
Aku menatap Mas Letnan yang duduk di hadapanku yang juga menatapku sambil tersenyum, saat ini kami sedang ada di lereng anteng, tempat yang pernah ku datangi bersama dengan Arga dulu. Setelah makan siang di rumah, Mas Letnan meminta ijin kepada Ayah dan Ibu untuk mengajakku ke rumahnya di Sukajadi.
Awalnya orangtua Mas Letnan terlihat terkejut melihat kedatangan kami, tapi mereka tetap menyambutku dengan hangat dan untuk pertama kalinya aku bertemu Papah Mas Letnan yang sangat ramah dan baik, awalnya aku takut untuk bertemu dengannya tapi ternyata Papahnya Mas Letnan itu lucu membuatku merasa nyaman.
Sorenya Mas Letnan mengajakku pergi, “Mau pacaran dulu,” katanya ketika pamit kepada orangtuanya, membuat Mamah iri.
“Di sini aja pacarannya, Mamah masih mau ngobrol sama Kekey.”
“Kalau ada Mamah bukan pacaran namanya.”
“Iiih... curang kamu mah, lihatin saja nanti kamu pulang ke Palembang, Mamah mau kencan sama Kekey berdua, iyakan sayang?”
“Siap, Mah,” jawabku sambil tersenyum membuat Mamah tersenyum lebar.
“Ya udah, berarti sekarang Mamah gak boleh gangguin Yudha pacaran dulu ya, Mamah pacaran sama Papah aja dulu tapi jangan sampai Yudha punya adik, nanti aja kalau mau bayi mah cucu dari Yudha sama Za ya, Mah.”
“Iiiih… apaan sih.” Aku mencubit pinggangnya dengan wajah memerah, sedangkan orangtua Mas Letnan hanya tertawa mendengar itu, membuat mukaku semakin memerah.
Kami-pun pergi menuju Punclut setelah sebelumnya Mas Letnan menanyakan kemana aku dan Arga pergi saat dia masih di Myanmar dulu.
“Katanya kangen.”
Aku tertawa mendengarnya.
“Kan sudah ketemu.”
“Katanya pengen meluk.”
“Kan tadi pagi pengen meluknya bukan sekarang.”
“Jadi sekarang sudah gak pengen meluk?”
Aku kembali tertawa dan ku yakin wajahku kini sudah benar-benar merah, aku menatap Mas Letnan dengan senyum lebar masih menghiasi wajahku kemudian menggelengkan kepala.
“Gak mau meluk?”
“Engga… pengennya di peluk.”
“Hahahaha… sekarang?”
“Iya.”
“Sini.”
“Hahaha… nanti aja.” Aku tertawa sambil menggelengkan kepala dan menghindar ketika ku lihat Mas Yudha merentangkan tangannya melewati meja seolah benar-benar akan memelukku.
“Awas aja kalau nanti bilangnya, kan tadi mau dipeluknya juga bukan sekarang.”
“Hahahaha.”
“Ampun deh mau meluk aja susah banget.”
Aku hanya tersenyum mendengarnya mengeluh seperti itu, bersamaan dengan pelayan yang datang mengantarkan makanan pesanan kami. Dengan pemandangan lembayung senja dan ditemani pria yang ku cintai, makan kali ini sangat berkesan untukku.
Kami bahkan tak memedulikan beberapa orang yang pengunjung yang sepertinya telah mengenali kami. Kami hanya ingin menikmati kebersamaan berdua saat ini sebelum besok Mas Letnan harus kembali ke Palembang.
“Aku gak tahu Mas Yudha pulang hari ini.”
“Hehe kaget ya?”
“Banget.”
“Tadinya minggu depan baru pulang, tapi pagi-pagi ada yang telp sambil nangis-nangis karena kangen sampai mau meluk segala, ya udah daripada nanti nyari cowok lain buat dipeluk mendingan pulang deh.”
“Hehehe…”
“Tapi aku gak bisa pulang tiap minggu ya, Za, kalau pulang tiap minggu bisa-bisa tekor bandar.”
“Hahaha, iya maaf tadi gak tahu kenapa tiba-tiba cengeng gitu biasanya juga engga.”
“Jangan minta maaf karena rindu, tapi bersyukurlah karena itu tandanya kamu masih memiliki cinta di hatimu.”
