
...Yudha, POV 2
...
Bandung, November 2016
Rumahku terlihat sibuk hari ini, ibu menyiapkan sajian untuk menyambut kedatangan keluarga Widy guna membicarakan tanggal pernikahan kami. Aku baru saja berganti pakaian ketika Bi Aas mengetuk pintu kamar dengan sebuah amplop di tangannya.
“Den Yudha, ini ada surat.”
Aku mengangkat alis menerima sebuah amplop coklat, seketika mataku terbelalak ketika membaca nama sang pengirim yang ditulis di bagian terbawah “Keyza Maharani”. Aku menutup pintu kamar dan dengan jantung berdetak kencang membuka amplop itu.
Sambil duduk di atas tempat tidur dan dengan dada yang bertalu aku mulai membaca surat yang ditulis dengan sangat rapih.
Assalamualaikum, Mas Letnan. (Ini mungkin terakhir kalinya aku memanggilmu dengan sebutan itu).
Aku tersenyum dengan perasaan perih di dada membaca nama yang biasa dia sematkan kepadaku saat sedang berdua.
Aku tak tahu harus memulainya darimana ketika memutuskan untuk menulis surat ini, tapi yang pasti semua kenangan di antara kita seolah berputar dengan jelas ketika aku mulai menulis.
Terimakasih karena telah membuatku pernah merasakan dicintai teramat sangat sampai membuat iri banyak orang, membuatku tersenyum dan tertawa dengan kata-katamu yang kadang membuatku malu sendiri mendengarnya, hehehe.
Aku ikut tersenyum mengingat segala rayuan gombal yang entah kenapa selalu mengalir begitu saja dari mulutku saat bersamanya.
Kita memang jarang sekali bersama mengingat hubungan jarak jauh yang harus kita jalani selama ini, kebersamaan kita juga hanya baru seumur jagung tapi, entah kenapa aku seperti telah bersamamu seumur hidupku.
__ADS_1
Kamu membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama bahkan pada saat itu tubuhmu dilumuri lumpur yang telah mengering, tapi hatiku seolah telah mengenalimu saat itu sebagai cinta sejati dalam hidupku.
Mencintai, merindukan, dan menunggumu sudah menjadi bagian dari hidupku bahkan ketika kita masih bukan siapa-siapa. Tapi aku menyukainya… aku menyukai rasa yang ditimbulkan ketika kamu menatapku, menyukai desiran darah yang menghangat, debaran jantung yang menggila pada saat kamu memelukku, menyukai perasaan rindu yang menggila hingga membuat dadaku terasa sesak saat kita saling berjauhan, menyukai perasaan yang seolah mendorongku berlari ke dalam pelukanmu ketika pada akhirnya kita bertemu, dan menyukai perasaan dilindungi dan dicintai tanpa batas olehmu…
Aku menyukai semuanya! Bahkan aku menyukai caramu menatapku, caramu memelukku dan caramu menciumku seolah-olah aku adalah perempuan satu-satunya di dunia ini. Hingga aku menyerahkan hatiku seutuhnya kepadamu, hati yang seharusnya kamu jaga dengan baik seperti aku menjaga hatimu.
Tak perlu ku katakan sesakit apa hatiku saat kamu melepaskan pelukanku dan memutuskanku karena ada perempuan lain, tak perlu ku jelaskan sehancur apa hatiku saat melihatmu bertunangan hanya beberapa bulan setelah perpisahan kita, dan tak perlu ku jelaskan seterluka apa hatiku saat mendengar kamu mencintai perempuan lain selain diriku.
Aku tahu, Za! Percayalah aku tahu, karena aku juga merasakan perasaan yang sama. Melukai hatimu sama saja dengan melukai hatiku sendiri.
Aku berharap kalau ini seperti kejadian dengan Leona, tapi ternyata tidak… kali ini berbeda, tak ada lagi sang Letnan yang meneriakkan namaku di hadapan orang banyak untuk menjaga hatiku, tak ada lagi sang Letnan yang selalu mencari-cari alasan hanya untuk duduk disampingku, tak ada lagi sang Letnan yang akan berteriak memanggilku ketika ada pria lain yang mendekatiku, tak ada lagi sang Letnan yang rela melintasi selat Sunda hanya karena aku mengatakan aku merindukannya, dan tak ada lagi sang Letnan yang memberitahu seisi dunia kalau hanya aku satu-satunya perempuan yang dia cintai dan hanya akulah pemilk hatinya.. Kemana sang Letnanku pergi?
Entahlah, kalau kamu bertemu dengannya katakan padanya, saat ini aku sedang terluka dan membutuhkannya, katakan kalau saat ini aku sangat merindukannya hingga menangis, katakan itu padanya…
Mengingat kembali kenangan kita membuatku menyadari sesuatu, kalau selama ini kamu tak pernah memberikan hatimu seutuhnya padaku. Dulu aku kalah dari Bang Eddy yang notabanenya adalah temanmu, dan dari Leona yang baru saja kamu kenal. Dan sekarang aku kalah dari perempuan yang baru kamu temui hanya karena dia menyelamatkanmu.
