
...Yudha, Pov...
Aku duduk di dampingi kedua orangtuaku, di hadapan kami Widy dan kedua orangtuanya, Reihan di sofa satunya lagi dengan seorang pria yang tak ku kenal.
“Kami minta maaf sebelumnya karena tadi Yudha ada urusan mendesak dan harus pergi.”
Papah memecah keheningan setelah melihat aku datang dengan bibir terluka.
“Apa telah terjadi sesuatu?” tanya Ayah Widy sambil menatapku penasaran.
“Ada sesuatu yang harus saya selesaikan terlebih dahulu,” jawabku sambil mencoba menahan emosi.
“Mas Yudha gak apa-apa?”
“Tidak, aku memang berhak mendapatkan ini bahkan mungkin lebih.”
“Yudha!” Seru Papah membuatku terdiam.
“Maafkan saya, tapi sebelum kita memutuskan tanggal pernikahan, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan dahulu kepada keluarga pihak perempuan.”
Semua terdiam saling pandang terlihat bingung, sebelum akhirnya Ayah Widy mengangguk memberi ijin untukku bertanya.
“Hari itu saat operasi, apa yang sebenarnya terjadi?”
Aku bisa melihat Widy dan kedua orantuanya tekejut mendengar pertanyaanku, sedangkan Reihan, pria yang duduk di sampingnya dan juga kedua orangtuaku telihat bingung mendengarnya.
“Yudha, apa yang kamu tanyakan?”
“Tidak, Pah, Yudha harus tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi setelah itu kita baru akan membicarakan yang lain… sekarang tolong jawab saya? Apa yang sebenarnya terjadi.”
“Apa maksud pertanyaanmu itu? bukankan kamu sudah tahu apa yang terjadi?” Reihan berkata dengan sedikit emosi, tapi aku tak menghiraukannya tatapanku masih tertuju pada Widy dan kedua orangtuanya yang kini sedikit memucat.
“Apa rahim Widy benar-benar diangkat?”
“Yudha, cukup!”
“Tidak, Pah, aku harus tahu yang sebenarnya.”
“Kamu sudah tahu jawabannya, apa sekarang kamu menyesal karena akan menikah dengan perempuan yang tak bisa memberikanmu keturunan? Kamu harus ingat gara-gara siapa dia seperti itu!” Reihan kembali terdengar emosi membuatku menatapnya tak kalah emosi.
“Kalau memang seperti itu, kenapa sekarang dia hamil?!” geramku sambil menatapnya dengan berapi-api.
Aku bisa melihat semuanya terbelalak terkejut, dan ku lihat Widy semakin memucat.
“Apa maksudmu Widy hamil? Bukankah…”
“Dia hamil, Mah, tapi bukan cucu Mamah,” ucapku sambil menatap Mamah yang pucat karena terkejut, begitu juga dengan Papah yang sangat terkejut.
“Dia bohong! Dia hanya ingin meninggalkan adikku sekarang!” Reihan berteriak sambil berdiri.
Melihat itu membuatku mengeluarkan foto USG yang dari tadi tersimpan di saku celana, membuat semua orang kembali terbelalak tak percaya.
“Jadi katakan pada saya apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kalian membohongi saya?” Emosiku yang ku tahan dari tadi kini mulai tersulut.
“Ini.. apa yang sebenarnya terjadi?” Reihan terlihat bingung tak percaya menatap kedua orangtua dan adiknya yang kini hanya tertunduk dan memucat.
__ADS_1
“Ini salah saya, Widy tak tahu apa-apa, diapun tak tahu kalau sebenarnya…”
“Saya yang tidak membolehkan istri saya untuk memberitahukan yang sebenarnya.” Ayah Widy mulai bercerita dan aku dengan tak sabar mendengarkkannya.
“Awalnya memang iya, rahim Widy dikira terluka parah dan harus diangkat, tapi setelah memasuki ruang operasi dokter melihat kalau ternyata masih bisa diselamatkan dan tidak perlu diangkat. Dokter memberitahu kami setelah Widy keluar dari ruang operasi, tentu saja kami gembira mendengarnya, tapi kami sengaja menutupinya untuk memisahkan Widy dengan kekasihnya… yang telah memiliki keluarga.”
“Jadi karena itu kalian merahasiakannya dari saya? Karena kalian ingin memisahkan Widy dari kekasihnya?”
