
Kamu masih menghidariku dan tak ingin mendengarkan penjelasanku kalau semua berita itu tidak benar. Dan aku baru mengetahui kalau lelaki yang selama ini dikira kekasihmu adalah temanmu dari dulu, teman yang pernah kamu ceritakan padaku. Seharusnya aku tahu kalau kamu tidak akan semudah itu untuk berpaling kepada lelaki lain walaupun pria itu sehebat idolamu itu.
Aku tahu kamu mengidolakannya, dan aku juga tahu kalau dia hanya menggodamu saja karena tahu kalau kamu penggemarnya, tapi tetap saja melihatmu duduk di sampingnya membuatku cemburu. Tanpa pikir panjang aku langsung berteriak memanggilmui, yang akhirnya membuat kita bertengkar tapi mesra? Entahlah, yang jelas saat itu kamu sangat menggemaskan sekali! Aah... seandainya hanya kita berdua saat itu aku pasti sudah memelukmu dan mencubit pipimu karena gemas, walaupun berakhir dengan kakiku yang sengaja kamu injak, tapi itu sepadan karena akhirnya aku bisa melihatmu tertawa kembali. Dan aku mengetahui kalau kamu masih galak seperti dulu.
Kalau ada orang yang bilang kamu adalah perempuan gampangan. Mereka sungguh tak mengenalmu… suruh mereka bertanya padaku, atau teman-teman lelaki yang mengenalmu selama ini, maka mereka pasti akan memberitahu segalak dan sejudes apa kamu sama lelaki, apalagi yang baru kamu kenal.
Aku kembali tersenyum, ada kehangatan di dadaku ketika membaca bagaimana sebenarnya dia cemburu pada Ben, dan cara dia menjelaskan kepada semua orang kalau yang dikatakan Leona tentang aku yang mendekati Ben itu tidak benar. Sungguh aku sangat suka bagaimana dia melakukannya tanpa menghakimi atau menyalahkan orang lain.
Kini aku melihat foto yang diambil sang Letnan di pinggir sungai.
Curang! Diam-diam kamu mengambil banyak sekalil fotoku, tapi aku tak menemukan fotomu satu-pun di dalam kamera. Kamu ingat ini? ini foto yang ku ambil ketika akhirnya berkesempatan berbicara berdua, dan saat itu-lah aku mengetahui bagaimana berita kencanku yang tidak benar itu begitu menyakitimu.
Seketika aku sangat menyesal, sungguh menyesal… seharusnya aku tidak diam saja saat itu dan memberikan pernyataan kalau itu tidak benar! Seharusnya aku tetap mencarimu dan menjelaskan semuanya… tapi semua sudah terjadi yang bisa aku lakukan adalah memperbaiki ini semua dan kembali mendapatakan kepercayaanmu.
Aku melihat dua buah foto yang berdampingan, disebelah kiri adalah foto siluet kami yang diambil Kak Yoan dan dikanan adalah foto yang diambil dari ig Leona yang menyatakan kalau itu adalah siluet sang Letnan.
Malam terakhir kita di Kubu akhirnya memberiku kesempatan untuk menjelaskan semuanya, tentu saja kamu tak memercayaiku dan menganggap kalau itu hanya alasanku saja. Kamu memercayai semua foto yang telah tersebar di internet, tapi kini kamu lihat kalau aku tak pernah sekalipun foto berdua dengan perempuan lain. Dan mengenai foto yang kamu bilang seperti foto prewedding... itu bukan aku.
Kamu lihat perbedaannya? Itu bukan aku, aku berani bersumpah kalau itu bukan aku!!
Aku tak tahu siapa Mas Letnan yang dia maksud di dalam foto itu, tapi itu jelas-jelas bukan aku. Aku tak pernah bertemu dengannya di Anyer, jadi bagaimana bisa aku berfoto dengannya di sana sedangkan saat itu aku sedang berada di luar negri.
Aku mengerutkan keningku… Anyer? Bagaimana bisa sang Letnan mengetahui kalau itu di Anyer, aku memerhatikan foto Leona tapi tak menemukan apapun. Aku akan menanyakannya nanti pada sang Letnan, sekarang aku kembali membuka foto selanjutnya, itu adalah foto kami berdua di Palembang dengan tangannya merangkul leherku.
