
“Jadi kalian semua sudah saling mengenal?” Suaranya terkesan manja dengan senyum menghias wajah cantiknya. Leona, perempuan itu menatap kami penuh selidik.
“Iya, kami bertemu ketika menjadi relawan di Ciwidey.” Bang Kamal menjawab pertanyaan itu, sedangkan aku perlahan mulai mundur sambil menurunkan topi hingga menutupi separuh wajah. Aku terus berada di barisan paling belakang bahkan ketika kami dengan resmi memasuki wilayah suku anak dalam dan diterima oleh tetua dan warganya.
Leona, Marsha, Ben, dan Dony yang notabanenya adalah artis berdiri paling depan di dampingi perwakilan dari Dinsos Sumsel dan Dinsos Musi Rawas, dan aku sengaja berdiri paling belakang supaya bisa menghindari sang Letnan yang berdiri di jajaran depan.
Aku tak tahu apa yang terjadi di depan tapi sekilas aku bisa mendengar yang intinya ketua adat dan warganya menyambut kami semua ke dalam wilayah suku anak dalam. Aku ingin sekali acara penyambutan ini selesai secepatnya jadi aku bisa pergi dari sana. Dan akhirnya setelah kurang lebih 10 menit (yang terasa sangat lama menurutku) acara itu-pun selesai.
Dengan cepat aku membawa tasku dan berjalan mendekati Fadhil untuk menanyakan tempat kami menginap.
“Dhil, kita nginep dimana?” Aku bertanya setiba didekatnya dan ternyata di belakangku ada Yuni, Teh Vita, Kak Yoan, Veny dan beberapa temanku yang lain yang sepertinya mengikuti melarikan diri untuk sekedar meluruskan kaki kami.
“Cewek nginep di bangunan yang baru selesai dibangun, kalau cowok gampanglah ya kita bisa tidur di tenda.”
“Siap!”
Kami mengikuti Fadhil menuju rumah panggung dari kayu beratapkan seng seperti rumah-rumah warga Kubu (sebutan untuk warga suku anak dalam) lainnya yang ada di sana, tapi bangunan ini memiliki ukuran yang lebih besar karena baru selesai dibangun yang nantinya akan berfungsi sebagai balai adat tempat warga kumpul untuk membicarakan masalah adat dan yang lainnya.
Bangunan itu hanya los tanpa sekat, tanpa dapur atau kamar mandi. Warga sini menggunakan MCK umum yang berada di luar rumah, tapi untuk keperluan mandi atau mencuci biasanya mereka melakukannya di sungai.
Kami menaruh tas di atas lantai kayu yang masih tercium bau kayu segar. Tak ada apa-pun di sana jangankan kasur untuk tidur, tikar-pun tak ada, tapi kami tak masalah dengan itu.
“Itu tadi yang namanya Mas Yudha? Pantesan Leona mau, orangnya ganteng gitu.” Veny berkata sambil duduk berselonjor di atas lantai kayu tanpa alas diikuti kami semua.
Waktu bencana di Ciwidey Veny sudah kembali ke Palembang karena itulah dia tak bertemu dengan sang Letnan.
“Ganteng ya, Ven? Makanya dulu Kekey pernah suka sama dia,” kata Kak Yoan yang langsung membuat semua orang menggodaku.
“Cieee… awas CLBK.”
“Hahaha… enggalah.” Aku berusaha terlihat normal dengan mengikuti godaan mereka.
“Tapi tadi pandangannya masih lope-lope gitu.”
Aku hanya tertawa miris mendengarnya karena percuma membantah juga yang ada nanti bahasannya akan semakin panjang.
Aku mengambil tissue basah untuk melap mukaku yang terasa tebal oleh debu, yang lain ikut melakukannya juga.
__ADS_1
“Tapi Ben aslinya cakep banget ya.” Aku berkata sambil melap leherku berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Iyaaa… gila cakep banget.”
“Kalah mulus deh kulit kita sama dia.”
“Aslinya ternyata putih ya.”
“Tapi pendek.”
“Iyaa..coba tinggian dikit pasti oke banget.”
Usahaku berhasil, sekarang kami dengan semangat membahas Ben dan Dony sambil melap tangan dan bagian tubuh yang bisa dijangkau dengan tissue basah, anggap saja mandi yang penting badan segeran hehehe.
Setelah merasa segar kami keluar dari rumah, membantu membereskan barang yang tadi kami bawa untuk keperluan selama kami tinggal di sana. Ruanganan tempat kami tidur akhirnya dibagi menjadi dua bagian, kamar tidur sekaligus merangkap gudang penyimpanan peralatan dan juga gudang makanan mengingat akan sangat susah mencari makanan jadi kami sengaja membawa bekal makanan cukup banyak untuk 5 hari kami tinggl di sana.
