
Aku berjalan dengan cepat dan penuh emosi menuju ruang keluarga dimana keluargaku sedang menemani keluarga Widy dengan senyum di wajah mereka, membuatku muak melihatnya! Karena mereka, perempuan yang paling ku cintai dan paling berharga untukku kini telah pergi meninggalkan negri ini dengan hati hancur, tanpa mengetahui alasan yang sebenarnya.
Mereka semua tersenyum menatap ke arahku yang semakin mendekat, ponselku berdering yang awalnya ingin ku hiraukan sampai akhirnya sekilas ku lihat nama sang penelpon membuatku menghentikan langkah dengan mata terbelalak.
Dengan dada berebar aku mengangkat panggilan itu, “Hallo, Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
“Ayah?” aku tak percaya ketika melihat siapa yang menghubungiku membuatku mengurungkan apapun yang tadi akan ku lakukan.
“Ayah, ganggu tidak?”
“Tidak, Yah… Ayah apa kabar?”
“Kami semua baik-baik saja… Yudha, apa kamu tahu kalau hari ini Kekey akan pergi?”
Aku berhenti bernapas beberapa saat ketika mendengar ucapan Ayah... dia belum pergi! Dia masih ada di sini!
“Dia belum pergi? Dia masih ada di sini?” Aku bertanya dengan sedikit kencang membuat semua orang di ruang tamu yang memang hanya dipisahkan oleh lemari kaca dengan ruang keluarga menatap ke arahku, tapi aku tak peduli! Aku membalikan badan dengan setengah berlari aku kembali naik ke kamar untuk mengambil jaket.
“Kepergiannya dipercepat beberapa bulan dan sekarang kami sedang di bandara mengantarnya.”
“Saya akan ke sana sekarang! Tolong tahan dia jangan biarkan dia masuk sebelum saya datang.”
“Baiklah, Ayah akan berusaha menahannya selama yang Ayah bisa, tapi kamu hanya memiliki waktu 1 jam lebih sebelum keberangkatannya.”
“Saya akan sampai di bandara secepat yang saya bisa… Yah, terimakasih banyak.”
Aku menutup ponselku dan bersiap pergi ketika Mamah menghampiriku.
“Mau kemana kamu? Mereka sedang menunggu,” Mamah berbisik setelah melihatku bersiap pergi dengan memakai jaket kulit dan menenteng helm.
“Hanya sebentar, Mah, aku akan segera kembali.”
“Yudha! Yudha!” Mamah memanggilku tapi aku tak menghiraukannya, aku langsung berlari ke arah garasi dimana motor ninjaku terparkir dan langsung melesat pergi.
Seperti kesetan aku menjalankan motorku diantara kepadatan kendaran pada sabtu siang di jalanan Sukajadi menuju Husein dimana berdiri beberapa mall besar yang menjadi salah satu pusat tujuan para wisatawan dan warga Bandung, belum lagi deretan toko-toko dan pasar Sukajadi membuatku harus berkelok-kelok menghindari mobil.
Aku tak peduli ketika mendengar bunyi klakson yang memekan telinga ketika aku menyalip kendaran-kendaraan itu, dan aku kembali memaki ketika lampu lalu lintas berubah merah, aku melihat jam tanganku yang seolah berputar dengan sangat cepat, membuatku frustasi ketika lampu tak juga berubah warna. Aku langsung kembali melesat seketika lampu hijau menyala, untung saja Jl. Padjadjaran sekitaran IP yang biasa macet kini lumayan lancar, membuatku meng-gas tanpa ampun.
Aku langsung memarkirkan motor, membuka helm kemudian berlari memasuki bandara Husein Sastranagara yang tak sebesar bandara Soekarno-Hatta tapi, tetap saja mencari orang di waktu akhir pekan seperti sekarang ini cukup sulit, membuatku sedikit putus asa.
Sampai akhirnya aku melihat kerumunan orang yang ku kenal duduk di bangku tunggu, membuatku membuang napas lega kalau aku belum terlambat. Dengan cepat aku mendekati mereka dengan.
