Pemilik Hati #1

Pemilik Hati #1
Bab 12


__ADS_3

Alga menyerahkan kembali ponsel itu kepada Mira lalu berjalan ke arahku dan berjongkok di hadapanku yang masih menatapnya kosong.


“Pulang yuk!”


Seketika harapanku luluh lantah menyadari arti kalimat itu, Arga menggenggam tanganku yang gemetar hebat, mataku hanya menatapnya dengan pandangan kosong ketika perlahan Arga mengangguk seolah menjawab pertanyaan yang bahkan tak bisa keluar dari mulutku.


Aku terdiam dengan tubuh gemetar menahan sakit yang seolah meremas dadaku, tubuh Arga melindungiku dari pandangan teman-teman yang lain, walaupun aku yakin mereka merasakan ada sesuatu yang salah tengah terjadi tapi mereka terlalu baik hati untuk bertanya dan ikut campur.


Arga memegang kedua pipiku memaksaku menatapnya sambil berbisik.


“Kita pergi dulu dari sini.”


Aku mengangguk setuju, dengan cepat Arga membereskan kameranya, memasukkannya ke dalam tas ransel milikku yang langsung digembloknya, dia membantuku berdiri kemudian merangkul pundakku seolah memberi perlindungan.


“Gus, Kekey pulang duluan teu nanaon nya? (Gus, Kekey pulang duluan gak apa-apa ya)?” Arga bertanya kepada Agus yang masih terlihat bingung melihat kami yang tiba-tiba saja bersiap pulang.


“Iya, sok, Ga, teu nanaon, kunaon Kekey? (Iya, silahkan, Ga, gak apa-apa, kenapa Kekey?)”


“Magh-na kambuh.”


“Oh, pantesan meni pucet kitu (Oh, pantas pucat gitu), pulang saja, Key, cepet sembuh ya.”


Aku hanya bisa tersenyum lemah sambil mengangguk, Arga menuntunku bahkan memakaikanku helm, aku hanya diam seperti boneka perca. Langit mulai mendung, awan kelabu menghiasi kota Bandung saat Arga menyalakan mesin motornya.


Aku hanya duduk diam dengan tangan memeluk pinggang Arga, kepalaku ku rebahkan di punggungnya yang tengah melajukan motornya, kami telah melewati Jl. Stasiun timur, tapi aku tetap diam ketika Arga berbelok ke arah kanan berlawan dengan arah menuju rumahku. Pikiranku seolah melayang mendengar kabar yang baru saja ku dengar tentang sang Letnan.


Dia berkencan dengan Leona sang penyanyi itu? Tapi kapan mereka bertemu? Apa mereka telah saling mengenal sebelum kami saling mengenal? Atau jangan-jangan selama ini sebenarnya dia memang telah menjalin hubungan dengannya? Aku membuang napas panjang berusaha menghalau rasa sesak yang semakin menghimpit dada, entah karena merasa tertipu atau merasa dikhianati, atau mungkin ke dua-duanya? Aku tak tahu, yang pasti ini sangat menyakitkan untukku.


Hujan mulai turun ketika kami melawati Taman Lalu Lintas Ade Irma di Jl. Sumatera, dan aku bisa merasakan Arga mulai memelankan laju motornya.


“Kita neduh dulu ya?”


“Jangan!” hanya itu jawaban yang keluar dari mulutku, untuk sesaat aku merasa Arga sedikit ragu sebelum akhirnya ia kembali melajukan motornya dengan kencang, membuatku semakin memeluknya erat, aku harap angin dan air hujan bisa menghapus segala kesedihan dan kekecewaan yang menghimpit dada. Aku ingin menangis, aku ingin teriak, tapi entah kenapa air mataku seolah enggan keluar saat itu, mulutku seolah terkunci tak bisa mengeluarkan suara.

__ADS_1


Arga membelokan motornya ke Jl. Aceh dan hujan mulai deras mengguyur Bandung tapi kami seolah tak peduli dengan kondisi itu. Jalanan mulai sepi ketika kami memasuki Jl. Ambon, dan tanpa memelankan motornya Arga berteriak.


“Nangis, Key! Teriak! Maki dia sesukamu!”


Seperti mantra teriakan Arga membuat air mataku mulai turun bercampur dengan dinginnya hujan.


“Alam berpihak padamu, Key… Lihat! Hujan semakin deras yang akan menyembunyikan air mata dan teriakanmu dari dunia.”


Aku mulai terisak.


“Marah! Kamu harus mengeluarkan amarahmu!”


Isakanku semakin kencang, seolah ada desakan dari dalam dada yang semakin lama semakin naik yang tak bisa tertahan lagi.


“Aaaarrrrggggghhhhh!!!” Aku berteriak membelah suara derasnya hujan, semua pertahananku hancur, rasa kecewa, amarah, terkhianati seolah menjadi satu yang sesak menghimpit dada kini tumpah tak terbendung lagi.


