Pemilik Hati #1

Pemilik Hati #1
Extra Part 1


__ADS_3

...Yudha, pov 1...


Yogyakarta, 2016


Aku berdiri di bawah pancuran air hangat setelah berdiri di bawah hujan yang mengguyur kota Yogyakarta. Apa ini yang dirasakan olehnya dulu ketika berkeliling kota Bandung di bawah derasnya hujan? Sesakit inikah?


Aku masih mengingat tatapan terluka dengan wajah pucat pasinya malam tadi ketika dia harus menyaksikan pertunanganku dengan perempuan lain. Percayalah aku merasakan kesakitan yang sama karena aku tak pernah membayangkan kalau aku harus bertunangan dengan perempuan lain selain dia.


Hatiku terluka melihat airmatanya bergulir dalam pelukan Mamah yang sama-sama menangis karena merindukannya. Mamah sering kali mengatakan, “Mamah kangen, Kekey.” Seandainya Mamah tahu… aku jauh merindukannya, Mah! Sekarang Mamah bisa memeluknya sepuas Mamah, tapi aku? Aku bahkan tak berani hanya untuk menerima uluran tangannya ketika mengucapkan selamat kepadaku.


Darahku berdesir, jantungku menggila ketika tangan kami saling berjabat dan kurasa tangannya sedingin es dan gemetar berbanding terbalik dengan tatapannya yang berapi-api, sebelum akhirnya dia pamit untuk pulang. Aku ingin menjadi egois dengan melarangnya pergi, aku masih ingin melihatnya, aku masih merindukannya. Tapi ku tahu hatinya kini terlalu sakit untuk tetap berada di sana… di pesta pertunanganku.


Papah telah kembali sepulang mengantarnya menaiki taxi karena dia terlalu keras kepala untuk diantar supir. Aku melihat batik yang dikenakan Papah kini sedikit kusut dan basah, dan aku tahu kenapa itu bisa terjadi. Dia menangis, pasti dia menangis dan itu karena aku! Aku membenci diriku sendiri karena membuatnya menangis dan terluka seperti itu!


Malamnya aku tak bisa tidur, duduk di beranda rumah yang kami tempati selama di Yogya, merindukannya seperti malam-malam sebelumnya sampai akhirnya setelah shalat subuh aku baru bisa terlelap. Aku tertidur sampai siang, terbangun hanya untuk sholat dzuhur dan kembali tertidur, bahkan aku lupa kalau hari ini ada rencana pergi dengan tuanganku, Widy.


Aku bermimpi bertemu dengannya, dalam mimpi itu dia tertawa membuatku tersenyum lebar karena sudah lama sekali aku rindu mendengar tawanya. Tapi suara itu semakin jelas menyadarkanku kalau itu bukan mimpi. Aku terduduk berusaha meyakinkan kalau itu adalah tawanya, dan itu memang dia!


Tanpa berpikir panjang aku langsung keluar dan di sanalah dia berada duduk dan tertawa bersama Mamah, tapi tawanya langsung hilang ketika melihatku, dia langsung pergi tak menghiraukanku yang berteriak memberitahunya kalau saat ini sedang hujan.


Sial! Seharusnya tadi aku tetap bersembunyi di dalam kamar sampai hujan benar-benar deras dan dia mau tak mau terjebak di sini, bersamaku dan Mamah. Aku tak peduli kalau dia akan menatapku dengan penuh amarah, yang pasti bisa melihatnya lagi adalah sebuah hadiah paling berharga untukku. Aku egois? Memang, tapi aku tak peduli...


Aku tersadar betapa keras kepalanya dia, dia pasti menolak untuk diantar supir membuatku berlari masuk ke kamar dan mengambil jaket. Dia tidak boleh kehujanan! Dia tidak boleh sakit! Aku kembali berlari keluar dan tebakanku benar, dia kini sedang berjalan di bawah guyuran hujan.


Aku berlari menyusulnya, memakaikannya jaketku sebagai pelindung kepalanya. Tapi dia menolaknya, sorot matanya menyiratkan rasa amarah dan juga terluka yang teramat sangat membuatku mematung, dengan hati ikut terluka. Aku hanya bisa menatapnya berlari menembus hujan meninggalkanku yang masih berdiri tak bergerak di sana.


Sebuah mobil memasuki pekarangan rumah, Widy keluar memakai payung diantarkan oleh orang yang juga mengenalnya membuatku tanpa berpikir panjang langsung menghampirinya.


“Keyza, baru saja pergi dari sini, tolong susul dia, antarkan dia pulang, jangan sampai dia kehujanan!”


Aku melihatnya sedikit terkejut sebelum akhirnya pergi meninggalkanku yang masih berdiri dengan hati yang tiba-tiba terasa kosong.


