Pemilik Hati #1

Pemilik Hati #1
Bab 6


__ADS_3

Jantungku tiba-tiba saja berdetak hebat hanya dengan membaca pesan yang sangat singkat itu, aku melihat no nya dan, iya no nya tak ku kenal. Dengan masih berdebar aku membalas pesan itu.


“Wa’alaikumsalam… Alhamdulillah baik, Mas Yudha apa kabar?”


Aku mengirim pesan itu dengan cepat, berharap dapat balasannya kembali. Dan ya! Dia membalasnya!


“Alhamdulillah baik, kok tahu ini aku?”


Aku tersenyum seperti orang gila di tengah malam hanya karena dapat pesan seperti itu.


“Kan cuma Mas Yudha yang manggil aku, Za.”


Aku kembali menunggu balasan darinya.


“Oooh, hehehe.”


Hanya itu? Hanya itu balasannya? Mataku masih menatap layar ponsel berharap akan ada pesan kedua yang masuk, tapi ternyata tidak! Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Apa aku yang harus mengirim pesan lagi? Tapi apa yang harus aku katakan? Otakku berputar mencoba mencari kata yang tepat yang akan ku katakan kepadanya, tapi sia-sia karena otakku seolah ikut membeku, sepertinya kepalaku ikut tegang malam itu.


Aku baru akan menyimpan ponselku di atas meja sebelah tempat tidur ketika kurasa poselku kembali bergetar, dengan cepat aku membukanya dan kembali tersenyum ketika melihat sang Letnan kembali mengirim pesan.


“Sudah tidur ya?”


Dengan cepat aku membalasnya.


“Belum, Mas Yudha sudah tidur?”


Kali ini aku tak perlu menunggu lama untuk mendapat balasannya.


“Kalau sudah tidur ga bisa WA-an sama kamu dong.”


Aku tersenyum membaca pesannya.


“Oh iya bener, hehehe.”


“Maaf ya, Za, ganggu malam-malam gini.”


“Engga kok, Mas, gak apa-apa belum ngantuk.”


Aku tidak berbohong, tadi mungkin aku mengantuk tapi sekarang rasa kantukku sudah terbang tak tahu kemana.


“Beneran nih, ga apa-apa?”


“Beneran.”


“Maaf habisnya aku baru bisa pegang hp cuma malam saja, kalau siang gak sempet buka-buka hp.”


“Lagi sibuk ya Mas?”


“Sibuk menyesuaikan diri di negri orang, makanya baru bisa ngehubungi kamu sekarang.”


Aku tersenyum membaca pesannya, jadi selama ini sang Letnan bukan tidak mau menghubungiku tapi karena tidak sempat.


“Gimana, sekarang sudah bisa menyesuaikan diri?”


“Lumayan… kemarin datang ke nikahannya Bang Eddy?”


“Datang bareng yang lainnya.”


Percakapan pertama kali lewat WA mulai mengalir secara normal malam itu, kami saling bercerita tentang kegiatan kami selama ini, percakapan yang standar memang tapi itu jadi berkesan karena yang aku ajak ngobrol sekarang adalah seseorang yang memang aku tunggu-tunggu. Malam semakin larut, di luar semakin hening sesekali terdengar suara motor atau mobil yang melintas melewati rumah, aku melirik jam dinding di dalam kamar yang kini telah menunjukan angka 1, tapi mataku masih terbuka sempurna dengan senyum menghiasi wajah.


“Sudah malam, tidur yuk? Kamu besok ada kuliah kan?”


“Iya, Mas, masuk siang.”


“Ya sudah tidur gih, besok kita lanjut lagi… eh ga apa-apa nih besok malam begadang lagi?”


“Gak apa-apa.”


“Ya sudah, besok kita lanjut lagi ngobrolnya… selamat malam, Za.”


“Selamat malam, Mas Letnan.”


“Hahahaha… sudah naik pangkat nih bukan Mas Sersan lagi.”


“Hahaha… sudah dikasih tahu Bang Eddy.”


“Oh pantesan, udah ah tar gak tidur-tidur nih… udah ya, yang ini gak usah dibales lagi… malam, Za, sweet dream.”

__ADS_1


“Have a sweet dream too (ga kuat pengan bales)”


“Hahahaha… udah ah beneran ya, jangan dibalas! Tahan buat besok lagi.”