Aku terus menangis terisak dengan tangan memeluk Arga kencang, bahkan sudah tak peduli lagi sekarang berada dimana, pandanganku mengabur bukan hanya karena hujan tapi juga airmata. Entah berapa lama aku menangis sampai akhirnya tubuhku mulai terasa lelah karena telah mengeluarkan semua emosi. Airmataku seolah telah habis dan akupun mulai terdiam dengan memeluk tubuh Arga lemah.


“Kita pulang sekarang?” Arga bertanya lembut seolah mengetahui kalau aku sudah mulai tenang. Aku menjawabnya dengan anggukan yang langsung dimengerti Arga.


“Astagfirullahaladzim!” Seru Ibu ketika melihat kondisi kami yang basah kuyup turun dari motor. Ibu kembali berteriak menyuruh Dirga mengambilkan handuk untuk kami.


“Kalian ini sudah gede juga masih saja hujan-hujanan,” omelnya sambil menyerahkan handuk kepada kami yang masih berdiri di teras rumah, air menetes dari atas sampai bawah, bibir kami gemerutuk kedinginan.


“Ayo cepetan masuk!” ibu membuka pintu lebar.


“Arga mau langsung pulang saja, Bu.”


“Oh no..no.. no! Kamu masuk, mandi air hangat, ganti baju pake baju Mas juang dulu.”


“Gak apa-apa, Bu, tanggung basah, dari sini ke Cijerah kan cepet kalau naik motor.”


Ibu baru akan membuka mulutnya ketika mendengar Ayah berkata dengan tegas.

__ADS_1


“Kalian berdua masuk!”


“Tuh! Ayah sudah memberi perintah,” bisik Ibu membuat Arga hanya bisa nyengir pasrah kalau Ayah sudah memberi perintah seperti itu.


Dengan masih basah kami masuk ke dalam rumah, melewati ruang tamu, berbelok ke ruang keluarga yang cukup besar dimana 4 kamar berada di sekitarnya, kamar orangtuaku, kamar Kak Dimas yang kini berubah jadi kamar Dirga, Kamarku dan kamar Mas Juang yang kini kosong dan suka digunakan sebagai kamar tamu sementara.


“Key, kamu mandi di kamar Ayah, biar Arga mandi di kamar mandi, Ayah sudah nyalain pemanasnya.”


“Iya, Yah.” Kami hanya bisa menurut perintah Ayah, aku masuk ke dalam kamar untuk mengambil baju ganti yang akan ku bawa ke kamar Ayah, dan ibu telah menyiapkan pakaian Mas Juang yang akan di pakai Arga.


“Celana dalammu juga pasti basah! Untung Ibu kemarin beliin buat Dirga, nih buat kamu satu, mudah-mudahan muat.”


“Hehehe, insyaallah muat, Bu, Arga mah fleksibel badannya.”


Ibu tertawa mendengar ucapan Arga yang kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Aku sendiri masuk ke kamar orangtuaku, dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Aku berdiri di bawah pancuran yang airnya ku atur menjadi lebih panas. Merasakan air yang keluar kencang dari shower di atas ubun-ubun seolah sendang memijit, membuatku memejamkan mata yang mulai terasa begitu berat. Entah berapa lama aku berada di dalam kamar mandi sampai akhirnya Ibu mengetuk pintu kamar mandi untuk memeriksa keadaanku.


Seolah baru tersadar dengan cepat aku menyelesaikan mandiku dan berganti pakaian memakai celana tidur panjang dengan kaos lengan panjang untuk menghangatkan badanku. Aku keluar dari kamar ayah dengan rambut digulung handuk, dan ternyata di ruang keluarga Arga telah duduk dengan secangkir coklat panas di tangannya.


“Lama banget mandinya?” Ayah bertanya khawatir.


“Keenakan, kaya dipijitin air panas, hehe,” jawabku dengan sebuah senyuman dan berusaha terlihat baik-baik saja.


“Sekarang giliran Ayah yang dipijit air panas,” kata Ayah sambil berdiri dan berjalan menuju kamarnya.


“Ibu bikini coklat panas.” Arga menyerahkan mug berisi coklat yang masih mengepul itu.


“Nonton apaan?” Aku menatap layar TV yang masih menayangkan iklan minuman.


“Gosip, kata ibu jangan dipindah soalnya masih kedengeran ke dapur, Ibu lagi masak.”


Aku mengangguk mengerti dan mulai menonton TV sambil menikmati coklat panas yang menghangatkan tubuh. Iklan telah selesai dan kini menampilkan sepasang pembawa acara gosip yang cukup terkenal.


“Berita selanjutnya datang dari penyanyi yang sedang hit akhir-akhir ini, siapa lagi kalau bukan Leona yang menggemparkan dunia maya dengan meng-upload foto dirinya dengan seorang pria yang disinyalir adalah kekasihnya.”

__ADS_1


Deg! Jantungku seolah berhenti berdetak dengan mata menatap layar TV tanpa berkedip.


*****


__ADS_2