
Setelah sholat kami bermain bersama anak-anak Kubu sambil bercerita tentang cita-cita. Pelajaran bukan hanya tentang menulis membaca dan berhitung, tapi kami juga menanamkan pelajaran lainnya, seperti tentang alam, dunia luar, cita-cita dan yang terpenting adalah tentang moral dan agama. Dan kami melakukan itu sambil bermain.
Setelah istirahat siang sebentar dan sholat ashar kami ikut bersama dengan Mamak-Mamak dan anak-anak ke sungai untuk mandi, tapi seperti kemarin kami lebih memilih untuk mandi di pancuran setelah sebelumnya hanya main air sambiil duduk-duduk di atas batu sungai yang besar.
Sambil mandi Mamak bercerita kalau dulu sangai ini tak sedangkal sekarang, airnya lebih jernih lagi dan arusnya cukup deras, batu-batu besar itu dulu hanya terlihat atasnya saja karena terendam air, dan mereka biasa berenang di sana dengan menggunakan kain sarung. Tapi sekarang boro-boro bisa berenang, paling cuma berendam saja karena air sungai yang paling dalam hanya di atas lututku saja, dan kini kami bisa dengan santai duduk di atas batu.
Kami kembali kepemukiman sekitar pukul 5.30 sore bersamaan dengan datangnya mobil operasional yang memang disediakan untuk keperluan selama kami tinggal di sana. Aku melihat Fadhil, Leona, Marsya dan seorang cameraman turun dari dalam mobil tapi yang membuatku terkejut adalah sang Letnan turun dari sisi pengemudi, yang artinya dia ikut pergi bersama mereka.
Ada sedikit kekecewaan yang kurasakan saat melihat itu, tapi aku berusaha bersikap biasa dengan terus berjalan menuju rumah.
“Za!”
Aku berhenti dan melihat sang Letnan berjalan dengan cepat ke arahku dengan kedua tangan menenteng sesuatu yang setelah dekat aku tahu itu sleeping bag.
“Ini! tadi aku dan Fadhil meminjamnya dari kantor.”
“Waah, sleeping bag! Ah akhirnya kita bisa tidur dengan hangat nanti malam, makasih banyak, Mas,” ucap Kak Yoan sambil mengambil sleeping bag dari tangan sang Letnan, diikuti taman-teman yang lain dengan senyum lebar.
“Makasih.” Aku mengambil sleeping bag bagianku, “Makasih juga untuk jaketnya,” lanjutku sambil berjalan meninggalkannya.
Semalam entah bagaimana dan siapa yang menyelimutiku dengan jaket tentara yang besar dan hangat. Ketika subuh terbangun aku melihat tubuhku sudah terbungkus jaket dengan hangat, aku bisa mengetahui itu adalah milik sang Letnan karena nama yang terpasang di dadanya ‘Yudha Adipati P’. Beberapa saat aku memeluk jaket itu sambil mencium aroma khas sang Letnan, aroma yang sama yang kuingat ketika saat di Ciwidey, sebelum akhinya aku keluar dan menyampirkannya di tambang jemuran.
Aku bingung dengan perasaanku sendiri, disatu sisi aku masih merasa kecewa tapi di sisi lain melihatnya memberikan perhatian-perhatian kecil seperti ini membuat perasaanku yang sudah mulai bisa sedikit melupakannya kembali tumbuh, tapi aku juga tahu kalau perasaan itu tidak boleh ada karena kini sang Letnan telah jadi milik Leona, yang kini tengah memerhatikan kami.
Aku masuk ke dalam rumah dengan perasaan dilema yang begitu kuat. Sebenarnya solusinya sudah terlihat dan aku tahu itu, aku hanya harus melupakannya dan move on! Tapi kalau berbicara tentang hati, percayalah itu tak semudah yang dibayangkan dan diucapkan.
Setelah sholat magrib aku ikut bergabung bersama dengan teman-teman yang sedang berusaha membuat api unggun. Jangan samakan magrib di Kubu sama dengan magrib di kota-kota lain, suasana sudah terasa hening dan gelap, lampu-lampu kecil menyala dari rumah-rumah warga yang sudah mulai beristirahat. Aku pikir mungkin karena keberadaan kami saja malam di sini terasa masih ramai, tapi kalau nanti kami sudah pergi maka suasana akan kembali hening seperti sebelumnya.
Aku duduk di samping Teh Vita, Kak Yoan, Veny dan Yuni yang lagi makan kerupuk kemplang yang dibeli Fadhil ketika ke kota tadi siang. Tak lama kemudian ikut bergabung Leona, Marsya, Dony dan Ben yang membawa makanan ringan untuk bergabung dengan kami.
“Tadi rekaman di luar?”
“Iya, tadi ceritanya kita keluar buat beli beberapa keperluan buat di sini.” Leona menjawab pertanyaan Teh Vita.
