
Aku duduk di dalam bus dengan perasan kesal, aku tak tahu kalau Leona akan sepicik itu. Aarrgghh!! Aku menyesal pernah memujinya baik ketika bercerita pada Arga, tapi ternyata itu hanya topeng belaka.
Aku memasang earphone yang memutar lagu-lagu dari koleksi MP3 di dalam ponselku, duduk di sampingku Kak Yoan, dan di belakang terdengar para laki-laki tengah tertawa menceritakan lelucon khas pria, termasuk sang Letnan dan beberapa teman-teman dari TNI yang memang bertugas di Kodam Sriwijaya dan mereka memutuskan ikut bersama kami untuk kembali ke Palembang.
Awalnya sang Letnan mau duduk disampingku tapi aku langsung menaruh tas di kursi sebelahku sambil menatapnya tajam, membuatnya membuang napas pasrah melihatku yang kembali marah. Jangan harap dia bisa dekat-dekat denganku kalau masalah dengan Leona belum selesai!
Kami baru berjalan beberapa kilo meter dan jam baru menunjukan pukul 10.30 tapi aku sudah sangat mengantuk, mungkin karena semalam aku baru tidur di atas jam 12 karena ngobrol berdua dengan sang Letnan dan subuh sudah bangun untuk siap-siap meninggalkan pemukiman Kubu. Akhirnya aku-pun menyerah untuk memejamkan mataku setelah mencari posisi duduk ternyaman dengan menggunakan jaket sebagai bantal agar kepalaku tidak terantuk jendela bus.
Aku rasa aku baru merasakan lelah sekarang terbukti beberapa kali aku merasa kepalaku terantuk tapi aku bahkan tak bisa membuka mataku, aku hanya kembali ke posisi semula dengan mata tertutup sampai akhirnya aku merasa Kak Yoan merebahkan kepalaku di bahunya dan menahan kepalaku dengan sebelah tangan agar tak terantuk. Aku tersenyum sebelum akhirnya kembali tertidur dengan nyaman.
Entah berapa lama aku tertidur dan entah sudah sampai mana tapi aku merasa bus sudah berhenti membuatku perlahan membuka mata kemudian meregangkan tubuhku yang terasa pegal.
“Udah sampai ya, Kak?” tanyaku sambil melihat keluar jendela.
“Belum, kita istirahat dulu.”
Seketika aku melihat ke samping ketika mendengar suara berat sang Letnan yang kini tengah menatapku di balik kacamata hitamnya, tangangnya dilipat di atas dada terlihat mengintimidasi tapi juga terlihat sangat keren!
“Turun yuk, sholat dzuhur dulu.” Sang Letnan berdiri sambil membuka kacamatanya, sedangkan aku masih duduk dan menatapnya dengan mulut menganga.
“Dari kapan Mas Yudha duduk di sini?” tanyaku sambil ikut berdiri.
“Dari mulai kamu tidur.”
Jawabannya itu membuatku menganga dan mematung beberapa saat… “Jadi bukan Kak Yoan,” aku berbisik sambil mengekor keluar dari bus.
Kami beristirahat di sebuah rumah makan dimana terdapat sebuah mushola di sampingnya. Aku melihat Agus, Rendy dan yang lainnya sedang merokok ditemani segelas kopi hitam, Kak Yoan dan Teh Vita ikut bergabung duduk di kursi yang disediakan di teras rumah makan.
Aku dan sang Letnan terus berjalan menuju tempat wudhu, kemudian masuk ke dalam dimana Yuni dan Veny baru saja selesai sholat. Dengan memakai mukena yang kupinjam dari Yuni aku bersiap untuk sholat ketika ku lihat sang Letnan memasuki mushola. Dan terlihat 2x lebih tampan! Astagfirullahadzim, aku menggelengkan kepala sambil mengalihkan pandanganku dari pria yang benar-benar telah membuat jantungku berdebar kencang setiap melihatnya, dan aku lupa kalau sekarang aku sedang marah padanya.
“Berjamaah, Za,” ucap sang Letnan sambil membetulkan celananya yang tadi digulung sehabis wudhu. Aku menatap sekeliling mushala dan hanya ada kami berdua membuatku mengangguk menyetujuinya.
