tuh Yudha belum makan dari tadi,” protes ibu membuat Ayah tersadar kalau nasi di piring sang Letnan belum berkurang.
“Lho! Kenapa tidak dimakan? Gak suka?”
“Suka Yah.”
“Terus kenapa gak dimakan?”
“Gimana mau makan tiap dia mau nyuap Ayah malah cerita,” bela ibu sambil berdiri, “Ayah udahkan makannya? Sekarang kita ke depan nonton TV, biarin anak-anak pada makan.”
Perintah ibu yang mau tak mau langsung dituruti Ayah. Ketika di luar Ayah boleh saja dikenal sebagai pensiunan TNI dengan pangkat Kolonel, tapi di rumah ibulah pemilik perintah tertinggi.
“Hehe.. maaf Ayah kadang suka lupa waktu kalau ngobrolin militer.”
Sang Letnan mengangguk sambil tersenyum mengerti dan mulai makan. Aku duduk di hadapan sang Letnan memerhatikannya yang bahkan terlihat keren saat makan, dan semakin kagum melihat caranya ketika berhadapan dengan orangtuaku.
“Kenapa senyum-senyum sendiri?”
“Engga,” jawabku dengan senyum lebar membuat sang Letnan tertawa.
“Ini bukan pertama kalinya kamu lihat aku makan, Za.”
“Ini pertama kalinya aku melihat dengan jelas, biasanya kan Mas Yudha duduk di samping aku.”
Sang Letnan mengangguk sambil berkata, “Keren ya?” seketika aku langsung tertawa.
“Ya Allah… Mas Yudha tuh beda banget ya, kalau di depan orangtua sopan banget, di depan orang lain kaya yang dingin berwibawa gitu, padahal aslinya… hahaha.”
“Kenapa aslinya?”
“Aslinya narsis sama gombal.”
“Hahaha… kan cuma ke kamu gombalnya juga, dan itu bukan narsis, Za, itu fakta.”
“Fakta kalau Mas Yudha benar-benar narsis.”
Sang Letnan tertawa sambil menghabiskan makanannya.
“Besok pesawat yang jam berapa?”
“Jam 4.”
Aku mengangguk mengerti, sang Letnan telah selesai makan tapi kami masih duduk di depan meja makan. Beberapa saat kami hanya terdiam dengan mata saling pandang kemudian tersenyum sebelum akhirnya tertawa tanpa alasan.
__ADS_1
“Kenapa tertawa?”
“Mas Yudha juga kenapa tertawa?”
“Karena lihat kamu tertawa.”
“Hahaha… kita tertawanya barengan.”
“Hehehe… Za!”
Aku mengangkat alisku ketika ku dengar suara sang Letnan kini terdengar serius.
“Aku rasa aku sakit.”
“Mas Yudha sakit? Apanya yang sakit?” Aku mulai panik mendengar dia sakit.
“Jantung.”
Antara percaya dan tidak aku mentap sang Letnan yang masih menatapku dengan serius.
“Mas Yudha… punya penyakit jantung?”
“Tidak.”
“Terus?”
“Tapi kayanya ada yang salah dengan jantungku.”
“Mas Yudha sudah periksa ke dokter.”
“Kenapa?”
“Karena jantungku akan berdetak hebat bahkan seperti akan meledak hanya setiap lihat kamu.”
“Aaahhh!! Gak lucu!”
“Serius, Za, apa lagi kalau lihat kamu tersenyum atau tertawa sepertinya jantungku harus bekerja ekstra keras.”
“Hahaha… kalau gitu jangan dilihat.”
“Kalau aku tak melihat kamu, itu akan lebih parah lagi… bukan cuma jantung, tapi hati, mata dan pikiranku akan sakit karena merindukanmu.”
“Hahahaha… udah ah!”
Aku berdiri sambil membawa piring kotor menuju washtafel, sebenarnya bukan karena ingin cuci tangan tapi karena ingin menyembunyikan wajahku yang pasti sudah memerah dari sang Letnan. Tapi rupanya dia mengikuti ke dapur untuk cuci tangan.
Kami kini berdiri berdampingan di depan washtafel sambil mencucui tangan. Percayalah mungkin itu adalah hal biasa hanya dua orang cuci tangan di washtafel, tapi bagiku dengan berdiri sedekat itu dengan sang Letnan sukses membuat darahku berdesir, dan itu adalah acara mencuci tangan paling romantis yang pernah kurasakan hehehe.
“Piringnya gak dicuci sekalian?”
“Gak usah, besok pagi Bi Yati datang buat bantu-bantu ibu.”
__ADS_1
Sang Letnan mengangguk mengerti dan kami kembali ke ruang tengah bergabung dengan Ayah dan ibu sebelum akhirnya dia pamit pulang. Dan seperti biasa setelah sampai rumah dia langsung mengirimiku pesan untuk memberi tahuku kalau dia sudah sampai, dan melanjutkan percakapan kami sampai akhirnya dia telpon hanya untuk mengucapkan selamat tidur dan mimpi indah.
Keesokan harinya sekitar jam 1 sang Letnan datang ke rumah untuk pamit kembali ke Palembang, setelah sebelumnya sempat ngobrol dengan Ayah dan Ibu, akhirnya sekitar pukul 2.30 dengan menggunakan mobil Ayah, aku mengantarnya ke bandara yang hanya memerlukan waktu 10-15 menitan dari rumah kalau memang tidak macet.
Tapi hari itu jalanan lumayan macet, mungkin karena musim libur jadi banyak wisatawan dari luar kota yang datang dengan menggunakan mobil pribadi, dan kami sampai di bandara Husein Sastranagara sekitar jam 3 lebih, masih ada waktu beberapa menit sebelum sang Letnan berangkat.
Tak banyak kata yang kami ucapkan saat itu, kami hanya saling menatap dengan tangan saling menggenggam terasa berat untuk saling melepaskan.
“Aku akan pulang kalau libur.”
Aku mangangguk sambil tersenyum.
“Tunggu aku.”
Aku kembali mengangguk.
“Tolong jaga hati kamu jangan sampai terluka atau sedih karena sekarang akulah pemilik hatimu.”
Aku tertawa mendengar ucapannya.
“Aku serius, Za… aku tak akan memaafkan orang yang membuat hatimu terluka atau sedih.”
“Iya… Mas Yudha juga.”
“Aku apa?”
“Hati-hati, jaga diri jangan sampai terluka.”
Sang Letnan mengangguk, “Daaan…???”
“Hahaha… daaan… jaga hatinya juga jangan sampai diambil perempuan lain.”
“Bagaimana bisa hatiku diambil perempuan lain, sedangkan hatiku sudah menjadi milikmu seutuhnya.”
“Hahaha…”
“Serius, Za,” ucapnya sambil tersenyum lebar.
“Iya,” aku berkata dengan wajah memerah, membuat sang Letnan mencubit pipiku yang semakin tertunduk malu.
Suara speaker yang memberitahukan untuk penerbangan Bandung-Palembang telah terdengar, yang artinya sang Letnan harus segera masuk.
“Aku harus pergi sekarang.”
Aku mengangguk berusaha tersenyum, “Hati-hati.”
Sang Letnan mengangguk sambil tersenyum.
“Ketika pulang nanti, akan ku pastikan kamu menjadi kekasihku, Za.”
“Aku akan menunggu saat itu.”
__ADS_1
Sang Letnan tersenyum lembut, dan walaupun berat akhirnya kami melepaskan genggaman kami untuk sementara sampai akhirnya nanti kami bertemu lagi dengan perasaan cinta dan rindu yang lebih besar lagi.
****