
Aku belum tersadar dari keterkejutan mendengar tentang identitas Leona yang sebenarnya.
“Kamu bohongkan?”
“Kamu gak percaya sama aku, Za?”
Aku hanya menatapnya penuh selidik sebelum menjawab pertanyaannya.
“Kamu terlalu sadis kalau mengatakan Bang Eddy berselingkuh dari istrinya.”
“Itu kenyataannya, Za!” Seru sang Letnan dengan putus asa karena aku tak memercayainya.
“Ketika sampai di Indonesia aku terkejut dengan pemberitaan tentangku dan Leona, perempuan yang baru kutemui sekali. Tak ingin membuatmu salah paham aku menemui Bang Eddy untuk meminta no telepon-mu, dan bilang aku akan memberitahu wartawan kalau aku tak ada hubungan apa-apa dengan Leona. Tapi Bang Eddy menghentikanku… dia menceritakan semuanya. Dia bertemu Leona sebulan setelah pernikahannya, itu artinya aku sudah berada di Myanmar. Awalnya mereka hanya berteman seperti biasa tapi lama kelamaan mereka memiliki hubungan khusus.”
Aku masih mendengarkannya tak percaya kalau Bang Eddy, orang yang ku hormati akan tega berselingkuh ketika baru saja beberapa bulan menikah.
“Beberapa orang mulai mencurigai hubungan mereka, Bang Eddy tak mau istrinya yang lagi hamil mengetahui tentang perselingkuhannya, dan Leona juga tak mau kalau dibilang perebut suami orang kalau sampai hubungan mereka tersebar ke publik.”
“Hah! Dia memang perebut suami orang kok!” Aku berkata dengan marah mendengar cerita sang Letnan.
“Entah kebetulan atau apa, aku dan Leona bertemu di Myanmar seperti yang kamu tahu, kami berfoto saat acara di Kedubes dan saat makan siang, tapi kami tak pernah berfoto berdua, Za, aku berani bersumpah.”
Aku menatap sang Letnan yang terlihat bersungguh-sungguh membuatku membuang napas berat.
“Terus?”
“Terus…”
“Lanjutin ceritanya.”
“Oh…” aku bisa melihat sang Letnan sedikit tersenyum melihatku yang mulai memercayai penjelasannya. Karena jujur saja semua terlihat lebih masuk akal dengan hasil pengamatan Kak Yoan yang mengatakan mereka lebih terlihat seperti orang asing daripada sepasang kekasih.
“Sebulan sebelum kepulangaku ke tanah air, berita tentang perselingkuhan Leona dengan salah seorang TNI mulai tercium oleh media, karena itulah untuk menutupi perselingkuhan mereka, Leona mengupload foto-foto kami ketika di Myanmar dan mengatakan kalau aku adalah kekasihnya. Apa kamu tak pernah merasa aneh kenapa foto-foto ketika di Myanmar di upload setelah berbulan-bulan?”
Aku terdiam beberapa saat mencoba mengingat kejadian waktu itu. Dan aku mulai merasakan ada yang janggal ketika mengingat kalau foto-foto itu tersebar di medsos setelah tujuh bulan acara di Myanmar.
“Terus kenapa diam saja? Kenapa harus Mas Yudha? Kenapa bukan yang lain?”
“Karena hanya aku orang yang Bang Eddy kenal di dalam foto itu dan mungkin karena aku paling tampan?”
Sang Letnan mencoba bercanda, tapi aku hanya mentapnya dingin sambil mengangkat alis, “Gak lucu! Lanjutin dulu ceritanya.”
“Baiklah,” ucap sang Letnan nurut dan pasrah.