Aku tersenyum mendengarnya, kemudian kembali menikmati makanan kami.
__ADS_1
“Tapi, Mas… Mas Yudha dapat foto itu dari mana?”
“Yang mana?”
“Semuanya… yang di Ciwidey kitakan gak foto-foto berdua, terus di Kubu kok bisa dapat?”
“Yang di Ciwidey, Adit tanpa sengaja merekam di Hpnya, kalau yang di Kubu masih ingat gak wartawan yang kamu bilang teman Yoan?”
Aku mengangguk.
“Dia ternyata wartawan dari stasiun TV yang nanti bakal nayangin acara di Kubu, aku sempet nego sama dia minta video saat di Kubu dan akhirnya aku berbicara dengan cameraman yang merekam aktivitas di Kubu, kamu ingatkan ada beberapa kamera yang sengaja dipasang di beberapa tempat di Kubu yang merekam kita 24 jam. Dan setelah aku bilang ini akan menaikan rating acara mereka, akhirnya mereka mengijinkan.”
Aku mengangguk-angguk mengerti, “Pasti susah ya harus cari gambar yang pas diantara banyak sekali video-video itu.”
“Hehehe, lumayan bikin begadang beberapa hari, karena itulah aku memerlukan waktu sebelum menguploadnya.”
Aku kembali tersenyum sebagai pujian kalau dia telah melakukan kerja yang bagus.
“Oh iya, bagaimana Mas Yudha tahu kalau itu foto di Anyer?”
“Gampang, tinggal tanya aja sama orangnya langsung.”
“Hah! Mas Yudha nanya… Leona?” Aku berbisik ketika mengucapkan nama Leona takut ada orang yang mendengarnya.
“Ckk... bukan yang cewek, tapi sama yang cowoknya.”
“Oooh… hehehe, aku pikir Mas Yudha ngehubungin dia lagi.”
“Ngapain? Yang ada malah aku emosi nantinya.”
“Tenang saja, kalau dia macam-macam lagi biar aku yang hadapi nanti."
“Hahaha… disiram kaya Wina?”
“Iya, kalau perlu aku pakai slang damkar buat nyiram dia.”
“Hahahaha.”
Setelah menghabiskan makanan dan Mas Letnan shalat magrib, kami menuju bukit bintang di daerah Dago, siang hari bukit bintang hanyalah lapangan biasa tapi pada malam hari berubah menjadi tempat yang romantis dimana kita seolah melihat bintang lebih dekat karena memang lokasinya yang berada di dataran tinggi, berpadu padan dengan gemerlapnya lampu kota Bandung yang terasa seperti gugusan bintang dari atas sini.
“Belum,” jawabku sambil berdiri dan berdiri di sampingnya sambil menatap ke dapan, menikmati pemandangan Bandung malam hari di atas ketinggian.
“Sama Arga?”
“Belum pernah, Mas Letnan.” Aku menjawab sambil tersenyum yang membuatnya ikut tersenyum sambil mengangguk.
“Aah… akhirnya kita berada di tempat dimana kamu dan Arga belum pernah datang sebelumnya.”
“Mas Yudha cemburu sama Arga?” tanyaku menggoda sambil menatapnya, kami kini berdiri berhadap-hadapan.
“Bohong kalau ku katakan tidak, bukankah sudah ku katakan kalau aku ini pencemburu.”
“Tapi Arga sahabatku…”
“Dari SMP, aku tahu itu, sayang… tapi tetap aja aku cemburu, aku tidak melarangmu untuk berteman dengannya, sama sekali tidak… aku hanya cemburu, bolehkan aku cemburu pada Arga?”
Aku mengerti perasan itu dan sangat paham maksudnya.
“Tentu saja boleh, itu tandanya kalau Mas Yudha masih memiliki cinta dihatimu.”
Mas Letnan tertawa mendengarku mengikuti perkataannya tadi.
“Tapi seharusnya Mas Yudha gak perlu cemburu sama Arga.”
“Kenapa?”
“Bagaimana mungkin aku akan memberikan hatiku untuk lelaki lain, sedangkan hatiku sudah menjadi milikmu,” ucapku sambil tersenyum berusaha meyakinkannya kalau aku hanya miliknya dan dia tak perlu mengkhawatirkan aku akan pindah kelain hati.