Percayalah seperti halnya aku akan memberi nilai lebih ketika melihat pria yang memakai seragam terutama tentara, maka aku-pun akan memberi nilai lebih kepada pria yang rajin sholat, dan entah kenapa setiap aku melihat orang sehabis wudhu atau sholat mukanya akan lebih bercahaya daripada sebelumnya.
Nah! Sekarang bisa dibayangkan-kan… pria yang memakai seragam tentara, terus rajin sholat maka nilainya seperti apa dimataku? Yang pasti plus-plus-plus, dan kini dia mengimami sholat-ku! Udah dech, MasyaAllah banget pokoknya.
Selesai sholat kami ikut bergabung dengan yang lainnya yang sedang tertawa entah membicarakan apa.
“Mau pada makan dulu gak?” tanya Teh Vita setelah aku bergabung bersama mereka sedangkan sang Letnan bergabung dengan rekan-rekan tentaranya yang duduk di meja sebelah.
“Sudah nih makan pop mie,” jawab Kang Pajar dan aku bisa melihat ada beberapa tempat pop mie yang sudah kosong di atas meja.
“Yang cewek-cewek pada mau makan dulu gak nih?”
“Gak usah kali yah, kita beli cemilan saja buat di jalan.”
“Nah iya, kita beli makanan saja buat di jalan.”
“Bentar, Kekey ambil dompet dulu.”
“Yuni, juga.”
“Veny, juga.”
“Pake duit ini saja, masih ada uang operasional… anggap saja biaya makan siang kita,” ucap Teh Vita membuat kita semua bersorak gembira. Teh Vita memang yang bertanggung jawab dengan keuangan selama perjalanan ini, dan karena ini adalah proyek dari Kemensos, maka kami memiliki dana yang cukup untuk semua kebutuhan kami selama di sini, yang tentu saja akan dipertanggung jawabkan nantinya, bahkan kami-pun mendapat uang saku untuk membeli oleh-oleh nanti, hehehe.
Kami berlima kembali ke dalam bus dengan kantong plastik penuh di tangan masing-masing yang berisi berbagai macam jenis cemilan, mengingat bukan hanya kami saja yang ada di dalam bus tapi juga beberapa teman dari TNI, dan yang lebih menyenangkan adalah teman-teman TNI juga membeli berbagai macam minuman untuk kami semua selama perjalanan menuju Palembang.
Perjalanan kembali ke Palembang lebih terasa cepat dari pada ketika pergi beberapa hari lalu, tanpa terasa kami telah sampai di kantor Dinsos Sumsel ketika jam menjukan pukul 2.30, kata Fadhil sejam lebih cepat mungkin karena jalanan yang lancar hampir tak ada kemacetan saat itu. Oh iya, aku kembali duduk bersama Kak Yoan yang hanya tersenyum menggoda melihatku ketika dia duduk disampingku.
Kami bersalaman untuk berpisah dengan teman-teman TNI, jarak dari Dinsos ke Kodam Sriwijaya sangatlah dekat hanya memerlukan waktu kurang lebih lima menit saja.
“Nanti pada mau jalan-jalan dulukan?” tanya sang Letnan menatap kami semua yang berkerumun di depan barang bawaan oleh-oleh dari warga Kubu.
“Iyo, ndak wisato kuliner dulu kito.(Iya, mau wisata kuliner dulu kita)”
Sang Letnan mengangguk mengerti mendengar ucapan Veni.
“Mau pada kemana?”
“Gak tahu, terserah tour guide aja,” jawab Bang Kamal sambil menatap Veny dan Fadhil yang tertawa mendengarnya.
“Paling area BKB, Mas.”
Mas Yudha kembali mengangguk mengerti, “Ya sudah, nanti kita ketemuan di BKB aja ya… aku yang teraktir makan malam nanti.”
“Asyiiik!” kami semua bersorak gembira, maklum kami ini adalah pencinta gratisan hahahaha.
Mas Yudha-pun pamit pergi dan kami kembali ke rumah Fadhil untuk mandi, beristirahat sebentar dan shalat ashar. Tapi rasa lelah seperti tak pernah ada di dalam kamus kami semua, mungkin karena jiwa muda kami entahlah, jadi setelah kami semua siap kami-pun langsung pergi berburu oleh-oleh.
