Pemilik Hati #1

Pemilik Hati #1
Bab 15


__ADS_3

Sudah dua hari aku keluar dari RS tapi masih belum boleh beraktifitas seperti biasanya, dan itu sangat membosankan. Aku hanya tiduran di kamar, mendengarkan radio atau nonton TV seperti sekarang, dan ada apa dengan acara di TV Indonesia? Entah aku yang punya selera aneh atau memang acara TV nya yang aneh? Entahlah, tapi aku merasa tidak ada acara yang bisa aku tonton. Aku tak tahu itu acara musik, variety show atau reality show atau ajang membuka aib orang? Kenapa mereka tertawa ketika membicarakan aib orang dan menghina orang lain? Entahlah, tapi menurutku itu sangat tidak mendidik sama sekali! Apa mereka tidak merasa bersalah karena telah menerima bayaran yang sangat tinggi tapi memberikan tontonan yang tidak masuk akal seperti itu? Wallahu’alam, hanya Allah dan orang itu yang tahu, mudah-mudahan mereka cepat sadar.


Dengan malas aku memindah-mindahakan saluran TV tapi tak ada yang menarik perhatianku sampai akhirnya salah satu stasiun TV sedang menayangkan berita tentang pasukan Garuda yang diundang Presiden ke istana Negara karena telah berhasil menjalankan tugasnya dengan sangat baik.


Mataku tanpa di komando mencari sosok pria yang seharusnya sudah aku lupakan, tapi sialnya aku belum bisa melupakannya. Dan akhirnya jantungku berdetak kencang, darahku berdesir hebat seolah mengenali sosok sang Letnan walau dari kejauhan.


Dia telah pulang ke tanah air seperti yang dikatakan Leona, dan kini seluruh awak media lebih tertarik untuk menyorotnya sebagai kekasih Leona daripada anggota TNI yang berjasa dalam perdamaian dunia. Sekarang semua orang telah mengenalnya, bahkan menjadi viral di dunia maya karena kegagahannya ketika mengenakan seragam tentara.


“Benar-benar menjadi viral,” bisikku sambil tersenyum ketika mengingat alasan sang Letnan tidak memiliki sosmed walau saat itu terkesan bercanda, tapi sekarang menjadi kenyataan.


Aku mematikan TV lalu masuk ke dalam kamar, membuka account sosmedku hanya untuk melihat foto-foto sang Letnan yang di dapat netizen entah dari mana. Tindakan bodoh bukan? Oh, percayalah aku tahu itu, dan aku juga membenci diriku sendiri karena hal itu! Aku membenci diriku yang masih memikirkannya, aku membenci diriku yang diam-diam masih menyimpan fotonya di dalam ponselku, aku membenci diriku yang masih merindukannya seperti sekarang.


Benci tapi rindu… aaahhh aku membenci diriku sendiri!!! Ini pertama kalinya aku seperti ini, waktu SMA aku pernah dua kali berpacaran tapi ketika putus, aku biasa saja tak pernah seperti ini. Hei! Ini bahkan bukan putus, kami tak pernah berpacaran hanya bertemu waktu di Ciwidey sebentar, kami hanya ngobrol via telp, bahkan belum pernah pergi nonton atau jalan-jalan berdua, tapi kenapa rasanya seperti ini?


“Bukan dari berapa lama kita mengenal orangnya tapi seberapa besar dan dalam rasa yang kita miliki, itu yang bikin kita terluka saat kehilangannya.”


Itu yang Arga ucapkan ketika kami membahas tentang perasaanku pada sang Letnan di RS beberapa hari lalu.


“Tapi kan ini bukan pertama kalinya aku suka sama cowok, Ga.”


“Ya, tapi kadarnya yang beda… kalau dulu masih cinta monyet, kalau sekarang mungkin sudah cinta gorila atau cinta orang utan, yang gedean dikit daripada monyet.”


“Hahaha… kalau lebih gede lagi apa dong?”


“Cinta kingkong.”


“Hahaha.”


Aku berbaring sambil memeluk guling mengingat pembicaraan malam itu. Arga mungkin benar, tapi sekarang sang Letnan sudah milik perempuan lain yang artinya aku sudah harus, wajib melupakannya. Siang itu aku tertidur dengan niat kuat untuk melupakan sang Letnan tapi berakhir dengan memimpikannya... aahh sial.