Mendengar itu Mas Letnan menatapku sambil tersenyum sebelum akhirnya dia memelukku!
Ok! Untuk beberapa saat aku terkejut mendapat pelukan darinya, walaupun jujur saja aku sudah sangat memimpikannya sejak lama, tapi tetap saja pelukan itu membuat jantungku menggila dengan darah seolah terpompa dengan cepat.
“Jadi… sekarang kita sudah sah?”
__ADS_1
Aku tertawa dalam pelukannya sambil mengangguk, “Sah,” ucapku dengan suara teredam dadanya, membuatnya tertawa.
“Apa Arga pernah memelukmu?”
“Hahahaha… belum.”
“Akhirnya aku bisa mengalahkannya.”
“Hahaha... tapi aku sering memeluknya.”
“Apa? Bohongkan?” dia tak percaya sampai menarik tubuhku sedikit menjauh supaya dia bisa melihat wajahku sedang berbohong atau tidak.
“Kalau lagi naik motorkan aku meluk dia.”
“Selalu meluk?”
“Engga.”
Kali ini aku yang memeluknya lebih dulu, aku memeluknya cukup erat seolah menyalurkan semua kerinduanku selama ini.
“Aku memeluknya pada saat Mas Yudha menghilang di Myanmar tanpa kabar, waktu itu Arga berusaha menghiburku dengan membawaku makan di Punclut, dan aku terlalu merindukanmu dan mengkhawatirkanmu menjadikan tubuhku seolah sangat lelah bahkan hanya untuk duduk tegak, terus yang kedua… pada saat aku mendengar berita kalau Mas Yudha dan Leona pacaran, aku terlalu terluka dan memerlukan seseorang untuk bersandar, Arga ada di sana saat itu. Dia membawaku keliling Bandung di bawah hujan deras, menyuruhku berteriak dan memakimu hanya untuk melepaskan semua beban dihatiku.”
“Kamu memakiku saat itu?”
Aku merasakan tangan sang Letnan semakin memelukku dengan erat.
“Tidak, aku hanya berteriak dan menangis sekuat tenaga sampai tubuhku benar-benar lemas.”
“Seharusnya kamu memaki, aku pantas dimaki.”
“Itu sudah berlalu… yang penting sekarang Mas Yudha ada di sini… memelukku.”
Aku merasakan sang Letnan mencium kepalaku membuatku terkejut tapi kemudian tersenyum.
“Jadi, kamu memeluk Arga semua karena aku?”
“Iya, semua karena Mas Yudha.”
“Kalau gitu, untung saja aku pulang hari ini kalau tidak kamu pasti sedang meluk Arga sekarang.”
“Hahahaha… ya enggalah, paling meluk guling… Mas Yudha gak cemburu sama gulingkan?”
“Hahaha… yang penting gulingnya jangan sampai bisa naik motor buat nganter kamu keman-mana .”
“Hahaha.”
Beberapa saat kami terdiam masih dalam posisi berpelukan dengan mata kami menatap gemerlap lampu kota, saat itu memang di atas terasa terasa sepi, entah kenapa mungkin sebagian banyak orang lebih menikmati hingar bingar kota, berbeda dengan kami yang lebih menyukai keheningan untuk menikmati alam.
“Za?”
“Hmm.”
“I love you.”
“Hahaha.”
“Malah ketawa, jawab dong.”
“Hehehe.”
“Eh malah nyengir… kan dah sah, jadi jawab dong.”
“Hahaha…” aku terlalu malu untuk menjawabnya membuatku hanya tertawa mendengar itu.
“Za… I Love you.” Kali ini dia mengatakan itu sambil menatap mataku membuat jantungku semakin menggila ketika menatap matanya yang lembut dan penuh dengan cinta, membuatku tersenyum sambil menjawabnya.
“I love you too.”
Jawabanku itu membuatnya tersenyum cerah sebelum akhirnya dia menciumku…
Malam itu di atas ketinggian lebih dari 1400m di atas laut, beratapkan bintang dan berlatar kemilau lampu kota, untuk pertama kalinya kami mengungkapkan kata cinta sekaligus menjadi malam ciuman pertama kami. Dan itu membuatku tak bisa tidur semalaman.
*****
__ADS_1
Haiii... udah pada siapin hati beluuum???😁