Pemilik Hati #1

Pemilik Hati #1
Bab 22


__ADS_3

Malam terakhirku di suku anak dalam Musi Rawas, yang artinya besok aku dan semua relawan, Dinsos serta TNI akan meninggalkan pemukiman warga Kubu, oleh karena itulah malam ini kami melakukan pesta perpisahan kecil-kecilan dengan warga Kubu. Berbeda dengan malam-malam sebelumnya, malam ini warga Kubu ikut bergabung dengan kami untuk membakar ayam dan ikan.


Berbicara tentang perpisahan, Kak Yoan mengatakan kalau malam ini adalah kesempatan terakhirku untuk berbicara dengan sang Letnan. Jujur saja setelah mendengar perkataan Kak Yoan aku mulai memikirkan untuk berbicara dengannya, tapi setiap kami bertemu entah kenapa kakiku langsung balik kanan menghindarinya. Tapi malam ini aku memantapkan hatiku untuk mendengar apapun penjelasannya.


Malam semakin larut tapi aku belum menemukan kesempatan untuk berbicara berdua dengannya, terlalu banyak orang di sekitar kami. Dan walaupun kini hanya tinggal beberapa anggota OASIS dan para artis yang berkumpul di depan api unggun sambil menikmati kopi hitam, tapi jarak duduk kami yang bersebrangan tidak memungkinkan untuk kami berbicara. Alhasil aku hanya terdiam sambil melihat kayu yang terbakar.


“Besok kalian naik pesawat yang jam berapa?”


“Sebelum jam 11 kami harus sampai Silampari.” Dony menjawab pertanyaan Kak Yoan yang mengangguk mengerti. Silampari adalah bandara di Musi Rawas yang baru kembali di buka.


“Enak kalau pake pesawat mah sejam-an dah sampai Jakarta, nah kita harus ke Palembang dulu 6 jam-an, dari Palembang mulai deh perjalanan panjang 18 jam perjalanan.” Kang Pajar berkata sambil menyeruput kopinya.


“Nanti jangan langsung pulang dulu ke Bandung, payo kito wisato kuliner dulu (ayo kita wisata kuliner dulu).”


“Nah, bener tuh, Ven! Sekalian beli oleh-oleh.” Teh Vita berkata dengan antusias.


“Kekey mau ikut naik pesawat bareng kita gak?”


“Hahaha, usaha terus, Ben.” Semua menertawakan Ben yang masih berusaha merayuku.


“Biar gak cape, Key, tar tiketnya aku yang bayarin.”


Aku hanya menatapnya sekilas sambil tersenyum, “Makasih, tapi Kekey takut ketinggian.”


“Tiiraha sieun(dari kapan takut) ketinggian, Key?” tanya Agus sambil tersenyum.


“Ti ayeuna, Gus (dari sekarang, Gus),” jawabku membuat semua teman-teman OASIS tertawa karena mereka sangat mengetahui kalau aku tak pernah bermasalah dengan ketinggian.


“Yah, kayanya gw benar-benar ditolak nih.”


“Hahahaha, baru sadar, Lu!”


“Wellcome to the club, Ben!” ucap Bang Kamal sambil tertawa dan membuat semua anggota OASIS kembali tertawa mendengarnya.


“Lu juga, Mal?” tanya Dony tak percaya.


“Bukan cuma Bang Kamal, tapi saya juga Bang,” ucap Rendy kembali membuat semua orang tertawa sedangkan aku hanya bisa tertunduk dengan wajah memerah.


“Ya Allah, Key, hahahaha… jadi bukan gw doang?”


“Banyak, Ben, hahaha… belum ada yang berhasil kecuali pawangnya dia tuh si anak gunung satu itu, si Arga.”


“Bukannya mereka cuma temanan?”


“Iya teman tapi mesra.”


“Hahahaha… curiga si Arga ketua club LYDK”


“Apaan tuh LYDK?”


