Pemilik Hati #1

Pemilik Hati #1
Bab 23


__ADS_3

“Aku rasa tebakan Mas Yudha, salah.” Untuk pertama kalinya aku menyebut namanya setelah kami kembali bertemu dan itu membuatnya menatapku dengan wajah terkejut.


“Dia gak suka sama kamu, Key?” tanya Rendy tak percaya.


“Iya,” jawabku sambil tersenyum miris, “Dia menghilang tanpa kabar berita, dan setelah beberapa bulan Kekey dengar kabar kalau dia sudah punya pacar baru”


“Siapa, Key? Kita kenal gak?” Yuni bertanya, dan kini semua orang menatapku penasaran.


“Dia pasti punya alasan kenapa melakukan itu.”


Sang Letnan kembali berkata membuatku kembali menatapnya.


“Apapun alasannya sekarang dia sudah punya pacar, yang artinya aku sudah harus melupakannya,” ucapku sambil menatap sang Letnan yang juga masih menatapku.


“Iya bener, Key, cari cowok lain aja.”


Aku mendengar semua orang setuju dengan ucapan Teh Vita, tapi aku sudah tak begitu jelas mendengar apa saja yang mereka ucapkan, karena kami masih saling pandang seolah berada di dunia kami sendiri.


“Apa kamu sudah melupakannya?” tanya sang Letnan membuatku terdiam tak bisa menjawab itu.


Semua orang kini terdiam menunggu jawabanku yang hanya terdiam dengan jantung berdetak kencang, napasku sedikit memburu, mataku menatapnya tajam yang juga tengah menatapku dengan penuh selidik.


“Dia mungkin kehilangan no telepon kamu makanya gak bisa ngehubungin kamu lagi.”


“Dia bisa memintanya lagi kepada temannya yang pertama kali memberikan no teleponku.”


“Dia kehilangan ponselnya, jadi semua kontaknya hilang.”


“Banyak cara yang bisa dia lakukan untuk bisa menghubungiku kalau dia memang berniat menghubungiku.”


“Dia berada di tempat antah berantah yang tak ada sinyal, jangankan internet, telepon saja gak bisa… seperti sekarang.”


“Tapi dia bisa berhubungan dengan cewek lain? Bukankah itu aneh.”


“Iya, aneh tuh Mas, kalau alasannya itu… masa ngehubungi cewek lain bisa tapi gak bisa ngehubungi Kekey, kan aneh”


“Udah lupain saja, Key, ada aku yang gak bakalan ninggalin kamu.”


Semua orang tertawa mendengar ucapan Ben kecuali kami berdua yang masih saling pandang.


“Udah ah! dah malam nih, besok pagi dah harus siap-siap pulang… aah, akhirnya bisa ketemu kasur!” ucap Kak Yoan sambil berdiri dan meluruskan badannya disusul yang lainnya, kecuali aku dan sang Letnan yang masih duduk tak bergerak, tapi akhirnya aku-pun berdiri menyusul yang lainnya.


Baru beberapa langkah ketika kurasa sang Letnan mengenggam pergelangan tanganku, dengan terkejut aku menatapnya kemudian menatap sekeliling tapi rupanya tak ada yang menyadari apa yang sedang terjadi dengan kami berdua.


Aku melihat para artis masuk ke dalam rumah tanpa menoleh ke belakang dan bisa mendengar tawa mereka, begitu pula teman-teman yang lain sudah masuk ke dalam tenda, dan naik ke dalam rumah, kecuali Kak Yoan yang sempat menengok ke arahku kemudian mengangguk memberiku tanda agar aku berbicara berdua dengan sang Letnan.

__ADS_1


“Kita harus bicara.” Matanya menatapku sungguh-sungguh yang membuatku mengangguk.


Tanpa melapaskan genggaman tangannya, dia menuntunku kembali ke depan api unggun yang hampir padam. Aku duduk di tempat sang Letnan duduk tadi, sedangkan sang Letnan berjongkok memasukan potongan kayu untuk membuat api kembali besar.


“Hpku hilang ketika acara di Kedubes.” Dia mulai berbicara dengan masih berjongkok dengan satu kaki berlutut menghadap kobaran api.


“Aku kehilangan semua kontak teleponku, itu sebabnya aku tak menghubungimu lagi setelah malam itu. Aku sudah berusaha mengingat no telepon-mu tapi selalu gagal dan itu membuatku semakin putus asa.”


“Kan bisa minta lagi ke Bang Eddy.”


Sang Letnan memutar tubuhnya, ia kini berdiri menatapku kemudian duduk di sampingku.


“Gak ada yang kenal sama Bang Eddy di sana, yang aku tahu hanya no telp orangtuaku dan mereka juga gak kenal sama kamu atau Bang Eddy.”


Kami sama-sama terdiam beberapa saat yang terdengar hanya suara jangkrik dan hewan malam yang semakin nyaring, sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan yang membuatku penasaran selama ini.


“Jadi ketemu sama Leona pas acara di Kedubes itu?”


Sang Letnan mengangguk, “Kami hanya dikenalkan biasa saja untuk foto, setelah itu ya sudah gak ada apa-apa.”


