
“Lauuuutt!!!” aku tersenyum lebar dengan tangan direntangkan ketika melihat laut di hadapanku.
Sebulan setelah pertunangan sang Letnan dengan Widy membuatku mau tidak mau harus menerimanya yang membuatku semakin larut dalam pekerjaan. Mas Reihan yang melihatku seperti itu mulai sedikit khawatir dan akhirnya memutuskan untuk membawa kami semua berlibur ke pantai Baron di Gunungkidul.
Sebenarnya bukan hanya pertunangan sang Letnan yang membuatku menyibukan diriku ke dalam pekerjaan, tapi kejadian beberapa hari kemudiannya-lah yang membuatku kini menjadi seperti robot pekerja. Stress dan pola makan yang salah membuat maghku kambuh, yang membuatku memutuskan untuk pergi ke Klinik untuk berobat. Pada saat itulah tanpa sengaja aku melihat Widy keluar dari salah satu ruangan yang ada di sana, dan ternyata adalah ruang dokter kandungan.
Itu membuatku sangat terkejut sekaligus penasaran, dan entah memiliki keberanian dari mana hingga membuatku memutuskan untuk menemui dokter itu dan mengatakan kalau aku adalah adiknya Widy yang membuat dokter memberitahu apa yang tunangan itu lakukan di sana.
“Karena anda adalah adiknya, jadi saya harap anda bisa meyakinkannya agar tidak menggugurkan kandungannya.”
“Kan-dungan?”
“Anda belum mengetahuinya? Kakak anda telah mengandung 4 minggu.”
Seketika aku seperti tersambar petir mendengar penjelasan sang dokter kalau Widy tengah mengandung hasil buah cintanya dengan sang Letnan. Aku keluar dari ruang dokter dengan tubuh lemas, dan jantung yang menggila mengetahui kebenaran itu. Beberapa saat aku hanya duduk di ruang tunggu klinik dengan foto hasil USG yang tadi diberikan dokter padaku. Hasil USG yang dengan sengaja ditinggalkan Widy di meja dokter, seolah-olah dia tak menginginkannya.
Aku melihat foto itu, belum terlihat apapun selain bulatan kecil berwarna hitam. Telunjukku mengelusnya dengan dada berdetak hebat, mengingat bulatan itu adalah buah hati pria yang ku cintai dengan perempuan lain. Hatiku perih dengan mata berkaca-kaca mengingat sang Letnan pernah mengatakan kepada Mamah, “Kalau Mamah mau bayi, nanti saja cucu dari aku ma Za.”
Saat itu aku tersipu malu sekaligus bahagia membayangkan kami akan memberikan orangtua kami cucu, dan sekarang dia akan memberikan Mamah dan Papah cucu tapi bukan dari darah dagingku. Hati kecilku tak ingin memercayai itu karena Mas Letnan yang ku kenal akan selalu minta ijinku walau hanya untuk memeluk atau menciumku, tapi kini… foto USG itu adalah buktinya yang membuatku menyadari kalau ini adalah akhir dari cerita kami.
“Kamu suka?” tanya Mas Reihan yang kini berdiri di sampingku sedangkan yang lain sudah mulai bermain air.
“Suka, di Bandung gak ada laut soalnya,” jawabku sambil tersenyum lebar.
Aku membuka sendalku dan menentengnya untuk merasakan lembutnya pasir pantai itu di antara jari-jari kakiku. Saat ini aku mengenakan celana pendek, kaos biru muda, dilengkapi cardigan tipis putih untuk menghindari cahaya matahari langsung mengenai tanganku, tidak ketinggalan kacamata hitam hanya untuk membuatku terlihat keren, selain tentu saja untuk melindungi mataku dari sinar matahari.
Aku duduk di kursi pantai di bawah payung warna warni melihat teman-temanku yang sedang tertawa bermain air yang ku abadikan di dalam kamera ponselku.
“Kenapa gak main air bersama mereka?” tanya Mas Reihan yang duduk di kursi sebalahku.
“Nanti, aku ingin menikmati pemandangannya dulu.”
Mas Reihan mengangguk mengerti kemudian seperti aku ikut menikmati pemandangan laut dengan gradasi warna biru dan beralas pasir hitam di hadapan kami yang sangat cantik.