Para pria sedang melihat lokasi pembangunan MCK yang lebih layak dan satu bangunan lagi yang sedang dibangun untuk keperluan warga Kubu. Di luar perkiraan kami, suku Kubu tidak-lah setertinggal dulu lagi, sudah jauh lebih maju dibandingkan tahun sebelumnya. Mereka bahkan sudah memiliki TV (hasil sumbangan dari Dinsos Sumsel) jadi walaupun harus menggunakan antena yang sangat tinggi menjulang ke atas dan gambarnya masih buram tapi mereka kini telah mengenali Leona, Marsya, Dony dan Ben sebagai orang yang mereka lihat di layar TV.
Oh iya, berbicara tentang tim artis, tidak seperti kami yang harus tidur di lantai kayu dan berbagi ruangan dengan gudang, mereka tinggal di rumah warga dengan segala fasilitasnya termasuk kasur, bantal dan selimut (walaupun kasurnya kasur lantai tapi jauh lebih baik daripada lantai kayukan?) sedangkan para wartawan hanya meliput keadaan di sana selama beberapa jam sebelum kembali ke kota, kecuali beberapa cameraman yang bertugas meliput kegiatan sehari-hari artis diantara warga Kubu.
“Dimana? Kan kamar mandinya lagi dibangun.”
“Katanya di sungai.”
“Jauh, gak? Udah mulai gelap nih.” Aku melihat jam tanganku yang menunjukan pukul 4.30 sore.
“Gak tahu, tapi mending pas gelap gini jadi gak ada yang ngintip.”
“Ajakin yang lain aja yuk, kalau berdua takut.”
Yuni mengangguk dan akhirnya kami pergi dengan Teh Vita, Kak Yoan, Veny dan dua anak Kubu yang menjadi petunjuk jalan menuju sungai. Kami harus berjalan selama 10 menit di jalan setapak yang menurun untuk sampai di sungai dengan air yang sangat jernih dan banyak batu-batu besar. Seketika rasa lelah kami menguap begitu melihat pemandangan yang tersuguh di hadapan kami.
Jiwa kanak-kanak kami langsung keluar ketika melihat aliran air sungai yang jernih, tanpa menunggu kami langsung merasakan kesegaran mata air pegungangan yang langsung menyegarkan tubuh kami.
“Ada yang ngintip, gak?” Teh Vita menatap sekeliling takut ada orang yang lihat.
“Bismillah saja, mudah-mudahan gak ada yang ngintip.” Yuni berkata tapi tetap saja kami ragu untuk mandi di alam terbuka seperti ini.
__ADS_1
“Kakak endak mandi?” tanya Aning salah satu anak Kubu yang mengantar kami dengan logat yang terdengar lucu di telingaku.
“Iyo, Aning tau dak tempat yang aman untuk mandi?” Veny bertanya dengan logat yang hampir sama membuat kedua anak berumur 9 tahun itu mengangguk sambil tersenyum penuh semangat.
Kami kembali berjalan mengikuti Aning dan Dewi sampai akhirnya menemukan sebuah pancuran dari bambu yang di kelilingi oleh papan setinggi dada, melihat itu kami tersenyum puas dan akhirnya dengan bergilir kami mandi saling menjaga sekeliling agar tetap aman.
Karena aku yang paling kecil aku-pun mandi paling akhir dan ketika aku selesai mandi, jam sudah menunjukan pukul 6 sore dengan air yang super duper dingiiiin! Aku mandi secepat yang aku bisa, tubuhku memang terasa segar tapi dinginnya sampai menusuk tulang, belum lagi kami lupa membawa jaket. Sesampainya di pemukiman Kubu kami masih menggigil kedingingan bukan hanya karena airnya yang sedingin air es tapi juga didukung udara pegunungan yang menusuk.
“Kalian mandi?” tanya Bang Kamal yang melihat kami datang sambil mengigil.
“Iya,” jawab Kak Yoan dengan gigi gemerutuk membuat kami tertawa.
“Nu galelo, tiris kieu mandi (pada gila, dingin gini mandi.)” Agus berkata sambil menertawakan kami yang gemerutuk kedinginan.
“Biarin dari pada kaya Agus… bau.”
“Hahahaha.”
Aku berjalan dengan cepat ke rumah di susul yang lainnya sambil tertawa, aku baru akan sampai tangga rumah ketika seseorang beridiri didepanku.
“Permisi, Mas Yudha.” Teh Vita dan yang lainnya mendahuluiku naik ke atas rumah panggung meninggalkanku yang masih mematung menatap sang Letnan.
“Permisi.” Aku berjalan melewatinya ketika dia memanggil namaku.
“Za.”
Aku berhenti tanpa membalikan tubuh.
“Kita harus bicara.”
Aku terdiam sambil mengatur napasku yang memburu.
“Tidak ada yang harus kita bicarakan,” jawabku sambil menaiki tangga tanpa menoleh sedikitpun.
Dadaku masih berdebar kencang ketika memasuki rumah dan berpura-pura seolah tak ada yang terjadi.
*****
__ADS_1