
Kami tetap berada di dalam rumah sampai selesai sholat isya, dan baru keluar bergabung untuk makan malam dengan yang lainnya.
Para pria telah membuat api unggun yang selain untuk menghangatkan badan juga untuk mengusir nyamuk yang sangat banyak mengingat saat ini kami berada di dalam hutan, jadi hal itu merupakan hal yang wajar. Tak jauh dari sana kini telah berdiri tenda tentara cukup besar yang bisa menampung semua orang untuk tidur di sana, beberapa tentara telihat sedang beristirah di dalam tenda berbeda dengan kami yang berkerumun di depan api unggun karena kedinginan.
Warga Kubu sepertinya sudah terlelap tidur untuk mempersiapkan diri besok pagi berkebun bahkan berburu. Kecuali dua rumah yang telihat masih menyala terang dimana para artis menginap malam ini yang artinya seperti kami mereka pun belum tertidur.
Untuk makan malam kami memasak makanan andalan kami yaitu mie instans! Terimakasih untuk siapapun yang telah menciptakan mie instan, Love you!
Malam itu kami masak dalam jumlah yang sangat banyak mengingat kami harus memberi makan 10 orang tentara, 5 orang anggota Dinsos dan 11 orang anggota kami sendiri termasuk Fadhil dan Veny. Sambil makan mie kami membicarakan tentang materi yang akan kami berikan untuk pelajaran besok dan apa-apa saja yang perlu kami siapkan.
Kami masih makan mie ketika para artis ikut bergabung dengan kami yang tentu saja dengan kamera yang menyala siap merekam mereka. Pertanyaan-pertanyaan standar untuk basa basi mulai dilontarkan, teman-teman yang lain terlihat bersemangat karena bisa berbicara dengan artis secara langsung, berbeda denganku yang hanya duduk menikmati mie seolah berada di duniaku sendriri.
“Mas Yudha!” Bang Kamal memanggil sang Letnan membuat sendokku yang mau masuk mulut terhenti di udara selama beberapa detik sebelum kembali tersadar.
“Habis mandi, Mas?”
“Iya.” Jawab sang Letnan sambil duduk ikut bergabung bersama kami.
“Gak dingin mandi jam segini, Mas? Kita saja tadi sampai beku rasanya.
”
“Kalau dingin kan ada Ayangnya di sini, tinggal minta peluk saja.”
Semua orang tertawa mendengar godaan yang terlontar oleh Dony, yang menyulut godaan-godaan dari yang lainnya. Dan aku masih terdiam makan mie di depan api unggun dengan mata tetap menatap merahnya api berusaha bertahan untuk tidak melarikan diri dari sana.
“Za!”
Deg!
Aku terdiam, sang Letnan memanggilku dengan cukup keras membuat suasana sekitar tiba-tiba hening dan aku bisa merasakan kalau kini semua orang tengah menatap ke arah kami. Perlahan aku mendongak menatap ke arah sang Letnan yang terlihat segar dengan rambut basah juga keren dengan jaket hijau tentaranya, dan seperti biasa setiap kali melihatnya jantungku akan menggila.
“Mie-nya masih ada?” dia bertanya sambil menatapku dengan pandangan sama persis seperti saat kami melakukan video call hampir setahun yang lalu. Aku melihat panci yang telah kosong tapi masih ada beberapa bungkus mie instan mentah tergelatak tak jauh dari tempatku duduk.
“Ada, tapi belum dimasak, mau?”
“Boleh deh, tolong ya.”
Aku mengangguk sambil menaruh mangkuk mie ku yang masih tersisa sedikit.
“Aku saja yang masakin, Key, kamu lanjutin saja makannya.”
“Gak apa-apa, Teh, biar Kekey aja.”
Aku membalikan tubuhku memunggungi api unggun sambil berjongkok di depan kompor portable yang sengaja dibawa Fadhil dan mulai masak mie sang Letnan. Perlu diingat! Aku memasak mie buatnya bukan karena apa-apa tapi karena merasa kasihan, dia pasti kedinginan sehabis mandi di sungai malam-malam gini dan juga pasti lapar karena sepertinya terakhir dia makan itu waktu makan siang. Jadi tidak ada salahnya kan aku menolong orang yang kesusahan?
“Namanya Kekey-kan? Kok Yudha manggil, Za?” Marsya terdengar penasaran dan aku juga yakin yang lain juga sama penasarannya membuatku terdiam untuk beberapa saat.
“Namanya Key-za.” Kak Yoan menjawab pertanyaan itu dengan cara menekankan tiap suku kata seperti tengah mengajarkan anak-anak dan caranya berhasil membuat semua orang mengangguk mengerti. Dan aku sangat berterimakasih pada Kak Yoan untuk jawabannya itu.
Mereka kembali membicarakan tentang kesan tinggal bersama warga Kubu selama beberapa jam ini.
“Gw pikir bakal tinggal sama suku yang bener-bener primitive tahunya engga, mereka cukup maju.” Ben berbicara yang mendapat sautan setuju dari teman artis lainnnya.
