
Sang Letnan memelukku erat, sebelah tangannya mengelus rambutku, sesekali kurasa dia mencium kepalaku.
“Ahh… akhirnya bisa meluk kamu lagi… aku kangen, Za, kangen banget, tapi itu yang memberiku kekuatan ketika pelatihan kemarin, karena ku tahu kamu sedang menunggu kepulanganku.”
“Kemarin pasti sangat berat.”
Kurasakan sang Letnan mengangguk, “Kamu sudah melakukan yang terbaik, Mas, aku bangga… bukan cuma aku, tapi kedua orangtuamu dan aku juga bisa melihat Ayah dan Ibuku ikut bangga padamu, Mas… kamu hebat.”
“Karena kamu yang selalu memberiku dukungan dan doa.”
Sang Letnan menatapku dengan senyuman tak pernah lepas dari wajahnya, “Di belakang pria hebat, selalu ada seorang wanita yang lebih hebat.”
Aku tersenyum sambil mengangguk mendengarnya.
“Mamah dong, Mamah hebat karena sudah melahirkan dan berhasil membesarkan putra sepertimu.”
“Ohh itu pasti, Mamah gak ada duanya… tapi selain Mamah, kini ada kamu juga yang selalu mendukung dan berdoa untukku… jadi kamulah yang hebat, Za.”
“Hmmm… aku tahu, aku memang hebat.”
Sang Letnan tertawa mendengar ucapanku, “Jadi sekarang, apa boleh lelaki hebat ini mencium perempuan hebatnya?”
Kini giliranku yang tertawa sebelum kembali menatap sekeliling dan setelah menyakini kalau aman aku-pun mengangguk. Malam itu serasa belum puas kami menumpahkan kerinduan yang selama ini terpendam tapi malam semakin larut dan aku tahu kalau sang Letnan kini pasti sudah sangat lelah, dan akhirnya pulang dengan diantar Mas Juang menggunakan motor.
Keesokan harinya karena masih sangat merindukannya aku memutuskan untuk datang ke Sukajadi, tapi sang Letnan belum bangun mungkin karena kecapean, dan aku yakin semalam adalah tidur ternyamannya selama beberapa bulan terakhir ini.
Sambil menunggunya bangun, aku menemani Mamah yang sedang masak di dapur bersama Bi Aas, asisten rumah tangga mereka. Mamah menawarkan untuk membangunkan sang Letnan tapi aku melarangnya, karena kasihan tak ingin mengganggunya istirahat.
Jam sudah menunjukan pukul 11 siang saat aku duduk di sofa ruang keluarga sambil memainkan ponselku ketika seseorang memelukku dari belakang lalu mencium pipiku membuatku terkejut sebelum menyadari kalau itu adalah sang Letnan.
“Kapan datang?” bisiknya dengan suara bangun tidurnya yang serak.
“Dari tadi.”
Sang Letnan melompati sofa untuk kemudian tidur di atas pangkuanku dengan posisi miring dan kembali memejamkan matanya.
__ADS_1
“Kenapa gak dibangunin?”
“Gak mau ganggu, pasti capek banget apalagi selama beberapa bulan ini kurang tidur.”
Sang Letnan hanya tersenyum mendengar ucapanku, “5 menit aja, aku mau tidur lagi di pangkuanmu sebentar.” Aku tersenyum sambil mengelus rambutnya, dan sang Letnan benar-benar kembali tertidur bukan hanya 5 menit tapi hampir sejam.
Ibu yang baru pulang dari swalayan hanya menggelengkan kepala melihatnya tidur di pangkuanku.
“Daritadi tidur di sini?”
“Iya hehehe, dia bilang cuma 5 menit tapi sekarang hampir sejam,” jawabku sambil berbisik membuat ibu kembali menggelengkan kepala sambil tersenyum sebelum akhirnya pergi ke dapur dengan kedua tangan menenteng tas belanjaan.
Kurasakan Mas Yudha bergerak dan kini menjadi telentang, aku memerhatikan wajahnya yang tertidur dengan tenang. Aku baru menyadari kalau bulu mata sang Letnan cukup panjang dan lentik untuk ukuran pria, hidungnya mancung dengan sedikit bengkok akibat bekas patah, rahangnya kini ditumbuhi jenggot-jenggot pendek berumur 2 hari.
