
Sayup-sayup aku mendengar suara di sekitarku, hidungku mencium bau antiseptic dan obat yang sangat kuat khas rumah sakit, tenggorokan dan mulutku terasa kering dan perih membuatku merintih, perlahan aku membuka mata, pandanganku sedikit kabur tapi perlahan aku bisa melihat jelas Dirga berdiri di samping tempat tidurku dengan wajah cemas.
“Kakak sudah siuman?”
Aku hanya bisa mengangguk lemah menjawabnya, kulihat di tangan kiriku kini telah terpasang selang inpus.
“Haus,” ujarku lirih dengan suara serak yang membuat Dirga langsung mengambil air mineral di atas meja, aku meminumnya dengan rakus untuk menghilangkan dahaga.
“Ayah sama Ibu lagi ngurus administrasi dulu.”
Aku kembali mengangguk sambil kembali berbaring lemah.
“Ini dimana?”
“RS.Santosa, Kakak pingsan tadi untung saja lagi pada ada di rumah jadi bisa langsung cepet bawa Kakak ke sini.”
“Apa kata dokter?”
“Kakak positif thypus dan vertigo, itu yang bikin Kakak pusing 7 keliling.”
Pantas saja dunia seolah jungkir balik setiap aku bergerak, tapi sekarang sudah tak begitu parah mungkin karena dokter sudah menyuntikan obat ke dalam inpus-anku. Tak lama kemudian ibu dan ayah masuk ke dalam kamar ruang inapku, aku merasa bersalah melihat mereka begitu mengkhawatirkanku.
“Maaf,” ucapku lirih membuat mereka mereka tersenyum lalu mengangguk.
“Sekarang kamu tidur lagi, kamu kena thypus harus bed rest minimal seminggu.”
Aku mengangguk kemudian kembali tertidur. Aku terbangun ketika mendengar suara Arga sedang berbicara dengan kedua orangtuaku.
“Malam ini biar Arga saja yang jaga Kekey di sini, Ibu sama Ayah pulang saja, nanti keperluan Kekey biar dianterin Dirga ke sini.”
“Kamu gak apa-apa malam ini jagain Kekey?”
“Gak apa-apa, Yah. Ayah sama Ibu istirahat saja di rumah, Dirga juga besok harus sekolah jadi biar Arga saja yang jagain Kekey, besok Arga kuliah siang.”
“Iya, biar Arga saja yang jagain Kekey,” ucapku dengan suara serak dan berusaha untuk duduk tapi dunia kembali seolah berputar membuatku mual dan akhinya muntah, untung saja ibu yang berdiri di samping tempat tidur dengan cepat mengambil tempat yang disediakan RS. Perutku terasa sakit dan mulutku pahit karena tak ada makanan yang masuk jadi yang keluar hanya cairan saja.
“Tiduran, Key, jangan banyak bergerak dulu.”
Arga membantuku berbaring, Ayah melap keringat dingin di kening dan leherku.
“Kondisinya masih seperti ini gimana Ibu sama Ayah bisa tenang ninggalin, Kekey.” Aku mendengar nada cemas dan sedih dari suara ibu.
“Gak usah khawatir ada Arga yang jagain, kalau ada apa-apa Arga langsung telepon ke rumah.” Arga berusaha meyakinkan Ayah sama Ibu yang terlihat ragu.
“Kekey juga udah mendingan kok, gak sepusing tadi lagi. Ibu sama Ayah pulang aja, istirahat dulu.”
Aku ikut meyakinkan mereka karena merasa kasihan sekaligus bersalah kalau harus melihat kedua orangtuaku yang sudah tak semuda dulu lagi harus tidur di rumah sakit untuk menjagaku.
“Bener gak apa-apa?”
“Gak apa-apa, Bu… Ibu sama Ayah besok pagi saja datang ke sini buat gantiin Arga, kalau malam biar Arga yang jaga.” Arga kembali menyakinkan Ibu yang akhirnya mengangguk setuju, dan merekapun pulang meninggalkan aku dan Arga di kamar VIP tempat ku dirawat.
“Aku kaget pas tadi nelepon yang angkat Dirga terus katanya kamu pingsan dan masuk UGD.” Arga duduk di kursi samping tempat tidurku dengan wajah cemas, “Gara-gara kemarin kita hujan-hujanan ya? Seharusnya kemarin kita neduh dulu… maaf.”
Aku bisa mendengar nada menyesal dalam suaranya.
“Bukan salahmu, Ga, kan aku yang gak mau neduh.” Suaraku benar-benar serak seolah mau habis.
“Harusnya aku tetap berhenti buat neduh.”
“Dan aku tetap akan sakit, kata dokter aku kecapean jadi bukan karena kemarin.”