****


Empat bulan berlalu dan aku mulai melupakan sang Letnan, aku juga telah kembali aktif di OASIS. Aku merubah penampilanku dengan memotong rambut menjadi pendek di atas bahu, semua orang terlihat terkejut ketika pertama melihat rambut baruku tapi mereka mengatakan kalau itu terlihat cocok untukku yang terlihat lebih fresh.


Saat ini kami tengah disibukan dengan proyek yang cukup besar yang bertema “Indonesia Pintar” yang akan bekerja sama dengan Departemen sosial dan Departemen Pendidikan Nasional. Proyek kali ini bukan hanya melibatkan OASIS tapi juga beberapa lembaga yang memiliki visi dan misi yang sama terutama kepedulian dibidang pendidikan. Bertepatan dengan libur kuliah aku memutuskan untuk ikut bergabung dengan tim OASIS yang mendapat bagian ke Sumatera Selatan, lebih tepatnya suku anak dalam di Kabupaten Musi Rawas.

__ADS_1


Awalnya ibu tak mengijinkanku untuk pergi karena mengetahui medan yang kami lalui untuk sampai ketujuan tidaklah mudah, dan tentu saja selain takut thypusku kambuh lagi. Aku harus berusaha ekstra untuk mendapatkan ijinnya kali ini, sedangkan ayah seperti biasanya… terserah ibu. Pernah ibu mengajukan syarat untuk mengijinkanku pergi yaitu asal Arga juga ikut jadi ibu bisa tenang katanya, sedangkan Arga sudah memiliki acara sendiri dengan teman-teman pencinta alamnya untuk mendaki gunung Papandayan.


Tapi untung saja Teh Vita, Yuni, Kak Yoan, Bang Kamal, Mas Juna, Rendy, Agus dan Kang Pajar berhasil meyakinkan ibu kalau nanti kita tidak sendiri tapi juga bergabung dengan Dinsos Sumsel dan dikawal oleh anggota TNI dari Kodam Sriwijaya yang juga bergabung dalam proyek kali ini untuk pembangunan fasilitas-fasilitas di sana.


Dan akhirnya disinilah aku sekarang berada, di atas mobil Pregio yang dipinjamkan secara gratis oleh orangtua Kak Yoan yang memang memiliki rental mobil dan dalam perjalanan menuju Merak untuk selanjutnya menyebrangi selat Sunda menuju pulau Sumatera. Kami menaiki kapal Ferry pada pukul 2 pagi dan sekitar pukul 4 pagi kami telah merapat di Bakauheni.


Kami beristirahat di daerah Ketapang untuk sholat subuh, istirahat sebentar dan sarapan sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan. Duduk di depan Kang Pajar yang berperan sebagai supir ditemani Bang Kamal sebagai navigator, duduk ditengah aku, Teh Vita, Kak Yoan dan Yuni, sedangkan di belakang Agus, Rendy dan Mas Juna harus rela berbagi dengan tas yang gak muat di bagasi.


Sepanjang jalan kami lebih banyak disuguhi pemandangan hutan di kiri-kanan jalan, dan harus berbagi jalan dengan truk-truk pengangkut sawit, karet dan pisang. Ini pertama kalinya aku lintas Sumatera lewat jalan darat, yang tentu saja membuatku bersemangat melihat pemandangan sepanjang jalan.


Bang Kamal yang sudah terbiasa melintas pulau Sumatera ketika mudik ke Medan seolah menjadi tour guide, Kak Yoan yang asli Bengkulu hanya mangap tertidur sepanjang jalan. Jadi kami-kami inilah yang lahir dan besar di pulau Jawa yang bersemangat melihat pura-pura di setiap rumah di Ketapang yang memang dijuluki kampung Bali, atau melihat hutan karet, hutan sawit yang memang tak ada di Bandung.


Bang Kamal yang memang mengenal jalanan lintas Sumatera kini menggantikan Kang Pajar menjadi supir dan menjadikan perjalanan serasa lebih cepat. Di sekitaran Indralaya kami kembali beristirahat untuk sholat dzuhur, makan siang dan ngeborong durian! Kami sengaja beristirahat di masjid yang di depannya ada tukang durian mangkal, dan harganya jauh lebih murah daripada di Bandung, belum lagi dagingnya yang tebal dan manis membuat kita lupa waktu.


