Pemilik Hati #1

Pemilik Hati #1
Bab 38


__ADS_3

Seperti orang gila aku senyum-senyum sendiri sambil memeluk boneka beruang besar yang tadi di belikan sang Letnan, dia bilang untuk ku peluk kalau kangen jangan meluk guling apalagi meluk cowok lain. Dan sekarang aku sudah kembali kangen padanya, walaupun baru beberapa jam lalu kami berpisah tapi… aku menggit bibirku dan kembali tertawa sambil menyerukan kepalaku ke dalam perut boneka agar meredam tawaku.


Aku benar-benar seperti orang gila ketika mengingat kejadian tadi, bahkan sampai keesokan harinya ketika Mas Letnan datang untuk pamit kembali ke Palembang aku menemuinya dengan malu-malu membuatnya tertawa.


Seperti sebelumnya dengan menggunakan mobil Ayah aku mengantarnya ke bandara, dan seperti sebelumnya tangan kami saling menggenggam erat terasa berat untuk melepaskannya. Dan percayalah sekarang jauh lebih berat daripada sebelumnya.


“Hati-hati, jangan sampai sakit ya, sayang.”


“Hehehe, iya, Mas Letnan juga jaga kesehatan.” Setiap dia manggil sayang aku memanggilnya Mas Letnan, masih malu kalau harus manggil sayang juga.


“Iya… jangan macam-macam!”


“Hahaha, iya, Mas Yudha juga jangan macam-macam.”


“Jangan kangen.”


“Iya.. hah? Kok jangan kangen?”


“Kalau kamu kangen aku berat di ongkos.”


“Hahaha… ya udah gak bakalan kangen.”


“Boleh deh kangen, asal jangan sampai pengen meluk apalagi pengen cium, bisa-bisa aku langsung kabur ke sini daripada kamu nyari Arga.”


“Hahaha… iiih engga-lah kan sekarang sudah ada si Tedy.”


“Oh iya ya hehe… ternyata boneka jauh lebih beruntung daripada aku, bisa dapat pelukan kamu tiap hari.”


“Tapi tetap aja, Tedy gak bisa meluk balik aku.”


“Kaya gini?” tanpa di duga Mas Letnan memelukku di antara hilir mudik orang-orang di bandara.


“Iiih… banyak orang!” aku mendorongnya menjauh dengan wajah memerah membuat sang Letnan tersenyum.


“Aku harus pergi sekarang.”


Aku mengangguk mengerti, dan tanpa diduga dia kembali memelukku tapi kali ini aku membiarkannya, aku menarik napas dalam-dalam berusaha mengisi setiap rongga di paru-paruku dengan wangi khas sang Letnan yang akan sangat ku rindukan.


“I love you, Za… I love you more than you love me, and remember you are the only one for me… remember that, Za, just remember no one else but you.”

__ADS_1


Dia berbisik di telingaku membuatku terdiam dengan hati seolah melayang sekaligus berat seolah ada gumpalan besar yang menghimpitnya sampai ketenggorokan karena tahu ini waktunya aku melepaskan pelukan kami karena waktu kepergiannya semakin dekat.


“I love you too more than you know.” Hanya itu yang bisa ku katakan sebelum akhirnya melepaskan pelukan dan mengantar kepergiannya untuk kembali menjalankan tugas. Dan aku sudah merindukannya bahkan ketika melihatnya baru saja memasuki pintu keberangkatan.


****


Dua bulan berlalu, berita tentang aku dan sang Letnan sudah tak terdengar kabarnya lagi, dan orang-orang kini mulai mencurigai Leona yang tetap berusaha menyangkal tapi tak memiliki bukti apapun, sampai akhirnya salah seorang netizen mengupload lokasi yang sama persis dengan yang di foto Leona dan itu benar-benar di Anyer, yang semakin membuatnya tak berkutik dan akhirnya menghilang tak tahu kemana.


Dan mengenai acara di Kubu, benar-benar mendapat rating lumayan tinggi tapi semua orang penasaran bukan kerena kehidupan warga Kubu, tapi lebih kepada interaksi aku dan Mas Letnan yang baru ku ketahui ternyata selama di sana, dia sering kali memerhatikanku diam-diam, begitupun sebaliknya, membuat beberapa netizen merasa gemas melihat itu. Dan hubungan kami-pun kini mendapat banyak dukungan.


Seperti biasa setiap malam kami masih saling menghubungi sebelum tidur, dan sang Letnan belum pernah pulang ke Bandung lagi setelah saat itu karena harus membereskan pekerjaan di Palembang sebelum akhirnya masuk pusat pelatihan Kopassus.


Akhirnya kerinduanku yang sudah menumpuk terbayarkan ketika sang Letnan pulang, kami menghabiskan waktu kepulangannya selalu berdua. Mas Letnan dengan sabar akan mengantar dan menjemputku kuliah, makan bareng bersama keluargaku atau keluarganya.


Dan aku semakin dekat dengan orangtua sang Letnan, beberapa kali Mamah sengaja menjemputku dan megajakku jalan ketika sang Letnan masih di Palembang. Bahkan pernah Papah ikut menjemputkku untuk mengajakku makan malam bersama mereka.


