Pemilik Hati #1

Pemilik Hati #1
Bab 21


__ADS_3

Setelah para dokter pergi, kami sholat dzuhur dan beristirahat sebentar sebelum kami kembali ke pendopo untuk mengajarkan anak-anak tentang adat dan budaya lain yang ada di Indonesia, tapi seperti tadi aku tak bisa konsentrasi dan setelah mengambil beberapa foto aku duduk di pojok pendopo melihat ponselku berharap ada sinyal.


Aku membuang napas berat ketika kulihat tak ada segaris-pun sinyal yang masuk, tapi aku tatap mencari no Arga dan langsung mengiriminya pesan setelah menemukannya.


“Ga, mereka di sini, Sang Letnan sama ceweknya. Aku harus gimana, Ga? Selama ini aku berusaha bersikap senormal mungkin seperti yang kamu ajarin. Aku akan mengacuhkannya kalau dia berpura-pura tak mengenalku dan sepertinya itu akan lebih baik kalau kami pura-pura tak saling mengenal. Tapi dia tak melakukan itu, Ga. Dia menyapaku terlebih dahulu, dia memberikan jaketnya agar aku tak kedinginan di malam hari, dia rela meminjamkan sleeping bag agar aku bisa tidur dengan nyaman, dan itu membuatku kembali goyah... aku jahat ya Ga? Aku tahu kalau dia sudah memiliki kekasih dan dia ada di sini! Kami makan bersama, tertawa bersama, kami saling bertegur sapa setiap hari. Dan ku rasa dia bukan perempuan jahat seperti di sinetron-sinetron, dia baik dan juga sangat cantik… sangat berbeda denganku.”


“Selama di sini sebisa mungkin aku berusaha menghindarinya, tapi ini adalah lingkungan yang sangat kecil membuat kami seperti terkurung di dalam satu ruangan yang tak mungkin untuk saling menghindar satu sama lain. Setiap siang kami akan berkumpul untuk makan siang dan malam kami akan berkumpul di depan api unggun hanya untuk saling bercerita, terkadang dia akan duduk di sampingku dan itu kembali membuat jantungku berdebar kencang. Aku tahu aku tak boleh memiliki perasaan itu, dan karena itu aku membenci diriku sendiri, aku membenci karena dadaku akan berdebar kencang setiap melihatnya, aku benci ketika darahku berdesir hanya dengan duduk di sampingnya, aku membenci diriku yang masih mencari sosoknya setiap saat. Aku benci diriku sediri, Ga! ”


“Dan barusan, untuk pertama kalinya aku berbicara berdua dengannya, untuk pertama kalinya aku mengeluarkan semua amarah yang selama ini kutahan. Aku mengeluarkan semuanya, Ga! Aku bahkan berteriak padanya, dan dia hanya diam mendengarkanku. Dia mau mengatakan sesuatu, dia ingin menjelaskannya tapi aku tak mau mendengarnya. Karena aku tahu ada dua kemungkinan yang terjadi setelah mendengarkan penjelasannya… yang pertama aku akan luluh dan memaafkannya, yang artinya perasaan yang berusaha kukubur dalam-dalam akan kembali muncul ke permukaan, dan itu akan menjadikanku perempuan jahat karena mencintai lelaki milik perempuan lain. Dan yang kedua, penjelasannya akan membuatku benar-benar kehilangannya untuk selamanya… dan, aku belum siap untuk itu,Ga… apa yang harus aku lakukan, Ga?”


Aku membuang napas panjang sambil menatap pesan sangat panjang yang tak terkirim. Bagaimana bisa terkirim, saat ini aku berada di tengah hutan dan Arga sedang berada di puncak gunung, tapi setidaknya aku merasa sedikit tenang karena telah menceritakan semuanya kepada seseorang, selama di sini aku menyimpan semuanya sendiri aku butuh teman curhat, tapi tak ada seorang-pun yang mengetahui kisah ku dan sang Letnan selain Arga.


Kak Yoan duduk di sampingku sambil berselonjor, anak-anak kini tengah mengerumuni Veny, Teh Vita dan Yuni yang memegang tablet untuk menonton video yang telah kami siapkan sebelumnya.


“Mau cerita?” Kak Yoan bertanya lembut tanpa mengalihkan pandangannya dari anak-anak.


Aku menatap Kak Yoan yang kini menatapku sambil tersnyum, “Kakak mendengarnya?”