Aku menutup wajahku dengan bantal berharap suara tawa bahagiaku yang tertahan akan teredam. Aku tak menyangka kalau percakapan pertama kami bisa mengalir begitu lancar walapun awalnya sempat canggung, tapi semua mulai mencair dengan sangat natural. Ah, sepertinya malam ini aku akan tertidur dengan senyum diwajahku.


****


Senyum tak bisa lepas sampai keesokan harinya, aku tak menceritakan tentang semalam kepada siapapun biarkan ini menjadi rahasiaku dan sang Letnan. Aku mungkin bisa membohongi Mira dan teman-temanku yang lain, tapi tidak dari satu orang ini. Dia adalah sahabatku dari mulai SMP, SMA sampai sekarang kami kuliah di kampus yang sama walaupun berbeda jurusan.


“Jadi?” Dia bertanya sambil mengunyah bakso malang si Kumis yang mangkal di depan kampus.


“Jadi apa?”Aku balik bertanya dengan mulut masih penuh.


“Apa yang bikin kamu cekikikan sendiri kaya kuntilanak.”


“Iiiih… siapa yang cekikikan.”


“Itu!” Arga menatapku sambil mengangkat alis matanya.


Aku mengatupkan bibirku berusaha untuk tidak tersenyum, membuat Arga berdecak sambil melanjutkan makan bakso malangnya lagi.


“Kelihatan jelas ya, Ga?”


“Hmm, jelas kaya kumisnya si Kumis.”


Jawab Arga membuatku tertawa, si Kumis adalah tukang bakso malang yang memiliki kumis tebal kaya ulat bulu.


“Aku cerita tapi jangan bilang siap-siapa ya?”


Arga menatapku sebentar kemudian mengangguk mengerti.


“Mas Sersan, eh maksudku Mas Letnan menghubungiku semalam! Hehehhe.”


Aku hampir saja berteriak ketika memberitahunya.


“Oh, cowok yang ketemu pas di Ciwidey itu?”


“Iya.” Aku menjawab sambil mengangguk semangat sedangkan Arga terlihat santai menghabiskan baksonya.


“Katanya lagi tugas di luar.”


“Oh.” Arga berkata sambil berdiri untuk mengambil teh botol di kotak es tempat minuman si Kumis.


“Kok cuma oh?”


“Mau gak?” Arga mengangkat teh botol yang langsung mendapat anggukan dariku.


“Kok cuma oh?” Aku kembali bertanya sambil mengambil teh botol dari tangan Arga yang kembali duduk di depanku.


“Ya udah, oh doang terus harus gimana?” Arga meminum teh botolnya sampai tersisa setengah.


“Komen kek?”


“Komen mah entar aja di facebook.”


“Iiih, nyesel cerita!” Dengan kesal aku meminum teh botol ku sampai habis.


“Haus, Neng, hahahaha.”


“Tahu ah!”


“Hahahaha… gini-gini.” Arga menarik kursi yang ku duduki jadi semakin dekat dengannya, dengan masih cemberut aku menatapnya yang cengengesan.


“Untuk sekarang aku gak bisa komen apa-apa, aku kan gak kenal sama dia jadi gak bisa komen takut salah.”


“Tapikan kamu kenal aku, Ga.”


“Ok, kalau gitu aku komen soal kamunya saja ya… yang pertama, seperti yang sudah aku bilang sebaiknya jangan berharap terlalu tinggi sama dia, kenapa? Karena kamu juga belum begitu kenal dia. Kita gak tahu dia sebenarnya kaya gimana, bisa saja pas dia WA-an sama kamu, dia lagi sama cewek lain di sana.”


“Ih, gak boleh tsu’udzon.”


“Iya, maaf… tapi itu dalam kondisi terburuk, cuma misalnya saja.”


“Dia gak bakal kaya gitu, Ga.”


“Kamu yakin?”

__ADS_1


“Insyaallah, kalau soal cewek dia gak bakalan kaya gitu.”


“Tahu darimana?” Arga bertanya seolah tak percaya dengan apa yang ku ucapakan.


“Tahu saja… kalau misalnya dia kaya gitu, aku gak bakalan suka sama dia, Ga. Aku bisa tahu kalau dia gak seperti itu hanya dengan melihatnya selama seminggu di Ciwidey dulu.”


Arga terdiam kemudian mengangguk mengerti.


“Tapi tetap, jangan berharap terlalu tinggi dulu ya, Key, siapa tahu dia hanya mau berteman saja sama kamu.”