Seperti sekarang kami tengah berada disalah satu restoran yang ada di daerah Setia Budhi bersama keluarganya sang Letnan untuk makan malam bersama sebelum akhirnya besok dia akan masuk pusat pelatihan.


“Kamu hati-hati, pelatihan kali ini jauh lebih berat daripada yang sudah-sudah, kamu harus kuat.”


“Insyaallah, Pah, doakan saja biar semua lancar.”


“Aamiin.”


“Kekey juga harus sabar ya nungguinnya, jangan lupa berdoa biar Mas Letnanmu baik-baik aja.”


“Iya insyaallah, Mah.”


“Yang pasti harus setia, jangan nanti pas pulang pelatihan tahunya sama cowok lain, mending balik lagi ke camp pelatihan kalau gitu mah.”


“Hahaha… “


“Tenang saja Mamah yang pastiin dia gak kemana-mana, kalau perlu Mamah ikutin setiap hari.”


“Hahaha… kasian Papah dong Mah, kalau Mamah ngikutin Kekey, Papah gimana?”


“Tenang saja, kan Papah yang nyetir mobilnya,” ucap Papah membuatku kembali tertawa.


Seperti halnya Mas Letnan orangtuanya-pun sangat menyenangkan, kadang aku suka cemburu kalau misalnya membayangan mereka berlaku seperti itu kepada mantan-mantannya sang Letnan, tapi kata Mamah sang Letnan belum pernah mengenalkan pacarnya yang dulu pada mereka, walaupun Mamah tahu zaman SMA dulu dia pernah beberapa kali pacaran tapi layaknya cinta monyet yang tak bertahan lama.

__ADS_1


Dan aku boleh berbangga diri menjadi satu-satunya yang dikenalkan kepada orangtuanya. Bahkan Mamah pernah bilang, kalau misalnya kami tidak berjodoh sampai menikah aku tetap akan jadi putri mereka. Tapi tentu saja mereka berdoa kalau kami berjodoh sampai nanti, yang langsung ku amini, hehehe.


Setelah makan malam sang letnan mengantarkanku pulang, tapi ternyata tidak langsung pulang melainkan ke bukit bintang tempat kami mengucap kata cinta untuk pertama kalinya.


“Besok pagi aku harus sudah pergi jadi gak bisa ke rumah dulu untuk pamitan.”


“Iya, aku ngerti.”


“Kurang lebih tujuh bulan aku tak bisa menghubungi atau bertemu denganmu, tolong jaga diri baik-baik jangan sampai sakit atau terluka.”


“Iya, Mas Yudha juga sama harus hati-hati dan jaga diri, ingat ada aku di sini yang menunggu.”


Sang Letnan mengangguk, “Arga… aku menitipkanmu pada Arga karena hanya dia yang bisa ku percaya untuk menjagamu, tapi jangan peluk-peluk! Awas aja kalau sampai peluk-peluk, peluknya si Tedi aja.”


“Hahaha… kalau pas naik motor gimana?”


“Pegangan belakang kaya naik ojek atau pegang jaketnya aja.”


“Hahaha…”


“Aku serius, jangan ketawa.”


“Hahaha, siap Letnan!”


“Ckkk… malah becanda,” ucapnya sambil menarikku ke dalam pelukannya, “Aku akan sangat merindukanmu, Za.”


“Aku juga,” balaskan sambil memeluknya tak kalah erat.


“Tujuh bulan ini mungkin waktu yang berat untuk kita, tak seperti waktu di Myanmar ataupun Palembang ketika kita masih bisa berhubungan lewat telpon, tapi sekarang kita benar-benar tak akan bisa komunikasi.”


Aku mengangguk mengerti dalam pelukannya.


“Aku mungkin hanya pergi ke camp pelatihan, tapi percayalah itu tak ayalnya seperti pergi ke medan perang… doakan aku biar bisa kembali dengan selamat dan bisa kembali untuk memelukmu seperti ini.”


Aku kembali mengangguk tak kuasa lagi untuk berkata-kata, yang aku inginkan saat ini adalah hanya memeluknya dan menghirup wangi tubuhnya untuk menemani kerinduanku selama tujuh bulan kedepan.


Malam semakin larut dan akhirnya kami-pun memutuskan untuk pulang, di rumah Mas Letnan pamit kepada kedua orangtuaku yang langsung seperti biasa mendapat nasihat militer dari Ayah yang kali ini entah kenapa tak panjang lebar seperti biasa, seolah mengerti kalau kami memerlukan waktu untuk berdua, merekapun meninggalkan kami berdua di ruang tamu untuk ngobrol.


Sampai akhirnya sang Letnan benar-benar harus pulang karena malam semakin larut, dia kembali memelukku dan memberiku ciuman selamat tinggal sebelum akhirnya pergi untuk bersiap besok menjalankan pelatihannya.

__ADS_1


*****


Haiiii... udah siapin hati belum?


__ADS_2