“Iya.” Kak Yoan mengangguk membuatku terdiam beberapa saat ragu untuk bercerita, tapi Kak Yoan mungkin pilihan yang paling tepat untuk mendengar ceritaku, dia adalah mahasiswi psikologi dari salah satu universitas ternama di Bandung, dan aku yakin dia akan menjadi pendengar yang baik.


“Sebelumnya aku juga sudah menyadari ada sesuatu antara kamu dan… Mas Yudha.” Kak Yoan berbisik ketika menyebut nama sang Letnan.


“Kelihatan ya?” aku bertanya yang membuat Kak Yoan kembali mengangguk sambil tersenyum.


“Yeap.”


Aku membuang napas panjang sebelum akhirnya mulai bercerita dari awal sampai akhirnya aku bertemu kembali dengannya di sini. Seperti yang kuduga Kak Yoan mendengarku dengan sangat baik dari awal sampai akhir, sesekali ia kan mengangguk tanda mengerti tanpa memotong ucapanku.


“Boleh ku kasih saran?” ia bertanya setelah mendengarkan ceritaku.


“Boleh.”


“Sebaiknya kamu mendengarkan penjelasannya, karena sebenarnya yang membuatmu terluka sampai sekarang adalah rasa penasaran yang belum terjawab.”


Aku menatap Kak Yoan tak mengerti dengan apa yang dikatakannya, Kak Yoan hanya tersenyum kemudian menjelaskannya.


“Kamu penasaran dengan perasaan dia padamu selama ini, kamu juga penasaran kenapa dia tiba-tiba menghilang tanpa kabar, dan kenapa dia bisa berpaling kepada perempuan lain secepat itu.”


Aku terdiam mendengarnya dan mulai menyadari kalau itu memang benar, itu yang selama ini menjadi batu besar yang membuat dadaku sesak.


“Tapi sebelumnya kamu harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.”


Aku membuang napas berat karena sangat mengerti apa arti kemungkinan terburuk itu.


“Itu yang Kekey belum siap, Kak.”


Aku menekuk lututku lalu memeluknya, Kak Yoan mengelus punggungku dengan lembut.


“Semakin kamu menunda lebih lama semakin kamu akan terluka.”


Aku hanya terdiam mendengarnya, karena tahu kalau itu semua memang benar.

__ADS_1


“Kak… aku bodoh ya, Kak, karena masih memiliki perasaan sama dia.”


“Tidak, kamu tidak bodoh, Key, karena kita tidak bisa memilih kepada siapa dan kapan kita akan jatuh cinta.”


“Tapi sekarang dia sudah punya kekasih lain.”


“Kamu yakin kalau mereka benar-benar berpacaran? Apa kamu pernah dengar itu dari mulutnya langsung?”


Aku memutar tubuhku menjadi bersila menghadap Kak Yoan.


“Kakak gak pernah nonton acara gosip ya?”


“Hahaha.” Dia hanya tertawa mendengar pertanyaanku.


“Kekey serius, Kak, seluruh warga Indonesia juga kayanya tahu kalau mereka pacaran.”


“Apa di acara gosip itu ada pernyataan dari ‘nya’ kalau mereka memang pacaran?”


Aku berpikir mengingat semua berita ditulis hanya berdasarkan pernyataan dari Leona saja dan tak pernah sekalipun sang Letnan memberi pernyataan, membuatku menggelengkan kepala menjawab pertanyaan itu yang membuat Kak Yoan mengangguk sebelum melanjutkan ucapannya.


“Apa selama di sini kamu pernah melihat mereka duduk berduaan saja? Atau pergi berdua saja?”


“Mereka pernah duduk deketan terus pergi ke luar.”


“Tapi tidak berduakan?”


“Tidak.”


“Key, kamu tahukan kalau aku senang sekali mengamati orang-orang?”


“Orang yang lagi pacaran apalagi yang jarang bertemu atau LDR-an biasanya akan nempel kaya perangko, mereka seolah-olah tak terpisahkan. Nah bukankankah katanya mereka mulai pacaran pas ‘dia’ masih tugas di luar?”


“Iya.”


