Pemilik Hati #1

Pemilik Hati #1
Bab 18


__ADS_3

Pagi-pagi kami semua mulai disibukan dengan aktifitas hari itu. Para artis ikut ke ladang dan berburu dengan beberapa warga Kubu, para tentara dan pria dari Dinsos gabungan dan dibantu oleh pria warga Kubu mulai melanjutkan pembangunan beberapa fasilitas umum. Sedangkan aku, Yuni, Veni, The Vita dan Kak Yoan mulai mengajar anak-anak Kubu membaca dan menulis.


Sebenarnya anak-anak Kubu telah terdaftar di SD terdekat, tapi berdasarkan informasi dari Dinas pendidikan Musi Rawas yang kami terima, mereka jarang sekali masuk bahkan ada yang hanya masuk sekali sesudah itu tak pernah masuk lagi. Selain karena jarak tempuh yang cukup jauh untuk sampai ke sekolah, juga karena kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan dari para orangtua mereka.


Anak-anak Kubu sendiri memiliki semangat yang tinggi untuk belajar seperti sekarang ini, dengan aktif mereka mengikuti pelajaran dari kami. Beberapa dari mereka sudah ada yang bisa membaca walau belum begitu lancar, ada pula yang baru mengenal huruf. Untuk semakin membuat mereka semangat kami menyatukannya dengan bermain dan bernyanyi, kami memberikan hadiah kecil kepada siapa-pun yang bisa menjawab dengan benar walaupun cuma peralatan menulis tapi mereka terlihat sangat gembira ketika menerimanya.


Kami juga memberikan hadiah makan ringan yang sengaja kami bawa, seperti saat ini mereka untuk pertama kalinya mencoba permen pop rock yang akan meletus di lidah, mereka tertawa bahagia ketika merasakan permen-permen itu meletus di dalam mulut mereka. Kebahagian mereka-pun menular kepada kami yang ikut tertawa melihatnya. Tak menyia-nyiakan itu aku mengabadikan saat-saat berharga itu ke dalam kameraku.


Jam 11 siang kami menyudahi acara belajar karena sebentar lagi waktunya makan siang. Dan kami memutuskan membantu Mamak-Mamak yang sedang masak untuk makan siang.


“Mak, nak masak apo?” tanya Kak Yoan sambil ikut bergabung dengan ibu-ibu di depan tungku perapian. (Mereka masih menggunakan tungku untuk memasak).


“Mamak endak (mau) masak pindang patin.”


“Weis… mantap nian, Mak.” Veni berkata dengan senyum cerah.


“Hahahaha…aoo (iya) mantap, Bak nyale ikan tadek. (Bapak menangkap ikannya)”


Kami tertawa sambil mengangguk-angguk pura-pura mengerti dan akhirnya menebak memakai bahasa kalbu maksud ucapan si Mamak ini. Bahasa Musi Rawas dan Palembang sedikit berbeda, itulah mengapa bahkan Veny dan Fadhil yang asli Palembang yang notabane-nya sama-sama Sumsel terkadang terlihat bingung tak mengerti apa yang mereka ucapkan.


“Pindang kok pake kuah?” aku bertanya ketika melihat potongan ikan patin yang katanya ditangkap si Bapak di sungai tadi pagi dimasukkan ke dalam kuah berwarna kuning.


“Iyo, kalau di kita beda sama di Jawa, pindang ya kaya gini, pake kuah. Agek cuboi yo, lemak nian rasonyo (ntar cobain ya, enak banget rasanya).”


“Iyoooo,” ucap kami semua menirukan logat Palembangnya Veny sambil tertawa setelah menerka arti ucapan terakhirnya itu, lagi-lagi menggunakan bahasa kalbu.


Siang itu kami makan pindang patin hasil mancing dari sungai ditambah dua macam sambal yang baru kami temui di sini, yaitu sambal tempoyak dan sambal kabau. Ok, aku jelasin di sini, banyak yang sudah tahukan kalau tempoyak itu durian yang difermentasi? Aku sangat-sangat suka yang namanya durian, aku suka apapun yang berasal dari durian kecuali permen durian (enggak tahu kenapa aku merasa aneh dengan permen rasa durian) tapi ketika aku melihat sambal tempoyak untuk pertama kalinya, hmmm… aku sedikit ragu untuk mencobanya walaupun banyak yang bilang itu enak.