“Laki-laki yang ditolak Kekey.”


Semua tertawa mendengaar ucapan Agus, dan kali ini aku-pun ikut tertawa walaupun malu-malu.


“Kita bener-bener cuma temanan kok!”


Aku berkata sambil tertunduk malu dan memainkan gelas yang kupegang.


“Kalau cowoknya kaya Arga sih kita juga mau TTM-an.” Teh Vita berkata yang kembali membuat semua orang tertawa.


“Emang cakep ya?” tanya Marsya penasaran.

__ADS_1


“Beuh, Arga mah jangan ditanya… bukan cuma cakep, tapi baik banget.” Aku mendengar Teh Vita memuji Arga yang membuatku tersenyum bangga pada sahabatku itu.


“Ya walaupun gayanya urakan tapi orang cakep mah bebas, mau pake apa-apa juga tetap aja cakep.” Kak Yoan menimpali Teh Vita yang mendapat sautan setuju dari para perempuan.


“Hahaha, bener.”


“Jadi penasaran,” ucap Marsya sambil tersenyum.


“Tapi si Arga-nya itu dah punya pacar belum?”


Ben bertanya yang dijawab Bang Kamal,


“Punya ya, Key? Yang dulu ketemu di BIP.”


“Sudah putus, Bang.” Jawabku sambil tersenyum.


“Sudah putus lagi? Kenapa, Key?” tanya Kak Yoan penasaran yang membuatku malah tertawa ingat alasan mereka putus yang diceritakan Arga.


“Gara-gara dia nurunin Wina di tengah jalan.”


“Hah! Dia nurunin ceweknya di tengah jalan!” Leona terdengar tak percaya berbeda dengan teman-teman yang sudah mengenal Arga, mereka tertawa sepertiku.


“Mereka berantem di jalan, Wina-nya marah minta diturunin, ya udah sama Arga diturunin, terus Winanya tambah marah karena diturunin di tengah jalan, terus akhirnya minta putus ya sudah Arga putusin.”


“Hahahah.”


“Kekey juga bilang kalau Kekey pacarnya juga pasti Kekey putusin karena dah diturunin di tengah jalan, trus Arga bilang… sumpah, Key, bukan di tengah jalan tapi di pinggir jalan di depan warung biar nuggu angkotnya gak kepanasan.”


“Hahahaha dasar nu gelo (dasar gila),” ucap Agus disela tawanya.


“Tapi dia gak salah-lah, kan ceweknya yang minta turun.” Dony berkata yang mendapat sautan setuju dari para pria.


“Cewek emang kaya gitu bikin serba salah, diturutin salah enggak juga salah.”


“Lah nanti kalau gak diturutin sepanjang jalan pasti ngomel, kita juga yang sakit kuping dengarnya.”


“Iya, bener tuh!”


“Ya tapi gak di tengah jalan juga dituruninnya.”


“Dia bilang nuruninnya di pinggir jalan depan warung malah, biar gak kepanasan.”


“Hahaha… berarti si Arga dah bener dong, eh malah diputusin pula, padahal dia dah nurut sama ceweknya.”


“Iya juga sih,” ucap Teh Vita sambil tertawa menerima kekalahannya.


“Tapi temenmu itu lucu ya, Key.”


“Tapi kadang aneh juga,” ucap Kak Yoan sambil tertawa, “Ceritain yang oleh-oleh dia kasih dari Semeru.”


Seketika aku, Yuni dan Teh Vita yang mengetahui cerita itu langsung tertawa.


“Emang si Arga ngasih apaan pas ke Semeru?” tanya Leona penasaran.


“Pasti moal baleg! (pasti gak bakalan bener nih)” ucap Kang Pajar sambil tertawa.