Ketukan di pintu kamar mandi membuatku tersadar dari lamunanku.


“Yudha.. kamu baik-baik saja?” terdengar suara Mamah memanggilku menyadarkanku kalau dari tadi aku hanya berdiri mematung di bawah pancuran air panas.


“Iya, Mah, ini sudah selesai.”


Dengan cepat aku memakai bajuku lalu keluar dari kamar mandi.


“Kamu… gak apa-apa?”


Aku mengangguk berusaha tersenyum, “Tidak usah khawatir, Yudha baik-baik saja.” Aku bisa melihat Mamah tak memercayai ucapanku walaupun akhirnya dia mengangguk mengerti.

__ADS_1


Aku duduk di depan Widy yang tengah berbicara pada Mamah kenapa dia tak diajak buat beli oleh-oleh.


“Tante kira kamu lagi pergi sama Yudha, makanya tante pergi berdua Kekey tadi.”


“Iya, tadinya mau pergi tapi ditunggu-tunggu Mas Yudhanya gak datang.”


“Aku ketiduran.” jawabku sambil mengambil cangkir berisi kopi yang telah dibuatkan Mamah.


Dengan cangkir di tanganku aku berjalan menuju serambi kemudian duduk di kursi, hujan sudah berhenti meninggalkan udara sore yang sejuk membuat pikiranku melayang padanya, apa dia sudah sampai di rumah? Apa dia baik-baik saja? Dia tidak menangis lagikan?


Aku membuang napas berat memikirkan pertanyaan bodoh itu, bagaimana bisa dia baik-baik saja setelah melihat acara semalam. Matanya telah mengatakan semuanya tanpa harus diucapkan… marah, terluka, dikhianati, aku bisa melihat itu semua dari sorot matanya yang dulu biasa menatapku dengan teduh penuh cinta dan kasih sayang. Sekarang aku telah kehilangan itu semua… dan itu adalah hukuman yang harus ku terima.


****


Stasiun Tuga-Yogyakarta.


Aku terkejut melihat kedatangannya dengan pria lain malam itu untuk mengantarkan kepulangan kami, atau lebih tepatnya untuk mengantarkan kepulangan kedua orangtuaku yang langsung dia peluk penuh kasih sayang. Sedangkan aku? Dia menganggapku tak kasat mata, dan itu adalah hukuman lain yang harus ku terima.


Pikiranku melayang pada saat-saat kami harus berpisah di bandara atau terminal bis ketika aku harus kembali bertugas. Tangan kami saling menggenggam tak ingin terlepas, rasa rindu sudah kembali membakar dada bahkan sebelum aku pergi, kata-kata janji untuk saling menjaga hati dan juga cinta seolah menjadi vitamin yang membuat kami bertahan sampai waktunya kami bertemu kembali.


Tapi kini yang dia ucapakan adalah, “Hati-hati… jangan selingkuh.”


Sebuah kalimat yang dia ucapkan dengan mata terluka yang mengingatkanku akan kesalahan yang telah kulakukan. Dan percayalah setiap aku melihat mata itu membuat dadaku terasa terhimpit batu besar yang sangat menyesakan.


Aku berkata untuknya yang hanya acuh melihat sekililing, bukankah pernah ku katakan melihatnya mengacuhkan dan mendiamkanku adalah hal yang paling membuatku menderita, dan aku tahu aku berhak untuk itu, tapi kali ini hanya kali ini aku ingin egois dengan mendapatkan perhatiannya.


Dan aku berhasil! Aku tahu bagaimana caranya untuk mendapat perhatiannya, walaupun terkesan seperti anak kecil tapi aku tak peduli! Untuk terakhir kalinya aku ingin dia melihatku walaupun itu berupa perdebatan yang tak berarti.


“Ingat! Jangan macam-macam!” ancamku serius di depan wajahnya, “Aku pergi dulu... Assalamualaikum!” Aku membalikan badan hanya karena harus menahan diri untuk tidak memeluk dan mengecupnya untuk mengucapkan kalau aku sangat merindukannya.


“Wa’alaikumsalam!” serunya tak kalah tajam membuatku tersenyum sambil berjalan menaiki gerbong KA… dan aku lupa kalau aku belum mengucapkan salam perpisahan untuk tunanganku sendiri.


****


Sebulan setelah pertunanganku, aku semakin larut dalam latihan fisik. Setiap memiliki waktu luang aku habiskan di lapangan Gatot tempat khusus latihan para anggota Kopassus, area lari, halang rintang, panjat tebing, memanah dan menembak menjadi teman setiaku sebulan ini.