Ok, bisa dibayangkan durian difermentasi dengan garam selama beberapa hari lalu dikasih potongan cabe rawit seperti apa rasanya? Awalnya aku rasa akan sangat aneh, dan ternyata itu sangat enak! Aku sangat menyukainya, hahaha! Menurutku siapapun penemu sambal tempoyak, dia adalah ahli kuliner yang jenius!


Dan satu lagi sambal kabau. Semua pasti sudah mengenal si duo fenomenal jengkol dan pete kan? Dan seharusnya mereka trio bukan duo… yap! Satu member lagi adalah kubau! Dan ini jauh lebih dahsyat baunya dibandingkan si duo! Aku dan beberapa temanku langsung meringis dan hampir melepehkannya lagi ketika pertama kali mencobanya. Warga Kubu dan yang telah mengetahui rasanya seperti apa tertawa terbahak-bahak melihat reaksi kami.


“Ini sih jengkol juga kalah.”


Untuk orang yang memang menyukai si duo mungkin akan menyukai kubau ini, tapi untuk aku pribadi aku lebih memilih sambal tempoyak daripada sambal kubau. Aku bahkan duduk tak jauh dari piring tempat sambal tempoyak.


“Dasar, jurig(hantu) duren.”


“Hahaha.” Aku hanya tertawa mendengar ucapan Kang Pajar yang tertawa sambil menggelengkan kepala melihatku.


“Suka durian?” seorang Bapak bertanya padaku, yang dijawab anggukan semangat dengan mata berbinar olehku.


“Bukan suka lagi, dah gilo durian dia, Bak.” Bang Kamal menjawab pertanyaan Bapak itu yang membuat si Bapak tersenyum lebar. (Bak adalah panggilan untuk Bapak bagi warga Musi Rawas).


“Nanti aku teraktir makan duren dech kalau dah pulang dari sini,” ucap Ben sambil tersenyum membuatku ikut tersenyum.


Para artis dan cameraman juga ikut makan bersama kami dan memiliki reaksi yang hampir sama seperti kami ketika mencoba kedua sambal itu. Tapi kalau pindang patin, jangan ditanya… semua orang menyukainya! Kuahnya terasa segar oleh belimbing wuluh dan tomat hijau, dan sedikit pedas karena potongan cabainya.

__ADS_1


“Kekey saja nih yang ditraktir? Kita engga?” Protes Kak Yoan membuat semua orang kini menggoda kami.


“Hati-hati, Key, Ben modus tuh.”


“Cieee...”


Ucapan Marsya membuat suasana semakin riuh. Posisi duduk kami yang melingkar otomatis membuat semua orang bisa melihat dan mendengarnya. Oh iya, sang Letnan duduk diselingi beberapa orang dariku dan di sebelah Leona. (Kenapa aku harus memutar bola mataku setiap mendengar namanya?! Entahlah, hanya Allah dan bola mataku saja yang tahu).


“Pulang-pulang kayanya bakal ada gosip baru nih,” ucap salah satu cameraman sambil tertawa.


“Kalau mau pdkt sekarang saja, mumpung pengawal pribadinya gak ikut.”


“Hahaha, benar.” Agus mengiyakan ucapan Teh Vita yang langsung diiyakan oleh teman-temanku yang lain.


“Oh , Kekey sudah punya pacar?” Ben bertanya, dan aku bisa mendengar sedikit kekecewaan dari nada suaranya.


“Bukan pacar, tapi apa Key?” Tanya Kak Yoan yang membuatku tertawa sambil menjawab.


“Teman.”


“Teman tapi merangkap supir pribadi, pengawal pribadi, perawat pribadi dan juga malaikat pelindung ya Key?”


“Hahaha.” Aku kembali tertawa sambil mencolek sambal tempoyak.


“Arga ya?” Fadhil seolah baru menyadari siapa yang menjadi bahan pembicaraan kami.


“Nah! Fadhil saja yang sudah lama balik kampung langsung bisa nebak.” Teh Vita berkata yang membuatku kembali tertawa.


