
“Berita gak penting.” Arga mengambil remot TV untuk mengganti saluran tapi aku menghentikannya. Dengan mata masih menatap layar TV, aku menggelengkan kepala yang membuat Arga mengurungkan niatnya.
Aku harus mengetahui tentang apa yang sebenarnya terjadi, apa mereka telah saling mengenal sebelum atau setelah kami berhubungan? Bagaimana mereka bertemu? Sudah berapa lama mereka berpacaran? Dan apa berita ini benar atau hanya isapan jempol belaka. Aku harus tahu semuanya, bukan melarikan diri seperti tadi.
Layar TV kini manampilkan sebuah capture dari sosial media milik sang artis dengan foto Leona dan beberapa pria dengan rambut cepak khas tentara mengenakan kemeja rapi.
“Seperti yang telah kita ketahui beberapa bulan yang lalu Leona sempat diundung Kedubes RI di Myanmar untuk menghibur para warga Indonesia termasuk TNI yang tengah bertugas di sana. Dan beberapa hari yang lalu Leona membagikan kegiatannya di Myanmar, salah satu foto yang di unggah itu memerlihatkan Leona sedang bersama beberapa pria yang diduga adalah anggota TNI, tapi yang menarik perhatian adalah tulisan di foto itu yang bertuliskan Witch one? Dengan tanda hati.”
Layar kini memerlihatkan pembawa acara perempuan berambut panjang yang cantik.
“Status itu langsung menggugah rasa penasaran para netizen yang menyerbunya di kolom komentar. Tapi rasa penasaran netizen tak harus lama-lama karena keesokan harinya Leona kembali mengupload sebuah foto dengan salah seorang pria yang berada di foto sebelumnya, dan bertuliskan ‘waktu makan siang di Myanmar dengan Mas Letnan.”
Dadaku berdebar kencang, mataku menatap foto artis itu dengan sang Letnan yang tengah tersenyum menatap kamera, mereka memakai pakaian yang berbeda dari foto sebelumnya yang artinya itu adalah hari yang berbeda, tapi yang lebih membuat hatiku terasa sakit adalah perempuan itu bahkan memiliki panggilan yang sama dengan caraku memanggilnya.
Foto ketiga kini menghiasi layar kaca, berlatar matahari tenggelam dengan siluet pria dan wanita yang tengah berdiri berhadapan dan bertuliskan.
“Saat menikmati senja terakhir di Myanmar dengan Mas Letnan, Miss you soo much.”
Aku tetap tak bergeming menatap layar TV dengan napas yang memburu, tanpa sadar tanganku menggenggam mug coklat dengan sangat kencang hingga Arga harus mengambilnya dari tanganku, kemudian menaruhnya di atas meja.
“Kita nonton yang lain saja.” Arga baru akan mengganti saluran ketika TV memerlihat wawancara eksklusif dengan sang artis, dan aku kembali menghentikan Arga.
“Sebentar lagi,” ucapku lirih dengan mata menatap wajah sang artis di layar kaca. Dia terlihat cantik dengan make up yang cukup tebal, rambutnya panjang bergelombang berwarna coklat, kulitnya putih mulus berbalut pakaian trendy dari merk ternama dunia.
__ADS_1
“Kami bertemu pada acara di Kedubes beberapa bulan lalu, kenalan terus ngobrol dan ternyata nyambung sampai sekarang.”
Acara di Kedubes? Sampai sekarang? Itu artinya dari semenjak dia tak menghubungiku mereka tetap berkomunikasi?
Para wartawan menanyainya kapan mereka resmi pacaran dan bagaimana rasanya LDR-an? Dengan wajah sumringah dia menjawab pertanyaan itu santai.
“Kami memutuskan berpacaran belum lama ini, aku tak masalah dengan LDR-an lagian minggu depan dia sudah kembali ke tanah air.”
“Cukup!” Arga langsung memindahkan saluran TV dan kali ini aku tak melarangnya, aku hanya terdiam mengingat kata-kata sang artis.
