
“Oh iya, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan di sini.” Mas Reihan berkata menarik perhatian kami semua.
“Besok, kalian semua wajib datang ke rumahku di Palagan, sekitar jam 7an, ya sehabis maghrib-lah.”
“Waah, ada acara apa, Mas?”
“Makan-makan.”
“Asiiik… bener nih?”
“Iya, pokoknya kalian semua datang ya!”
“Kita gak harus bawa apa-apakan, Mas? Kado misalnya, jangan-jangan ada yang ulang tahun.”
“Gak usah, pokoknya kalian datang dandan yang cantik, yang ganteng, tinggal habisin makan aja di sana.”
“Waah mantap! Bener ya, Mas, gak perlu bawa apa-apa?”
“Beneran, gak usah bawa apa-apa… cuma makan-makan aja kok, tapi ya itu tadi dandan yang cantik dan ganteng yoo.”
“Aku gak tahu tempatnya dimana?” ucapku karena memang tak tahu rumah Mas Reihan dimana.
“Mbak Kekey, nanti aku yang jemput, kita naik motor aja biar gak macet.”
“Bener ya, Na, nanti jemput.”
“Sip pokoke.”
Dan seperti yang telah direncanakan Erna menjemputku menggunakan motor matic menuju daerah Palagan dan telah ditunggu oleh yang lainnya di depan komplek menuju rumah Mas Reihan. Sebuah komplek perumahan elit, dimana rumah-rumah yang berada di sana sangat besar dan bagus-bagus, dan dijaga oleh satpam yang akan memeriksa setiap tamu yang datang.
Di depan rumah Mas Reihan yang megah terparkir beberapa mobil yang membuat kami saling lirik ragu untuk masuk ke dalam.
“Kayanya lagi ada acara ya?” tanyaku sambil melihat ke dalam pagar yang terbuka dimana terlihat beberapa orang pria dan wanita memakai seragam layaknya pelayan catering, walaupun aku tak melihat tenda di halaman tapi aku yakin di dalam sana sedang berlangsung sebuah acara resmi.
__ADS_1
“Iya, mungkin ulang tahun pernikahan orangtua Mas Reihan,” jawab Kris, dan sama sepertiku teman-teman yang lain-pun ikut melihat ke dalam pagar.
“Wis, kita masuk aja dulu kan Mas Reihan yang ngundang kita,” kata Risma sambil turun dari motor diikuti semuanya.
Kami semua tidak ada yang menggunakan gaun mengingat kami menaiki motor ke sini, tapi untung saja pakaian kami cukup formal untuk sebuah acara pesta. Risma, Mas Angga, dan Kris berjalan paling depan, disusul Desi, Lulu dan Joko sedangkan aku dan Erna bejalan paling belakang.
Rumahnya sangat megah layaknya rumah para pengusaha sukses, dengan pilar besar menyangga atap teras dengan lantai marmer, halaman luas yang bisa menampung beberapa mobil dengan taman yang terawat dan tertata rapi.
Kami semakin masuk ke dalam rumah dimana disuguhkan ruangan yang telah didekor dengan beberapa buket bunga hidup yang membuat semerbak ruangan yang besar itu. Wow, hanya itu yang keluar dari mulut kami semua. Kursi-kursi yang telah dilapisi satin putih dengan pita merah muda dengan hiasan-hiasan bunga kecil tersusun rapi dimana orang-orang berpakaian rapi duduk di atasnya.
Kamipun memutuskan untuk ikut duduk dibarisan paling belakang, mata kami terus menyisir ruangan mencari sang pemilik rumah. Sebuah tangga memutar menuju atas kini telah dihiasi kain merah muda dengan bunga-bunga, sangat cantik mengingatkanku pada sebuah film dimana seorang wanita cantik akan turun dari atas yang disambut oleh uluran tangan dari pria yang dicintainya.
Tapi sepertinya acara itu telah selesai karena di jajaran kursi yang berhadapan dengan kami dimana Mas Reihan duduk di barisan terdepan dengan seorang perempuan cantik yang mengenakan kebaya mewah dengan nuansa merah muda, dan sepasang paruh baya yang ku tebak adalah orangtua Mas Reihan karena bisa kulihat kemiripan diantara mereka.
Senyum dari mereka terus merekah menular kepada para pengunjung yang datang. Dan akhirnya aku mendengar MC memanggil perempuan di samping Mas Reihan yang ternyata bernama Widy untuk maju ke depan, dan kemudian MC memanggil nama seseorang yang membuat jantungku berhenti berdetak untuk beberapa saat dengan wajah memucat ketika kulihat seseorang dengan mengenakan jas rapi berdiri dari kursi paling depan jajaran tempat ku duduk dan kini berhadap-hadapan dengan perempuan yang tersenyum lebar menatapnya.