“Lagi naik gunung dia, makanya pas mau pergi dia ngasih listnya panjang banget sama kita-kita.” Bang Kamal menjawab pertanyaan Fadhil, dan aku hanya tersenyum sambil membersihkan piring sambal tempoyak.


“Memangnya dia ngasih list apaan?” aku tak tahu kalau Arga memberi list sebelum kami berangkat.


“Hati-hati kalau bawa Kekey, jangan di banting takut pecah.”


“Hahahaha… dasar sendok seng,” ucapku sambil tertawa.


“Kalau Kekey nangis, bilang saja jangan nangis tar dibawa genderewo, padahal genderewo juga gak mau bawa dia takut kupingnya sakit dengerin dia nangis. Soalnya kalau Kekey nangis kaya Himawari.” (adiknya shincan).


“Hahahaha… dasar si siro.”


“Hahaha, anjingnya Shincan dong.”


“Iya, hahaha.”


“Jangan biarin Kekey makan duren banyak-banyak tar magh-nya kambuh lagi. Kalau Kekey lihat duren, bilang saja itu bukan duren tapi semangka yang lagi nyamar jadi anak punk.”


“Hahahaha… telat.”

__ADS_1


Bukan hanya aku saja tertawa mendengar Bang Kamal, Agus dan Teh Vita yang memberi tahu list dari Arga tapi semua orang ikut tertawa mendengarnya.


“Tapiii… ini yang paling penting.”


Aku kini menatap Kak Yoan, apa lagi yang akan dikatakan Arga kali ini.


“Kalau ada tentara ganteng jauh-jauhin dari Kekey, soalnya kalau dia tugas di tempat jauh biaya buat berhentiin nangisnya mahal banget. Genderewo gak mempan, yang mempan cuma diajak makan di Dago atau Lembang, bisa-bisa tekor bandar.”


“Hahahaha.”


Semua orang tertawa mendengarnya, sedangkan aku hanya bisa meringis dan ingin sekali memukul Arga saat ini. Diam-diam aku menatap ke arah sang Letnan yang juga tengah menatapku.


“Yaaah, kita gak ada kesempatan dong?” Ucap salah satu tentara membuat yang lain kembali tertawa.


“Jadi kamu pernah pacaran sama tentara?” Leona bertanya membuatku menatapnya dan otomatis menatap sang Letnan yang duduk disampingnya.


“Tidak.”


“Terus kenapa temannya bilang gitu?” tanya Marsha penasaran.


“Arga mah gak usah didengerin suka ngaco dia,” jawabku sambil tersenyum.


“Yang gak boleh deketin kan tentara, kalau artis berarti boleh dong?”


“Hahaha… usaha terus, Ben.” Dony tertawa mendengar Ben yang masih berusaha mendekatiku.


“Tuh, Key, gimana? Mau gak sama Ben?” Leona bertanya sambil tertawa.


“Enggak ah.”


“Kenapa?”


“Takut masuk TV, tar dikiranya kembaran Dian Sastro.”


“Hahaha… Kembaran beda nasib sama beda segalanya itu mah.”


Aku kembali tertawa mendengar ucapan Agus dengan nada bicara khasnya.


Acara makan siang itu sebenarnya sudah selesai, kami telah menghabiskan semua makanan tapi kami tetap duduk melingkar untuk beberapa saat sambil tertawa dan bercerita selama beberapa menit sebelum akhirnya kembali beraktifitas.


Aku lagi cuci tangan ketika sang Letnan berdiri di sampingku.


“Bilang Arga, uang buat berhentiin kamu nangisnya nanti ku ganti, dan makasih sudah jagain kamu gantiin aku.”


Saat itu mungkin karena terkejut aku tak bisa berkata apa-apa selain menatapnya yang juga balik menatapku, entah berapa lama kami saling tatap seperti itu sampai akhirnya Fadhil memangil sang Letnan.


“Kita akan bicara nanti, Za,” ucapnya sebelum pergi menemui Fadhil yang menunggunya.

__ADS_1


Aku membuang napas berat kemudian melanjutkan cuci tangan, wudhu dan sholat dzuhur.


*****


__ADS_2