“Rekaman alasan doang padahal pacaran,” ucap Ben membuat semua tertawa… kecuali aku.
“Ah lo, sirik aja kalau ada kesempatan jangan disia-siain… pamali.” Leonna berkata membuat semua orang kembali tertawa… kecuali aku.
“Tuh, Key, katanya jangan disia-siain pamali, besok kita keluar yuk?” ajak Ben yang duduk di sampingku, sekilas aku melihat ke arahnya kemudian kembali menatap ke depan. Aku memang menyukainya sebagai seorang penggemar, aku menyukai suara dan lagu-lagunya tidak lebih dari itu. Jadi kalau dia pikir aku akan dengan gampang diajak jalan hanya karena aku mengidolakannya… dia salah besar.
“Awas, Key, Ben lagi usaha tuh!” seru Dony sambil tertawa.
“Besok ada dari Dinkes yang datang periksa warga Kubu, jadi gak bisa kemana-mana.”
__ADS_1
“Hahahaha… Ben ditolak.”
“Bakal jadi berita utama ini.”
Semua orang tertawa… kecuali aku. Aku masih asik melihat para pria mendirikan api unggun, sebenarnya yang paling menarik perhatianku adalah pria berkaos putih dengan celana jeans biru tua yang kini menatapku tajam, membuatku menatapnya bingung. Kenapa dia menatapku seperti itu?
“Za!” dia berteriak cukup kencang untuk jarak kami yang hanya beberapa meter, membuat orang-orang yang duduk bersamaku menatap ke arahnya.
Aku hanya mengangkat alis sebagai balasannya.
“Bikinin kopi.” Dia menatap sekelilingnya seolah tengah menghitung, “15!”
“Hah?!” hanya itu yang keluar dari mulutku bingung, kenapa dia tiba-tiba minta dibikinin kopi?
“Bikinin kopi 15, cepetan!”
Aku membuang napas kesal sambil berdiri, “Dikiranya tukang kopi apa!” Aku mengerutu sambil berjalan mendekatinya. Jujur saja, malam ini aku benar-benar hanya ingin duduk santai, ngobrol sama teman-teman tanpa harus melakukan apapun.
“Apa?” aku kembali bertanya dengan wajah cemberut.
“Bikinin kopi 15.”
“Buat siapa?”
“Tapi mereka gak minta.”
“Pada mau kopi gak?” sang Letnan bertanya kepada Agus, Mas Juna dan yang lainnya yang langsung menjawab mau dengan semangat.
“Tuh mereka mau kopi katanya.”
Aku membuang napas berat sambil menatap sekeliling, saat ini kami berdiri berhadap-hadapan seperti tontonan orang-orang yang tadi duduk bersamaku.
“Tapi mereka cuma.” Mataku berkeliling menghitung para pria yang belum berhasil menyalakanapi unggun, “6 orang.”
“Yang lain bakal ikut bergabung nanti.”
“Ya udah bikinnya nanti aja berarti.”
“Kenapa gak sekarang?”
“Karena gak ada air panasnya.”
“Ya sekarang masak dulu air panasnya.”
__ADS_1
“Kan apinya belum nyala.”
Sang Letnan melihat ke arah api unggun yang belum menyala.
“Kan ada kompornya Fadhil.”
“Kan masak airnya banyak.”
“Jadi?”
“Jadi… ya masak airnya harus pake panci yang gede.”
“Terus?”
“Terus… kompornya Fadhil gak bakalan kuat, terus nanti patah, terus nanti Fadhil marah minta ganti.”
“Kompornya kuat kok, Key, tenang saja,” ucap Fadhil sambil tersenyum santai. Aah, Fadhil tak bisakan sekali ini saja kau tidak sebaik itu?
“Tuh kompornya kuat kata Fadhil, kalau rusak nanti aku yang ganti.”
Aku memutar bola mataku karena tak ada lagi alasan ku untuk menolak membuatkannya kopi. Dengan masih cemberut aku berjalan bersiap untuk masak air.
“Za!”
“Apa lagi?!” aku menjawab tanpa menghentikan langkahku.
“Panci sama airnya di sini.”
Aku menghentikan langkahku sambil membuang napas berat, aku kembali berbalik masih dengan cemberut.
“Tahu!” jawabku dengan jutek.
“Terus tadi mau kemana?”
“Nyari ojek mau pulang!”
“Hahahahaha.”
Tawanya malam itu benar-benar membuatku kesal hingga menginjak kakinya sekuat tenaga ketika melewatinya membuatnya meringis kesakitan.
“Maaf gak sengaja,” ucapku dengan senyum polos dan kini gilirannya yang menatapku tajam.
Aaah untuk kali ini aku benar-benar menikmati rasanya balas dendam.
__ADS_1
****