Aku tak pernah ada di tempat tertinggi di hatimu, aku bahkan kalah dari perempuan-perempuan yang baru kamu kenal. Dulu kamu lebih memikirkan untuk menyelamatkan nama baik Leona daripada memikirkan perasaanku terlebih dahulu, dan sekarang kau lebih memikirkan bagaimana keadaannya daripada mengetahui keadaanku yang dengan bodohnya selalu menunggu, menuggu dan menunggumu dengan segala rasa cinta dan rindu.
Tapi kini aku tahu sebesar apa rasa cintamu kepada perempuan yang kini telah menjadi tunanganmu itu, kamu pasti sangat mencintainya hingga melakukan sebuah dosa besar.
Aku mengerutkan kening membaca itu, dosa besar? Dosa besar apa? Dengan jantung berdetak kencang aku meneruskan membaca surat itu. Sedangkan di luar terdengar bel rumah berbunyi yang tandanya keluarga Widy telah sampai.
Jadi karena itukah kalian bertunangan secepat ini? Karena itukah hari pernikahan kalian dipercepat? Tentu saja aku seharusnya tahu bagaimanapun kamu adalah seseorang yang bertanggung jawab, dan kamu pasti akan bertanggung jawab atas tindakanmu itu, tapi tetap saja ini seperti bukan sang Letnan yang ku kenal, atau mungkin inilah kamu yang sebenarnya?
Ketika kalian mengumumkan tanggal pernikahan kalian akan dipercepat, aku sudah mengetahuinya kalau itu akan terjadi. Tapi tetap saja aku terkejut dan terluka ketika mendengarnya, sekaligus tenang karena tahu kalian tidak akan melakukan dosa besar untuk kedua kalinya.
__ADS_1
Jantungku semakin menggila membuatku semakin serius membaca tak memedulian ketukan di pintu kamar yang memberitahu kalau keluarga Widy telah datang dan memintaku untuk keluar.
Ketika pertama kali ku melihat foto USG itu, hatiku berdesir melihat gumpalan hitam itu. antara terharu dan sedih. Terharu karena ku tahu itu adalah darah daging dari pria yang kucintai, sedih karena bukan buah cintanya denganku.
Aku teringat kamu pernah mengatakan pada Mamah mau memberikannya cucu dari kita, dan itu membuatku sering kali membuatku bermimpi menjadi ibu dari putra-putri kita, tapi itu hanya sekedar mimpi dan sekaranglah saatnya aku terbangun dari mimpi panjangku dan kembali pada kenyataan…
Selamat karena akhirnya kamu akan menjadi seorang ayah dan memberikan cucu kepada Papah dan Mamah, mereka pasti akan sangat bahagia mendengar berita ini.
Percayalah kamu akan menjadi seorang ayah yang luar biasa, beri dukungan kepada Widy yakinkan kalau kamu akan selalu ada di sampingnya, pastikan dia tak pernah berpikiran untuk kembali mengugurkan kandungannya. Karena bagaimanapun bayi itu adalah buah cinta kalian berdua.
Saat ini aku mungkin belum bisa berdoa untuk kabahagian kalian, karena hatiku-pun sedang tidak dalam kondisi baik untuk mendoakan kebahagian orang lain. Tapi aku akan berusaha untuk melepaskanmu dan mengikhlaskanmu seutuhnya.
Karena itulah sekarang aku akan mengembalikan hatimu yang telah ku jaga dengan sangat baik hingga detik ini, walaupun ku tahu aku bukan satu-satunya pemilik hatimu.
Tentang hatiku… biarkan itu menjadi urusanku…
Saat kamu membaca surat ini mungkin aku sudah tidak berada di Indonesia lagi, aku akan pergi bersama kenangan kita untuk kembali menata hatiku.
Selamat tinggal, Mas Letnan, terima kasih sudah pernah menjadikanku sebagai pemilik hatimu.
Tubuhku gemetar membaca itu, entah berita mana yang membuatku terkejut. Widy hamil atau dia yang kini telah pergi meninggalkan Indonesia. Tanpa sengaja aku meremas amplop yang tergeletak di atas tempat tidur, saat itulah aku merasakan sesuatu di dalamnya.
Dengan tangan gemetar aku kembali merogoh ke dalam amplop dan menemukan kertas lain dalam ukuran lebih kecil. Aku menebak itu foto USG dengan nama Widy dan umur kandungan di atasnya, melihat itu membuat darahku seketika mendidih, amarah menyeruak kepermukaan, aku mengepalkan tanganku kuat-kuat sebelum akhirnya aku keluar dari kamar.
*****
__ADS_1