“Kamu dengar tadi, Ga? Mereka mulai berhubungan setelah hari itu.” Aku menatap Arga yang juga menatapku dengan lembut seperti biasanya.
“Aku bodoh ya, Ga, selama ini aku khawatir sesuatu terjadi sama dia, dan setia menunggunya seperti yang dia minta tapi ternyata dia malah lagi deket sama cewek lain… aah, aku benar-benar bodoh.” Aku tersenyum miris, Arga masih tetap diam mendengarkanku, “Ternyata dia menghilang bukan karena dia tak bisa ngehubungi aku tapi karena dia gak mau. Dan sebenarnya aku tak berhak marah sama dia, kan kami gak pacaran jadi sebenarnya dia gak selingkuh, benarkan, Ga? Seharusnya aku dengerin kamu dari dulu.”
Aku menatap Arga yang telihat lebih marah daripadaku.
“Laki-laki yang membuat seorang perempuan menangis adalah baj*ngan yang tak bisa dimaafkan, apa lagi kalau perempuan itu adalah kamu.”
Aku menatap sahabatku beberapa saat, sahabat yang selalu ada dan melindungiku kapan saja, sahabat yang seolah bisa membaca semua pikiranku, dan dia adalah Arga Dewantara, seorang pria yang terlihat urakan tapi memiliki hati yang baik.
“Jangan di bunuh,” ucapku masih menatap Arga.
“Kenapa?”
__ADS_1
“Tar kalau kamu masuk penjara, aku gimana? Gak ada teman lagi.”
“Hahaha… jadi gimana dong? Bunuh jangan?"
“Jangan, pukul saja yang kenceng bikin giginya pada rontok semua biar jadi jelek.”
“Hahaha, jadi aku pukul saja nih?”
“Iya, pukul saja.”
“Ya udah nanti aku pukul kalau ketemu.”
“Hahaha.”
Hari itu seharian hujan mengguyur kota Bandung, bahkan Arga baru bisa pulang setelah sholat Isya dan makan makan ketika hujan mulai reda. Aku tentu saja masih merasa sedih dan terkhianati, tapi aku sudah tak menangis lagi, seolah airmataku sudah habis di bawah guyuran hujan sore itu.
Malamnya aku demam tinggi, kapalaku seolah mau pecah, tenggorokanku sakit sebagai pertanda flu berat. Aku tak bisa tidur, tubuhku menggigil hebat, dan baru bisa tertidur ketika jam menujukan pukul 3.30 pagi, jam 5 aku sudah kembali terjaga, dengan tergopoh aku menuju kamar mandi, setiap langkah kakiku, aku merasa sakit menusuk kepala. Bahkan aku merasa mataku seolah keluar ketika aku melakukan ruku dan sujud dalam sholat.
Setelah sholat subuh aku kembali tidur sampai ibu membangunkan sekitar pukul 9 dan kaget melihat kondisiku yang demam tinggi. Ibu membawakanku bubur ayam tapi aku tak napsu untuk makan, ibu memaksaku makan walau hanya sesuap, yang mau tak mau ku turuti. Setelah minum obat aku kembali tertidur. Demamku semakin tinggi, kepalaku semakin sakit bahkan ketika batuk aku merasa kepalaku seolah dirajam, membuatku semakin tersiksa.
Ayah mengajakku ke dokter tapi aku menolak dengan alasan aku akan sembuh setelah tidur dan minum obat, tapi sampai keesokan harinya kondisiku tak juga membaik, bahkan sekarang semakin parah, tubuhku terasa ngilu disemua bagian, dunia seolah berputar setiap kali aku membuka mata yang membuatku mual dan akhirnya muntah, setiap makanan yang masuk seolah ditolak oleh tubuhku.
Aku bisa mendengar suara Ibu, Ayah dan Dirga yang terdengar khawatir, mereka memanggil namaku tapi tubuhku seolah tak bisa bereaksi terhadap panggilan itu, aku berusaha tetap terjaga tapi kelopak mataku semakin terasa berat, bayangan mereka semakin lama semakin mengabur dan akhirnya aku-pun menyerah dalam kegelapan.
__ADS_1
****