“Iya, pas dia ke Semeru aku minta dibawain bunga edelweiss, pas dia sudah pulang dia ke rumah mau ngasih oleh-oleh tapi ternyata bukan edelweiss! Oleh-olehnya itu batu ada tulisanya ‘sumpah batu asli dari puncak Semeru’, terus dia juga ngeliatin foto di hp nya pas dia lagi di puncak sambil pegang batu itu sebagai bukti kalau itu dari puncak Semeru, takut aku gak percaya katanya.”


“Hahahaha… terus batunya diapain, Key?” tanya Bang Kamal penasaran.


“Di simpen di ruang tamu, dijadiin hiasan sama Ayah, kata Ayah jarang ada batu Semeru di Bandung.”

__ADS_1


“Hahahaha.. Ayah juga sama aja.”


“Emang, tapi Arga paling takut sama Ayah.”


“Oh, Arga takut sama Ayah?”


“Iya, pokoknya kalau Ayah dah ngomong udah deh Arga cuma bisa diam nurut saja.”


“Kalian dah deket banget ya, Key?” Ben bertanya yang dijawab anggukan olehku.


“Kenapa gak pacaran saja?” tanya Leona yang mendapat persetujuan dari yang lainnya.


“Kalau sama Arga itu rasanya kaya bareng Mas Juang atau Kak Dimas, kedua kakakku yang selalu melindungiku dari apapun, kadang kaya sama Dirga, adik bungsuku yang manja dan jahilnya gak ketulungan.”


“Udah gak deg-degan atau ser-seran gitu ya, Key?”


Aku mengangguk menjawab pertanyaan Teh Vita.


“Pernah ada gak laki-laki yang bikin kamu deg-degan?” tanya Marsya penasaran, membuatku terdiam sambil tersenyum hambar.


“Selain Pak Yanto ya, Key.”


Aku tertawa mendengar ucapan Mas Juna. Pak Yanto adalah Dekan sekaligus dosen yang terkenal killer di kampus kami


“Ada gak, Key?” rupanya semua kini penasaran menunggu jawabanku, dan akhirnya aku mengangguk.


“Ada.”


“Waah! Siapa tuh, Key? Kok Teh Vita gak tau?”


Aku hanya tersenyum, dan berusaha menenangkan perasaanku yang mulai bercampur aduk tak karuan, sekilas ku lihat sang Letnan kini tengah menatapku.


“Mantan kamu, Key?”


Aku menggeleng, “Bukan.”


“Bukan? Jadi cowoknya gak tau kalau kamu suka sama dia?”


Semua orang mulai penasaran menunggu jawabanku.


“Harusnya sih dia tahu kalau Kekey suka sama dia.”


“Kamu ditolak!?” seru Bang Kamal seolah-olah tak percaya.


“Enggak juga sih Bang, soalnya Kekey gak pernah bilang kalau suka sama dia.”


“Terus kenapa kamu gak bilang.”


“Masa perempuan bilang duluan.”


“Gak apa-apa lagi! sekarang udah banyak cewek yang nyatain duluan,” ucap Leona yang mendapat seruan setuju dari Marsya.


“Kekey kalau urusan itu masih konservatif, jadi gak berani bilang duluan.. kata Arga, perempuan itu harus punya harga diri. Sesuka apapun kita sama lelaki jangan sampai kita nyatain duluan karena itu adalah tugas lelaki, sebagai tanda kalau dia akan melindungi harga diri perempuan yang dia cintai.”


“Yes! Arga, I love you!” Seru Kak Yoan membuatku tersenyum.


“Terus sekarang gimana, dia masih gak tahu kalau kamu suka?” tanya Veni.


“Dia tahu… dia pasti tahu, dan kamu juga harusnya tahu kalau dia juga suka sama kamu, Za.”


Deg!

__ADS_1


Seketika aku menatap sang Letnan yang tengah duduk dengan mencondongkan tubuhnya dengan bertumpu di atas paha, matanya menatap api seperti yang tadi aku lakukan.


*****


__ADS_2