Pemilik Hati #1

Pemilik Hati #1
Bab 46


__ADS_3

Aku terdiam beberapa saat kemudian memandangnya, “Mereka bertunangan, jadi apalagi yang perlu diragukan? Mereka pasti sudah memberikan hati mereka masing-masing, dan sekarang tergantung mereka apa bisa menjaga hati dari pasangan masing-masing apa tidak.”


Mas Reihan menatapku beberapa saat kemudian mengangguk.


“Memangnya ada apa?” tanya Widy terdengar penasaran dan aku kembali menatap pemandangan ketika Mas Reihan mulai menjelaskan.


“Kata Kekey, perempuan itu jangan memberikan hati mereka seutuhnya kepada lelaki karena hanya akan membuat perempuan terluka ketika lelaki itu mengkhianatinya.”


“Dan jangan memercayai lelaki 100%.” Sambung Risma.


“Apalagi lelaki yang pandai menggombal dan berkata-kata manis,” ucapku sedikit tajam sambil meminum es kopyor milikku.


“Untung saja Mas Yudha gak gitu.”


Aku hampir saja menyemburkan es kopyorku ketika mendengar ucapan Widy.


“Mas Yudha gak romantis?” tanya Lulu.


“Mas Yudha… ya kaya gini, cool jarang bicara, tapi ini yang menjadi daya tariknya, membuat para perempuan penasaran.”


“Iya bener, lelaki yang cool itu memang bikin kita penasaran.”


Aku hampir saja tertawa mendengar itu, sang Letnan cool? Jarang ngomong? Gak romantis? Ckk… Widy belum tahu apa-apa tentang sang Letnan.


“Aku sepertinya pernah lihat Mas Yudha deh, tapi lupa dimana ya?”


Erna mencoba mengingat-ingat, aku ingin sekali memberitahunya kalau setahun lalu dia pernah jadi viral di dunia maya. Tapi seiring waktu berita itu mulai terlupakan karena setelah kejadian itu sang Letnan masuk pelatihan Kopassus selama 5 bulan, dan aku sendiri sibuk dengan PKL dan skripsiku jadi tak pernah sekalipun dari kami yang membagikan foto kebersamaan kami di sosmed, dan lebih memilih untuk dinikmati berdua saja.


“Kamu kan udah kenal dia lama, Key, dari dulu dia kaya ginikan?"


Aku menatap Widy beberapa saat kemudian tersenyum, “Kami jarang bertemu, pulang dari Myanmar dia langsung tugas di Palembang, terus masuk pelatihan, terus tugas di Jakarta… aku mungkin merasa kalau aku sudah mengenalnya, tapi bisa saja aku salah… bisa saja dia memiliki dua kepribadian ganda,” ucapku membuat sang Letnan yang sedang minum tersedak hingga batuk, sedangkan Mas Reihan tertawa mendengarku.


“Kalian tuh beneran kaya adik kakak ya, berantem mulu.”


“Mas Yudha sama Kekey adik kakak?” tanya Kris tak percaya, begitu juga yang lainnya yang kini menatapku dengan mata terbelalak.


“Bukan, Yudha itu anak tunggal, dan Kekey sudah seperti putri angkat orangtuanya Yudha... mereka tuh berantem mulu kalau ketemu kaya aku sama Widy waktu masih kecil dulu.”


“Oh... jadi Mbak Kekey nanti jadi adik iparnya Mbak Widy dong?”


“Iya, dan mudah-mudahan secepatnya… kami telah memutuskan akan mempercepat pesta pernikahan kami.”


Aku telah menduga hal ini akan terjadi apalagi setelah mengetahui kalau Widy hamil, tapi tetap saja berita itu mengejutkanku membuatku langsung menatap sang Letnan dengan pandangan tak percaya, yang juga tengah menatapku entah dengan sorot mata apa.

__ADS_1


Berita pernikahan sang Letnan yang dipercepat membuatku terus berdiam selama sisa perjalanan kami. Ketika hari mulai sore semuanya memutuskan untuk melihat sunset di suatu tepat yang namanya membuatku kembali merasakan sesak di dada… bukit bintang… sebuah nama yang memberikan kenangan paling berharga untukku.


Hampir sama dengan yang ada di Bandung, aku juga bisa menyaksikan pemandangan kota Yogya dari atas sini. Duduk di bangku beton yang telah disediakan aku bisa menyaksikan landskap gunung Merapi Merbabu dan pesawat yang take off ataupun landing di bandara Adisucipto.


Ingin menyendiri dan menikmati pemandangan itu membuatku memisahkan diri dari teman-teman lainnya yang menikmati jagung bakar dan secangkir kopi di warung-warung yang berada di sana.


Langit berubah warna jingga, membuatku semakin terhipnotis pemandangan alam itu, mengobati hatiku yang seakan kembali terluka akibat berita yang seharusnya sudah bisa kuprediksi. Aku merasakan seseorang duduk di sampingku, dan itu adalah sang Letnan. Aku kembali menatap ke depan sambil mengeratkan cardinganku, karena tubuhku tiba-tiba saja merasa dingin.


Kami terdiam seolah menikmati pemandangan alam yang magis layaknya pasangan lain yang berada di sana. Tapi kami juga tahu kalau hati dan pikiran kami saat ini tidak dalam kondisi baik untuk bisa menikmati pemandangan alam ini. Sampai akhirnya aku memecah keheningan.


“Jadi karena itu kamu menikahinya? Karena kamu berhutang nyawa padanya?”