Fadhil dan Kang Pajar menggunakan motor dan diikuti kami dengan menggunakan mobil Kak Yoan. Veny yang pulang ke rumahnya tidak ikut kami beli oleh-oleh pempek Candy dan kembali bergabung di BKB.
__ADS_1
Aku membeli beberapa paket pempek, tekwan kering dan kerupuk kemplang, yang akan ku berikan sebagian untuk keluarga Arga. Mobil Kak Yoan kini sudah dipenuhi oleh-oleh kami semua, para pria hanya bisa pasrah melihat kami yang kalap membeli oleh-oleh.
Sepulang dari Candy kami langsung menuju Benteng Kuto Besak atau BKB seperti yang Fadhil kasih tahu tadi. Area BKB terletak di pelataran sungai Musi dan jembatan ampera. Kuto Besak sendiri adalah sebuah bangunan keraton dimana menjadi pusat Kesultanan Palembang pada abad ke 18, dan berdiri sebuah benteng yang digunakan untuk pertahanan pada zaman dulu yang masih berdiri kokoh sampai sekarang dan ditempati oleh Kodam Sriwijaya pada masa sekarang.
Setibanya kami di area BKB kami disuguhkan pemandangan yang cantik, sebuah pelataran yang sangat luas dengan latar pohon-pohon palem di halaman Benteng Kuto Basak, jembatan ampera yang gagah melintasi sungai Musi dimana beberapa perahu berderet dengan rapi yang disewakan kepada para pengunjung yang ingin merasakan sensasi melintasi sungai Musi.
Bukan hanya itu tapi ada juga Museum Sultan Mahmud Badarudin 2 yang berbentuk rumah limas, tapi sayang ketika kami datang museum sudah tutup jadi kami tak bisa masuk ke dalamnya, ada juga sebuah plaza yang menjajakan berbagai macam makanan yang menggugah selera.
Angin sore sungai Musi membuat kami benar-benar merasa santai, seperti halnya semua pengunjung yang datang tengah menikmati suasana di sana, anak-anak bisa dengan leluasa berlari sepanjang pelataran. Dan anak muda seperti kami, tentu saja tak akan melewatkan kesempatan untuk foto-foto.
Kami berfoto hampir di semua sudut bagian, termasuk di bawah tugu ikan Belido raksasa seperti sekarang. Dan pada saat itulah sang Letnan datang dengan mengenakan celana jeans, kaos oblong putih dengan kemeja kotak-kotak biru tanpa dikancingkan, dan topi putih dengan logo Nike. Seperti biasanya dia terlihat keren, membuatku tersenyum tanpa sadar.
“Yah, telat Mas, kita dah foto-foto dari tadi,” ucap Bang Kamal yang hanya ditanggapi senyuman dari sang Letnan.
“Ada yang harus diurusin dulu.”
“Lampu jembatannya udah nyala! Foto di sana yuk!”
Tanpa di komando kamipun langsung berjalan mendekati arah jembatan Ampera yang terlihat gemerlap ketika lampu-lampunya sudah dinyalakan. Kami berfoto berkerumun di depan ponsel milih Teh Vita yang memanjang karena tongsis, yang membuatku kaget adalah karena sang Letnan berdiri di sampingku dengan tangan merangkul pundakku seolah dia terbiasa melakukannya.
Berusaha terlihat tenang, walaupun dengan jantung menggila aku tersenyum ke arah kamera. Oh iya setelah sholat berjamaah tadi siang kekesalanku seolah menguap begitu saja, untuk saat ini aku akan menikmati kebersamaanku dengan sang Letnan sebelum berpisah dengannya karena aku harus kembali ke Bandung, dan sang Letnan melanjutkan tugasnya di sini.
Sore hari di pinggir sungai Musi benar-benar sangat romantis, menjelang magrib lampu-lampu taman mulai dinyalakan membuat suasana temaran berwarna kuning, belum lagi jembatan ampera yang memancarkan pesona dengan lampu warna warni, tak jauh dari sana masih di area BKB ada sebuah restoran dengan bangunan berbentuk kapal yang juga dihiasi lampu, membuat kami tak pernah berhenti mengabadikannya di dalam kamera ponsel.
