
Pemberitaan di televisi hampir seminggu ini tak lepas dari seputar Leona, aku dan sang Letnan. Leona semakin sering mengisi layar TV dengan menghadiri beberapa talkshow yang membicarakan tentang gosip-gosip selebritis, acara musik yang lebih banyak mengumbar aib dan menjadikan ‘perselingkuhan’ sang Letnan dan aku menjadi bahan candaan yang ditertawakan oleh para pembawa acara dan penonton bayaran yang ada di dalam studio.
Aku sudah tak pernah membuka sosmed lagi karena caci maki yang semakin hari semakin parah, bahkan ada yang menghujat dan menyumpahiku. Tapi teman-teman yang mengenalku dengan sangat baik tak diam begitu saja, seolah ikut marah mereka membalas komentar-komentar jahat itu dan akhirnya terjadilah peperangan di media sosial.
Sampai akhirnya suatu pagi aku dikejutkan oleh WA di grup OASIS yang menyuruhku membuka instragram, mereka mengatakan kalau sang Letnan semalam mengupload sesuatu. Dengan rasa penasaran aku membuka ig setelah sekian lama dan banyak sekali pemberitahuan yang ku abaikan, aku langsung masuk akun ig sang Letnan dan seketika terbelalak ketika melihat beberapa foto terpasang di sana.
Aku membuka foto pertama dan tak percaya ketika kulihat itu adalah foto kami di Ciwidey, pada malam terakhir. Di foto itu kami seolah sedang saling tersenyum dengan segelas kopi ditanganku yang diterima sang letnan. Mataku membaca tulisan status dari foto itu dengan hati bergetar.
Ciwedey, Agustus 2013, itu pertama kalinya aku bertemu dengan seorang perempuan yang membuat jantungku seolah berhenti, perempuan yang cantik paras dan hatinya, seperti malaikat yang Allah kirimkan kepada kami semua di tengah bencana. Iya, kami bertemu bukan pada acara suatu pesta atau tempat lain pada umumnya, tapi kami bertemu di tempat bencana dimana aku tengah bertugas sebagai anggota TNI, dan dia adalah seorang relawan yang membantu para korban.
Cantik, muda, memiliki jiwa sosial dan kemanusian yang tinggi cukup membuatku semakin lama semakin mengaguminya. Tapi percayalah untuk mendapatkan hatinya tidaklah mudah, dia sangat galak dan judes, hehehe… dia adalah perempuan pertama yang berani memutar balikan semua perkataanku dan itu selalu membuatku tertawa sambil menggelengkan kepala. Tapi karena itulah aku semakin menyukainya.
Aku tersenyum seolah diingatkan pada percakapan pertama kami, sekarang aku melihat foto kedua dimana kami duduk berdua di depan api unggun. Dan sekarang sang Letnan menulis seolah dia tengah berbicara padaku.
Kamu ingat saat ini? untuk pertama kalinya kita duduk berdampingan seperti ini, dan percayalah jantungku berdetak hebat saat itu, aku bahkan tak berani menatap ke samping karena takut jantungku akan meledak karena bahagia.
Hanya duduk disampingmu sudah merupakan kebahagian untukku, tapi aku juga sedih karena itu adalah malam terakhirmu di sana sebelum besok kamu pulang ke Bandung. Saat itu aku terlalu sibuk di lokasi bencana bahkan tak sempat untuk mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Dan aku juga sedih karena tak bisa melihat wajah jelitamu lagi, wajah yang bisa menghilangkan segala penatku, wajah yang akan selalu kurindukan. Tapi aku yakin Allah akan memertemukan kita lagi.
Foto ketiga adalah foto di pernikahan Bang Eddy, bukan hanya ada aku di sana tapi yang lainnya juga ketika kita sama-sama berfoto dengan pengantin.
Aku telah menunggu hari ini… hari ketika aku akan bertemu denganmu lagi, tapi ternyata kita harus menunda pertemuan kita karena aku harus pergi untuk tugas negara… dan kamu tahu aku marah ketika melihat foto ini? Seharusnya kau tidak berdandan terlalu cantik hari itu karena akan membuat lelaki lain tahu kalau kau cantik dan sainganku akan semakin bertambah banyak. Kamu hanya boleh berdandan cantik ketika bersamaku saja. Ingat itu!!!
Aku tersenyum membaca tulisan itu, foto selanjutnya adalah fotoku yang sempat kukirimkan kepadanya saat tugas di Myanmar.