“Mereka sudah punya TV, terus ya tempat tinggalnya lumayan nyaman walaupun kasurnya masih kasur lantai yang tipis gitu,” ucap Leona yang kembali membuat semua orang mengangguk setuju.
“Mereka punya kasur, bantal sama selimbut lebih gak ya?” Kak Yoan bertanya dengan penuh harap.
__ADS_1
“Buat siapa?” Leona bertanya yang dijawab Teh Vita.
“Buat kami, di dalam sana jangankan kasur tiker saja gak ada.”
“Masa? Jadi kalian tidurnya gimana?” Leona bertanya dengan nada kaget.
“Ya meremlah masa melek,” aku berbisik pada diriku sendiri sambil mengaduk-aduk mie, tapi entah suaraku yang terlalu keras atau pendengaran sang Letnan yang tajam karena tiba-tiba saja aku mendengar sang Letnan mendengus tertawa, di sampingku!
Dengan terkejut aku melihat ke samping, dan ya! Sang Letnan kini duduk di sampingku sambil menghadap api unggun berbeda denganku yang masih memunggunginya. Tapi kapan dia pindah?
“Mas Yudha kenapa ketawa?” tanya Leona dengan suara manjanya.
“Engga, tadi mau bersin tapi gak jadi.”
“Oooh, dikirain ketawain aku,” ucap Leona dengan nada manja khasnya membuat semua orang kembali menggoda mereka.
Mendengarnya saja membuatku memutar bola mata sambil mengaduk-aduk mie dengan sedikit tenaga, dan entah kenapa aku melakukan itu!
“Jangan kenceng-kenceng ngaduknya kasian tar mie-nya pusing.”
Seketika aku menoleh ke samping dan ternyata sang Letnan tengah menatapku dengan senyum jahil di wajahnya! Dengan kesal aku mendelik dan kembali berkonsentrasi memasak mie seolah-olah memang memerlukan konsentrasi penuh.
“Sudah jadi?”
Aku menyerahkan mangkuk mie yang diterima sang Letnan dengan senyum lebar.
“Makasih.”
Aku mengangguk sambil kembali duduk –di samping sang Letnan– lalu mengambil mangkuk mie ku yang sudah dingin dan mengembang, melihat itu membuatku kehilangan selera dan menaruhnya kembali.
“Mau lagi?” Sang Letnan menawarkan sebagian mienya untukku, yang ku jawab dengan gelengan kepala.
“Gak ada yang harus dibicarakan.”
“Ada.”
Aku terdiam tak menjawabnya.
“Kita harus bicara, sekarang.”
“Tidak sekarang,” aku akhirnya menjawab pelan sambil meminum air hangat.
“Kapan?”
“Nanti.”
Dari samping aku bisa melihat sang Letnan mengangguk mengerti.
“Kamu bawa jaket lebih?” dia kembali bertanya dengan mulut penuh yang dijawab gelengan olehku.
“Kamu akan kedinginan, Za.”
Aku terdiam tak menjawab apapun.
“Nanti pakai sleeping bag ku aja.”
“Gak usah.”
__ADS_1
“Jangan keras kepala.”
“Aku tidak keras kepala.”
“Kalau gitu pakai sleeping bagku.”
“Gak enak sama yang lain.”
Sang Letnan terdiam sampai akhirnya menghabiskan mienya dengan sangat cepat.
“Boleh minta air hangat?”
Aku menatap sekeliling mencari gelas bersih tapi tak menemukannya.
“Gak ada gelas bersih.”
“Pakai gelas kamu saja.”
Mendengar itu membuatku menatapnya, “Minum aqua gelas saja.”
“Dingin.”
“Buang airnya pake gelasnya aja.”
“Gak boleh buang-buang air.”
“Kalau gitu airnya diminum saja dulu.”
“Kan airnya dingin.”
“Ya udah, habis itu baru minum air hangat.”
“Takut kembung kebanyakan minum.”
Aku membuang napas berat dengan mata menatapnya tajam, tapi dia hanya menatapku santai sambil mengangkat alis matanya.
“Kalian berdua lagi ributin apaan?”
Seketika aku menatap sekeliling dan semua orang kini tengah menatap ke arah kami, rupanya tanpa sadar tadi kami menaikan suara.
“Gelas,” jawabku membuat semua orang mengernyit bingung.
“Gelas?” tanya Teh Vita yang membuatku menatap sang Letnan.
“Iya, gak ada gelas bersih ya?” Sang Letnan bertanya dengan santai.
“Mas Yudha mau minum? Pakai gelasku saja.” Leona menyodorkan gelasnya.
“Gak usah, makasih, aku minum aqua gelas saja… Ren, tolong, Ren, minta satu.”
Sang Letnan mengambil aqua gelas dari tangan Rendy yang kebetuan duduk dekat dus minuman.
“Pelit.” Bisiknya sambil minum.
“Biarin,” jawabku sambil minum air hangat.
“Aaah hangatnya.” Aku berkata cukup keras dengan penuh kemenangan membuat sang Letnan terbatuk-batuk karena tersedak. Dan untuk pertama kalinya aku bisa tersenyum setelah pertemuanku kembali dengan sang Letnan.
__ADS_1
*****