“Yudha!” Ibu yang pertama melihatku membuat semua orang kini menatapku dengan tak percaya.
“Bu, Yah… syukurlah saya belum terlambat,” ucapku masih dengan napas terengah.
Ayah berdiri lalu mengangguk, “Kamu hampir saja terlambat, Letnan,” ucapnya sambil menepuk bahuku dan itu bisa ku artikan sebagai pertanyaan ‘Darimana saja kamu selama ini?’.
“Tapi untung saja kamu belum terlambat, Nak.” Kini Ibu yang berdiri lalu memelukku seperti biasanya, membuatku kini merasakan apa yang dia rasakan ketika bertemu dengan kedua orangtuaku kemarin.
“Apa kabar, Bu?” aku bertanya dengan suara tercekat sambil tersenyum menatap wanita yang ku anggap ibuku sendiri selain Mamah.
“Alhamdulillah, baik, Sayang… kenapa kamu terlihat sangat kurus? Kamu pasti banyak melewatkan waktu makanmu iyakan?”
Aku tersenyum mendengar pertanyaan yang sama yang Mamah ajukan saat kembali bertemu denganya untuk sekian lama.
“Tidak ada makanan seenak masakan Ibu di sana.”
Ibu tertawa mendengarku kemudian berkata, “Ibu akan masakan yang enak untuk kamu bawa ke Jakarta nanti, biar gak kurus kaya gini.”
__ADS_1
Aku mengangguk sambil tertawa.
“Mas.” Dirga menyapaku dengan pelukkan seperti adik kecil yang bertemu kakaknya membuatku semakin terharu mendapat sambutan layaknya anak hilang yang kembali pulang ke rumah.
Dari balik bahu Dirga kulihat Juang memberi hormat sambil tersenyum, di belakangnya Arga menatapku tajam. Sepertinya dari semuanya hanya Arga yang mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.
“Jaket kulitnya keren nih!”
Aku tertawa mendengar ucapan Dirga setelah melepaskan pelukan kami, “Kamu boleh memakainya nanti, tapi sekarang aku harus bicara dengan Kakakmu dulu.”
Aku berbalik untuk menatapnya yang juga tengah menatapku, “Kita harus bicara… sebentar saja.”
Dia terdiam beberapa saat kemudian menatap seluruh keluarganya seolah meminta ijin sebelum akhirnya mengangguk sambil berdiri, kami berjalan agak menjauh lebih tepatnya kini kami berdiri berhadap-hadap di dekat dinding kaca yang memperlihatkan landasan pesawat.
“Tahu dari siapa?” tanyanya setelah kami merasa kami cukup jauh dari yang lainnya.
“Ayah.”
Bisa kulihat dia mengambil napas dalam-dalam sedikit kesal.
“Aku harus menjelaskan sesuatu padamu, Za.”
“Tidak ada yang harus kamu jelaskan lagi… aku sudah mengetahui semuanya dan aku akan berusaha memahaminya… sudah menerima suratnya?”
Aku mengangguk.
“Sudah membacanya?”
Aku kembali mengangguk, “Kamu tidak mengetahui semuanya, Za… anak dalam kandungannya bukan darah dagingku.”
Aku bisa melihatnya terkejut ketika mendengar apa yang baru saja ku ucapkan.
Dia terdiam seolah belum sembuh dari keterkejuatannya.
“Jadi maksudmu dia mengkhianatimu.”
“Iya.”
“Jadi? Apa kamu ingin kembali padaku karena kamu telah dikhianati oleh tunanganmu sendiri? maafkan aku tapi kamu hanya akan membuang-buang waktu saja kalau berpikiran seperti itu.”
Dia kembali terlihat marah dan emosi.
“Tidak, bukan itu maksudku, aku terlalu egois kalau memintamu untuk kembali padaku setelah apa yang aku lakukan padamu, tapi aku hanya ingin kamu mengetahui yang sebenarnya.”