“Mereka pikir dengan menggunakan aku yang sedang tugas di luar dan tak bisa mengakses berita yang ada di Indonesia lebih memudahkan mereka untuk merekayasa berita itu, dan setibanya aku di Indonesia Bang Eddy meminta tolong padaku agar berita bohong itu jangan sampai terbongkar dulu, apalagi kalau sampai diketahui oleh istrinya yang sedang hamil, dan kalau sampai kesatuan mengetahuinya maka dia juga akan terkena sangsi. Dia berjanji akan membereskan semuanya secepatnya.”
“Dan kamu setuju begitu saja?” tanyaku tak percaya mendengarnya, “Apa tak pernah terpikir bagaimana perasaanku ketika mengetahui itu?”
“Bang Eddy bilang kalau kamu sudah memiliki kekasih baru.”
“Dan kamu percaya?”
“Sialnya, iya! Dengan bodohnya aku percaya kalau kamu sudah memiliki kekasih baru dan bahagia, Za. Kerena itulah aku memutuskan ikut bergabung bertugas ke sini karena berharap bisa melupakanmu… kamu seharusnya tahu bagaimana aku sangat bahagia ketika akan pulang ke Indonesia dan akhirnya bisa bertemu dengan kamu, tapi akhirnya kecewa ketika mengetahui kalau kamu sudah memiliki kekasih… aku tak tahu kalau kalau laki-laki yang dibilang Bang Eddy itu ternyata Arga. ”
Aku menatap mata sang Letnan dan aku bisa melihat kalau yang diucapkannya adalah sebuah kejujuran, dan itu membuatku membuang napas berat.
“Jadi semua ini berawal dari perselingkuhan Bang Eddy?”
“Iya.”
“Bang Eddy menggunakan Mas Yudha untuk menutupi perselingkuhannya dari istri dan juga kesatuan, dan Leona menggunakannya untuk nama baiknya karena tidak mau dianggap perebut suami orang?”
“Iya.”
“Dan Mas Yudha diam saja karena…”
“Karena aku tak mau menyakiti Renata yang sedang hamil dan Bang Eddy yang akan terkena sangsi.”
__ADS_1
“Dan wanita itu karena akan disebut perebut suami orang.”
Mas Yudha mengangguk lemah.
“Tapi, Mas Yudha menyakitiku!”
“Karena ku pikir kau sudah punya kekasih.”
“Kalau-pun iya aku sudah memiliki kekasih itu karena gosip sialan yang bilang kalau Mas Yudha berpacaran dengan… wanita itu!” aku menggeram marah, “Harusnya Mas Yudha tahu itu!”
Sang Letnan hanya terdiam melihatku yang kembali terlihat sangat marah, sebenarnya yang ku rasa sekarang lebih kepada kecewa daripada marah.
“Mas Yudha pikir Istrinya Bang Eddy bakalan berterimakasih karena telah menyembunyikan perselingkuhan suaminya dari dia? Tidak, Mas! Dia akan sama marah dan kecewanya karena dia pikir Mas Yudha sudah bekerja sama membohonginya.”
Mas Yudha terlihat terkejut mendengar ucapanku, dan ku harap dia menyadari kalau yang dia lakukan itu salah.
“Dan kalau sampai publik tahu tentang perselingkuhan Bang Eddy dan Leona, itu resiko mereka! Mereka harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah mereka lakukan. Mereka sudah dewasa, Mas, mereka harus belajar menanggung resiko dari setiap tindakan yang mereka lakukan… apapun itu! ingat Mas Eddy itu tentara yang seharusnya sangat mengerti apa arti sebuah tanggung jawab… mereka bermain api, berarti mereka harus siap-siap terbakar.”
Sang Letnan terdiam melihatku yang sedang menumpahkan amarah padanya.
“Kau benar, maafkan aku… seharusnya aku tak diam saja.”
Aku membuang napas berat mencoba menenangkan jantungku yang seolah hampir meledak, aku kembali membuang napas sambil berdiri disusul sang Letnan yang juga ikut berdiri di hadapanku. Sambil menatap matanya aku berkata.