Aura dingin menjalar di seluruh tubuh dari mulai telapak kaki terus naik ketulang belakang hingga tengkuk, tanganku saling meremas untuk membuatnya berhenti gemetar, tapi mataku tak bisa lepas dari pasangan di depan yang kini saling memasangkan cincin ke jari manis masing-masing, hatiku kini benar-benar terasa ditikam, membuatku mengepalkan tangan dengan sangat kuat hingga memutih.
Aku ingin pergi dari sana tapi kakiku tak bisa bergerak, telingaku seolah tiba-tiba menjadi tuli tak bisa mendengar apapun termasuk apa yang dikatakan MC, bahkan aku tak bisa mendengar gemuruh tepuk tangan dari tamu yang hadir. Aku hanya menatap ke depan tanpa berkedip, aku menggigit bibir bagian dalamku yang gemetar hanya untuk mengingatkanku kalau ini bukanlah mimpi.
Beberapa saat kami masing saling pandang sampai akhirnya orang-orang mulai mengerumini mereka untuk bersalaman dan mengucapkan selamat. Ini kesempatanku untuk pergi, dengan penuh tekad aku berdiri untuk keluar dari ruangan ini ketika Erna menarikku.
“Kita ucapin selamat, itu adiknya mas Reihan, Widy, cantik ya? Cowoknya juga ganteng, cocok mereka.”
“A-aku… aku…” aku tak bisa melanjutkan ucapanku yang tergagap, sedangkan tubuhku yang gemetar semakin ditarik mendekati kerumunan.
“Kalian akhirnya datang juga!” seru Mas Reihan membuatku tak bisa melarikan diri lagi.
“Kok gak bilang kalau acara tunangan, Mas.”
“Yang tunangakan Widy bukan aku, kalau aku baru dibilangin,” ucap Mas Reihan dengan senyum mengembang.
“Key, sini aku mau kenalin kamu sama orangtuaku.”
__ADS_1
Mas Reihan menarik tubuhku melewati teman-teman yang antri menyalami pasangan yang baru saja bertunangan.
“Bun, kenalin ini Kekey… adiknya Mas Dimas.”
“Oalah, ini to Kekey, kenapa baru ke sini sekarang? Reihan sering banget cerita soal kamu.”
Aku berusaha tersenyum mendengar itu sambil menyalami orangtua Mas Reihan, entahlah aku berhasil tersenyum atau tidak yang kurasa adalah bibir dan tanganku gemetar. Dari ujung mataku, aku bisa melihat pasangan itu kini sudah bergabung dengan kami dan aku sudah tak kuasa lagi untuk berada di sana lebih lama.
“Kekey?”
Deg!
Aku mematung beberapa saat sebelum akhirnya berputar, dan kini aku tak kuasa lagi menahan emosiku ketika kulihat Mamah dan Papah berdiri di sana dengan mata memandangku tak percaya.
“Ini kamu, Sayang?” tanya Mamah sambil memegang pipiku dengan tangan gemetar, bisa kulihat matanya berkaca-kaca menatapku dan itu membuat mataku ikut berkaca-kaca. Aku mengangguk sambil menahan tangis dan hampir saja gagal ketika Mamah tiba-tiba saja memelukku erat penuh kerinduan.
“Ini benaran kamu, Sayang?”
Aku kembali mengangguk sambil menahan tangis sekuat tenaga.
“I-ini Kekey, Mah.” Suaraku gemetar dan aku tak bisa lagi menahan airmata yang akhir bergulir membasahi pipi, membuat Mamah dengan tangan gemetar mengusapnya lembut, tapi aku juga bisa melihat Mamah meneteskan airmata membuat tanganku mengusapnya.
“Ooh, Sayang kenapa kamu nangis?”
“Hehe… Mamah juga kenapa nangis?”
“Mamah kangeeen banget sama kamu, kenapa kamu gak pernah ngunjungin Mamah?”
Airmataku kembali bergulir ketika ku dengar kata-kata rindu dari perempuan yang sudah kuanggap ibuku sendiri itu.
“Kekey juga kangen sama Mamah.” Suaraku masih bergetar membuat Mamah kembali memelukku.
Di balik bahu Mamah aku bisa melihat Papah berdiri di sana menatap kami berdua, senyumnya terbit ketika mata kami saling bertemu membuatku melepaskan pelukan Mamah dan beralih kedalam pelukan Papah yang sehangat pelukan Ayah.
__ADS_1
****