Pemilik Hati #1

Pemilik Hati #1
Bab 25


__ADS_3

Pagi-pagi kami telah siap untuk meninggalkan perkampungan Kubu, truk-truk tentara telah datang untuk mengantar kami sampai Kabupaten dimana bus Dinsos Sumsel telah siap menjemput kami sampai Palembang.


Suasana haru sempat mewarna perpisahan kami dan warga Kubu yang selama beberapa hari ini hidup bersama kami terutama anak-anak dan para Mamak, mereka bahkan membawakan kami buah-buahan hasil berkebun bahkan mereka memberikan durian khusus untukku yang memang menggilai buah berduri itu. Kami memberikan anak-anak peralatan sekolah dari mulai tas, seragam, sepatu sampai peralatan tulis dan memberi pesan agar tetap semangat sekolah yang diterima mereka dengan suka cita.


Dengan menggunakan truk TNI kami meninggalkan warga Kubu yang telah menyambut kami dengan hangat dan memberikan kami banyak pelajaran hidup dan bagaimana cara menghargai dan merawat alam. Terima kasih untuk pelajaran yang sangat berharga itu.


Sesampainya di kantor Dinsos Musi Rawas jam baru menunjukan pukul 8 pagi dan kami langsung membereskan barang bawaan kami ke dalam bis Dinsos Sumsel yang telah menunggu. Tapi sebelum itu kami memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu, dan kami memilih untuk makan lontong kuah yang berada tak jauh dari kantor Dinsos. Sedangkan para artis langsung pamit untuk pergi ke bandara, dan berjanji akan menghubungi kami kalau mereka ke Bandung.


Sambil menunggu lontong siap kami semua memeriksa ponsel yang langsung bersautan menandakkan banyaknya pesan yang masuk ke dalam ponsel kami semua. Aku mendapat pesan dari Ayah dan Ibu yang mengkhawatirkanku, dari Dirga yang meminta oleh-oleh, dan dari Arga yang langsung memberondongiku dengan seribu pertanyaan tentang sang Letnan yang kini duduk di sampingku sambil ngobrol dengan yang lainnya.


Pertama aku memutuskan untuk menghubungi ibu untuk mengabarkan kalau aku baik-baik saja dan besok baru pulang ke Bandung. Aku baru akan menghubungi Arga ketika ponselku berbunyi dan langsung membuatku tersenyum ketika melihat nama sahabatku itu di layar ponsel.


“Hallo, Key! Dimana nih? Udah pulang ke Bandung belum?”


“Assalamualaikum, Ga.”


“Oh iya hehehe… wa’alaikum salam..dimana nih?”


“Masih di Musi Rawas mau jalan ke Palembang tapi sarapan dulu.”


“Sarapan apa?”


“Lontong.”


“Ya elah jauh-jauh ke Sumatera sarapannya lontong, kalau mau lontong mah di Bandung juga banyak.”


“Terus apa dong?”


“Apa kek pepes jembatan Ampera misalnya yang gak ada di Bandung.”


“Hahahaha… gak bisa di pepes! Tar kalau di pepes jembatan amperanya habis terus orang Palembang nyebrang sungai Musinya gimana?”


“Suruh naik kapal selam, kan di sana banyak.”


“Hahahahaha..itu pempek!”


Semua orang melihat kearahku ketika mendengar aku tertawa.


“Pasti Arga.”


Aku mengangguk membenarkan tebakan Teh Vita.


“Kata Arga sarapannya gak kreatif jauh-jauh ke Palembang makan lontong di Bandung juga banyak, harusnya makan pepes jembatan Ampera.”


“Hahahaha… pulang ke Bandung ompong semua dong,” kata Kak Yoan sambil tertawa.

__ADS_1


“Kata Kak Yoan takut ompong pas pulang ke Bandung.”


“Hahaha... jangan deh, nanti kalau kamu ompong tambah gak laku.”


“Iiih… awas ya dasar sendok seng.”