“Aku selalu menyukai pemandangan alam seperti ini.” Aku memecah keheningan membuat Mas Reihan menatap ke arahku, “Aku lebih memilih untuk pergi ke tempat-tempat yang menyuguhkan pemandangan alam daripada keramaian… ya walaupun kadang aku juga suka nongkrong di mall seperti anak muda lainnya… tapi pergi ketempat-tempat yang menyuguhkan pemandangan alam memberikan nilai lebih untukku.”
“Di Bandung kamu sering jalan-jalan ke tempat-tempat seperti itu?”
__ADS_1
“Iya, aku dan Arga biasanya naik motor keliling Bandung tanpa tahu arah tujuan dan akhirnya berakhir di Dago atau Lembang, kalau punya uang kami akan makan di salah satu café yang ada di sana, tapi kalau lagi gak punya uang kami hanya akan nongkrong ditukang jagung bakar ditemani segelas kopi susu.”
Aku tersenyum mengingat masa-masa itu, masa dimana ulangan dan ujian adalah hal yang paling sulit dan menghabiskan waktu bersama teman-teman sambil tertawa adalah hal yang paling berharga.
“Arga… orang yang Yudha bilang waktu itu?”
Aku mengangguk sambil tersenyum mengingat ketika di stasiun sang Letnan pernah membahas Arga di depan Mas Reihan dan Widy.
“Jadi… dimana dia sekarang?”
“Arga? Dia di Bandung, ckk… paling lagi sibuk pacaran.”
“Jadi dia yang…”
“Mas Rei!”
Aku dan Mas Reihan menatap ke arah suara dan membuatku mematung ketika kulihat Widy berjalan dengan sang Letnan di sampingnya. Seperti biasa sang Letnan terlihat gagah dengan kaos biru dongker, celan jeans biru pudar, topi biru dan kacamata hitamnya, sedangkan Widy terlihat cantik dengan dress selutut bunga-bunga berwarna merah muda, tanpa dikomando mataku langsung menatap perutnya yang masih terlihat rata belum ada perubahan sedikitpun.
“Kenapa kalian bisa ada di sini?” tanya Mas Reihan dengan senyum lebar, sedangkan aku hanya menatap mereka di balik kacamata hitamku.
“Iya, semalam aku bilang kalau Mas Rei sama yang lainnya mau ke sini terus aku bilang aku mau ikut tapi gak boleh sama Mas Reihan karena ini acara kantor, eh tahunya Mas Yudha bela-belaian naik pesawat pertama biar bisa ajak aku ke sini.”
“Mbak Kekey! Sini!” teriak Lulu membuatku langsung berdiri dan membuka cardigan dan kacamata hitamku.
“Bentar!” aku manaruh cardigan dan kacamataku di atas kursi kemudian berlari untuk bermain air dengan yang lainnya.
Aku tertawa ketika melihat Kris melemparkan Erna ke dalam air, membuat badannya basah kuyup, tapi kini Mas Angga, Kris dan Lulu yang sudah basah kuyup menatap ke arahku dengan seringai yang membuatku langsung mundur.
“Oh! Tidak-tidak! Jangan mendekat!” Teriakku sambil bersiap kabur ketika kulihat mereka semakin mendekat… “Aaaaaahhhh!” aku langsung lari ketika Mas Angga dan Kris mengejarku dan tak perlu lama untuk mereka berhasil menangkapku.
Byuurr!!
Seketika tubuhku dilemparkan ke dalam air membuat tubuhku merasakan dingin dan asinnya air laut, aku langsung berdiri dengan tubuh basah kuyup membuat semuanya tertawa.
“Aahh… awas ya!!!” Aku mengerjar semuanya tapi harus kembali merasakan dinginnya air ketika tubuhku kembali dihempaskan oleh Kris ke dalam air, dan aku bisa mendengar tawa mereka semakin kencang melihatku tercebur ke dalam air untuk kedua kalinya.
