Pemilik Hati #1

Pemilik Hati #1
Bab 8


__ADS_3

Belum ada ikrar tentang status kami sampai saat itu, tapi kami sama-sama tahu tentang perasaan masing-masing. Aku pikir, kami sudah cukup dewasa untuk tidak perlu mengikrarkan rasa cinta kami sebagai tanda menjalin suatu hubungan. Cukuplah perhatian-perhatian yang kami saling tunjukkan menjadi pengungkap perasaan dan tanda bagaimana hubungan kami selama ini, bahkan sekarang kami tak ragu lagi untuk mengungkapkan bagaimana kami saling merindu seperti saat ini.


“Aku kangen, Za.”


“Sama hehehe.”


“Kalau dari Myanmar ke Bandung ada ojek, aku sudah naik ojek pulang ke sana.”


“Hahaha, kasihan tukang ojeknya.”


“Kenapa?”


“Kejauhan, hahaha.”


“Kasihan aku dong.”


“Kenapa?”


“Bayar ongkosnya mahal.”


“Iya bener hahaha… kalau telepon gak bisa ya?”


“Bisa aja, tapi gak enak sama yang lain udah pada tidur”.


“Iya sih, tapi kangen pengen denger suaranya.”


“Nanti ya, kalau sempat aku telepon.”


“Janji?”


“Janji.”


“Ya sudah kita tidur yuk, siapa tahu bisa ketemu di mimpi kan lumayan.”


“Hahaha, tapi pas bangun tar ngilang.”


“Gampang tinggal tidur lagi aja.”


“Hahaha.”


Dan dia benar-benar menepati janjinya. Hari itu adalah hari minggu, aku sedang membantu ibu bereksperimen di dapur ketika Dirga berteriak.


“Kak! Hp nya bunyi tuh, ada yang nelpon.”


“Liatin dari siapa, kalau dari Arga, angkat saja suruh ke sini bilang Ibu punya menu baru.”


Saat itu aku lagi tanggung mencuci sayuran.


“Sang Letnan.”


Seketika aku mematung dengan mata membulat, aku menatap ibu yang terlihat bingung dengan reaksiku.


“Siapa?” aku bertanya tak percaya.


“Sang Letnan.” Dirga berdiri di pintu dapur dengan ponselku di tangan kanannya.


“Sang Letnan?” aku masih tak percaya.


“Iya, sang Letnan.”


“Sang Letnan!” aku berlari kemudian menyambar ponsel dari tangan Dirga dan mataku kembali membulat ketika melihat nama itu dilayar, aku berlari masuk ke dalam kamar, menutup pintunya dan menggeser tanda hijau dengan dada berdetak hebat.


“Ha-lo.”Aku berkata dengan gugup.


“Halo, lagi sibuk ya? Kok ngangkatnya lama.”


“Iya, maksudku engga! Tadi lagi di dapur bantuin ibu.”


“Oh hahaha… ganggu dong?”


“Engga, sudah beres kok.”


“Ooh..”


Hening, aku tak tahu harus ngomong apa, otakku seolah buntu, semua kalimat yang pernah ku susun rapi seolah menguap tak berbekas, hanya debaran jantungku saja yang masih menggila.


“Kok, diam, katanya pengen di telepon.”


“Hehehehe… bingung gak tahu harus ngomong apa.”


“Hahaha… kamu lucu.”


Suara itu! Suara tawa itu! Itu adalah suara yang aku rindukan selama ini, suara yang sangat ingin ku dengar disaat hatiku merasa rindu.


“Kok, bisa telepon?”


“Lagi dapat jatah libur, jadi bisa teleponan.”


“Oooh, gak telepon ke rumah buat ngasih kabar?”


”Sudah, tadi sudah laporan sama Big boss di rumah, sekarang laporan sama little boss.”


“Hahaha.”


“Za, video call ya?”


“Jangan!” tanpa sengaja aku berteriak.

__ADS_1


“Kenapa?”


“Belum mandi,” jawabku malu-malu membuat dia kembali tertawa.


“Kan aku udah pernah lihat kamu belum mandi.”


“Kapan?” aku bertanya tak percaya.


“Waktu di Ciwidey.”


“Hah?! Emang pernah lihat ya?”


“Iya, aku lihat kamu pakai training merah, rambutnya berantakan kaya sarang burung, matanya bengkak, trus ileran.”


“Iiih, bohong! Aku gak ngiler!”


“Hahahaha… iya dech enggak, kamu tetap cantik kok walau baru bangun tidur.”


“Heheheh.” Aku hanya bisa tertawa malu.


“Za, Video call ya? Kangen pengen lihat kamu.”


Aku terdiam beberapa saat berpikir.


“Tapi lima menit lagi nelponnya ya?”


“Kenapa?”


“Mau ganti baju dulu.”


“Hahaha… ya udah, aku telepon lima menit lagi, sekarang aku tutup dulu ya.”


“Ok!”


Tanpa menunggu lama aku langsung mengakhiri panggilan itu, lari ke luar kamar, masuk ke kamar mandi, cuci muka dengan sangat cepat, lari lagi ke kamar. Sekilas aku bisa melihat Ayah, Ibu dan Dirga menatapku bingung.


Aku mencari baju di dalam lemari yang entah kenapa hari itu seperti tak ada baju yang cocok untukku, setelah sempat bingung akhirnya aku manarik sebuah kaos rajut berleher sabrina dengan motif gradasi biru tua, biru muda, dan putih.