“Aku belum bercukur dari kemarin.”
Aku terkejut mendengar suaranya ketika jari telunjukku memainkan jenggot pendeknya.
“Hehehe, sudah bangun?”
“Engga, cuma kesemutan,” ucapku sambil meringis membuatnya langsung duduk dan aku langsung meluruskan kakiku yang kesemutan.
“Hehehe.. maaf seharusnya kamu tadi bangunin aku.”
“Sudah, tapi Mas Yudhanya gak mau bangun.”
“Masa sih?”
“Iya.”
“Kamu banguninnya gimana?”
“Aku panggil-panggil terus ku goyang-goyang tapi tetap aja gak bangun.”
“Ya iya-lah kamu salah banguninnya.”
__ADS_1
“Memang harusnya gimana? Ditiupin terompet kaya di film-film perang gitu?”
“Hahaha, bukan.”
“Terus?"
“Seharusnya kamu cium pasti langsung bangun.”
“Hahaha… Sleeping beauty dong.”
“Bukan, tapi sleeping handsome.”
“Hahaha.”
Itulah kami setelah kepulangan sang Letnan dari pelatihan Kopassusnya, kami menghabiskan beberapa hari libur yang diberikan bersama-sama termasuk malam tahun baru yang kami habiskan di rumah bersama dengan saudara-saudaraku, Arga, beberapa teman OASIS dan beberapa teman dekat Dirga.
Hari-hari yang kami lalui selalu penuh dengan tawa dan suasana romantis ketika berdua, semua terlihat sempurna, terlalu sempurna malahan. Hubunganku dengan sang Letnan berjalan dengan sangat baik, skripsiku selesai tanpa ada kendala apapun, bahkan sidangku berjalan dengan lancar. Semua luar biasa.
Beberapa bulan setelah sang Letnan ditugaskan di Cijantung kami masih memiliki hubungan yang sangat baik. Jarak Jakarta-Bandung yang bisa ditempuh hanya dengna 2-3 jam membuat hubungan kami tak pernah terkendala apapun.
Sampai akhirnya suatu hari sang Letnan mulai sulit untuk dihubungi, pesanku selalu telat dibalas, teleponku kadang tak pernah diangkat, awalnya aku berpikiran kalau dia memang sibuk mengingat dia kini sebagai anggota Kopassus yang sangat ketat dalam berlatih, dan aku sangat mengerti itu. Jadi ketika akhirnya sang Letnan membalas pesanku dan meminta maaf karena baru balas aku akan selalu mengatakan tidak apa-apa aku mengerti.
Atau ketika sang Letnan semakin jarang pulang ke Bandung dengan alasan sibuk, aku juga mengerti dan mengatakan tidak masalah karena selama ini kami memang terbiasa memiliki hubungan jarak jauh. Tapi semua berubah ketika suatu hari sang Letnan mendatangiku membuatku sangat gembira karena sudah lebih dari sebulan aku tak bertemu dengannya, jangankan bertemu dalam waktu itu aku hanya menerima kabar darinya satu-dua kali saja.
Yang dia katakan hari itu ketika bertemu denganku bukan kata rindu dan cinta seperti biasanya, tapi, “Sebaiknya kita putus.”
Aku terkejut mendengarnya dan berpikir kalau dia hanya bercanda, tapi ternyata tidak… dia telihat serius ketika mengatakan hal itu dan ketika ku tanyakan alasannya dia mengatakan,
“Ini bukan salahmu, tapi aku.” Sebuah alasan klise menurutku, hingga aku memintanya untuk berkata jujur alasan yang sebenarnya, dan akhirnya dia-pun mengatakannya.
“Maafka aku, Za, tapi ada perempuan lain di Jakarta.”
Sebuah alasan yang membuat jantungku terasa diremas, dan hatiku hancur berkeping-keping, aku berusaha mencari kebohongan dari sorot matanya, tapi aku tak menemukan itu… yang ku temukan hanya sorot mata penyesalan dan itu cukup membuktikan semuanya.
*****
__ADS_1