
Bandung, 2016
Hari ini adalah hari kelulusanku dan Arga, kedua orangtua kami menghadiri acara wisuda yang diadakan di gedung Sasana Budaya Ganesha. Hari dimana akhirnya aku berhasil mendapat gelar sarjanaku dengan nilai cumlaude yang membuat keluarga bangga. Arga juga lulus dengan nilai cukup memuaskan mengingat kerjaannya hanya naik gunung dan pacaran.
Iya, Arga telah mendapat pacar baru yang dia kenal pada saat pergi ke Bromo, namanya Irene seorang gadis cantik, mahasiswi kedokteran UNPAD. Dan jujur saja aku menyukai pacarnya yang sekarang, terlihat tulus dan sederhana cocok untuk Arga.
Sedangkan aku? Sampai saat ini aku belum berniat untuk mencari kekasih lain. Aku baru putus dari sang Letnan beberapa bulan lalu dan jujur saja hatiku masih terlalu sakit setelah dikhianati seperti itu, jadi aku memutuskan untuk menikmati kesendirianku saat ini. Aku juga mendapat tawaran untuk pelatihan lanjutan design interior di Jepang yang tentu saja tak akan ku sia-siakan begitu saja.
Oh iya, orangtuaku tidak mengetahui alasan sebenarnya aku dan sang Letnan putus, aku hanya mengatakan kalau kami sama-sama sibuk jadi tak memiliki waktu lagi untuk masing-masing. Mungkin itu adalah keputusan terbaik dengan tidak memberi tahu alasan yang sebenarnya, mengingat bagaimana keluargaku memiliki ekspektasi besar terhadap sang Letnan, apalagi Ayah yang terlihat sangat kecewa ketika ku katakan kalau kami putus.
“Katanya Kekey mau ke Jepang ya? Kapan?” tanya Ibunya Arga, saat ini kami sedang menunggu mobil yang akan mengantar pulang.
“Insyaallah tahun depan, Bu, doain biar lancar.”
“Aamiin… nanti di sana hati-hati, gak ada si Aa yang jagain.”
“Iya, Ibu tenang saja.”
Aku memang berencana ke Jepang tahun depan, dan untuk saat ini aku ingin bekerja magang sementara di kantor design salah satu kenalan Kak Dimas yang bertempat di Yogyakarta. Selain menambah pengalaman, aku juga menginginkan suasana baru, tempat baru dan orang-orang baru tentu saja.
Awalnya orangtuaku sedikit berat melepasku ke Yogya apalagi Jepang, tapi sepertinya mereka sangat paham dengan kondisiku saat ini dan akhirnya mengijinkanku pergi dengan syarat tinggal di rumah Pakde Warno alias Kakaknya Ayah selama di Yogya.
Jadi disinilah aku dua bulan terakhir ini, di Nu D’sign yang ada di daerah Condong Catur, Yogya. Bekerja sebagai pekerja magang, bertemu dan berinteraksi dengan orang dan suasana baru membuatku sedikit gugup pada awalnya, karena seperti yang pernah aku bilang kalau aku sedikit introvert. Tapi ternyata ini tak sesulit yang kupikir, rekan-rekan kerjaku sangat baik dan ramah, membuatku merasa nyaman.
“Mbak Kekey, ayuk maksi dhisik (ayo kita makan siang dulu).”
“Sebentar lagi tanggung, Na.” aku menjawab Erna sambil terus menatap komputer di hadapanku. Memiliki Ayah yang asli Yogya sedikit banyak membuatku mengerti bahasa jawa walaupun tak bisa mengucapkannya.
“Wis, maksi sek (makan siang dulu) dilanjut nanti aja gaweane (kerjaannya), Mas Reihan dah nungguin.”
Erna memaksaku sambil menarik tanganku, “Iya-iya bentar, nge-save dulu takut hilang nanti datanya.”