Sang Letnan terdiam kemudian mengangguk, “Iya,” jawabnya lirih.


“Dan saat itu kamu jarang menghubungiku atau membalas pesanku adalah karena sedang merawatnya?”


Dia kembali menangguk, “Iya.”


Aku terdiam beberapa saat berusaha menenangkan jantungku yang sudah mulai menggila.


“Kenapa kamu tidak mengatakan padaku saat itu? Kenapa kamu tidak jujur? Apa kamu sudah jatuh cinta padanya pada saat pandangan pertama? Seperti yang sering kamu katakan padaku?”


Aku bertanya dengan sedikit emosi walaupun suara yang keluar dari mulutku berupa bisikan karena tak ingin yang lainnya mendengar apa yang sedang kami bicarakan.


“Kamu tidak ingin aku merasa khawatir, tapi kamu memutuskanku dengan alasan yang membuatku semakin terluka… kamu memang hebat!”


Sang Letnan hanya terdiam mendengarkanku.


“Katakan padaku, apa yang membuatmu mengkhianatiku? Apa salahku sebenarnya.”


“Sudah ku katakan padamu, kamu tidak salah apapun ini semua salahku.”


“Alasan klise (aku tersenyum sinis) bukan tanpa alasan kamu mengkhianatiku.”


“Aku berhutang nyawa padanya.”


“Hanya karena itu? Hanya karena dia menyelamatkan nyawamu, makanya kamu berani mengkhianatiku?”


Sang letnan terdiam dan hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaanku.


“Kalau begitu aku tak tahu berapa banyak istri para dokter karena harus menikahi setiap pasien yang berhasil dia selamatkan nyawanya,” ucapku dengan sinis, tapi dia hanya diam tak mengatakan apapun.


“Kamu mencintainya?”

__ADS_1


Dia masih diam tak menjawab.


“Apa kamu mencintainya?” aku kembali bertanya dan dia masih saja diam tak menjawab.


“Jawab aku! Apa kamu mencintainya?” aku kembali bertanya dengan tajam dan penuh emosi, membuatnya menatapku dengan tak kalah tajam.


“Iya! Aku harus mencintainya! Karena itulah aku mengkhianitmu… karena aku mencintainya! Apa kamu puas sekarang!”


Kini giliranku yang terdiam menatapnya dengan hati terluka untuk kesekian kalinya. Sebelumnya aku sudah mempersiapkan diri kemungkinan mendengar ini, tapi tetap saja mendengarnya langsung dari mulutnya kalau dia mencintai perempuan lain membuat hatiku terasa ditikam, membuat aura dingin menjalari seluruh tubuh.


Aku mengalihkan pandangan kembali ke depan dimana kini langit sudah mulai gelap, lampu-lampu kota mulai menyala seperti kerlip bintang, dan udara dingin mengelus wajahku seolah berusaha menenangkan. Beberapa kali aku menghirup udara segar mencoba mendinginkan hati yang lara, dan menghilangakan gumpalan yang membuat tenggorokanku terasa panas dan kering.


“Pergilah, tunanganmu sudah menunggumu… sekarang kita benar-benar telah berakhir.” Aku berkata dengan suara tercekat, mata yang mulai mengabur dan hati yang telah hancur seutuhnya.


“Za…”


“Pergi!”


“Maafkan aku!”


“Terlambat! Tidak ada yang bisa ku maafkan… kamu selalu mengatakan kalau kamulah pemilik hatiku dan aku pemilik hatimu. Tapi ternyata kamu memiliki dua hati yang kamu berikan kepada perempuan yang berbeda, sedangkan aku? Aku hanya memiliki satu hati yang seluruhnya sudah ku serahkan padamu, tapi kamu bukannya menjaga hatiku, kamu malah menghancurkannya berkeping-keping hingga tak bersisa! Bagaimana bisa aku memaafkanmu kalau aku sudah tak memiliki hati lagi?”


Aku menatapnya dengan tajam dan penuh amarah, sedangkan dia hanya diam menatapku dengan perasaan bersalah, membuatkan kembali menatap ke depan.


“Kamu yang pergi atau aku yang pergi!”


Aku bisa merasakan walaupun berat tapi pada akhirnya dia berdiri dan pergi tapi setelah berjalan dua langkah dia berhenti.


“Selamat tinggal, Za… berbahagialah.”


Mendengar itu membuatku mengeratkan cardigan dan memeluk tubuhku sendiri yang mulai gemetar, mataku mengabur oleh airmata yang perlahan mulai bergulir, tenggorokanku semakin panas dan tercekat. Saat itu di Bukit bintang aku menangis sendiri dalam diam, melepas cinta sejati dalam hidupku.


Di bukit bintang, kami mengucap kata cinta.


Di bukit bintang, kami merasakan peluk dan cium untuk pertama kalinya.


Di bukit bintang, kami saling memberikan hati kami untuk dijaga.


Dan kini… di bukit bintang kami mengakhiri segalanya.


Segala rasa yang menemaniku tumbuh menjadi sosok yang pernah mencintai dan dicintai tanpa batas, membuatku belajar tentang kesabaran akan penantian, membuatku belajar tentang menjadi dewasa dengan melepas cinta yang tak mungkin dimiliki, dan… membuatku belajar tentang mahalnya arti sebuah kesetian.


...Tamat...

__ADS_1


...Sampai jumpa di ekstra part Yudha POV, ketika semua kebenaran akan terungkap...


__ADS_2