“Mas Yudha pikir dengan diam saja maka tidak akan ada yang tersakiti… istri Bang Eddy tidak akan merasa dikhianati suaminya, Bang Eddy tidak akan terkena sangsi dan Leona tetap akan memiliki nama baik sebagai seorang artis yang baik hati, tapi mas Yudha lupa kalau ada aku… orang yang pertama sakit hati karena mendengar kabar itu.”
“Maafin aku, Za, aku tak bermaksud seperti itu.”
“Tapi kini aku tahu apa arti dan posisi diriku di hati Mas Yudha... aku tak memiliki arti apa-apa untukmu dan berada diuturan terakhir setelah teman-temanmu dan juga Leona, perempuan yang baru saja kau kenal.” ucapku sambil berbalik meninggalkan sang Letnan.
“Za! Za! Tunggu!” Sang Letnan mencengkram tanganku mencoba menghentikanku, ia memutar tubuhku menghadapnya.
“Bukan seperti itu, Za… kamu sangat berarti untukku, Za, kamu tahu itu!”
“Aku tidak tahu… aku benar-benar tidak tahu.” Aku menggelengkan kepalaku putus asa, dan jujur saja aku tak sanggup lagi untuk berada di sana lebih lama lagi.
Aku bisa melihat kesungguhan dari sorot matanya yang menatap mataku, kedua tangannya menggenggam tanganku erat.
“Kemarin aku berbicara dengan Leona memintanya untuk mengakhiri ini semua, dia janji setibanya di Jakarta dia akan membereskannya, aku juga akan berbicara dengan Bang Eddy… aku janji, Za, aku akan membereskan kekacauan ini secepatnya.. jadi ku mohon maafin aku, Za.”
Sekali lagi aku melihat kesungguhan di dalam sorot matanya membuatku tertunduk melihat tanganku dalam genggamannya yang kuat seolah dia tak ingin melepaskannya, melihatnya seperti itu membuat hatiku mulai luluh, karena jujur saja dalam hatiku terdalam aku sangat mengerti posisinya saat ini, dan aku juga sangat paham alasan dia mengambil keputusan seperti itu. Tapi perasaan egoisku tak ingin mengakuinya dan memaafkannya begitu saja… tidak akan!
“Mas Yudha berbicara dengan Leona?” tanyaku dengan mata masih menatap tangan kami yang bertautan.
“Iya.”
Aku kini menatap matanya yang masih menatapku dengan perasaan bersalah, dan itu membuat hatiku semakin luluh.
“Berdua?”
“I-iya… tidak! Ada Fadhil dan yang lainnya juga.”
Dia mengubah jawabannya setelah melihat mataku membulat menatapnya marah.
“Berdua atau sama yang lainnya?”
Aku melihat sang Letnan menarik napas dalam-dalam terlihat putus asa, dan itu sempat membuatku merasa kasihan. Tapi tentu saja aku menahannya, jangan harap aku akan memaafkannya begitu saja.
“Za, aku gak bisa ngomongin soal itu kalau ada yang lain, jadi aku ngobrol berdua… maaf.”
“Ngomongin apa aja?”
“Yang tadi aku bilang supaya dia menghentikan kebohongan ini setibanya di Jakarta.”
“Terus?”
“Terus dia bilang iya, dia akan membereskannya setibanya di Jakarta.”
__ADS_1
“Terus?”
“Terus…?”
“Terus ngobrolin apa lagi?”
“Gak ada lagi, cuma itu aja… beneran, Za, sesudah itu aku langsung nyusul Fadhil sama yang lainnya ke restoran.”
Aku menatapnya dengan penuh selidik membuatnya kembali menarik napas dan membuangnya dengan putus asa.
“Aku serius, Za, aku gak bohong.”
“Jadi kalian makan siang bareng… lagi?!”
“Bukan cuma berdua, ada Fadhil juga.”
“Foto-foto lagi kaya di Myanmar?”