“Bagaimana bisa kami membiarkan Widy bersama lelaki yang sudah memiliki keluarga, bagaimanapun Widy adalah putri kami,” ucap Ayah Widy dengan menggebu-gebu, “Kami begitu gembira melihat dia mulai melupakan lelaki itu dan menyukaimu, karena itu kami memutuskan untuk merahasiakan ini dari kalian semua sampai kalian menikah.”
“Tapi kalian tak penah berpikir kalau saya mengetahui ini terlebih dahulu.”
Emosiku yang sudah di ubun-ubun kini mulai tak terkendali lagi, aku menatap orang-orang di hadapanku dengan nyalang, bahkan tak peduli lagi kalau mereka adalah orang yang lebih tua dariku.
“Apa kalian tahu apa yang telah saya korbankan untuk ini?” geramku dengan tubuh gemetar menahan emosi.
“Saya telah mencampakan perempuan yang paling berharga dan paling saya cintai di dunia ini, demi putri kalian yang bahkan tak menyukai saya! Mimpi, harapan dan hati kami hancur berkeping-keping tak tersisa! Dan itu karena ego kalian yang hanya memikirkan kepentingan kalian sendiri… dan kau!” Aku menatap Widy dengan perasaan jijik dan penuh emosi.
“Apa kau hanya berpura-pura menyukaiku untuk dijadikan tameng kepada orangtuamu supaya bisa dengan bebas berhubungan dengan pria itu?”
Widy hanya terdiam tak menjawab membuatku semakin emosi.
“Kamu... memanfaatkanku supaya bisa tetap bersama dengan laki-laki yang kamu cintai, sedangkan aku dan perempuan yang ku cintai harus merasakan pedihnya perpisahan dan hancurnya cinta dan hati kami!”
Aku melihat Widy mulai gemetar dan berkaca-kaca tapi aku tak peduli.
“Kamu tahukan tentang aku dan Kekey?”
Semua orang terkejut ketika ku mengucapkan namanya, kecuali Widy yang membuatku semakin marah.
Aku mulai berteriak dan berdiri menyalurkan emosiku yang kini keluar seutuhnya.
“Aku dengan bodohnya melepaskan cinta dalam hidupku hanya karena merasa berhutang nyawa dan bersalah kepadamu, sedangkan kau… kau… “
Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat mencoba menahan diri.
“Kekey?” Reihan berkata seolah baru tersadar dari keterkejutannya.
“Iya.. Kekey.. Keyza Maharani, orang yang bekerja denganmu beberapa bulan terakhir ini, dia adalah satu-satunya cinta dalam hidupku, perempuan yang paling berharga untukku, tapi kini aku telah kehilangannya dan itu karena kebodohanku sendiri!”
Reihan terlihat kembali terkejut, ia kini menatapku terlihat berpikir.
“Jadi, laki-laki yang dia katakan waktu itu…”
“Iya, itu aku!!! Aku-lah laki-laki yang telah dia serahkan seluruh hatinya, aku! Aku yang seharus menjaga dan melindungi hatinya, tapi aku malah membuatnya hancur berkeping-keping… aku yang membuatnya menangis di pelukan orangtuaku pada malam pertunangan, aku yang membuatnya menangis ketika di Yogya karena mengetahui pernikahanku akan di percepat, aku yang membuatnya tak lagi memercayai lelaki dan cinta, dan aku yang membuatnya kini pergi meninggalkan negri ini… itu aku!!!”
Dengan penuh emosi aku memukul dadaku sendiri.
“Apa maksudmu Kekey pergi meninggalkan Indonesia?” tanya Mamah dengan mata terbelalak tak percaya
“Iya, Mah, Kekey sudah pergi bukan hanya meninggalkanku tapi meninggalkan negri ini.”
Hatiku kembali perih mengingat kepergiannya.
“Ayah menghubungiku untuk memberitahu kepergiannya tadi.”
__ADS_1
“Jadi tadi kamu…”
“Iya, Yudha ke bandara berharap bisa melihatnya untuk terakhir kalinya, dengan segala resiko yang akan Yudha hadapi ketika bertemu dengan keluarganya karena telah membuat hati putri mereka satu-stunya hancur, tapi Mamah tahu apa yang terjadi ketika Yudha sampai sana?”