Aku memakainya dengan cepat, duduk di depan kaca, menyisir rambut panjangku, memakai bedak tipis, tidak lupa lips gloss untuk menutupi bibirku yang kering, dan itu semua ku lakukan hanya dalam waktu 4 menit! Dengan napas terengah aku menatap pantulan diriku di atas kaca. Lumayan, aku memuji diriku sendiri, dan tepat seperti yang telah dijanjikan lima menit kemudian ponselku berbunyi.


Aku mengatur napasku, meredakan debaran jantungku yang masih berpacu dengan cepat seolah sedang melakukan marathon. Setelah membuang napas panjang akhirnya aku menjawab panggilan video itu.


Seketika layar memperlihat sosok pria berambut cepak khas tentara, mata tajamnya menatap ke arahku dengan lembut, hidung mancungnya sedikit bengkok dibagian tengah karena bekas patah, bibirnya tersenyum hangat. Ini adalah pria yang sama, pria yang ku temui setahun yang lalu, pria yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama.


Beberapa saat kami hanya saling pandang, senyum menghiasi wajah kami yang semakin lama semakin lebar kemudian berubah menjadi tawa entah karena apa.


“Masih sama.” Dia mulai berkata masih dengan senyum lebar.


“Apa yang sama?”


Aku menunduk dengan senyum malu, dan… Ya Allah, aku sangat suka ketika dia memanggilku ‘Za’ dengan suaranya itu.


“Mas Yudha juga masih sama.”


“Iya, belum operasi plastik lagi soalnya.”


Aku tak bisa menyembunyikan tawaku lagi mendengarnya.


“Nyesel.”


“Nyesel kenapa?”


“Nyesel video call.”


Aku terkejut mendengarnya, apa dia kecewa melihatku?


“Kenapa?”


“Jadi tambah kangen.”


“Hahaha… pulang sini.”


“Mau… tapi ga ada ojek yang lewat.”


“Hahaha..naik angkot aja.”


“Lagi pada mogok.”


“Hahahaha.”


“Jangan ketawa terus, Za.”


“Kenapa?”


“Kamu tambah cantik kalau ketawa.”


“Hahaha…aku gak tahu Mas Yudha ternyata suka ngegombal.”


“Bukan ngegombal, tapi fakta kalau kamu tambah cantik kalau ketawa, Za.”


“Hahahaha…”


“Ih malah ketawa lagi.”


“Habis Mas Yudha beda banget sama waktu di Ciwidey.”


“Emang dulu gimana sih? Perasaan sama aja.”

__ADS_1


“Mas Yudha inget gak waktu aku tanya, kenapa manggil Za?”


“Hahaha, inget.”


“Itukan Mas Yudha jawabnya judes banget, gak ada senyum-senyumnya, terus pas malam terakhir di Ciwidey inget gak, yang kita duduk deketan? Kan Mas Yudha dingin banget kaya gak mau deket-deket Kekey.”


“Hahaha... kamu gak tau saja kalau aku yang nyuruh Bang Eddy pindah biar kamu duduk di sana.”


“Hah! Yang bener?”


“Tanya saja sama Bang Eddy, aku nyikut dia lumayan kenceng waktu itu.”


“Hahahaha… Ya Allah, kasian Bang Eddy.”


“Biarin, dia kan dah mau nikah, kali-kali mengalah-lah sama jomblo-jomblo macam kami ini.”


“Hahaha… trus kenapa waktu itu diam saja?”


“Ga enak sama yang lain, kan lagi ngumpul.”


Aku tersenyum mengerti.


“Libur gak kemana-mana, Za?”


“Engga, males keluar gak ada teman. Mas Yudha sendiri dapat jatah libur kok gak main? Kan mumpung di luar negri bisa jalan-jalan.”


“Nanti ada undangan dari Kedubes, jadi paling bentar lagi pada berangkat.”


“Pake seragam TNI gak kesananya?”


“Engga, pake baju biasa.”


“Oh syukur dech.”


“Hahaha, kenapa emang?”


“Kalau pake seragam tar cakepnya double.”


“Hahahaha.”


“Pokoknya, jangan dandan cakep-cakep ya!”


“Kenapa?”


“Nanti ada yang suka orang Kedubesnya.”


“Hahahaha, tenang saja nanti aku bilang jangan deket-deket soalnya ceweknya galak kalau cemburu suka bakar-bakar.”


“Hahahahahaha…” seketika aku tertawa kencang mengingat kejadian malam api unggun di Ciwidey.


“Lagian sama Mira aja cemburu sih.”


“Iih engga, siapa yang cemburu?”


“Kasian kayunya lagi kamu bakar sampai habis, Za.”


“Hahahaha… kok tahu?”


“Kan aku merhatiin kamu, ya tahu lah.”


“Kok aku gak tahu Mas Yudha merhatiin aku?”


“Itulah kemampuan mengintai tentara Indonesia yang terkenal hebat.”


“Hahahahaha… iya dech iya.”


“Bentar, Za.”


Aku mendengar seseorang memanggil sang Letnan.


“Za, maaf kayanya aku harus pergi sekarang.”


“Oh sudah mau pergi ya?” Aku sedikit kecewa karena harus mengakhiri video call ini, aku masih ingin lihat wajahnya.


“Iya… masih kangen ya?”


Aku mengangguk sambil tersenyum sebagai jawaban.


“Hahaha..sama, nanti malam kita lanjut lagi ya.”


“Ya sudah… hati-hati.”


“Iya.”


“Jangan dandan cakep-cakep.”


“Hahahaha… iya.”


“Ya udah.”


“Bye, Za”


“Bye, Mas Letnan.”


Untuk terakhir kalinya aku melihat dia tersenyum sebelum panggilan itu berakhir, menyisakan aku yang mulai merindukannya.


******

__ADS_1


__ADS_2