Aku terdiam kemudian mengangguk mengerti.


“Terus aku harus gimana dong?”


“Ya udah, kalau dia ngehubungin kamu ya balas seperti biasa, jalanin saja dulu tapi ya itu tadi jangan berharap terlalu tinggi, berteman saja dulu kaya kamu sama yang lainnya sampai akhirnya kamu yakin kalau kamu benar-benar sudah kenal sama dia, dan kamu yakin kalau dia juga sayang sama kamu, baru dech boleh ge-er.”


Aku terdiam mendengarkan Arga, dan akhirnya mengangguk mengerti.


“Jadi biasa dulu saja nih?”


“Iya biasa saja, pdkt dulu, kenali dulu luar dalamnya, biar nanti gak nyesel.”


Arga berkata sambil berdiri mengeluarkan dompetnya buat bayar si kumis.


“Ok dech.”


Kami berjalan kembali ke dalam kampus menuju tempat parkir motor.


“Mau kemana?” aku bertanya setelah melihat Arga memakai helmnya dan duduk di atas motor Scorpio biru miliknya.


“Janjian sama Wina,” ucap Arga sambil nyengir.


“Pacaran mulu.”


“Siapa suruh jomblo mulu.”


“Bentar lagi dah gak jomblo, kan ada Mas Letnan hehehehe.”


“Ckkk, baru juga dibilangin jangan ge-er dulu.”


“Hehehe, iya - iya engga. Cariin dong, Ga.”


“Mau dicariin?”Arga menyalakan mesin motornya.


“Mau… tapi yang kaya Mas Letnan.”


Aku berkata sambil memakai helm milik Arga yang memang biasa ku gunakan.


“Tar bikin cloningannya dulu.”


“Hahahaha.” Tanpa disuruh aku langsung naik di belakang.


“Ngapain ikut? Woi! Mau kencan nih.”


“Nebeng.”


“Nebeng kemana?”


“OASIS.”


“Itu mah minta dianterin bukan nebeng.”


“Hahaha… emang janjian ma Wina dimana?”


“BIP.” (Mall yang ada di Jl. Merdeka, Bandung)


“Kan bisa lewat Jl, Riau.”


“Lewatin BIP-nya itu mah, bukan lewatin Jl. Riau nya.”


“Hahahaha.”


Arga melajukan motornya tanpa banyak bicara lagi. Memang kampus kami yang terletak di Jl. Taman sari hanya perlu belok kiri lewatin satu perempatan kemudian belok kanan di perempatan Jl. Merdeka, sudah deh sampai di BIP. Sedangkan untuk ke Jl. Riau dari perempatan Merdeka kita masih harus lurus melewati beberapa perempatan lagi, tapi seperti biasa Arga tak pernah menolak untuk mengantarku kemana saja.


Banyak yang menggosipkan kalau kami sebenarnya pacaran, tapi kami tak peduli karena yang tahu tentang hubungan kami adalah kami sendiri. Arga memang lebih dari teman biasa untukku, kalau misalnya aku bisa memilih seseorang untuk jadi kembaranku maka aku akan memilih Arga. Seberharga itulah Arga untukku, dan begitu juga sebaliknya.


Kami akan tahu siapa-siapa saja yang sedang dekat dengan kami. Arga pernah bilang kalau nanti pacarku atau pacarnya tidak bisa menerima kedekatan kami berarti dia tak bisa menerima kami apa adanya. Kalau ada perempuan yang dekat dengan Arga maka perempuan itu harus bisa menerimaku, begitu juga sebaliknya. Dan untung saja mantan-mantan kami adalah teman SMA atau teman kuliah yang memang sudah mengetahui kedekatan kami, jadi selama ini tidak pernah ada masalah mengenai hal itu.

__ADS_1


Tapi sedekat apapun hubungan kami, kami tak pernah ikut campur dalam hubungan masing-masing. Kami tidak pernah melarang untuk berhubungan dengan siapapun karena kami percaya kalau kami tidak akan pernah berhubungan dengan seseorang kalau orang itu tidak baik untuk kami. Seperti tadi, Arga tak melarangku untuk berhubungan dengan sang Letnan, dia hanya memberi saran agar aku jangan terlalu berharap dan tetap berhati-hati, jadi semua keputusan kembali terserah padaku.


*****


__ADS_2