Setelah berfoto berkelompok, kini semua orang terlihat berfoto untuk koleksi pribadi, ada yang sendiri, berdua atau-pun ramai-ramai. Aku baru akan bergabung dengan yang lainnya untuk kembali berfoto ketika sang Letnan menarikku dengan merangkul pundakku.
“Kita foto berdua,” ajaknya sambil terus merangkulku sedikit menjauh dari yang lainnya yang tengah tertawa gembira dengan berbagai pose anehnya.
Sang Letnan mengelurkan ponsel dari saku celanannya, mengeset kamera dan dengan tangannya yang panjang kami-pun siap di foto.
“Senyum dong, katanya pengen foto-foto mesra berdua.”
“Iiih… kapan?” tanyaku dengan malu, dan ya Allah bagaimana aku bisa senyum, yang ku rasa hanya tegang karena posisi kami yang sangat dekat membuat jantungku tak bisa tenang.
“Hahaha.. ya sudah, pokoknya senyum ya.”
Sang Letnan memposisikan tubuhnya sedikit di belakangku membuat tubuhku sedikit bersandar di dadanya, tangan kirinya merangkul melingkari leherku.
“Siap!” katanya membuatku tersenyum menatap kamera, dan foto pertama kami berdua-pun terabadikan di dalam ponselnya.
“Lagi!” serunya sambil menarikku mencari tempat lainnya.
Sore itu ketika matahari mulai terbenam menghiasi sungai Musi untuk pertama kalinya kami tertawa bersama, entah berapa banyak foto yang kami ambil sore itu seolah itu untuk membayar dua tahun kebersamaan kami yang tertunda.
Aku dan sang Letnan duduk berhadapan-hadapan bergabung dengan yang lainnya, tertawa bersama menertawakan hal-hal sederhana, menikmati kebersamaan malam terakhir kami di Palembang dan malam terakhirku bersama sang Letnan.
Kami sering kali saling menatap untuk kemudian tersenyum tanpa alasan seolah itu adalah kebiasan kami berdua ketika saling menatap, Kak Yoan malah sempat mengabadikan ketika kami saling pandang dengan latar lampu-lampu megah jembatan ampere, membuatku berseru, “Keren, Kak, kirimin ke Kekey, ya.” Sang Letnan tak mau ketinggalan dia-pun meminta Kak Yoan mengirimkan foto itu kepadanya.
Malam semakin larut yang artinya kami harus segera kembali untuk beristirahat sebelum besok melakukan perjalanan panjang pulang ke Bandung. Sang Letnan mengantarkanku pulang ke rumah Fadhil menggunakan motor yang dia pinjam dari temannya, sepanjang jalan kami hanya terdiam berusaha menikmati kebersamaan kami yang sebentar lagi akan berakhir.
“Hubungi aku kalau sudah sampai Bandung,” ucapnya ketika kami sudah sampai di rumah Fadhil dan menunggu yang lainnya yang masih dalam perjalanan.
“Iya.”
“Jangan khawatir soal Leona dan Bang Eddy, aku akan membereskan masalah itu secepatnya.”
“Iya.”
“Kalau libur aku akan pulang ke Bandung.”
“Iya.”
“Nanti kita WA-an sampai malam lagi seperti dulukan?”
Aku tersenyum kemudian mengangguk.
“Lupa! Aku belum punya no Mas Yudha.”
“Sudah aku masukin ke hp-mu tadi.”
“Hah? Kapan?” aku mengambil ponselku untuk memeriksanya, kemudian tertawa ketika melihat nama kontak yang dia simpan di ponselku ‘Jendral of my heart’.
“Kenapa tertawa?”
“Namanya kok ini.”
“Sekarang belum jadi jendral beneran, ya untuk sekarang cukup jadi Jendral di hati kamu aja dulu.”
“Iiiiiih…. Hahahha! Mas Yudha, pede banget sih.” Aku bergidik sambil tertawa.
“Biarin aja.”
__ADS_1
“Lagian kitakan belum jadian, jadi Mas Yudha belum jadi General of my heart.”
“Kata siapa kita belum jadian? Udah lagi.”
“Hah? Kapan?”