Aku tersenyum berusaha menenangkan Arga yang terlihat menyalahkan dirinya sendiri. Aku berdeham sambil mengelus tenggorokanku yang terasa sakit, tanpa diminta Arga langsung menyodorkan botol air mineral lengkap dengan sedotannya.
“Minum yang banyak, jangan dulu banyak ngomong tar tambah habis suaranya, kalau suaranya habis tar ngomongnya pake bahasa isyarat susah, aku belum belajar bahasa isyarat soalnya.”
Aku hampir saja menyemburkan air minum dalam mulutku karena tertawa tapi berhasil ku tahan walaupun akhirnya aku tersedak.
__ADS_1
“Kalau lagi minum gak boleh ketawa nanti keselek.”
Aku mendelik ke arah Arga yang hanya tersenyum santai. Dia kembali duduk di samping tempat tidur.
“Pusing?”
“Dikit.”
“Jangan ngomong dulu.”
Aku menatapnya tajam, “Kan kamu nanya.”
“Eh, malah ngomong lagi.”
“Aku kan jawab kamu.”
“Jangan ngomong dulu, suaranya jelek banget nanti kupingku sakit.”
Aku ingin sekali memukulnya tapi kuurungkan karena takut semakin pusing kalau banyak bergerak, akhirnya aku hanya bisa cemberut menatap Arga yang malah tertawa melihatku.
“Jangan cemberut nanti tambah jelek, pipinya jadi kaya bapau.”
Dia mengatakan dengan wajah cueknya, bahkan tanpa tersenyum sama sekali!
Ingin sekali aku membalasnya tapi suaraku benar-benar habis dan kepalaku pusing, dengan kesal aku menarik selimut sampai menutupi kepala, tapi itu malah membuat Arga tertawa dan membuatku semakin kesal.
Ketika malam menjelang aku kembali demam tinggi dan hampir sejam sekali aku terbangun karena tenggorokanku terasa panas, Arga dengan sigap mengambilkan minum untukku. Keringat dingin terus keluar dan aku bisa merasakan Arga melapnya menggunakan tissue basah.
“Tidur, Ga.” Aku merasa tak enak karena merepotkannya dan membuatnya terus terjaga sepanjang malam.
“Gampang, ternyata kebiasaan begadang selama ini ada manfaatnya juga, hehe.” Arga tersenyum sambil menaruh tisu basah di kening, pipi, dagu bahkan leherku seperti sedang mengompres katanya biar demamku turun, dan aku hanya bisa pasrah saja di kompres pakai tissue basah seperti itu. Tapi entah kenapa, itu membuatku lebih nyaman dan akupun bisa tertidur kembali.
Aku terbangun jam 6 pagi dan kondisiku sudah jauh lebih baik, demamku sudah turun mungkin akibat kompresan tissue basah? Hehehe, aku tersenyum sambil menatap sekeliling kamar yang terasa sepi, aku melihat Arga tertidur di atas sofa dengan posisi telentang, tangannya dilipat di atas dada, dia terlihat nyenyak mungkin karena kecapean begadang menjagaku.
Arga pulang setelah ibu dan ayah datang pagi hari, digantikan Dirga sepulangnya dari sekolah dan malamnya Arga kembali menjagaku. Selalu seperti itu setiap hari mereka bergantian menjagaku, dan setelah tiga hari di rawat kondisiku semakin membaik tapi dokter belum mengijinkan pulang, aku benar-benar harus beristirahat total minimal seminggu.
“Jadi sakitnya dari kemarin itu, Key, yang kamu pulang duluan di SKA?”
“Iya, Gus, pulang dari sana langsung demam tinggi terus muntah-muntah.”
“Pantesan kemarin pucat banget, tahunya kena thypus.”
“Dikirain pucet teh gara-gara denger Mas Yudha pacaran sama Leona,” ucap Mira yang langsung mendapat sautan setuju dari yang lainnya.
Jantungku untuk sesaat seolah tak berdetak, teringat kejadian yang membuatku sempat terpuruk. Aku pura-pura bersikap normal dengan tertawa seolah menertawakan kebodohan mereka yang salah menebak. Aku menatap Bang Eddy yang menatapku dengan penuh selidik.
“Enggak-lah masa gara-gara itu, lagian aku kan tak ada hubungan apa-apa sama Mas yudha, jadi ya… tak masalah dia mau pacaran sama siapa juga.”
“Tapi kan kayanya kamu pernah suka sama dia, Key.” Mira berkata yang mendapat anggukan dari yang lainnya.
“Hahaha, anggap saja cinlok di lokasi bencana.”