Aku menatap kedua orangtuaku dengan hati bergetar.
“Mereka semua menyambutku seperti anak hilang yang baru saja kembali ke rumah setelah sekian lama, Ayah menepuk bahuku sambil berkata ‘kemana saja kamu selama ini, Letnan?’, Ibu langsung memelukku dengan penuh kehangatan dan marah karena melihatku menjadi kurus, Ibu memarahiku bukan karena telah menyakit putri kesayangannya, tapi karena aku menjadi kurus dan dia bahkan berjanji memasakanku masakan yang enak untuk ku bawa kembali ke Jakarta.”
Tenggorokanku mulai terasa panas dan tercekat membuatku menelan ludah kasar sebelum kembali melanjutkan ceritaku, “Juang yang notabanenya adalah Kakaknya Kekey, tapi dia masih memberiku hormat sambil tersenyum, dan Dirga… adik kecil kami, dia memelukku dengan erat… dan aku! Apa yang telah aku lakukan kepada putri mereka? Aku menghancurkan hatinya, mengkhianati cinta kami, sebuah pukulan dari Arga ini tak ada artinya dengan sakit yang dirasakannya… dan ini semua terjadi karena sebuah kebohongan.”
Aku kembali menatap mereka semua tapi sudah tak seemosi tadi, “Seharusku kau menabrakku saja malam itu, jadi setidaknya aku tak akan sesakit ini karena harus melihatnya menderita dan kehilangan cinta kami… seharusnya aku mati saja malam itu.”
“Yudha,” ucap Mamah dengan lirih membuatku kembali menatapnya sambil tersenyum sebelum kembali berdiri dan menatap para tamu di hadapanku.
“Maafkan saya, tapi sepertinya saya tidak bisa melanjutkan pertunangan ini… putri anda tidak kehilangan rahimnya jadi saya tidak perlu mempertanggung jawabkan apapun, dan sebaiknya anda meminta ayah bayi dalam kandungan putri anda untuk menikahi dan bertanggung jawab atas putri anda… tapi bagaimanapun saya ucapkan terimakasih banyak karena telah menolong saya malam itu… permisi, selamat sore.”
Aku berjalan keluar dengan cepat disusul oleh Mamah yang terlihat khawatir melihatku pergi dalam kondisi marah seperti itu.
“Kamu mau kemana?” Mamah bertanya setelah melihatku kembali menaiki motor dan mengenakan helm.
“Yudha perlu sendiri dulu, Mah.”
“Kamu… tidak akan melakukan hal-hal bodohkan?"
Aku tersenyum kemudian menggeleng, “Tidak usah khawatir, Yudha hanya perlu menenangkan kepala sebentar... Assalamua’alaikum.”
Aku kembali menyalakan mesin motorku dan mulai menembus jalanan sabtu sore kota Bandung yang padat, mencari kesunyian diantara hiruk pikuk perkotaan hanya untuk menenangkan hati dan kepala yang serasa mendidih.
Aku semakin memacu motorku dengan kecepatan di atas rata-rata terus menuju atas merasakan tubuhku membelah angin, kenangan-kenanganku dengannya di masa lalu berkelibatan menemaniku sore itu.
Hari ini aku melepaskannya pergi, untuk mengajarkanku artinya sabar menunggu.
Hari ini aku melepaskan cinta dalam hidupku, untuk mengajarkanku bagaimana cara membahagiakannya nanti.
Hari ini aku melepaskan jabatanku sebagai pemilik hatinya, untuk kemudian menjabat sebagai penjaga hatinya.
Sedangkan dia… kemarin, hari ini dan selamanya tetaplah menjadi pemilik hatiku.
****
...Tamat...
Sampai jumpa di "PENJAGA HATI", karena kisah mereka belum berakhir.
...Realis : Sabtu, 14 November 2020...
...Pukul 20.00...
Haloo.. terimakasih banyak atas dukungannya dalam perjalanan cinta Letnan-Keyza selama ini.. dukungan yg sangat luar biasa membuat saya terharu... membaca komen dari teman" semua membuat saya kembali bersemangat untuk berkarya... jadi sampai jumpa di Season 2, mohon dukungannya juga buat kisah mereka selanjutnya 😍😍😍😘😘😘
Love
A.K
__ADS_1