“Semalam, pas kamu bilang suka sama cowok itu kan aku bilang kalau cowok itu juga suka ma kamu.”
“Iiih, gak sah!”
“Kenapa gak sah? Orang banyak saksinya, jadi sah dong.”
“Pokoknya gak mau!”
“Hahaha, ya udah… kamu maunya aku yang bilang duluan?”
“Ya iyalah masa cewek duluan yang bilang.”
“Kamu mau aku bilang sekarang kalau aku sayang kamu?”
Aku terdiam menatapnya yang menatapku lembut dan bisa kulihat kesungguhan di hatinya, kemudian aku menggeleng, membuatnya menatapku bingung.
“Kenapa?”
“Selama masalah dengan Leona belum selesai, maka kita juga gak bakalan ada hubungan apapun selain berteman.”
“Kenapa? Akukan memang gak ada hubungan apa-apa sama Leona.”
“Tapi semua orang tahunya kalau kalian berpacaran, nanti kalau kita pacaran terus kita jalan berdua semua orang akan bilang kalau Mas Yudha selingkuh dan aku perebut pacar orang.”
“Gak usah dengerin orang, kan kita yang tahu kebenarannya.”
“Kadang orang-orang juga harus tahu kebenarannya biar gak jadi fitnah, apalagi Leona itu artis yang selama ini memiliki image perempuan baik-baik dan banyak banget fansnya yang akan lebih memercayai apa yang dia ucapakan daripada apa yang kita ucapakan, dan akhirnya mereka jadi haters kita. Netizen sekarang ini ngeri-ngeri lho, Mas, kalau udah gak suka.” Aku bergidik ketika membayangkan akan diserang oleh para fans dari Leona, membuat sang Letnan mengangguk mengerti.
“Aku akan membereskan masalah ini secepatnya.”
“Janji?”
“Janji, biar kamu gak bisa lari lagi dariku.”
“Hahaha.”
“Za, apa tanggal jadian itu penting buat kamu?”
“Iyalah… kalau ada yang nanya kapan kita jadian, mau jawab apa coba?”
“Bilang saja hanya aku, Yudha dan Allah yang tahu.”
“Hahaha… terus kalau misalnya kejadian kaya kemarin, yang tiba-tiba ada gosip Mas Yudha pacaran sama orang lain gimana? Aku gak bisa marah, kan gak punya hak apa-apa, Mas Yudha juga bukan pacar aku.”
“Kamu emang gak marah-marah, tapi kamu diamin terus ngehindar, itu malah lebih nyeremin.”
“Hahahaha… Mas Yudha juga pas dengar dari Bang Eddy kalau aku sudah punya pacar kan cuma diam aja terus pergi jauh, kalau kita benar-benar pacaran pasti Mas Yudha gak langsung pasrah gitu aja.”
“Hehehe… kamu benar, Za,” ucap Sang Letnan sambil menatapku yang berdiri didepannya, sedangkan Mas Yudha tetap duduk di atas motor, “Tapi, Za,” Sang Letnan menggenggam tangan kananku kemudian menatapku dengan serius sambil berkata.
“Untuk sekarang kita memang belum resmi berpacaran, tapi kamu sudah mengetahui perasaanku jadi ku harap kamu akan menungguku dengan setia dan tentu saja percaya padaku.”
Sambil tersenyum malu aku mengangguk.
“Insyaallah… Mas Yudha juga, ya?”
“Aku? Aku apa?”
“Yang tadi.”
“Yang tadi apa?”
“Iih yang tadi Mas Yudha bilang.”
“Bilang apa?”
“Iiih… pokoknya Mas Yudha juga harus sama kaya gitu.”
“Sama kaya gimana?”
“Tahu ah!”
“Hahahaha… kamu lucu kalau lagai ngambek,” ucapnya sambil mencubit pipiku seperti anak kecil.
Malam itu kami mengucapkan perpisahan untuk sementara, sang Letnan berjanji akan menemuiku secepatnya, dan secepatnya yang dia ucapkan itu adalah keesokan harinya ketika kami baru keluar dari tol Pasteur-Bandung, sang Letnan telah menungguku di depan mobilnya dengan senyum lebar untuk menjemputku.
__ADS_1
*****