“Gak ada apa-apa, cuma makan siang bareng, pulangnya lihat matahari terbenam terus foto-foto mesra berdua, terus akhirnya tukeran no hp, chating tiap malam sampai pagi, terus pas libur teleponan, terus karena pengen lihat mukanya akhirnya video call-an, terus akhirnya makin kesini-makin sayang, terus akhirnya jadian… gitukan?”


Aku berkata dengan marah membuat sang Letnan menatapku kemudian tersenyum.


“Itu kalau aku sama kamu.”


“Saat itu juga kami gak berdua, Za, kami banyakan dan ketemu mereka gak sengaja pas aku lagi mau beli hp terus diajakin ngobrol, aku juga gak sendiri tapi bareng teman-temanku yang lain. Di foto itu juga itu gak berdua tapi rame-rame.”


“Rame-rame kok bisa berdiri hadap-hadapan dengan latar matahari terbenam kaya lagi foto prewedding!”


“Itu bukan aku, Za! Aku berani bersumpah kalau itu bukan aku. Kamukan gak bisa lihat mukanya itu cuma siluet doang.”


“Terus kenapa dia manggilnya, Mas Letnan! Kan itu sama kaya aku manggil kamu.”


“Aku gak tahu, mungkin saja yang dia maksud orang lain… aku bahkan belum pernah ngobrol panjang sama dia.”


“Belum pernah ngobrol kok bisa ada gosip pacaran!”


Aku mulai emosi karena menurutku alasannya semakin tak masuk akal, “Udahlah jangan cari alasan lain, semua itu gak masuk akal.”


“Waktu pulang ke Indonesia, semua berita sudah tersebar, awalnya aku juga bingung kenapa bisa ada gosip itu.”


“Gak bakalan ada asap kalau gak ada api! Kalau memang gak ada apa-apa, gak bakalan ada berita kaya gitu.”


“Tapi bukan aku yang nyebarinnya.”

__ADS_1


“Aku tahu! Tapi kalau memang itu gak benar seharusnya kamu bilang tidak, bukan cuma diam aja! Itu sama aja artinya kamu membenarkan berita itu.”


Sang Letnan terdiam terlihat putus asa, tapi aku masih perlu mengeluarkan emosiku.


“Kamu tahu bagaimana keadaanku ketika mendengar berita itu? Aku benar-benar hancur, hatiku sakit dan kecewa saking kecewanya bahkan airmata pun gak keluar, aku seperti boneka perca tanpa jiwa, untung Arga ada di sana saat itu. Dia langsung membawaku pergi berkeliling Bandung dengan motor dalam keadaan hujan deras hanya karena dia tak ingin aku memendam semuanya, dia menyuruhku berteriak dan menangis. Awalnya aku masih menahannya tapi akhirnya pertahananku hancur, aku berteriak dan menangis di bawah hujan seperti orang gila, sampai rasanya seluruh tubuhku lemas karena mengeluarkan semua emosi yang ku pendam selama ini.”


“Karena itu kamu masuk UGD?” tanya sang Letnan dengan mata terbelalak menatapku.


“Kamu tahu aku masuk UGD?”


Dia mengangguk lemah.


“Sesampainya di tanah air aku mencari Bang Eddy untuk meminta no teleponmu. Dia bilang kamu masuk UGD dan harus di rawat di RS lebih dari seminggu dan dia bilang kalau kamu sudah memiliki kekasih karena itulah dia memintaku untuk melupakanmu, dia bilang kamu sudah bahagia sama kekasihmu itu.”


Sang Letnan membuang napas berat, aku melihat ada penyelasan tapi aku juga bisa melihat amarah dari sorot matanya yang kembali menatap api di hadapan kami. Beberapa saat kami kembali terdiam.


Malam itu benar-benar hening, semua orang sepertinya telah tertidur bersiap untuk pulang besok pagi, yang menemani kami hanyalah suara jangkrik yang bersautan dan juga derak kayu yang terbakar api.


“Percuma menyesalinya sekarang, semua sudah terlanjur. Seharusnya dari awal kamu gak usah menghubungiku dan memberiku harapan kalau memang tak menyukaiku.”


“Aku menyukaimu! Aku sangat menyukaimu! Aku menyukaimu dari pertama melihatmu turun dari truk tentara di Ciwidey dengan memakai celana jeans, kaos hitam dan jaket biru. Aku menyukaimu sejak saat itu, Za!”


Mataku menatapnya tak percaya.


“Kamu menyukaiku tapi kamu berpacaran dengan perempuan lain? Hebat,” ucapku tajam membuatnya menatapku beberapa saat sebelum akhirnya berkata.


“Dia bukan kekasihku.”


Aku menatapnya sambil mengangkat kedua alisku.


“Seluruh Indonesia juga tahu kalau kalian pacaran.”


“Aku serius, Za, dia bukan pacarku.”


“Terus apa? Istri kamu?”


“Bukan, Za!”


“Terus?” emosi kembali tersulut karena merasa kalau dia kini sedang mempermainkan aku.


“Dia… pacar Bang Eddy.”


Aku hampir tak bisa bernapas dengan mata membulat ketika mendengarnya.


“Dia… apa?”

__ADS_1


“Dia… selingkuhan Bang Eddy.”


*****


__ADS_2