“Hahaha benar-benar, Key, lagiankan kamu ada Arga, aduh kurang apa lagi coba tuh Arga… ganteng, pinter, manly, trus baiknya gak ketulungan… sayang kalau dianggurin, kalau kamu gak mau buat Kak Yoan saja ya?”
“Hahahaha… jangan kasih ke Yoan, Key, tar rusak Arga-nya kalau sudah kenal dia mah.”
“Hahahaha, sialan lu, Dit.”
Aku hanya tertawa mendengarnya.
“Arga siapa? Cowoknya Kekey ya?” tanya istrinya Bang Eddy penasaran.
“Arga temannya Kekey tapi merangkap jadi tukang ojek pribadinya Kekey, pengawal pribadi juga, malaikat pelindungnya juga terus sekarang merangkap jadi perawatnya juga, pokoknya teman siaga deh.”
“Waah jobdes-nya banyak banget tuh.” Bang Eddy berkata sambil tertawa mendengar penjelasan Mira.
“Kalau sudah ada cowok kaya gitu di depan mata mah, Key, sikat saja! Ngapain nyari cowok lain.”
__ADS_1
“Iya, Key, tar keburu diambil orang nyesel lho, Key.”
Aku hanya bisa tersenyum mendengar itu semua, aku melihat reaksi Bang Eddy yang hanya diam mendengar itu. Di dalam kamar masih ramai membicarakan Arga ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka membuat semua orang menatap ke arah pintu.
“Assalamualaikum… wiiih rame gini.” Arga masuk dengan mengenakan jaket kulit coklat, celana jeans sobek-sobek di bagian lutut, rambut gondrongnya di kuncir, dengan menggemblok tas ransel coklat dan tangannya menenteng plastik mini market, dia masuk ke dalam dengan senyum khasnya.
“Wa’alaikumsalam… panjang umuuurr!” Seru semuanya membuat Arga mengangkat alisnya bingung kemudian menatapku yang tersenyum sambil mengangkat bahu.
“Lagi ngomongin ya? Gak apa-apa udah biasa saya mah digosipi, maklum artis.”
“Artis majalah trubus, Ga?”
“Pohon kaktus dong, Gus.”
“Bukan, tapi Raflesia arnoldi.”
“Bau dong.”
“Hahahaha.” Kami semua tertawa mendengar percakapan aneh Agus dan Arga.
“Darimana, Ga, kok baru datang?” Kak Yoan bertanya sambil menatap Arga yang kini berdiri di samping tempat tidurku untuk menaruh kantong plastik yang dia bawa.
“Pulang dulu ngambil peralatan buat kemping tar malam,” jawab Arga sambil tersenyum.
“Kempingnya pindah ke sini, Ga?”
“Iya, Kang, enak ga cape kemping di sini mah, tinggal naik lift nyampe dech hehehe… sudah dari tadi?”
“Lumayan,” jawab Teh Vita sambil melihat jam tangannya.
“Gak dikasih minum?” tanya Arga sambil menatapku yang menggelengkan kepala.
“Gak ada yang beliin kan kamu-nya baru datang.”
“Dirga mana?”
“Gak tau.”
“Teuh nya budak eta mah (dasar anak itu yah).”
“Itu apa?” tanyaku sambil menunjuk kantong plastik di atas meja, “Susu ya?” aku meringis membayangkannya.
“Hahaha… minum! Biar cepet sembuh, ok!” Arga mengacak-acak rambutku sambil tertawa melihatku yang hanya cemberut, “Jangan cemberut, kaya bapau tahu.”
“Iiiih!” aku mendelik kesal yang membuatnya semakin tertawa.
“Aku ke bawah dulu ya, beli minuman.”
“Sama makanannya sekalian.”
“Iya.” Arga tersenyum lalu bersiap pergi, “Nitip bentar ya, mau ke bawah dulu.”
“Siap, Ga, tenang saja, tar kita jagain baik-baik.”
“Hehehe, tolong jagain baik-baik soalnya barang mudah pecah.”
“Emang piring! Dasar sendok seng!” seruku dengan kesal tapi malah membuat Arga tertawa ngakak sambil keluar kamar.
“Aaaahhhhh… kalian tuh bikin iri tahu gak sih?”
“Sweet banget…”
“Kalian mau TTM-an sampai kapan?”
“Udah jadian aja, Key, tunggu apa lagi? Susah lho cari cowok kaya Arga.”
Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Arga memang memiliki hampir semuanya yang diinginkan perempuan dari seorang lelaki, bukan hanya secara fisik, tapi juga memiliki hati yang baik, yang akan membuat kita merasa nyaman di dekatnya. Aku memang menyayanginya malah sangat menyayanginya, tapi aku malah jatuh cinta kepada pria lain, pria yang telah membuatku merasakan patah hati untuk pertama kalinya.
__ADS_1
*****