__ADS_1
Foto ini adalah salah satu foto yang kamu kirimkan untukku ketika aku tugas di negeri orang, untung saja foto-fotomu sempat ku pindahkan ke dalam laptop sebelum ponselku hilang. Foto ini dan percakapan kita setiap malam adalah penyemangatku ketika sedang bertugas, tapi melihat foto dan mendengar suaramu malah membuatku semakin rindu ingin cepat pulang ke tanah air.
Ketika aku kehilangan ponselku dan semua no kontak di dalamnya aku seperti orang gila mencoba mengingat no telp-mu, sampai teman-temanku sering menggodaku dengan mengatakan seandainya saja aku memberi tahu mereka no telp-mu maka aku tak akan semenderita itu. Tentu saja aku tak akan memberitahu mereka no telpmu!! Tapi untung saja aku masih memiliki fotomu yang menenami hari-hariku di negri orang.
Foto selanjutnya adalah foto saat di Kedubes.
Pada acara inilah ponselku hilang, entah terjatuh atau apa karena pada hari itu terlalu banyak orang yang hadir untuk menyaksikan penyanyi yang katanya sedang naik daun di tanah air. Kami-pun berfoto dengan penyanyi itu tapi hanya itu tidak lebih! Kamu tahu sendiri aku tidak menyukai keramaian dan akhirnya aku bersama beberapa rekanku pergi untuk mencari ketenangan di tempat lain.
Hari itu pikiranku sangat kacau ketika menyadari ponselku hilang, yang artinya aku tak akan bisa lagi berbicara denganmu seperti malam-malam sebelumnya, dan aku tahu kamu akan menunggu kabar dariku. Aku tahu kamu akan sangat khawatir, dan aku tak tahu bagaimana cara menghubungimu untuk sekedar memberitahu kalau aku baik-baik saja dan… aku sangat merindukanmu.
Aku semakin semangat membuka foto selanjutnya yaitu foto makan siang bersama Leona, tapi di foto ini bukan hanya ada mereka berdua seperti yang pernah Leona upload tapi juga bersama beberapa orang yang tak ku kenal.
Ini adalah keesokan harinya ketika aku pergi bersama dengan teman-temanku untuk membeli ponsel, saat itulah tanpa sengaja kami bertemu dengan beberapa orang yang kami temui di Kedebus hari sebelumnya. Bertemu dengan saudara sebangsa di luar negri, percayalah itu akan membuat kita seperti bertemu dengan saudar sendiri, karena itulah kami ikut bergabung makan siang bersama mereka. Tapi percayalah, saat itu kami tidak berdua… kamu lihat sendirikan kalau bukan hanya kami berdua, dan aku tak tahu kalau foto ini yang nantinya akan membuat kehebohan di tanah air.
Waktu kepulangan kami ke tanah air semakin dekat dan aku sangat gembira yang artinya aku akan bisa bertemu denganmu lagi. Tapi setibanya di tanah air aku dikejutkan dengan berita tentangku yang berkencan dengan salah satu penyanyi tanah air. Bukan hanya aku tapi semua rekan-rekanku-pun terkejut mendengar berita itu.
Bagaimana bisa berita itu menyebar tanpa sepengetahuanku? Aku bahkan tak menganal siapa yang menjadi kekasihku di berita itu, selain kami pernah 2x berfoto saat di Myanmar! Siapa yang menyebarkan berita itu? Entahlah, aku tak berpikir banyak saat itu yang ku pikirkan adalah menjelaskan padamu kalau semua itu tidak benar!
Aku langsung mencari temanku yang juga mengenalmu untuk meminta no telp-mu, tapi dia mengatakan kalau kau sudah memiliki kekasih baru. Aku kecewa dan hancur, aku pikir kamu akan menungguku kembali ke tanah air, tapi ternyata yang ku dengar adalah kau telah bersama pria lain.
Dengan cepat aku mengganti foto selanjutnya dan foto itu adalah saat kami bertemu pertama kali di Kubu, saat kami bersalaman dan terlihat jelas wajah keterkejutan di sana.
Mengetahui kamu telah memiliki kekasih membuatku membiarkan berita tak benar itu begitu saja tanpa mengklarifikasinya, untuk apa lagi aku menyangkalnya kalau itu tak ada artinya bagiku karena aku telah kehilanganmu. Dan aku bersyukur karena aku ditugaskan di luar pulau Jawa dengan harapan semakin aku jauh darimu maka aku akan bisa melupakanmu dan berita kencanku akan hilang seiring waktu.