Hari ini aku hanya ingin bersenang-senang, tertawa bebas walaupun dengan hati yang sudah tak lagi utuh. Aku ingin membuktikan pada diriku dan juga pada dirinya kalau aku masih bisa tertawa lepas dan bergembira bahkan tanpa dirinya disisiku… tentang perasaanku entah benci atau cinta, biarkan hanya jadi rahasiaku seorang.
__ADS_1
Matahari semakin tinggi menyengatku yang masih duduk di atas pasir memandang lautan dengan ombak yang tenang, sedikit banyak membuat hatiku ikut merasa tenang.
“Sebaiknya kamu mandi sekarang, kita makan siang dulu.”
Aku menatap ke arah samping dengan mendongak dan mata dipicingkan, Mas Reihan berdiri di sana sambil tersenyum membuatku ikut tersenyum kemudian mengangguk. Dia mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri, awalnya aku ragu untuk menerima uluran itu tapi kemudian akhirnya menerimanya juga.
“Terimakasih,” ucapku setelah berdiri dan langsung bergabung dengan yang lainnya untuk mandi dan berganti pakaian.
Kini kami duduk di salah satu restoran yang berada tak jauh dari pantai, menikmati makan siang sekaligus pemandangan laut dari atas. Aku duduk paling ujung dengan mata menatap kejauhan seolah tak tertarik dengan apapun yang menjadi perbincangan di meja kami saat ini.
“Mbak Widy ketemu Mas Yudha dimana?” tanya Risma penasaran.
Kami duduk mengelilingi meja yang dibikin memanjang agar kami semua bisa duduk bersama dalam satu meja. Duduk di sampingku Mas Reihan, dan di depanku Widy dan sang Letnan yang berdampingan.
“Di Jakarta, saat itu aku masih kuliah dan Mas Yudha memang tugas di sana.”
“Widy telah menyelamatkan hidupku,” ucap sang Letnan membuatku terdiam dengan sedikit mengerutkan kening mendengarnya, tanpa mengalihkan pandanganku.
“Menyelamatkan hidup Mas Yudha?” tanya Lulu.
“Iya, saat itu aku sedang menyebrang jalan dan tak melihat kanan-kiri ketika mobil yang dikendari Widy melintas, kalau saja dia tidak membanting setirnya mungkin aku akan mati tertabrak saat itu, tapi dia lebih memilih untuk membanting stirnya sampai terguling dan membuatnya terluka parah hingga harus dirawat di RS cukup lama dan menjalani operasi... aku berhutang nyawa padanya.”
Aku semakin terdiam dengan jantung berdetak hebat, jadi karena ini dia memutuskanku? Karena dia merasa berhutang nyawa kepada Widy?
“Jangan ingat-ingat itu, sekarang aku sudah baik-baik saja… Mas Yudha juga yang menjaga dan merawatku selama di rumah sakit bahkan sampai menginap di sana, padahal saat itu pasti sangat lelahkan karena harus bertugas dari pagi dan malamnya harus menjagaku.”
Hatiku seolah terjun bebas ketika mendengar perkataan Widy, jadi dia jarang menghubungiku atau membalas pesanku adalah karena sibuk menjaga Widy di rumah sakit? Aku memejamkan mata dan menggigit bibirku menyadari betapa bodohnya aku saat itu yang masih menunggu dan percaya padanya.
“Dan akhirnya kalian saling jatuh cinta… aaah itu sangat romantis, wis koyo drama korea wae (udah kaya drama korea aja) .” Erna berkata membuat yang lainnya bergumam setuju.
“Jadi, Key, katakan padaku apa adikku boleh memberikan hatinya seutuhnya sekarang?”
“Tentu saja boleh,” ucap Erna dengan semangat, “Wis kato (sudah kelihatan) kalau Mas Yudha benar-benar cinta karo (sama) Mbak Widy, buktine dia bela-belain ngerawat Mbak Widy walaupun pasti sangat lelah. Dan itu setiap hari kan Mbak?”
“Iya setiap malam, kalau libur dia seharian menemaniku di rumah sakit.”
“Itu dah pasti cinta mati,” ucap Risma mendapat anggukan setuju dari semuanya.
__ADS_1
“Jadi, Key, gimana menurut kamu?” Mas Reihan sepertinya masih penasaran dengan jawabanku.
*****