Aku dan Erna kemudian bergabung dengan teman-teman yang lain, kali ini kami memutuskan untuk makan ayam bakar di Jl. Kemuning, tak jauh dari kantor kami. Nu D’sign hanya kantor kecil dengan karyawan kurang lebih 10 orang, tapi memilki relasi yang cukup luas dan cukup terkenal di Yogyakarta.
Mas Reihan sang pemilik adalah adik kelas Kak Dimas waktu kuliah di UGM dulu, kata Kak Dimas mereka sangat dekat bahkan Kak Dimas sudah mengenal semua keluarga Mas Reihan karena rumahnya biasa dijadikan tempat mereka nongkrong saat kuliah. Dan perlu diketahui Kak Dimas sedang berusaha menjodohkanku dengan Mas Reihan! Huufftt…
“Makan siang kali ini, aku yang traktir,” ucap Mas Reihan yang ikut makan siang bersama kami, membuat kami langsung bersorak gembira.
“Dalam rangka apa nih, Mas?”
“Dalam rangka menyambut Kekey yang baru bergabung di Nu D’sign.”
“Hahaha… telat, Mas, Mbak Kekey udah gabung lebih dari 2 bulan.”
“Lebih baik terlambat daripada engga sama sekali kan, Key?”
“Hehehe, iya.”
Aku hanya tersenyum sambil kembali melihat ponsel dimana ada sebuah pesan yang masuk dari Arga.
__ADS_1
“Hallo Yogya? Gimana kabarnya?”
“Yogya baik-baik aja, Bandung apa kabar?”
“Bandung tambah maceeet.”
“Kalau macet mah Yogya juga macet, Ga.”
“Oh sama ya? Kayanya lagi ngetrend ya macet.”
“Hahaha.. ngetren yang gak ok banget.”
“Iyaaa… sudah makan belum, Key?”
“Ini lagi mau makan siang.”
“Gak nanya aku sudah makan apa belum?”
“Aah… malas pasti jawabannya sudah bareng Irene.”
“Hahahaha, tahu aja.”
“Tuhkan bener… udah ah, kalau cuma mau pamer pacaran… males.”
“Hehehe.. sorry-sorry, iya engga deh, kasian yang jomblo jadi baper.”
“Hahaha… nikmatin kejombloan.. jomblo itu anugrah yang harus disyukuri.”
“Hahaha… kurang ajar.”
Tanpa disadari aku tertawa membaca itu membuat semua orang menatapku.
“WA-an ma siapa, Key?” tanya Risma, sekertarisnya Mas Reihan.
“Sama teman.” Aku pamit sama Arga karena gak enak sama yang lainnya kemudian menaruh ponselku di atas meja.
“Teman apa teman?” Kris menggodaku membuat yang lain ikut mengoda.
“Hehehe teman.”
“Key, kenalin dong sama temannya, cewek Bandungkan terkenal cantik-cantik.”
“Ngapain jauh-jauh, Kris, tuh ada Erna.”
“Iiih.. amit-amit… ra gelem aku ngono kuii (gak mau aku sama kamu).”
“Iiiih GR kamu, sopo gelem ngono kuii, aku yo ora gelem (siapa yang mau sama kamu, aku juga gak mau).”
“Cieeee…”
__ADS_1
Aku tertawa melihat mereka yang memang sering bertengkar tapi anak-anak kantor malah menjodohkan mereka berdua.
“Aku mau cari laki-laki yang membuat jantungku deg-deg ser kaya di drama-drama Korea yang bikin cinta mati.”
“Kaya Lee Min Ho, Na?”
“Iya, Lee Min Ho.”
“Hahaha… jangan, Na.”
“Lho kanapa jangan?”
“Dianya gak bakalan mau sama kamu.”
“Yang pentingkan akunya mau, kalau dia dah lihat aku menyerahkan seluruh jiwa dan ragaku, dia pasti akhirnya nyerah dan mau sama aku.”