“Hahaha… ngomong-ngomong soal ompong, gimana? Kamu jadi mukul dia sampai ompong gak?”


Aku tersenyum sambil menatap sang Letnan yang menatapku dari tadi.


“Gak jadi.”


Arga terdiam beberapa saat sebelum kembali bertanya.


“Kalian sudah ngobrol berdua?”


“Sudah,” jawabku sambil menunduk menatap lontong dengan kuah merah yang baru saja datang.


“Terus?”


“Panjang, Ga… nanti ya.”


Aku bisa merasakan sang Letnan menatap ke arahku dan menyadari kalau saat ini dialah yang menjadi objek pembicaraan kami.


“Ya udah… kapan pulang?”


“Jam berapa?”


“Bentar.” Aku menurunkan ponselku untuk bertanya kepada Bang Kamal.


“Bang, besok pulang jam berapa?”


“Kalau bisa kita berangkat jam 3-4an biar sebelum gelap udah sampai Bakauheni.” Aku mengangguk mengerti dan menyampaikannya kepada Arga.


“Ya udah, tar kalau sudah sampai Bandung, telepon biar dijemput.”


“Telepon kamu, Ga?”


“Jangan, telepon Dirga saja biar dia yang jemput.”


“Iiih… dikiraian mau jemput.”


“Hahaha…. Ya udah nanti kabarin lagi ya.”


“Okay.” Aku menutup ponselku kemudian menaruhnya di atas meja.

__ADS_1


“Seneng banget habis di telepon Arga,” ucap sang Letnan sambil menyuap sesendok penuh lontong.


“Iya, kan sudah lama gak ngobrol sama dia.”


“Baru lima hari, sama aku gak ketemu bertahun-tahun malah dicemberutin.”


“Salah sendiri selingkuh,” jawabku santai sambil menyuap lontong, membuatnya tersedak dan terbatuk-batuk.


“Pelan-pelan makannya, Mas, gak bakalan minta kok.” Aku kembali berkata santai membuat matanya membulat menatapku


“Aku gak selingkuh, Za, kan semalam sudah di jelasin.”


Aku mengangkat bahu santai membuatnya membuang napas berat.


“Key, kata Ben follback.”


“Gaya euy urang (keren kita) di follow artis, hahaha,” ucap Agus membuat kita semua ikut tertawa.


“Emangnya ngefollow ya?” aku bertanya sambil membuka akun instagramku, dan baru saja terlihat ada pemberitahuan kalau Ben, Dony, Marsya dan Leona telah menjadi follower ku.


“Iya, semua ngefollow kita, minta follback.”


“Mas Yudha, ada Ig gak?” tanya Kak Yoan.


“Ig apaan?”


“Instagram, Mas.”


“Oh… hehehe gak punya.”


Terdengar yang lain merayu sang Letnan untuk membuat akun instagram sedangkan aku telah asik memasuki dunia maya untuk sekedar melihat status dari teman-temanku, sampai akhirnya sebuah status membuat mataku terbelalak dan dadaku mulai memanas.


Seperti yang sudah ku perkirakan Leona mengupload foto makan siang mereka beberapa hari lalu dengan tulisan, “Makan terakhir dengan Mas Letnan sebelum kembali ke Jakarta… I’m ready missing you.”


Dengan marah aku langsung menatap sang Letnan yang menatapku bingung.


“Kenapa, Za?”


“Kalau masalah dengan perempuan itu belum selesai, jangan berani deket-deket!” Aku berbisik marah sambil menggeser tempat dudukku menjauh, membuat sang Letnan tambah bingung.


Kak Yoan yang duduk di depan kami sepertinya menyadari apa yang membuatku marah, tanpa banyak bicara dia memberikan ponselnya kepada sang Letnan dengan wajah prihatin. Dengan masih bingung sang Letnan melihat ponsel Kak Yoan yang memerlihatkan status dari Leona dan seketika ia membuang napas berat, sambil berkata.


“Bikinin aku instagram!


*****

__ADS_1


Bonus cemilan siang 😍


__ADS_2