“Karena kamu mencintainya… kau telah mengatakannya kepadaku ketika di Yogya.”
“Dan kamu percaya kalau aku bisa mencintai perempuan lain selain dirimu?” aku berbicara dengan tegas menarik perhatiannya dan aku berhasil dia kini terdiam walaupun masih menatapku dengan pandangan emosi seperti tadi.
“Dia seharusnya tidak hamil, tidak bisa hamil… karena dia sudah tidak memiliki rahim lagi.”
Aku melihat matanya terbelalak terkejut mendengar ceritaku.
“Kecelakaan yang menimpanya saat itu membuatnya harus melakukan operasi pengangkatan rahim, dan itu membuat keluarganya terpukul, kekasihnya pergi meninggalkannya setelah mengetahui hal itu, beberapa kali dia berusaha bunuh diri karena seolah hidup sebagai perempuan yang tak lagi sempurna.”
Dia masih terdiam mendengar ceritaku dengan sorot mata tak percaya dengan apa yang ku katakan.
“Setiap hari aku menemaninya berusaha menumbuhkan kembali rasa percaya dirinya, setidaknya itulah yang bisa ku lakukan untuk membalasnya kerena telah menyelamatkan hidupku. Dan itu berhasil kondisinya semakin hari semakin membaik, dia tak pernah lagi berusaha bunuh diri dan bisa kembali tersenyum. Tapi ternyata tindakanku itu membuatnya semakin ketergantungan terhadapku… sampai suatu hari aku tak datang ke RS, dan dia kembali dilanda kecemasan dan ketakutan hingga kembali berusaha bunuh diri karena beranggapan tak akan lagi ada pria yang akan mau menikahinya.”
Aku bisa melihat sepertinya dia mulai memahami apa yang terjadi selanjutnya.
“Apa kamu pikir aku meninggalkanmu karena aku mencintainya? Tidak, Za, aku bersedia bertunangan dengannya karena rasa tanggung jawab dan rasa bersalahku karena telah membuatnya seperti itu... tapi setelah melihatmu dihari pertunangan kami, aku menyadari kalau aku seharusnya mati saja hari itu.”
__ADS_1
Kami terdiam beberapa saat, sampai akhirnya dia bertanya.
“Jadi bagaiman bisa dia hamil?”
Aku menggelengkan kepala karena tak mengetahui bagaimana itu bisa terjadi, “Ketika membaca suratmu aku sama bingungnya denganmu sekarang, bagaimana mungkin dia bisa hamil? Tapi yang jelas dia bukan darah dagingku, Za, aku bisa pastikan itu!”
Dia menatapku dan ku harap dia bisa melihat kesungguhan dari ucapanku.
“Kamu sangat mengenalku dan kamu tahu aku tak akan melakukan hal itu, dan bagaiman bisa aku melakukan hal itu dengan perempuan lain selain dirimu karena kamulah pemilik hatiku dari dulu sampai sekarang. Seharusnya kamu ingat setiap kita berpisah di bandara seperti ini aku selalu mengatakan kalau kamulah satu-satunya tak ada yang lain selain dirimu, seharusnya kamu juga tahu bagaimana bisa aku mencintai dan memberikan hatiku kepada perempuan lain sedangkan hatiku masih ada padamu. Kalau kamu pikir hanya kamu yang hatinya hancur selama ini, percayalah hatiku lebih hancur lagi karena mengetahui akulah yang menyebabkanmu terluka seperti sekarang.”
“Kamu tak tahu sehancur apa hatiku.”
“Aku tahu itu percayalah, karena aku juga merasakan hal yang sama selama beberapa bulan terakhir ini.”
Dia terdiam kemudian menggeleng.
“Aku tak tahu lagi apa bisa memercayaimu lagi atau tidak. Mungkin hatimu milikku, tapi aku menyadari kalau aku tak pernah ada di urutan pertama dalam prioritasmu, aku bahkan kalah dari perempuan-perempuan yang baru kamu temui, dan aku tak tahu harus berapa banyak lagi aku mengalah demi kebahagian orang lain yang bahkan kita tidak begitu mengenalnya.”