Kata Bang Kamal sebentar lagi sampai Palembang paling 30KM-an lagi, jadi kami bisa berlama-lama istirahat di Indralaya meluruskan badan yang mulai berasa pegal karena lama di perjalanan. Kami kembali melanjutkan perjalan sekitar jam 2 dan sampai di Palembang jam 3.30-an.


Masih ingat Fadhil teman kami asal Palembang yang ikut jadi relawan di Ciwidey? Sekarang dia telah kembali ke Palembang dan bekerja di Dinsos Sumatera Selatan. Dia menyambut kami setibanya di kantor Dinsos Sumsel di Jl. Kapt Anwar Sastro yang berada tepat di belakang kantor Gubernur Sumatera Selatan. Fadhil yang ramah dan ramai langsung membawa kami ke rumahnya untuk beristirahat di daerah Ilir Barat 2 Palembang, berjarak 15 menit dari kantor Dinsos.


Rumah panggung khas Palembang yang megah dan besar langsung membuat kami takjub. Rumahnya memanjang bertingkat, di bagian bawah sudah menggunakan tembok dan bagian atas masih menggunakan kayu-kayu yang terkesan antik.


“Ieu mah (ini mah) bisa disewain buat nikahan, Dhil?”


Tapi sebelum kami ke Musi Rawas kami diundang untuk makan makam oleh Dinsos Sumatera Selatan sekaligus pengenalan lokasi di sana nanti dan mengenalkan beberapa anggota Dinsos Sumsel yang akan ikut bergabung dengan kami, salah satunya Fadhi dan Veny, orang-orang yang sudah sangat kami kenal. Seperti Fadhil, Veny juga dulu adalah anggota OASIS yang sudah pulang kampung ke Palembang.


Setelah sarapan sekitar pukul 7 kami semua dengan menggunakan bus Dinsos menuju Musi Rawas yang memerlukan waktu 6-7 jam, sedangkan mobil Kak Yoan dititipkan di rumah Fadhil. Kami kembali di sambut Dinsos Musi Rawas yang akan menuntun kami menuju perkampungan dimana anak suku dalam tinggal.


Tapi yang membuat kami terkejut adalah setibanya di kantor Dinsos Musi Rawas sudah dipenuhi orang yang sibuk berkerumun meliput kegiatan di sana. Sebelumnya kami memang telah diberitahu kalau khusus untuk suku anak dalam Musi Rawas nanti akan diliput oleh beberapa stasiun TV dan melibatkan beberapa artis untuk memperkenalkan masyarakat luas terhadap suku-suku pedalaman yang ada di Indonesia, jadi para artis ini akan tinggal beberapa hari di sana untuk membantu para aktivis melakukan pekerjaannya dan mencoba tinggal bersama warga asli suku anak dalam.


Bukan itu yang membuatku begitu terkejut, tetapi karena baru mengetahui salah satu dari artis itu adalah Leona, kekasih sang Letnan. Seketika aku menatap sekeliling karena mengingat kalau TNI dari Kodam Sriwijaya-pun akan bergabung dengan kami, mataku menyisir setiap anggota TNI tapi sang Letnan tidak ada di sana, antara lega dan kecewa aku membuang napas berat.


Ketua Dinsos Musi Rawas mengenalkan kami kepada para artis yang terdiri dari Leona, Marsya, Dony dan satu lagi adalah penyanyi favoritku, Ben. Oh aku sangat menyukai suara dan lagu-lagunya! Seperti penggemar pada umumnya, mataku berbinar sekaligus memerah malu ketika bersalaman dengannya, tapi langsung berubah ketika bersalaman dengan Leona.


Para artis itu masih terlihat segar, cantik, dan wangi berbeda dengan kami yang terlihat lepek, berantakan dan sangat lelah karena harus melakukan perjalanan Bandung-Palembang selama kurang lebih 18 jam, beristirahat beberapa jam dan harus kembali menempuh perjalanan 6-7 jam untuk sampai Musi Rawas.


Kami hanya beristirahat sebentar untuk sholat dzuhur dan makan siang sebelum akhirnya kembali menaiki mobil dengan double gardan untuk sampai di Sungai Teras Dusun IV, Desa Harapan Makmur (SP9) Muara Lakitan, yang terasa sangat berat dengan jalanan berdebu dan berbatu sepanjang 25 KM, dengan kanan kiri semak belukar dan hutan yang ditanami pohon akasia, ekaliptus dan sawit. Tubuh kami tergoncang, awalnya kami tertawa menikmati perjanan itu yang terasa off road, tapi lama kelamaan kami mulai merasakan sakit di beberapa bagian tubuh karena terpontang panting.