Tak berapa lama setelah malam pertunangan, aku mendapat kabar dari orangtuaku kalau pihak perempuan memaksa untuk memajukan tanggal pernikahan. Aku tahu cepat atau lambat hari itu akan tiba tapi tidak secepat ini karena hatiku masih belum kembali padaku… hatiku masih menjadi miliknya.


“Kamu harus membereskan masalahmu dengan Kekey sebelum menikah, Yud.”


“Kami sudah putus, Pah.”


“Itu tidak cukup, hubunganmu dan Kekey tidak akan bisa diselesaikan begitu saja dengan kata putus.”

__ADS_1


Aku terdiam dengan pikiran dan perasaan yang bercampur aduk.


“Kalian saling mengikat hati kalian terlalu kuat… Papah bisa melihat kemarahan, kekecewaan dan kesedihan dimatanya, tapi Papah juga masih merasakan cinta di sana, begitu juga dengan kamu.”


Aku terdiam mendengar ucapan Papah malam itu ketika dia memberitahuku tentang keputusan pihak keluarga perempuan.


“Ini adalah keputusanmu sendiri untuk menikahi Widy dan meninggalkan Kekey, kamu harus bertanggung jawab dengan keputusanmu itu.”


Aku masih terdiam tak bisa mengatakan apa-apa, tantu saja ini keputusanku… keputusan yang harus kuambil walaupun akan menyesalinya seumur hidup.


“Sudah waktunya kamu melepas ikatan yang mengikatmu dengannya.”


Melepaskannya? Aku membuang napas berat mengerti maksud ucapan Papah. Sampai saat ini mungkin aku telah memutuskannya dengan sangat kejam, tapi aku masih menggenggam hatinya dengan sangat kuat tak ingin kehilangannya. Hati yang seharusnya ku jaga tapi kini sudah terluka olehku sendiri.


Mungkin sekarang adalah waktu untukku melepaskannya walau itu akan membuat kami semakin terluka.


****


Bukit Bintang, Yogyakarta.


Kami baru saja pulang dari pantai Baron, di sana aku melihatnya tertawa lepas setelah sekian lama, membuatku ikut tersenyum dan menyimpannya dalam memori di kepala dan hatiku untuk kunikmati dikala kesendirianku.


Tapi kini tawa itu telah hilang berganti kesedihan setelah mengetahui kalau pernikahanku akan dipercepat. Hatiku ikut sakit melihatnya saat dia menatapku tak percaya, percayalah aku juga tak ingin memercayainya… tapi inilah jalan hidup yang telah ku pilih dan aku harus mempertanggung jawabkannya.


Setelah memantapkan hati, aku duduk di sampingnya memandang pemandangan yang hampir sama pada saat di Bandung ketika untuk pertama kalinya kami mengungkapkan kata cinta. Tapi kini suasananya berbeda, tak ada kata cinta dan canda tawa, yang ada hanyalah keheningan yang menyelimuti bertemankan senja yang temaran.


“Apa kamu mencintainya?”


Aku diam tak menjawab pertanyaan itu, hatiku terasa sakit mendengar suaranya yang bergetar sarat akan penderitaan dan juga amarah. Sungguh aku ingin memeluk dan menenangkannya saat itu, tapi itu hanya akan membuat simpul takdir yang mengikat kami akan semakin erat dan semakin menyesakan.


“Jawab aku! Apa kamu mencintainya?”


Dia kembali bertanya dengan penekanan yang lebih kuat dan mata yang semakin membara membuatku memutuskan kalau inilah saatnya aku memutuskan ikatan takdir di antara kami.


“Iya! Aku mencintainya dan harus mencintanya!... aku mengkhianatimu karena aku mencintainya!”


Hatiku merasakan sakit yang sama ketika melihat matanya yang menggambarkan betapa menderitanya dia saat ini, wajahnya memucat dan bisa kulihat bibirnya bergetar menahan tangis. Di dalam saku jaket aku mengepalkan jari-jari tanganku berusaha menahan untuk tidak menariknya ke dalam pelukanku dan mengatakan kalau hanya dia satu-satunya orang yang kucintai tak ada perempuan lain selain dia!


“Selamat tinggal… berbahagialah.”


Akhirnya dengan perasaan hancur aku memutuskan ikatan di antara kami, ikatan yang selama ini membuatku bertahan, ikatan yang membuatku pernah merasakan mencintai dan dicintai dengan teramat sangat, dan ikatan yang kini melilitku seorang diri.


****

__ADS_1


Bonus cemilan siang buat semuany ayang berhasil membuat Letnan dan Za masuk 50 besar 👏👏👏👏 terimakasih banyak atas dukungannya selama ini 🙇‍♀️😘😘😘


__ADS_2