“Jangan, karena hanya kamu yang akan hancur pada akhirnya.” Aku berkata sambil menatap ayam bakar dengan lalapan dan sambal di depanku, semua orang kini menatapku heran karena aku tiba-tiba berbicara sedangkan biasanya hanya jadi pendengar saja.
“Kenapa emang?” tanya Erna penasaran.
“Sebaiknya kamu tidak menyerahkan hati kamu seluruhnya pada laki-laki karena ketika laki-laki itu menyakitimu, hatimu akan hancur berkeping-keping tanpa tahu apa bisa diperbaiki atau tidak. Mungkin saja bisa kalau memang bersungguh-sungguh tapi itu akan memerlukan waktu yang sangat lama, dan kalau-pun berhasil tetap saja hatimu memiliki retakan-retakan… seperti puzzle walaupun kamu berhasil menyusunnya menjadi sebuah gambar indah tapi tetap saja puzzle memiliki retakan-retakan itu sampai kapanpun.”
Semua orang terdiam mendengar ucapanku.
“Jadi maksudnya kita tidak boleh mencintai seseorang dengan sepenuh jiwa.”
“Hmm… sebenarnya itu hanya pikiranku saja, ya semua tergantung pada masing-masing… tapi kalau aku… aku hanya akan memberikan sebagian hatiku saja jadi ketika dia mengkhianatiku, aku hanya akan memiliki retakan kecil yang bahkan mungkin tak tampak walaupun ada. Dan yang pasti aku masih memiliki bagian hati yang utuh yang bisa ku isi dengan cinta yang lain, sampai akhirnya aku bisa menemukan seseorang yang bisa kupercaya untuk menjaga seluruh hati dan jiwaku… yaitu suamiku di masa depan.”
Tapi aku terlambat, aku telah memberikan seluruh hatiku kepada seseorang yang akhirnya membuatnya hancur berkeping-keping yang aku sendiri tak tahu apa bisa memperbaikinya lagi atau tidak, dan aku tak tahu apa aku akan memercayai lelaki lain untuk ku titipkan hatiku yang bahkan sudah hancur ini… entahlah.
“Tuh dengerin, Na, Kekey bener tuh, cowok itu jangan dipercaya 100%.”
Aku mengangguk setuju dengan ucapan Risma.
“Tapi tidak semua cowok kaya gitu, ada juga yang setia lho, Key,” ucap Mas Reihan sambil menatapku serius.
“Ada… pasti ada, Ayah dan Kakakku salah satunya, tapi kita bisa tahu itu cowok setia atau tidak darimana? Bahkan yang sudah pacaran bertahun-tahun bisa saja tiba-tiba putus karena pengkhianatan, jadi bukankah lebih baik kalau kita menjaga hati kita di awal daripada akhirnya terluka.”
Mas Reihan diam beberapa saat kemudian mengangguk mengerti sambil tersenyum, “Pengalaman pribadi ya, Key?”
“Hehehe… kesalahan dimasa lalu adalah guru yang paling berharga untuk kita.”
“Jadi hati kamu sekarang sudah hancur berkeping-keping?”
“Hahaha… no comment.” Aku tertawa sambil melanjutkan makanku untuk menutupi perasaanku yang sebenarnya.
Biar ku ceritakan sedikit tentang Mas Reihan, sebagai seorang pria dia cukup menarik dengan kulit hitam manis, hidung mancung, dan bisa dibilang cukup sukses untuk usianya yang baru 34 tahun mengingat saat ini dia sudah memiliki perusahan yang cukup stabil, dan tentu saja orangnya baik. Tapi hanya itu, tidak ada yang membuatku penasaran atau apa, tidak bisa membuat jantungku berdetak menggila dengan darah berdesir.
Jadi walaupun Kak Dimas berusaha sekuat tenaga menjodohkan kami, itu akan sangat sulit, walaupun beberapa kali Mas Reihan memberikan perhatian lebih untukku, tapi ya aku hanya menganggapnya sebagai perhatian dari atasan untuk bawahannya, atau perhatian teman Kakak kepada adik temannya.
__ADS_1
*****