__ADS_1


Dan… Alhamdulilllah kami-pun sampai di tempat suku anak dalam berada. Awalnya suku anak dalam berpindah-pindah tempat tinggal (Nomaden) menyusuri satu sungai ke sungai lainnya, sebelum akhirnya Pemerintah membuatkan mereka tempat tinggal di Sungai Teras Dusun IV.


Kami kembali disambut (lebih tepatnya para artis itu yang disambut) oleh warga, beberapa anggota Dinsos Musi Rawas dan anggota TNI yang sudah berada di sana yang sedang membangun fasilitas untuk warga setempat. Aku melompat turun dari mobil sambil meregangkan tubuhku yang terasa pegal.


“Edan euy leuwih ti off road ieu mah, hahaha (Gila, ini sih lebih dari off road).” Agus berkata sambil tertawa, yang mendapat sautan setuju dari Kang Pajar dan yang lainnya.


“Apa lagi dulu, Gus, kita harus jalan menembus hutan, sekarang sih enak bisa naik mobil. Pas pertama ke sini mereka belum bisa bahasa Indonesia, boro-boro lagu NOAH, lagu 17 Agustus saja pada gak tahu.”


“Kalau tahu lagu NOAH mah namanya suku luar bukan suku dalam atuh, Dhil.”


Kami sedang tertawa sambil menurunkan barang bawaan ketika terdengar kehebohan yang tiba-tiba mengerubungi tim artis. Membuat kami menatap kearah mereka dengan penasaran.


“Ada apa sih?”


“Biasa baru pertama lihat artis.”


“Pasti hebohlah lihat yang cantik kaya gitu… kulitnya bening banget, aduh.. Mas Yudha mimpi apa ya punya pacar kaya gitu,” kata Bang Kamal yang mendapat sautan setuju dari para pria.


“Itu sih gimana duit, Mal, kalau ada duit mah kita jauh lebih cantik, kan perawatan terus gak panas-panasan ma belusukan kaya gini, benarkan?” Teh Vita berkata yang kali ini mendapat sautan setuju dari para perempuan.


“Iya deh iya, tapi biasa lihat yang suram kaya gini (sambil nunjuk kami) tiba-tiba lihat yang bening kaya gitu (nunjuk kerumunan) itu anugrah, gak boleh disia-siain.”


“Hahaha, kurang ajar bilang kita suram.”


Kami sedang tertawa ketika kerumunan itu mendekati kami, seketika kami terdiam lalu menatap kerumunan yang membuat mataku seketika terbelalak menatap sosok pria yang berjalan dengan gagah di balik kaos hijau khas tentara lengkap dengan celana lorengnya. Jantungku seolah tak berdetak untuk beberapa saat sebelum akhirnya menggila, darahku berdesir seperti biasanya ketika aku melihat pria itu.


“Mas Yudha!” Bang Kamal yang pertama kali menyapanya dan menyalaminya, semua orang kini menatap kerumunan kami, wartawan bersiap di belakang kamera, di belakang sang Letnan berdiri para aris yang juga ikut berjalan ke arah kami.


“Apa kabar?” Sapa sang Letnan sambi menyalamil Bang Kamal seolah mereka adalah teman lama. Tak hanya berhenti di Bang Kamal, dia-pun menyalami semua orang dan menayakan kabar mereka.


Dengan jantung masih berdetak kencang aku ingin pergi dari sana secepatnya, tapi kakiku seolah tak bisa bergerak, bahkan mataku seolah tak mau lepas darinya. Aku mengepalkan tanganku mencoba menghalau rasa marah dan kecewa yang seolah-olah kembali menyeruak kepermukaan, sampai akhirnya ia berdiri didepanku menatapku dengan pandangan yang terasa aneh.


“Apa kabar, Za?”


Jantungku menggila, darahku berdesir ketika mendengar suaranya memanggilku dengan panggilan yang tak pernah orang lain sematkan padaku, dengan ragu aku menerima uluran tangannya, aku menelan ludah kasar sebelum menjawab.

__ADS_1


“Baik.” Hanya itu yang keluar dari mulutku sambil mengangguk menatap balik padanya, beberapa saat kami hanya saling pandang dengan tangan saling bersalaman.


*****


__ADS_2