Aku bertanya dengan mata terus menatapnya tajam, beberapa saat sang Letnan terlihat berpikir kemudian meringis sambil mengangguk membuatku menghentakan tangan hingga genggaman kami terlepas.
“Tapi gak cuma berdua, Za, bareng yang lain juga.” Cepat-cepat dia menjelaskan kondisi saat itu setelah melihatku marah.
“Biar ku tebak, kamu duduk di sampingnya?”
Sang Letnan kembali meringis sambil mengangguk, “Itu terpaksa, Za, karena gak ada lagi tempat duduk.”
Aku mengambil napas dalam-dalam kemudian menatapnya dengan kesal… sungguh, ingin sekali aku berteriak di depan mukanya saat itu… apa dia terlalu baik, polos atau bodoh? Aaaah! Aku sungguh bingung bagaiman bisa dia lulus menjadi anggota pasukan Garuda!
“Biar kuberi tahu! Saat di Myanmar juga kalian tidak makan berduakan?”
“Iya.”
“Dan lihat apa yang bisa dia lakukan dengan foto-foto itu? dia bisa mengeditnya seolah-olah kalian cuma berdua lalu menguploadnya di sosmed dan semua orang percaya kalau kalian pacaran. Dan sekarang… aku sangat yakin dia juga akan menguploadnya di sosmed untuk meyakinkan semua orang kalau kalian benar-benar pacaran. Aku bahkan bisa membayangkan apa yang dia tulis… ‘makan siang bersama Mas Letnan di sela-sela kegiatan kami di suku anak dalam’.”
Sang Letnan seperti baru sadar akan itu, beberapa saat aku sempat melihatnya marah tapi tak tahu bagaimana caranya dia bisa kembali bersikap normal. Ia menggenggam kedua tanganku yang masih kesal, matanya menatap mataku dengan lembut.
“Aku akan memastikan itu tidak akan terjadi.” Sang Letnan berkata berusaha menenangkanku yang masih kesal, “Sekarang aku ada di sini, aku bisa langsung bertindak kalau mereka melakukan sesuatu, tidak seperti kemarin... aku janji, Za, aku tak akan diam saja kali ini.”
Mendengarkan ucapan sang Letnan membuatku menatapnya untuk beberapa saat dan kembali aku melihat kesungguhan di dalam sorot matanya membuatku luluh, aku menunduk melihat tanganku yang kembali dalam genggamannya, menyadari bagaimana sang Letnan seolah takut kehilangaku membuatku tak tahu lagi harus berkata apa, selain,
“Janji?” hanya untuk memastikan kalau kali ini dia akan berada disampingku untuk menjaga hatiku.
“Janji,” ucapnya lembut, dan itu cukup membuat hatiku sedikit tenang karena tahu dia tak akan melanggar janjinya.
Beberapa saat kami terdiam dengan tangan masih bertautan.
“Jadi… sudah gak marah lagi?”
Aku menatap matanya yang tertunduk menatapku dengan lembut.
“Sedikit.”
Sang Letnan tersenyum mendengar jawabanku kemudian mengangguk mengerti.
“Ya sudah tapi jangan lama-lama marahnya.”
“Kenapa?”
“Marahnya ngegemisin tapi juga nakutin.” Sang Letnan seolah bergidik ketika mengatakan kalau aku nakutin membuatku cemberut.
“Hahaha… tuhkan gemesin,” ucap sang Letnan sambil mencubit kedua pipiku membuatku meringis.
“Aww!” Aku mengelus-elus pipiku yang sambil mendelik padanya, yang hanya membuatnya kembali tertawa.
Malam itu kami berhasil meluruskan kesalah pahaman selama ini, kesalah pahaman yang telah membuatku membencinya diantara rinduku, kesalah pahaman yang membuatku sempat terpuruk, kesalah pahaman yang juga membuatnya sama terlukanya seperti aku.
*****
__ADS_1