“Dan ketika ‘dia’ sudah pulang ke Indonesia, apa pernah ada pemberitaan mereka jalan berdua? Tidak ada, Key… dan kalau memang mereka jalan berdua aku yakin beritanya akan ada dimana-mana. Ok, kita anggap aja mereka lolos dari kejaran wartawan, tapi seperti kamu bilang seluruh warga Indonesia tahu kalau mereka pacaran, dan mereka adalah pasangan yang lagi menjadi pembincangan hangat, apalagi ‘dia’ menjadi viral di dunia maya jadi minimal akan ada seseorang yang diam-diam mengambil foto mereka. Kalau-pun tidak, apa kamu pikir artis kita ini tidak akan memamerkan kedekatan mereka di sosmednya yang memiliki ribuan follower? Tidak, Key, dia pasti akan menguploadnya kalau memang mereka jalan bareng, dia akan memamerkan karena pria yang menjadi viral di dunia maya karena ketampanannya adalah kekasihnya, seperti awal-awal mereka pacaran.”


Aku terdiam mendengarkan penjelasan Kak Yoan.


“Tapi bisa aja mereka tidak berkencan karena dia keburu ditugasin ke sini.”


“Nah, itu malah lebih gak masuk akal.”


Aku menatap Kak Yoan yang tersenyum lebar.


“Kenapa gak masuk akal?”


“Aku tanya kalau misalnya kamu pacaran dengan dia sewaktu dia tugas di luar, kamu kangen gak?”


“Kangenlah.” Aku menjawabnya tanpa berpikir karena aku merasakannya walaupun kami tidak berpacaran.


“Kalau tahu dia dah balik ke sini, kamu pasti mau ketemu sama diakan walaupun cuma sebentar?”

__ADS_1


Aku mengangguk.


“Tapi tiba-tiba dia langsung ditugaskan ke sini jadi kalian gak bisa ketemu, terus tanpa sengaja kalian ketemu di sini, kamu seneng gak?”


“Seneng.”


“Maunya kemana-mana sama dia teruskan?”


“Iya.”


“Maunya deket-deket dia teruskan?”


“Iya.”


“Tapi… mereka tidak. Pertama kali kita datang semua langsung heboh bukan karena melihat Leona dan yang lainnya di sini, tapi karena para wartawaan melihat ‘dia’ ada di sini. Dan reaksinya bukan seperti bertemu dengan pacar yang dia rindukan, dia hanya menyalaminya dan menyapanya sama seperti ke yang lainnya, termasuk kepada kita.”


“Kakak tahu dari mana?”


“Salah satu wartawan itu adalah kenalanku, dia berharap akan menangkap moment special ketika mereka bertemu, ya mungkin seperti sebuah kejutan yang sengaja disiapkan ‘nya’ untuk sang kekasih, tapi ternyata tidak ada apa-apa selain penyambutan biasa.”


“Mungkin dia malu.”


“Semua orang sudah mengetahui tentang hubungan mereka, tidak ada yang perlu disembunyiin lagi.”


Aku terdiam memikirkan hal itu.


“Aku pribadi melihat mereka hanya seperti dua orang asing yang baru bertemu daripada sepasang kekasih. Tapi ku rasa bukan hanya aku, yang lainnya-pun merasakan hal yang sama.”


“Masa sih, Kak?”


“Iya, coba saja kamu tanya sama yang lainnya.”


Aku terdiam memikirkan perkataan Kak Yoan.


“Tapi kamu tahu apa yang membuatku semakin yakin kalau ‘dia’ memiliki perasaan lebih kepadamu daripada artis kita itu?”


Aku mengangkat alisku sambil menggelengkan kepala tak tahu


“Karena dia lebih mengkhawatirkanmu kedinginan dari pada ‘kekasihnya’ itu, dia lebih memilih meminjamkan jaketnya untuk kamu pakai dan memastikan kalau kamu tidur dengan hangat malam itu.”


Seketika aku tebelalak mendengar perkataan terakhir Kak Yoan yang mengangguk sambil tersenyum.


“Iya, aku yang menyelimutimu karena dia memintaku melakukannya, dan dia bilang kamu terlalu keras kepala untuk menerima jaketnya.”


Aku tersenyum mendengarnya, semua ucapan Kak Yoan mungkin benar tapi ada satu yang mengganjal dihatiku.


“Kalau memang mereka tidak berpacaran seperti yang Kakak katakan, kenapa dia tak menyangkal hubungan itu?”


Kak Yoan terdiam terlihat berpikir beberapa saat.


“Itu yang harus kamu cari tahu sendiri, Key, dengan mendengarkan penjelasannya.”

__ADS_1


Yang artinya aku harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi.


****


__ADS_2