__ADS_1
Tapi Allah memiliki rencana lain dengan memertemukan kita kembali di tempat yang tidak disangka-sangka. Awalnya aku pikir aku hanya bertemu dengan perempuan yang orang-orang tahu sebagai ‘kekasihku’ padahal itu adalah pertemuan kedua kami setelah yang pertama di Myanmar. Sebagai perwakilan TNI aku ikut menyambut kedatangan mereka semua, dan ketika aku menyalaminya saat itu lah aku mendengar suara tawa yang selama ini ku rindukan.
Percayalah, seketika jantungku seolah berhenti ketika mendengar suara tawamu, aku bahkan langsung meninggalkan rombongan tamu itu dengan para wartawan yang meliput mereka. Dengan cepat aku berjalan untuk membuktikan kalau telingaku tidak salah, dan disanalah kamu berdiri tengah tertawa dengan teman-teman yang sebagian dari mereka telah ku kenal sebelumnya.
Jantungku tiba-tiba saja berdetak menggila, kerinduan menyeruak kepermukaan ketika melihatmu. Kamu belum berubah sedikitpun selain rambutmu yang kamu potong pendek, kamu masih terlihat cantik seperti dulu, bahkan kini kamu terlihat semakin cantik dan dewasa. Tapi ketika aku melihat matamu, aku melihat amarah dan kecewa di sana, saat itulah aku menyadari ada yang salah dengan itu semua.
Foto selanjutnya adalah foto malam pertama kami di Kubu, ketika sang Letnan duduk di sampingku sambil makan mie.
Malam itu ketika semua orang menggoda ku dengan ‘kekasihku’ aku melihatmu hanya tertunduk terdiam membuatku berteriak memanggilmu supaya semua orang diam dan menyadari kalau ada hati seseorang yang ingin kulindungi… yaitu kamu.
Bukan tanpa alasan malam itu aku memintamu memasak mie untukku tak lain adalah supaya aku bisa duduk di sampingmu dan berbicara denganmu. Tapi kamu terus menghidar bahkan tak ingin berbicara denganku, saat itu juga aku bisa melihatmu marah setiap seseorang menggodaku dengan perempuan itu, dan itu membuatku tersenyum karena mengetahui kalau hatimu masih menjadi milikku.
Jadi karena itu tiba-tiba saja kamu berteriak memanggilku dan menyuruhku memasak mie? Aku tersenyum mengingat malam itu sebelum kembali melihat foto selanjutnya yaitu saat makan siang di Musi Rawas, aku bisa melihat Fadhil, Marsya dan Doni di sana.
Menyadari kalau ada kesalah pahaman di antara kita dan menyadari kalau hatimu masih menjadi miliku membuatku berbicara dengan ‘kekasihku’ berdua untuk pertama kalinya (Bukankah ini lucu, semua orang mengira kalau kami pacaran tapi kami bahkan belum pernah berbicara berdua selama ini, selain hari itu... jadi bagaimana bisa tiba-tiba kami berpacaran? Entahlah). Aku memintanya untuk mengakhiri semuanya, dan saat itu dia minta maaf dan berjanji akan membereskan semua itu sepulangnya ke Jakarta. Aku memercayai ucapannya dan memegang janjinya.
Foto ini diambil hari kedua kami di Musi Rawas, saat itu mereka akan melakukan shooting di luar Kubu, dan aku ikut karena aku ingin meminjam sleeping bag di kantor Dinsos untukmu dan teman-temanmu yang semalam harus tidur di atas papan tanpa alas apapun, dan kamu terlalu keras kepala untuk memakai punyaku, bahkan untuk mau menerima jaketku. Aku akhirnya harus meminta salah satu temanmu untuk menyelimutimu memakai jaketku ketika kamu sudah tertidur.
Mungkin kalau acara ini sudah ditayangkan dan mudahan tidak diedit sana-sini, kamu bisa melihat kalau hari itu aku hanya berperan sebagai supir, aku mengantar mereka ke pasar kemudian aku pergi ke Dinsos dan aku kembali menjemput mereka dengan menunggu mereka di dalam mobil. Aku baru bergabung dengan mereka kembali saat makan siang.
Aku tersenyum membaca itu, aku menyukai bagaimana cara sang Letnan berusaha menjelaskan kepada semua orang tentang keadaan yang sebenarnya, dengan cara seolah-olah dia hanya menjelaskan padaku saja. Dan menjadikanku sebagai pemeran utama, walaupun aku tahu sebenarnya dia ingin semua orang bisa melihat kebohongan yang telah dibuat oleh Leona.
Aku kembali melihat foto selanjutnya, foto ketika aku menginjak kakinya… tapi darimana sang Letnan bisa mendapatkan foto-foto itu?
__ADS_1
*****