Malam itu aku berhasil meyakinkanmu, tentu saja kamu akan memercayai ucapanku bahkan semua orang yang ada di Kubu mencurigai kalau antara aku dan perempuan itu tidak ada apa-apa, kami layaknya orang yang baru saling mengenal daripada orang yang sedang kasmaran. Kalau dia memang kekasihku, aku pasti selalu ingin berdua dengannya seperti aku ingin selalu bersamamu. Tapi selama di sana kami bahkan jarang sekali bertegur sapa. (Mungkin kalau nanti acaranya tayang semua orang bisa melihat bagaimana aku dan dia hanya seperti orang yang baru kenal).
Kamu yang baru saja memaafkanku harus kembali marah ketika melihat status yang baru saja di buat perempuan itu. Kamu bahkan mengancamku untuk tidak dekat-dekat dengamu sampai masalah dengannya selesai.. aaah!!! Kenapa dia mengingkari janjinya dan membuatmu kembali marah? Saat itu aku langsung memutuskan untuk membuat akun sosmed, padahal selama ini aku tak memiliki satupun akun sosmed.
Bukan untuk apa-apa aku membuat akun ini tapi agar bisa mengirim perempuan itu pesan (Aku tak memiliki no telp-nya, karena menurutku itu tidak penting!) untuk mempertanyakan kenapa dia mengingkari janjinya dan memberinya kesempatan kedua untuk membereskan semua ini. Ku harap kali ini dia bisa memegang janjinya dan membereskan semua ini.
Foto selanjutnya adalah foto yang tersebar di internet ketika aku mengantar sang Letnan ke Bandara.
Dengan susah payah akhirnya aku bisa kembali meyakinkanmu, aku berjanji kalau kali ini dia kembali melanggar janji dan menyia-nyiakan kesempatan kedua yang ku berikan, maka jangan salahkan aku kalau dunia akan mengetahui kebenarannya.
Kali ini dia menepati janjinya untuk mengakhiri semuanya, tapi dia melakukan kesalahan fatal! Dia menyeretmu kedalam masalah yang lebih besar dan tidak berdasar hingga semua orang mengarahkan telunjuknya kepadamu.
Aku tak peduli kalau dia menyeretku sejauh yang dia mau walaupun itu semua sebuah kebohongan, aku tak peduli!! Tapi ketika dia menyeretmu ke dalam pusaran ini, aku tak bisa tinggal diam lagi.
Aku tak akan memaafkannya!!
Lihat saja, kita hanya tinggal menghitung waktu ketika dunia akan mengetahui kebenarannya selama ini.
Aku membuka foto terakhir yang dia upload yang langsung membuatku mengerutkan kening sambil tersenyum. Fotoku yang sedang tertawa bersama anak-anak Kubu, kapan dia mengambil foto ini?
You are an angel… my lovely angel…
Hari itu di bandara aku mengatakan padamu kalau hatimu adalah milikku, tapi yang tidak kamu tahu kalau kamu telah menjadi pemilik hatiku semenjak pertemuan pertama kita… jadi, wahai pemilik hatiku….
Jangan sampai hatimu terluka ataupun bersedih...
Jangan pedulikan orang-orang yang hatinya penuh dengan kebencian…
Jangan pedulikan mereka yang iri padamu…
Yang harus kamu lakukan adalah tetap tersenyum dan bahagia…
Tentang mereka yang menyakitimu, biar aku yang hadapi…
__ADS_1
Hatiku terasa hangat dan bergetar setelah membaca semua itu, ada perasaan dilindungi yang membuatku tiba-tiba merasa tenang karena tahu walaupun dia tak ada disampingku dia akan selalu melindungiku.
Aku kembali melihat foto-foto yang di upload sang Letnan, membuatku tiba-tiba saja merindukannya. Rindu yang teramat sangat sampai membuat dadaku seolah-olah seperti terhimpit karena ingin memeluknya saat ini juga.
Dengan perasaan itu aku langsung menghubunginya.
”Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.” Suaraku sedikit bergetar ketika menjawab salamnya.
“Za, kenapa? Kamu nangis? Ada yang menyakitimu?”
Aku tersenyum dengan air mata berderai mendengar kekhawatirannya.