Ucapannya yang sarat akan kesedihan membuatku terdiam karena tahu aku dengan bodohnya telah melakukan kesalahan.
“Maafkan kebodohanku, aku memang salah.” Hanya itu yang keluar dari mulutku membuatnya menatapku beberapa saat.
“Aku memerlukan waktu untuk menata hatiku kembali… hati yang telah kamu hancurkan sampai berkeping keping, dan aku tak tahu berapa lama hati ini akan kembali seutuhnya.”
Aku mengangguk mengerti.
“Dulu kamu yang selalu mengatar kepergianku dan menunggu kedatanganku… sekarang aku yang akan mengantar kepergianmu dan aku akan menunggumu seperti kamu menungguku selama ini.”
“Jangan menungguku karena menunggu adalah pekerjaan yang sangat melelahkan hati, dan aku tak tahu apa aku akan kembali dengan hati yang sama atau tidak.”
Aku tersenyum menatapnya, “Aku akan tetap menunggumu walaupun nanti kamu pulang dengan hati yang lain, maka aku hanya akan menjadi penjaga hatimu supaya hatimu tak kembali terluka seperti saat bersamaku... tentang perasaanku biarkan itu menjadi urusanku.”
Dia terdiam, kemudian menggelengkkan kepala, “Ini tidak adil, sungguh tidak adil.”
“Aku tahu, ini tidak adil untukmu, karena itu aku tak akan memaksamu untuk kembali padaku atau memaafkanku... tidak, aku tidak pantas untuk kamu maafkan. Hanya saja jika kamu sudah lelah dan tak bisa menemukan tempat untuk kembali… ingatlah aku tetap di sini untukmu.”
Dia kembali diam kemudian membuang napas panjang, “Aku tak bisa berjanji akan kembali.”
“Kamu tidak perlu berjanji apapun padaku… pergilah dengan tenang, berbahagialah, kembali dengan menjadi Keyza yang ceria seperti dulu, berbahagialah… Key.”
Dia sontak terkejut mendengarku memanggilnya dengan panggilan yang berbeda, aku tersenyum menatapnya.
“Aku tak akan memanggilmu dengan panggilan yang hanya menjadi milikku sampai kamu mengijinkanku memanggilmu dengan panggilan itu kembali, karena kini aku tak memiliki arti khusus di hatimu… maka aku akan menjadi temanmu, dan karena aku sekarang temanmu, aku akan memanggilmu Kekey seperti yang lain.”
Dia masih menatapku, aku tak tahu apa yang ada dipikirannya saat ini.
“Jangan katakan kalau kamu bahkan tak ingin berteman denganku.”
Aku mohon minimal bertemanlah saat ini denganku karena hanya dengan itu aku akan terus di sampingmu, menjagamu sampai hatimu bisa kembali menjadi milikku.
Dia hanya terdiam terlihat berpikir sambil melihatku, “Entahlah…”
“Ayolah, hanya teman tidak lebih.. seperti Arga, Agus, Rendy, Kamal, dan yang lainnya… aku mohon bertemanlah denganku… aku janji akan memerlakukanmu sebagai teman, aku akan mendukungmu sebagai teman, aku akan berada di sampingmu sebagai teman, bahkan ketika kamu tidak kembali padaku dan menemukan penggantiku, aku akan mendukungmu sampai aku yakin kalau orang itu akan melindungi dan mencitaimu lebih dari aku.”
Dia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk, “Baiklah, tapi aku tak tahu apa aku bisa memperlakukanmu sama seperti teman yang lain.”
“Aku mengerti, dan aku akan menunggu sampai kau bisa menerimaku sebagai teman sama seperti yang lainnya.”
Hari itu untuk pertama kalinya aku bisa melihat dia tersenyum tulus kepadaku sebelum akhirnya dia benar-benar pergi jauh meninggalkanku.
*****
__ADS_1