“Engga apa-apa,” jawabku dengan sedikit terisak… sungguh aku juga tak tahu kenapa aku menangis?
“Trus kenapa nangis?”
“Kangeeeen...” tangisku semakin menjadi dan aku yakin sang Letnan di seberang sana kini sedang bingung mendengarku yang tiba-tiba menangis.
“Za, jangan nangis.”
“Tapi kangen pengen ketemu… hik-hik, trus pengen meluuuk…”
“Iya, aku juga kangen, nanti aku pulang ya… sekarang berhenti dulu nangisnya.”
“Iya.. tapi susah berhentinya.” Aku benar-benar tidak tahu kenapa aku sangat cengeng saat itu, airmataku terus saja keluar walaupun aku sudah berusaha menahannya.
Ini mungkin pengaruh hormon mengingat hari ini aku sedang datang bulan, entahlah… tapi yang pasti aku sangat-sangat merindukannya hari ini, apalagi setelah aku membaca tulisannya di ig yang telah di repost oleh banyak orang yang sebagian besar adalah teman-temanku, dan dibanjiri berbagai komentar yang aku sendiri tak berani untuk membacanya, dan ku yakin kalau sang Letnan bahkan tak peduli dengan komentar-komentar itu.
“Hehehe… Za, kamu malah membuatku semakin rindu dan ingin pulang.”
Sang Letnan terdiam beberapa saat mendengar ucapanku.
“Za, kamu sudah baca yang di ig ya?”
“Iya,” jawabku sambil melap airmataku.
“Karena itu kamu nangis?”
“Iya.”
”Aku membuat itu bukan untuk membuatmu menangis.”
“Karena sudah baca itu aku jadi kangen, dan karena kangen aku jadi nangis.”
“Kangen sampai pengen meluk?”
“Iya… hehehe.”
“Aah… tahu gitu aku membuatnya dari kemarin biar bisa meluk kamu.”
“Hehehe…”
“Nanti aku pulang, Za, kamu boleh meluk atau lebih dari meluk juga boleh.”
“Hahaha… tapikan pengen meluknya juga sekarang bukan nanti.”
__ADS_1
“Tuuhkan curang.”
“Hahaha… aku ganggu gak, Mas?” aku baru sadar mungkin saja saat ini dia sedang tugas dan sibuk, dan telpku akan mengganggunya.
“Hahaha… telat nanyanya.”
“Iya, maaf tadi lupa main telp aja pagi-pagi gini.”
Aku melihat jamku yang baru menunjukan jam 7 pagi.
“Engga, kan sabtu tadi habis lari bentar terus mandi, ini baru selesai mandi.”
“Libur ya kalau sabtu-minggu.”
“Libur”.
“Oh…” aku ingin nanya kenapa dia gak pulang? Tapi aku ingat kalau dia di Palembang, yang memerlukan waktu 18 jam lewat darat dan cukup mahal kalau lewat udara.
“Kok cuma oh doang.”
“Hehehe… nanti mau pergi?”
“Iya.”
“Oh.”
“Kok oh lagi… gak penasaran mau pergi kemana? Sama siapa? Mau ngapain?”
“Penasaran.”
“Terus kenapa gak nanya?”
“Emang gak marah kalau aku nanya gitu?”
“Kalau kamu yang nanya-nya mah aku gak marah.”
“Hehehe… gak jadi nanya ah.”
“Kenapa?”
“Nanti Mas Yudha kesenangan aku tanya-tanya.”
“Hahahaha… dasar.”
“Hehehe… yang penting jangan macam-macam, awas aja kalau sampai macam-macam!”
“Hahaha… tanang aja, sekarang semua orang sudah tahu kalau aku hanya milik kamu, Za, jadi gak mungkin bisa macam-macam.”
“Hehehe… Ya udah hati-hati, nanti hubungi aku lagi kalau dah sempat.”
“Siap!”
“Assalamualaikum, Mas Letnan.”
“Wa’alaikumsalam, sayang.”
“Hahahaha…” Aku tertawa sambil menutup teleponku. Sayang… dia memanggilku sayang, dan mulai saat ini aku tak menolaknya lagi untuk dipanggil sayang.
__ADS_1
*****